28 July 2016

Dari Resepsi ke Resepsi

Aku kira: Beginilah nanti jadinya. Kau kawin, beranak dan berbahagia. Sedang aku mengembara serupa Ahasveros. --Tak Sepadan, Chairil Anwar.



Jika tidak benar-benar berpikir keras barangkali saya bakalan lupa sudah berapa undangan pernikahan yang saya datangi dalam kurun beberapa bulan ke belakang ini. Bahkan tiga atau empat undangan di antaranya saya memakai batik yang sama. Hal yang kemudian pada pernikahan berikutnya membuat saya dapat dua baju batik gratis. Nency, kawan saya si pengantin yang berikutnya membelikan saya dan teman-teman seangkatan lainnya batik baru untuk dipakai ke pesta resepsinya.

“Biar kalian batiknya seragam,” katanya. Tapi pas di belakang saya, kata si Ryan, Nency kasihan lihat saya. Pasalnya tiap kali ke nikahan teman, saya pakai batik yang itu-itu aja. Entah saya harus geram atau harus terharu.  Yang jelas saya ingin sekali mendamprat semua orang yang menikah tahun ini. Kenapa waktu-waktu resepsinya begitu beruntun? Seperti pembunuhan berantai saja. Mereka tidak saja membuat saya harus rajin menyisihkan uang, mencuci, dan menyiapkan mental buat ketemu mantan. Saya khawatir semakin bertambah usia tampaknya bakalan menambahkan daftar hal-hal yang mungkin akan membuat saya terbunuh dengan cara tidak aduhay, selain diperkosa alien atau tersedak tulang gajah: pernikahan teman.

Bahkan belum habis bulan Juli ini, saya datang ke tiga tempat pernikahan. Akhir bulan ini pun akan ada satu pernikahan lagi. Pernikahan Ayi, seseorang yang (dalam kesaksian teman-teman) dekat dengan saya sejak setahun yang lalu. Sekali lagi mereka mendapati saya sebagai bahan perundungan (bully). Ugh!

Sabtu yang lalu sebelum ke Karawang untuk menghadiri acara pernikahan teman, ibu mampir ke kamar. Ibu duduk di kasur membenahi tepian seprei sambil memperhatikan saya yang sedang bersiap untuk berangkat kondangan. Sesekali ia menyela dan mengomentari penampilan saya. Soal celana, batik, bahkan isi amplop.

“Berapa ngisi amplop kemarin-kemarin?” Tanyanya.

“50.000, Bu.” Jawabku selow.

“Banyak-banyak teuing atuh!” Sahutnya cepat, bahkan agak menyentak. Setelah itu saya ngamplop ke nikahan Frizky, lima belas ribu rupiah. Iseng menururti orang tua sendiri.

Saya benar-benar tumben ngamplop pas nikahan sebelumnya. Jauh sebelum-sebelum itu saya bahkan tidak menyentuh amplop. Ya dalil saya sih menghadiri undangan itu wajib. Kalau ngamplop kan setingkat sedekah sunnah saja. Huehehe. Lagipula saya sering datang dengan rombongan, jadi kalau satu orang di rombongan tidak ikut patungan ngamplop insyaallah tidak ketahuan. Yang penting pas patungan bensin, saya lebihin sedikit.

“Rid, sekarang kalau menikah musti siapkan 45 Juta. Sok geura nabung.” Lanjut ibu tiba-tiba.
Setelah terkesiap sejenak saya segera menghentikan semua kegiatan yang sedang dilakukan. Sebagai anak pertama, berusia 24 Tahun, hampir beres kuliah, punya semacam pekerjaan, dan sudah tiga kali ditinggal menikah oleh mantan kekasih, maka segera duduk di sisinya adalah hal yang normal untuk dilakukan ketika ibumu bicara soal pernikahan. Artinya, dia mulai serius dan agak emosional.

Kemudian Ibu melanjutkan cerita-cerita seputar ongkos resepsi yang ia dengar dari tetangganya sekaligus kekhawatirannya terhadap empat anaknya.

“Ibu gak seperti orang-orang, tidak ada sawah untuk dijual.” Keluh ibu. Tiba-tiba saya merasa kecil dan tidak berdaya. Kasihan ibu, kasihan ibu, kasihan ibu. Lalu, kasihan bapak.

Tiba-tiba saja saya tidak sengaja berpikir lebih jauh. Bagaimana jika tiba-tiba terjadi inflasi? Nilai rupiah anjlok jauh dan lebih parah dari krisis moneter tahun 90-an? Dengan 45 Juta Rupiah, kita  cuma bisa nraktir gebetan di nasgor kaki lima. Lebih jauh lagi, tiba-tiba saja saya teringat situs-situs bertamplate buruk  bilang: Dajjal sudah muncul. Kiamat sudah dekat. Tay!


II

Dari hampir semua nikahan yang saya hadiri, selain mendapati hal yang membosankan saya juga mendapati ketimpangan. Entah kenapa busana pengantin Pria seringkali seperti yang asal-asalan dibanding pengantin perempuan. Kadang si pria di dandani dengan lipstik tidak rata, dengan warnanya mencolok pula. Terus kopeahnya sedikit longgar dan bajunya berwarna agak kumuh. “Teu adil,” kalau kata Aziz mah. “Ah, kalau saya mah mendingan bikin stelan baru aja,” timpal si Emil.
Tapi ada hal yang lebih jauh dari itu. Ada hal lain yang cuma bisa dibaca dari semacam jejak air mata dari wajah ber-makeup pengantin wanita dan gurat-gurat kelelahan di pengantin pria. Saya seperti melihat kekhawatiran. Atau jangan-jangan cuma saya yang berlebihan?

Pasalnya dalam lima tahun terakhir ini (seperti dilansir dari dream.co.id) Kementerian Agama menemukan peningkatan angka perceraian dari tahun ke tahun. Dikutip dari laman kemenag.go.id, Rabu, 20 Januari 2015 terdapat data bahwa dari dua juta pasangan menikah, sebanyak 15 hingga 20 persen bercerai. Sementara, jumlah kasus perceraian yang diputus Pengadilan Tinggi Agama seluruh Indonesia pada 2014 mencapai 382.231, naik sekitar 131.023 kasus dibanding tahun 2010 sebanyak 251.208 kasus. Sementara dalam persentase berdasarkan data Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung, dalam lima tahun terakhir terjadi kasus Cerai Gugat mencapai 59 persen hingga 80 persen.

Pada tahun lalu, 2014, 382.231 pasangan bercerai. Itu pasangan manusia loh, bukan kambing etawa. Coba cek ingatanmu, ada berapa pasangan cerai yang kamu kenal dari keseluruhan jumlah itu? Dengan semua angka ini, di sekitar dua atau tiga tahun lagi, tidakkah kita harusnya merasa agak khawatir terhadap mereka yang memutuskan menikah di usia-usia 20 atau 25-an?

Tingginya angka perceraian ini tentu berpotensi jadi sumber masalah sosial. Korban pertama yang paling merasakan dampaknya jelas anak-anak dan istri. Akibat perceraian bukanlah main-main. Apalagi dalam kultur kita keperawananan itu semacam keharusan. Dibanding si Duda, Janda akan sulit untuk menikah lagi. Stigma yang bisa membuat orang waras bilang: cuma soal selaput dara, kenapa laki-laki seperti bicara keterangan hari kiamat di kitab suci?

Buntut panjang dari semua ini adalah menimbulkan gejala-gejala kemiskinan baru. Menjadi duda tidak seburuk menjadi janda. Fitnah juga lebih rawan ditujukan terhadap janda daripada duda, selain itu anak mereka tentu akan mengalami akibat gak enak sepanjang hidupnya. Btw, bisa gak sih orang-orang itu menahan diri untuk tidak membuat kesepakatan buruk (utamanya soal bereproduksi) tanpa berpikir masak-masak? Minimal ikut KB, atau pakai pelindung apa gitu kek.

Di sinilah sepertinya kau boleh berpikir bahwa kuliah salah jurusan itu biasa. Kerja tidak sesuai dengan jurusan kuliah juga biasa. Apalagi jatuh cinta dengan temannya teman yang juga teman pun juga sangat biasa. Lalu bagaimana dengan menikah? Salah orang? Benar-benar tidak lucu.

Sabtu besok Ayi menikah. Sejak pertama dapat berita dia bakal menikah sampai saya melihat undangannya sendiri, ingin sekali saya mengatakan kalimat selamat atau sejenisnya. Tapi saya mengurungkan niat itu. Entah kenapa. Saya perhatikan lagi undangan itu di grup WhatsApp. Ayi Nafilah & Miftah Farid. Dia menikah dengan Farid, tapi Farid yang bukan saya. Saya makin yakin belum siap menikah. Dan Ayi mendapatkan Farid yang lebih layak daripada Farid yang lain.

Lalu saya membaca ulang pesan BBM yang lain. Pagi tadi seseorang membalas chat: “Iya ga enak badan. Efek kehujanan kayaknya. Aamiin makasih Rid.” Kasihan. Apa semua perempuan selalu luput membawa jaket?

Tiba-tiba saya inget semalam waktu lagi tidur-tiduran dengan Aziz, dan Emil. Saya pura-pura baca buku, Aziz benar-benar nonton drama korea di ponselnya, pakai earphone segala. Sementara Emil entah ngapain. Tiba-tiba Emil menaikkan volume mp3 dari ponselnya dan merebut perhatian kami semua.

“Lagu Tulus yang baru nih, wak!” Serunya menutupi kesalahan.

Aziz menekan pause di ponsel, lalu menoleh pada saya. “Saya suka malas dengerin Tulus. Pas di Mesir, malam-malam saya dengan teman-teman di sana dengerin lagunya ‘Pamit’. Eh pas paginya dapet undangan menikah dari Zakiah (gebetannya).”

Nafsu membaca mendadak hilang. Saya menandai bacaan di perihal krisis ekonomi Mesir di masa Anwar Sadat dan segera mengirim pesan BBM, “kamu sakit? Lekas sembuh ya.” Lalu tidur dan berdoa yang baik-baik untuk mereka yang memiliki keberanian untuk menikah dan mendahuluui kami. Benar-benar hal yang baik: Menikah, beranak, dan berbahagia, seperti ucap Chairil Anwar.
Read more ...

04 June 2016

Humor dan Ironi

Orang lain adalah neraka
Jean Paul Sartre

Catatan ini saya cicil sejak hari Senin. Sehari setelah resepsi dan akad nikah teman kita: Selvia Nency yang selalu mendaku dirinya sebagai Nency Saphira Bastian, merujuk pada idolanya sejak SMA, Vino G. Bastian. Katanya, Aris, mantannya yang juga teman kita itu mirip Vino G. Bastian. Memang melihat keseluruhan paras Nency kita semua tahu bahwa Tuhan memang sangat baik padanya. Hanya saja agaknya Dia lupa memberikan Nency pandangan mata yang bagus.

Setelah bubar dengan Aris, dia dekat dengan beberapa orang. Ketika saya tanya apakah mereka ganteng, jawabannya selalu sama “gantengan kamu, Rid”. Demi Tuhan. Saya tidak tahu apakah dia terbawa kebiasaan pemilik salon yang selalu memuji semua pelanggannya; atau memang saya betul soal kealpaan Tuhan memberinya pandangan mata yang bagus tersebut.

Nency menikah pada hari Minggu tanggal 29 Mei 2016. Seminggu tepat setelah tanggal kelahiran saya. Dia berkelakar pernikahanya adalah kado ulang tahun saya. Saya ketawa kecut mendengarnya.

Setelah pernikahanya dia pasti akan berbeda. Begitu pikiran pertama saya. Ini bukan pertama kalinya punya teman yang cepat menikah. Diam-diam saya merasa sedikit kehilangan. Atau setidaknya mencemaskan hal tersebut. Tapi dia menikah dengan Dian, sahabatnya. Betapa melegakannya mengetahui hal itu.

Maka dia menikah begitu saja, di hari yang agak mendung di Karawang. Meski hujan semuanya berjalan lancar. Saya dan rombongan berangkat jam 2 siang. Kami melewatkan beberapa hal penting semisal akad nikahnya dan hal-hal lain. Untuk soal ini saya harap si Subki (laki-laki yang membuat kami menunggunya hampir 3 jam) dihukum dengan diikat kakinya ke motornya Rian, lalu diseret sepanjang 50 kilometer. Dan sisa tubuhnya diurai begitu saja ke kolam lele.

Sesampainya di tempat Nency, lewatlah Putri. Setelah Putri menyalami kami semua dan berpamitan pulang, kamipun ke Masjid. Datar saja. Memang ada beberapa mulut yang mengeluarkan suara norak semisal: cie cie cie. Kalau suara itu bukan keluar dari mulut Nenden atau Azizah, mungkin itu suara binatang pohon atau ulat bulu yang sedang kawin.

Di masjid bertemulah dengan rombongan Jakarta. Mereka datang dengan banyak orang. Aroka, Hubab, Nisun, Sani, Ririn,dan.. astaga! Rois kita, Rusydi. Cowok dambaan seluruh umat ini ternyata datang. Kejutan pasti cuma ada satu. Saya jadi tidak heran jika Salma tidak turut datang bersama mereka.

***

“Kenapa kamu punya hati yang seperti ini, Rid?” Tanya Ririn.

Sekian lama kami tidak bersua, juga tidak mengobrol di ruang chating semacam whatsap, line, dan lainnya nampaknya Ririn sudah belajar banyak soal membuka obrolan yang bagus kepada seorang kawan sekolah; atau seseorang seperti saya. Meski saya tidak tahu betul apa yang dimaksud dengan “orang seperti saya”.

"Maksudnya?" Tanya saya seolah-olah saya tidak paham bakal ke mana arah pembicaraan yang dimaksudkan agar penuh tawa ini.

“Ya, itu... ditinggal berkali-kali.” Nisun menyambar. Di balik bingkai kacamatanya, matanya membesar perlahan-lahan dan berbinar, seperti sedang menyiapkan diri untuk tertawa. Saya tahu apa arti ekspresi wajah  itu. Mata yang penuh pertemanan sekaligus niat kuat buat mengejek.

Sejak awal saya selalu ingin mengira ini cuma pertanyaan yang benar-benar bercanda dan berniat untuk memanjangkan obrolan. Hal yang sama dan sedikit agak kasar juga pernah ditanya-nyatakan teman yang tidak begitu akrab di twitter:

“Drama banget ya hidup kamu...”

Saya menyahutnya dengan (mungkin) sebuah kata “hahaha”. Kata yang baik untuk mengakhiri berbagai pembicaraan; sekaligus tidak membuat kita terkesan buruk di mata orang-orang yang ditimpa bencana-bencana serius semacam selera humor yang buruk, atau tatalogika kalimat yang membuat kita ingin menampar orang tersebut.

Memang begitu adanya. Mereka bercanda. Tapi apa yang lucu. Lebih dari itu, pernikahan Nency kemarin, sebenarnya apa dampaknya bagi saya? Dan bagaimana hal semacam itu bisa dijadikan momen yang tepat untuk membecandai saya?

"Gak tahu, nasib aja kali," jawabku sambil mengelus-ngelus dada dan tertawa kecil. Kami semua, saya, Nisun, Sani, dan Ririn tergelak. Tapi apa yang lucu? Saya tidak tahu pasti. Tapi kami tertawa.

Barangkali mereka tertawa karena saya seperti seseorang yang punya nasib apes. Itulah sebabnya kenapa kita suka humor-humor slapstick ala Chaplin,Warkop, atau apa saja yang menampilkan orang-orang apes dan sial. Yang melulu terpeleset jatuh, dikibuli habis-habisan, atau hal-hal lain yang membuat kita merasa lebih superior. Merasa keadaanya jauh lebih pintar, lebih beruntung dari yang kita ketawai.

Padahal urusan rasa saya di antara kami sudah lama sekali selesai. Pas semester 4 atau 5 gitu kami berempat: Azizah, Saya, Nency, dan Rian sudah saling aku-mengaku soal siapa-suka-siapa sambil menertawakan betapa lugunya kita semua pas SMA. Lagipula siapa yang boleh menyalahkan keluguan, bukan? Lalu semua acara ngaku-ngakunya selesai dengan makan-makan, ditraktir Nency. Tuntas.

Semenjak menginjak bangku kuliah. Utamanya setelah Nency memutuskan pindah dari Jakarta ke kampus kami yang sunyi. Di antara kami semua yang ada cuma sesama teman seangkatan: Infinte Brotherhood. Kami saling membantu. Dan saling mendukung satu sama lain. Rian mendengarkan Nency curhat, mengantar dan lain-lain. Saya sekali-kali membantunya mengerjakan makalah. Mengingatkannya urusan-urusan kuliah yang tidak boleh dia tinggalkan, juga mengantarnya untuk sekadar mendapatkan tempat yang nyaman untuk naik bus.

Karena sejak awal, kami semua, utamanya Nency berazam harus keluar dengan cara yang sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya dari kampus kami yang kecil lagi pencil dan tanpa peminat itu. Tak peduli apapun yang kami hadapi. Semisal penyakit, karir, jodoh, atau hal-hal normal lainnya yang menjadi brengsek ketika datang tidak tepat pada waktunya. Kuliah harus selesai.

Tanpa itu semua, apa artinya Infinite Brotherhood?

Apa artinya tagline persaudaraan angkatan kita yang kepanjangan dan dibuat oleh Aziz dengan penuh perasaan dan keluguan itu?

Nency selalu memastikan kami tidak lapar. Ketika saya baru bisa mengendarai motor saya sering menawarkan diri mengantarnya ke jalan besar, biar lebih mudah baginya naik bus. Semenjak masa-masa KKN saya juga beberpakali membiarkan Nency mendandani alis dan wajah saya seperti perempuan.Kemudian mengambil foto sebagai kenang-kenangan. Saya tidak protes. Kecuali pas dia bagi di Facebook. Malu sama para santri.

Meski Nency tidak banyak bercerita bagaimana ia melalui hari-harinya, tapi saya mengerti, Nency mengalami banyak hari-hari yang berat. Hari-hari yang lebih menyebalkan dari saya. Saya cuma berusaha sebisanya memahami Nency. Lebih jauh dan lebih dalam di balik pembawaannya yang ceria, suaranya yang seolah-olah selalu di tengah pasar, juga riasan wajahnya yang selalu berhasil membuat alis dan matanya tampak serasi.

Nency adalah satu dari beberapa teman yang juga membuat saya mau belajar mengenali diri sendiri. Perkawanan saya dan Nency juga dengan yang lain mungkin tidak begitu penting bagi mereka. Saya tahu. Dan itu tidak penting. Saya tidak bisa mencintai diri sendiri. Jalan mencintai diri sendiri adalah dengan mencintai orang-orang yang ada di sekitar kita. Berusaha sesedikit mungkin untuk ingin dianggap. Memberikan waktu yang ada. Mendengar keluh kesahnya. Atau memarahinya jika perlu.

Nency selalu baik pada saya. Barang dagangan atau jasa apapun yang saya tawarkan padanya selalu ia beli tanpa menawar. Malah seringkali ia menambahkan bonus dan tambahnya “kamu kan udah bekerja keras. Kamu layak dihargai.”

Suatu kali yang lain saya punya rejeki. Saya ingin sekali traktir doi. Pas udah makan dia malah bersikeras agar saya tidak membayar bill kami. Saya agak kesal. Tapi dia bilang “kamu boleh traktir saya kalau udah sukses. Sekarang kita masih sama-sama usaha. Jangan lupa berhemat.” Pesannnya sangat keibuan. Sangat kontras dengan karakter bawaannya.

Di acara resepsi kemarin saya sempat salah tingkah. Berkali-kali malah. Tapi semua itu tidak membuat saya menyesal ke tempat Nency kemarin. Saya tidak menyesal. Saya bahkan tidak akan menyesal jika ada orang brengsek tolol yang kesurupan sesosok jin yang baru saja pulang dari lauhil mahfudz mengintip catatan nasib si Ahmad Farid yang sudah ditetapkan untuk menjomblo seumur hidup. Peduli setan. Berada di antara orang-orang baik seperti Nency, kupikir, aku ingin hidup seribu tahun lagi.

Ujug-ujug dulu ada yang bilang gini, “kamu orangnya pemilih temen gitu, Rid.” Eh, saya malah berusaha mengelak dengan penjelasan yang panjang-panjang. Kalau saja ada yang bilang gitu lagi, aku mau bilang “Tai!”

Bodo amat dengan pandangan orang tentang cara orang yang lain berteman. Memilih teman menurutku sama halnya dengan memilih apa yang ingin kita bangun dalam diri kita. Kata Aan Mansyur “Sudahkah kamu memeluk dirimu hari ini?” Barangkali juga semacam pertanyaan retorik; bahwa kamu mustahil memeluk diri sendiri. Untuk membuat dirimu hangat kamu harus memeluk orang lain (yang kamu pilih tentunya). Berkawan memang bisa dengan siapa saja, sepanjang butuh-sama-butuh. Tapi berteman, lebih jauh dan lebih dalam dari itu. Makanya tidak berlebihan (walaupun agak berlebihan sih sebenarnya) jika ada yang bilang: berteman sampai ke syurga.

Hal-hal yang dibicarakan tadi sebenarnya adalah hal-hal yang benar-benar melantur belaka. Tapi sejak awal saya bermaksud untuk menyinggung hal-hal kecil seperti ironi, humor, maupun persahabatan.

Sartre, si filsuf eksistensialisme yang membenci keramaian dan benci berhubungan dengan banyak orang itu, toh akhirnya diketahui dengan siapa saja ia menghabiskan hari-harinya. Baginya, orang lain barangkali memang selalu membuat hidupnya seperti di neraka. Tapi bagimana jika orang lain itu sudah ada yang menjadi bagian dari dirinya sendiri?

Ironi, saudara-saudara, sama nasibnya dengan perkara-perkara humorik, selalu menjadi tabir yang tipis antara dua hal: kebijaksanaan dan kemunafikan. Jika semakin banyak kamu sedih atau tertawa tapi tidak membuatmu lebih berbelaskasih, lebih pemaaf, dan lebih penyayang. Maka ia akan mendorongmu pada perkara-perkara yang membosankan semisal: dendam, sakit hati, kecongkakan, kesombongan, merasa superior, dll.

Hidup berkisar di antara ironi dan humor. Ironi, atau kesedihan, jika kita beruntung akan membangun kesadaran dalam diri kita; betapa sebagai manuisa kita teramat kerdil dan serba tak mampu. Sementara humor membuat kita merasa kuat, layak, penting, dan bahagia. Untuk semua inilah akhirnya kita musti sadar, bahwa kita memerlukan orang lain. Dan hidup, barangkali selalu ada di antara dua hal itu.

Selamat menempuh hari-hari yang berbeda, Nency kami. Semoga kamu sehat melulu dan bisa gemuk. Jangan lupa skripsi kamu belum beres.

Read more ...

29 April 2016

Belajar Berlibur Bersama Mas Rangga

Selalu ada satu hal yang bisa dipelajari.
–Steve Jobs

Rasanya geli sekali mengingat beberapa hal yang saya lakukan sehari sebelum ikutan program Grand Field Trip ke Jungle Land bersama para siswa, kolega guru, dan staff di sekolah. Saya mencuci sepatu, menyetrika pakaian, pergi ke barber shop, dan menemui dosen saya untuk menuntaskan urusan tugas kuliah. Beberapa hal tersebut bahkan pernah lupa saya lakukan ketika Ied Fitri.

Bersama Ana2

Hari itu sebagaimana manusia normal yang benar-benar mengidamkan hari libur yang asyik, saya bertekad bahwa perjalanan ke Jungle Land besok haruslah sempurna. Saya tidak peduli apakah Ahok bakal memenangi pilkada Jakarta atau tidak.

Saya seperti meresap dalam puisi Rangga di pilem Ada Apa dengan Cinta:

Aku ingin bingar/Aku mau di pasar/bosan aku dengan penat/dan enyah saja kau pekat/seperti berjelaga jika ‘ku sendiri.

Tanpa perlu menjadi tekstualis (yang benar-benar pergi ke pasar untuk mengusir sepi) saya mengadopsi energi dalam puisi ini ke Jungle Land saja.

Perjalanan memakan waktu sekitar 3 jam. Setelah menyibukkan diri mengambil foto-foto untuk dokumentasi sekolah, saya segera duduk, di samping 2 orang siswa yang duduk dengan canggung. Di depan dan seberang 2 kolega guru membawa pasangan. Salah satunya Pak Dadang (semoga ia dikarunia murid-murid yang degil di kelasnya) yang dengan lancang bertanya:

“Pak Farid, pasangannya gak dibawa?” Sempat terpikir untuk berteriak “Mang, bukain jendela! Aing pengen loncaat!”

Tapi Bus tetap berjalan seperti seharusnya. Datanglah kemudian yang disebut penjajahan audio visual. Anak-anak sepakat untuk memutar klip Wali Band di televisi bus.  Saya sendiri segera memalingkan diri ke dalam diri dan mengingat-ingat perjalanan yang sering-sering, semisal bus yang hening, jalan tol yang tampak terus memanjang, lalu pohon-pohon yang berbaris di sisinya tak habis-habis, kemudian termenung-menung lalu jatuh tertidur dengan pikiran dan mata yang lelah.

Tapi anak-anak tak puas hanya dengan menonton, mereka juga tergelak dengan tawa yang pecah. Dan sialnya audio dalam bis bekerja sangat bagus. Saya benar-benar sulit mencari sunyi yang saya inginkan. Satu, kosong! Saya harus tahu diri. Anak-anak sudah seharusnya mendapatkan kesenangan dalam liburannya.

Setelah tidak tahu apa yang musti dilakukan lagi, saya segera memasang earphone dan memutar mussik. Diantara lirik-lirik lagu yang tidak saya pahami, saya mengetik sesuatu, hampir satu jam. Lalu bosan, membuka dan mengobrol di Grup WA, joke-nya selalu sama (tema-tema sedih guru single), lalu bosan. Menulis dan membaca PM, lalu bosan. Melanjutkan bacaan lama, habis beberapa halaman, kemudian bosan. Dan tahu-tahu Bus sudah sampai tujuan.  Rasanya lucu sekali bagaiamana cara saya menikmati perjalanan ini tanpa tidur. Dari bosan ke bosan.

Kami semua segera turun. Anak-anak berhamburan dari bus, mereka begitu sumringah, melangkah dengan kaki yang ringan, dan wajah mereka tampak cerah. Saya jadi merasa asing. Mereka terasa sangat berbeda dari hari-hari sekolah biasa. Saat mereka berhamburan dari kelas, berjalan dengan wajah lesu, mencangking buku ummi tergulung di tangan dengan tidak peduli, sambil mencari-cari guru ummi yang sering pindah-pindah tempat dan kadang suka agak telat. Alasannya Guru ummi kan musti wudhu dulu, ya kan? Hehe. Begitu mereka duduk dalam lingkaran, segera menguar kejenuhan mereka dari aroma keringat dan suara-suara sumbang saat merapal doa pembuka.

Tapi hari itu saya baru tahu kalau suasana hati bisa mengubah mereka menjadi tampak begitu tampan-tampan dan cantik-cantik. Btw saya juga baru tahu kalau Bu Susanti memang secantik yang dibilang guru-guru single sedih lainnya (eh kok jadi salah fokus sih?).

Singkatnya saya mulai merasakan energi mereka merasuk dan mengajak saya bergabung. Segera saya menguasai megaphone, menyerahkan kamera pada pak Rizki, mengajak anak-anak dan kolega guru berfoto, lalu berputar-putar dan bicara apa aja di antara anak-anak yang girang. Seolah-olah hari itu kegembiraan bisa mendaratkan saya di planet Mars, sambil mengangkut karya-karya seni terbaik dalam sejarah umat manusia, juga beberapa binatang ternak, dan biji-bijian; untuk membangun sebuah peradaban baru di atas tanahnya. Oke, ini lebay.

Setelah melewati sesi-sains semua berpencar mengincar wahana permainan yang sesuai keinginan. Di saat-saat seperti itu saya berjalan sendirian dari wahana ke wahana. Tapi kemudian putus asa karena hampir setiap wahana yang saya inginkan harus dinaiki lebih satu orang, saya pun memutuskan untuk memperhatikan orang-orang yang berteriak panik dankegirangan. Rasanya aneh sekali melihat bagaimana kepanikan dan kegembiraan bisa menyatu seperti itu.

Tapi kemudian ada saja siswa atau guru yang usil bertanya “Kok sendirian, pak?” Ah. Rasanya kaya pengen ke jembatan, lalu melompat ke sungai yang penuh batu. Tapi syukurnya, tak jauh dari jembatan tersebut saya ketemu sekelompok guru berwajah lelah (atau putus asa?). Ada Pak Rizki, Pak Fauzi, Pak Irfan, Pak Dede, Bu Indi, Bu Mila. Kami mengobrol beberapa menit kemudian memutuskan untuk mencari permainan yang ramai.

Kami main semacam perahu air, kami tembak-tembakan melawan para siswa; sambil menebar teror “Awas Remedial!” Tapi tidak ampuh. Kami tetap saja basah kuyup. Para murid sudah tahu, bahwa tidak ada guru yang cukup gila untuk meremedial lebih dari 10 orang anak dengan 4 mata pelajaran. Kami senang dan sempat lupa bahwa kami bertujuh datang tanpa pasangan lal kami melanjutkan ke wahana lain, wahana yang tampak seru jika dilihat dari Wahana Kincir, dan ikut mengantre. Tapi kami semua hampir tidak percaya jika antrean ini lebih lama dari perkiraan. Kami mengantre hampir satu jam lebih untuk wahana yang berdurasi 1 menitan. Rasanya dongkol sekali. Wahana yang tadinya bernama “Water Lift” ini dengan semena-mena kami sebut dengan “Wahana Penantian”.

Bahkan saking lamanya antrean di wahana ini kami jadi khawatir kalau kami sudah keluar dari sini, anak-anak siswa kami sudah keburu jadi Mahasiswa.

Lalu bubarlah field trip ini. Masing-masing mencari teman untuk berfoto (lagi), beberapa murid juga mencari guru favoritnya untuk diajak berfoto. Semua tampak senang. Tahu-tahu ada yang ajak foto. Duh, saya jadi malu, tadinya saya kira hal itu tidak akan terjadi pada saya. Sejenak saya jadi kepikiran, betapa tidak ada yang lebih menyenangkan bagi seorang guru selain mendapatkan rasa kagum dan sayang muridnya. Seandainya saya bisa melakukan itu pada Masyaikh saya waktu dulu.

Kemudian kami pulang dan mulai bertukar cerita. Ada guru yang sebelumnya berwajah bosan tapi mendadak gembira ketika naik mobil-mobil listrik yg disupiri teteh-teteh manis, ada juga guru silat yang mendadak tepar cuma karena ayunan. Ada juga guru olahraga yang kekar dan berteriak “Enggeusan Maaang.” Juga karena ayunan. Wahana yang nampak sepele tersebut benar-benar tidak bisa disepelekan. Yang sudah pada nikah aja gak tahan, apalagi kita-kita yang sering dicampakkan dan ditinggalkan?

Ah senangnya. Saya seperti belajar sesuatu hari ini. Lalu dalam bayangan saya Rangga melanjutkan puisinya...

'Ku lari ke hutan, kemudian menyanyiku/'Ku lari ke pantai, kemudian teriakku
Sepi-sepi dan sendiri
/Aku benci//

Pecahkan saja gelasnya biar ramai/ biar mengaduh sampai gaduh,
Ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang di tembok keraton putih,
Kenapa tak goyangkan saja loncengnya, biar terdera/Atau aku harus lari ke hutan lalu belok ke pantai?//

Baiklah, Mas Rangga. Cukup sudah teriak-teriaknya. Untuk menghadapi berbagai kesepian, rasanya kami tidak perlu memecahkan gelas, membunyikan lonceng, atau berlari ke hutan lalu belok ke pantai. Capek, Mas.

Cara sederhana untuk mengusir sepi barangkali sesederhana ini: mulai berdamai dengan sepi itu sendiri, merelakan yang sudah-sudah, lalu menyimpan energi-energi keriangan di hari yang menyenangkan seperti ini untuk hari-hari bekerja esok. Gitu mungkin Bu Mila?

Eh, Pak Fauzi, soal itu semua kita pasti bisa kan? Ya, kan? 
Tolong yakinkan saya, ya.



Read more ...

01 October 2015

Panji dan JKT48




Assalamulaikum Syaikh, setelah antum BBM dan memesan sebuah tulisan dengan tema Manajemen Fans saya malah teringat kawan saya Panji Saputra. Masih ingat sama belio, Syaikh?

Nah, si Panji yang kita panggil Panjul pas kita Tsanawiyah, yang juga terkenal satu pesantren gara-gara pernah jatuh dari lantai dua itu, kini sudah menjadi seorang Wota garda depan untuk chapter Karawang.

Kegilaannya pada dedek-dedek JKT 48, specially dedek Melody dan Nabilah membuatnya tidak ragu-ragu untuk meretwit apapun yang bercuit dari akun para Member JKT48. Belum lagi jika ditambah dengan foto-foto yang dia upload. Wuoh! Wota syekaleh!


Syaikh, Panji yang berperawakan isi untuk tidak disebut gemuk, legam untuk tidak disebut gosong, dan bisa nyetir mobil itu msudah mengkalrifikasi  sebagai Wota lahir bathin. Dalam akun twitter, facebook, dan yang lainnya dia seolah menegaskan semua itu. Seolah-olah, bagi saya kini, mengaingat Panji adalah cara saya untuk membedakan yang mana Melody dan yang mana Nabilah. Atau yang bagaimana yang disebut Wota garda depan, Wota radikal, Wota malu-malu-ihik-ihik, dan Wota karbitan partikelir.

Melihat Panji seperti ini awalnya membuat saya sedih. Saya tentu akan lebih suka jika dia benar-benar mengidolakan Paque seperti yang pernah dia lakukan tempo lalu. Tapi ternyata itu cuma terjadi sebagai uforia pertandingan antar Paque dan Mayweather beberapa waktu yang lalu. Sebagai catatan dia memang anak twitter. Gak ikut berhastag baginya adalah sebuah kemurtadan dalam bersosial media. Gak berhastag, gak kaffah. Gitu kira-kira kredo bersocmednya.

Sayang sekali, kesukaannya pada tinju hanyalah karena ikut Trending Topic. Awalnya saya pikir karena dia memang anak yang garang. 

Ah, Syaikh betapa banyaknya kita ditipu. Setelah kita tak pernah selesai ditipu bayang-bayang kenangan. Kali ini kita ditipu oleh wajah garang berhati fans grup-idol garda depan.

Tapi kemudian. Saya sadar. Bahwa kebahagiaan seseorang punya standar masing-masing. Memakai standar kita untuk mengukur kebahagiaan orang lain adalah sesuatu yang sangat bodoh. 

Maka kaffahlah kebodohan kita ketika mengatakan setiap jomblo itu tidakbahagia lantaran hidup kesepian. Belum tentu. Memang tidak berpasangannya seorang jomblo itu sudah barang tentu. Tapi kan... siapa tahu dia memang lebih bahagia sendirian. Persoalan setiap malam dia memutar lagu-lagu Payung Teduh melulu itu kan soal lain.

Atau misalnya kebahagiaan Syaikh yang sekarang ini. Mendengar lagu Keep Being You dari Isyana. Sambil sepedahan di sekitar jalan-jalan padat di Kairo. Lalu membayangkan seorang ukhti ihik-ihik-ekhm yang imut-imut, lucu, pintar ngaji dan main musik menyanyikan untukmu “I dont need your flower, i just need your love.” Kan ya woah banget itu. Gak heran kenapa Syaikh bisa menghadapi seluruh malam-malam yang panjang tanpa selimut tetangga.

Nah ketika hal-hal yang fatatik dan menyedihkan seperti itu malah membuat Syaikh bahagia, maka saya tidak berhak mengatakan bahwa Syaikh emang sudah sejak dari sononya susah move on. Tenggelam dalam samudra ingin-balikan yang telah menenggelamkan dan membuat Syaikh ingin mati saja di dasar samudera itu lantaran some one like her memang tidak pernah ada. 

Eh. maaf syeikh. Aku sudah terlalu subyektif.

Membicarakan Panji sebagai seorang Wota Lahir Bathin akanlah sia-sia jika kita tidak tahu apapun soal nge-fans atau to-be-fans.

Syaikh. Izinkan saya yang faqir ilmu ini memberikan pandangan tentang apa yang membuat seseorang akhirnya mendaku diri sebagai fans dari sesuatu.

Bagi kita yang tak punya keterkaitan dan pengetahuan apapun dengan JKT 48; hentakan lagu yang easy listening, paras ayu nan imut-imut, serta goyangan enerjik para member JKT 48 mungkin tak jauh beda dengan goyangan Duo Serigala. Yang ehm-ehm lalu udahan.

Tapi bagi panji yang Wota sejak dalam pikirian itu. Setiap nada, setiap gerak, setiap kata bahkan merchandise yang mengarah pada JKT48 adalah bagian dari denyut nadi dan detak jantungnya sendiri. Singkatnya. Seorang fans sejati semisal Panji ini sudah merasa manunggaling (menyatu) dengan idolanya. Gak JKT48, gak Panji. Gitulah kira-kira. 

(Persoalan misalnya nanti di sepuluh tahun ke depan dia akan menggemari bacaan murottal sembari mendaku sebagai super-fanatic-fans dari seorang Syaikh Abdurrahman As Sudais yang imam Makk itu; maka itu akan menjadi persoalan yang di luar bahasan kita kali ini.)

Pada titik inilah kita temukan apa yang Jean Paul Satre bicarakan L’existence precede l’essence (Eksistensi mendahului esensi.) tentang bagaiamana seseorang menjadikan hal lain di luar dirinya sebagai identitas atau bahkan bagian dari dirinya sendiri.
 
Tidak perlulah saya bilang pada Syaikh. Bahwa mengidolakan seseorang hampirlah sama dengan jatuh cinta. Sejatuh-jatuhnya. Sementara menasihati orang yang jatuh cinta untuk tidak nekat adalah kesia-siaan.

Tanyakan pada cewek-cewek cakep bohay yang akhirnya memacari cowok-cowok yang maaf jelek bermotor Ninja. Atas dasar apakah mereka mau macarin cowok jelek? Pasti mereka bilang “Ya mau gimana lagi. Udah kadung cinta, Mas.” 

Gak mungkin mereka bilang: Karena motornya keren, Mas.

Nah!

Pada suatu kali Irsyad si juara 2 di Stand Up Comedi Session 5 bicara soal Fans dalam blognya.

Fans? Katanya Mereka gak ngefans dengan kita. Mereka (fans) mengingat dan mengagumi kita dalam karya-karya kita.

Apa yang dia bicarakan sekilas mudah dipahami. Tapi juga menjadi bias tatkala seringkali para idola merasa terganggu dengan tingkah fans dan insan media.

Mereka yang merasa menjadi idola harusnya paham belaka, bahwa memisahkan karya dari si kreator adalah sesuatu yang mustahil. Mungkin saja ada sebagian orang yang bisa hidup sebagai fans yang seperti dalam kutipan Mark Twain; Memakan sop bebek yang enak, tidak sama dengan bertemu dengan bebeknya langsung.

Atau jika ditarik dengan lelaku to-be-fans saya pribadipada sosok penyair dari Tasik, Acep Z. Noor. 

Pada suatu kesempatan di Tasik, saya melihat Kang Acep. Teman-teman yang juga mengagumi dan baru saja membeli bukunyna mengajak-ngajk saya untuk mendatangi beliau untuk meminta tanda tangan dan foto bareng dengannya. 

Saya bergeming. Dia kelihatan sedang asik mengobrol dengan teman-temannya. Saya menolak ajakan teman-teman saya, dan  memilih untuk duduk di tempat saya dan memperhatikannya dari jauh. 

Diam-diam saya sadar. Acep Z Noor bukanlah apa-apa tanpa puisi yang dia tulis. 

Jika suatu hari nanti Syaikh merasa punya fans, lalu fans itu terasa mengganggu. Maka saran saya sederhana. Biarkan dia bahagia. Lagipula tidak ada kebahagiaan yang tidak fana. Toh dia tidak merampok kita, kan? Selain itu, saya percaya bahwa fans-fans yang sopan selalu ada.

Dan jika kau ketemu idolamu. Jangan lupa. Sapalah sekadarnya. Atau abaikan saja, jika menurutmu itu baik untuknya.

Nah! Bagaimana dengan Panji dan JKT48? Dalam istilah Descartes, bagi Panji “Aku berOSHI, maka aku ada.”

Sekalipun kita ini emang Melody dan Nabilah, mau gimana lagi kita?

PS:

Sebentar, ya, Syaikh. Saya ke dapur dulu. Makan. Sebab keharusan menjaga kesehatan tidak perlu karena ada yang mengingatkan. Makan ya makan aja. Gak usah nungggu ada yang bbm “udah makan belum?” Kelamaan. Kamu juga jangan lupa makan, Syaikh.

O ya Syaikh. Sebagai sesuatu yang penting kamu tahu. Bahwa meadaptkan kesempatan foto bareng dengan Member JKT48 adalah seagung-agung nikmat bagi para Wota. Jangan tanya kenapa.


The Incredible Panjul

Read more ...

08 August 2015

Perubahan Adalah Omongan yang Membosankan




Semalam saya menerawang ke langit-langit kamar. Gelap. Kemudian saya mulai masuk dalam khayalan sendiri. Maksudnya adalah bermuhasabah... eh yang muncul malah semacam potongan-potongan adegan film di fivty shades of grey. Sampai saya merasa tidak nyaman sendiri. Mungkin karena  saya tidak suka kekerasan, atau mungkin saja saya bosan. Entahlah kadang-kadang pikiran bekerja lebih aneh daripada yang kita tahu.
 
Sampai kemudian saya mengingat omong kosong saya ke temen, ketika saya sedang putus asa dengan suatu orderan yang membuat saya rugi dan berutang sekitar 5 jutaan saat pertama Pesantren Desain belum genap tiga bulan dibuka. Omong kosong itu berbunyi begini...

Bro, saya percaya (atau setidaknya saya ingin memercayai) bahwa saya lahir karena suatu alasan yang penting, untuk menjadi penting. Barangkali saya akan menjadi the next of Steve Jobs, atau Gandhi atau yang lain; dengan membuat semacam perubahan untuk umat. Lalu mati keren kayak pahlawan, dikenang dan didoakan selalu, atau semacamnya.

Kemudian saya melihat sesuatu yang saya jalani selama hampir 2 tahun ini menjadi stuck, buntu. Dalam artian bahwa saya tidak melihat progress yang baik. Tidak, jika posisi saya seperti ini. Dan saya merasa sesuatu harus berubah. Setidaknya hal itu harus dimulai dari yang paling dekat dan fundamental. Tentu saja cara pikir ini tidak datang begitu saja. Cara pandang ini datang setelah saya lelah menylahkan segala hal yang berada di luar kekuasaan saya. Menylahkan sesuatu yangselain saya. Sehingga saya lelah bahwa pura-pura tidak bermasalah adalah masalah yang jauh lebih besar dari masalah itu sendiri.

Saya melihat kekecewaan pelanggan, utang, dan pola hidup yang boros. Kesemuanya menumpuk menjadi satu. Lalu saya mulai menyalahkan ini-itu. Menyalahkan partner, kolega,  pelanggan, dan macam-macam. Sampai saya capek sendiri dan dalam hati saya harus ngaku, bahwa maslah tidak di mana-mana. Masalah ada pada diri saya. Maka saya merasa sesuatu harus berubah dari saya. Harus!

Dan sesuatu harus berubah. Sampai kemudian tekad itu diteguhkan dengan bacaan saya terhadap buku 9 Pertanyaan Fundamental, Membangun Kekayaan Tanpa Riba.
Walaupun kadang saya sangsi apakah perubahan selalu diperlukan? Di dunia yang mungkin saja akan lebih baik seperti ini, daripada menjadi sesuatu yang lain.Yang ternyata lebih buruk. Aku jadi teringat seseorang yang menulis bahwa Soe Hok Gie beruntung meninggal dunia sebelum ia melihat sendiri kerja kerasnya menekan rezim orde lama, dan menggantinya dengan orde baru yang lebih ya gitu deh.

Saya juga jadi teringat film trancendent. Di mana sebuah visi tentang ‘merubah dunia’ malah menjadi ‘bencana’. Walaupun kemudian perlu lagi kita definisikan apa itu ‘merubah dunia’dan apa itu ‘bencana’? Dan juga perlu lagi didefinisikan apa artinya paragraf gak jelas ini?

Saya tidak ingat apapun saat membicarakan itu selain karena saya merasa stress dan putus asa. Sampai kemudian hari ini saya memutuskan untuk libur sejenak dari bekerja menetap, dan menyerahkan operasi Pesantren Desain sepenuhnya ke Adit. Sementara saya mengajar ngaji dan ekstra kurikuler desain grafis di Al-Muhajirin Kampus 2. Dan saya sudah memulai beberapa perubahan kecil. Penting atau tidaknya perubahan itu. Mari kita lihat nanti.
Read more ...

07 March 2015

Barangkali Cinta Juga Harus Dewasa


Ica bersama suaminya yang tinggi & tampan.

-Tiara Khoirunnisa.

21 Februari kemarin saya turut menghadiri resepsi seorang kawan. Namanya Tiara Khirunisa, tapi dia suka menyebut dirinya Ica. Dia adik kelas kami yang manis, meski slengean. Ramah, baik, dan suka menyanyi. Sebagai perempuan agaknya dia tidak ada kekurangan apa pun kecuali suaranya jelek. Ia membuktika itu saat resepsinya sendiri. Apalah dia itu, pengantin yang terlalu pede. Ia menyanyikan banyak lagu di pernikahannya sendiri. Memangnya siapa dia? Dia pikir dia ini Rossa? 

Sepanjang jalan ke situ. Saya merasa menyadari sesuatu. Sesuatu yang klise,  yang akrab, namun juga tidak lazim dan terasa agak menggelikan. 

Begini Ca, melihat pernikahanmu, kemudian mendengar proses putus-nyambung Lani-Aman agaknya saya menyadari sesuatu soal cinta. Mungkin cinta memang seperti manusia. Ia tumbuh, belajar, menghayati, menyangsikan, menanyakan, sedih, senang, merayakan, terbuang, bangkit, terpuruk, redup, dan terus begitu. Ia terus belajar, terus berproses. Seperti manusia itu sendiri.

4 Semester yang lalu. Saya dengan Ica semobil. Naik angkot. Ica ingin pulang ke rumahnya di Wanayaasa, sementara saya ingin nonton teater yang kebetulan digelar tak jauh dari rumahnya. Di Angkot ami biacara banyak hal. Kemudian saya lupa, apa yang kita bicarakan saat itu. Lalu saya sadar betapa tidak pentingnya paragraf ini.

Yang saya ingat, saat itu betapa saya ingin sekali mengajaknya ke Bandung naik kereta atau Primajasa. Melihat pameran buku di Braga, nonton film atau hal lain yang saya sendiri belum mecobanya. Tapi saya tidak berani. Saya bersyukur saya tidak punya keberanian itu.

Bayangkan seandainya saya berani saat itu, mungkin saja dia malah akan terpuruk saat ini. Jika kamu perempuan  kamu pasti tahu betapa apa-bangetnya-sih pacaran dengan laki-laki yang lebih suka menanyakan apa maksud bintang-bintang yang kita lihat hari ini? Bintang-bintang yang dijadikan dadu judi para ahli nujum. Bintang yang masih diamati bahkan ketika sudah jauh pergi ribuan tahun dari posisinya. Sangat tidak romantis. Dan tidak bisa diandalkan. Sayang sekali.

Ica adalah anak yang manis dan menyenangkan. Apalagi dia termasuk perempuan yang agak usil dengan koleksi buku saya. Jujur saja saya suka perempuan manis yang usil dengan kumpulan buku saya. Perempuan seperti itu terasa seperti perempuan yang datang dan mencuri perasaan. Tapi sayang, sebelum dia nikah. Dia sudah jadian sama Rian. Teman baik saya. Ah kerennya.

Hal yang lucu (kalau saya tidak salah) saya adalah temannya di kampus yang pertama dikabari soal pernikahannya. Awalnya senang menjadi orang yang diberitahu pertama. Tapi kemudian saya menanyakan ini kemarin. Ternyata itu karena dia minta dibuatkan desain undangan. Ya ampun, saya benar-benar lupa dan bego sekali. Selain pecundang-asmara ternyata saya adalah 
desainer grafis partikelir.

Saya datang pada hari ijab qobul Ica dengan perasaan senang. Saya senang karena ketika saya mendengar kabar pernikahannya lalu mendatangi tempat kerjanya. Dia tersenyum-senyum dengan wajah yang merah. Dia tampak gembira. Pada hari itu (barangkali) adalah pertama kalinya saya melihat Ica seperti perempuan. 

Kesenangan saya itulah yang berlanjut sampai hari ijab-qobulnya tiba. Tapi tidak begitu dengan Rian (yang merupakan laki-laki kesayangan Ica sebelumnya). Rian sedih. Saya tahu itu. Pertama karena Tiara menikahi lelaki yang lebih ganteng darinya. Ke dua karena kami ke Wanayasa yang dingin malam hari. Dan dia yang bawa motor! Apa boleh buat. Rian tahu apa yang akan terjadi jika saya yang bawa itu motor. Jalanan ke sana berkelok, menanjak, dan gelap. Mirip kisah cinta saya. Yaelah.


Sepanjang jalan ke tempat Tiara (kali ini menghadiri resepsinya) saya mengkhayal. Barangkali cinta memang kekanak-kanakan. Pernikahan barangkali seperti sebuh panggilan seorang Ibu, mengingatkan sesuatu: cinta harus juga dewasa, harus tahu waktu bahwa ia harus pulang, dan tak bisa lagi main-main. Gitu.

Well, Tiara. jangan lupa. Anak Laki-laki pertamamu. Harus dinamain Muhammad Farid Ruwiandika. Farid mengambil dari namaku. Dan Ruwiandika mengambil nama lelaki yang kamu kasihi sebelum akhirnya kamu meninggalkannya (Benar-benar keputusan yang brilian Ca! Apalah Rian itu. Cuma jomblo nelangsa yang kalau sedang sial pasti dikira pacar saya.).

Seperti katamu sendiri biar pinter kayak A Parid. Iya, pinter, pinter bohong dan jadi pecundang-asmara. Traktakdungcess! Dan soal nama belakang Rian tersebut, mungkin itu akan membuat Farid Junior kita tumbuh sehat, rajin bekerja, suka olahraga dan punya prospek menjadi manusia yang keren bagi ibu, bapak, bangsa, dan negara. Kayak Rian. 

Dari tempat yang bau asap rokok ini. Yang dengan semena-mena kami namai "Pedes". Saya bersaksi. Bahwa saya belajar sesuatu dari peristiwa ini, Ca.

Anggaplah kamu dan suamimu yang tinggi dan ganteng itu mengajari saya sesuatu soal cinta. Sungguh betapa bebalnya saya ini: sehingga perlu menyaksikanmu menikah, dan menyanyi-nyanyi kayak orang gila hanya untuk belajar "jika sudah waktunya, cinta juga harus dewasa."
Read more ...

27 February 2015

Dari Suatu Jumat



Entah sejak kapan saya mulai memerhatikan dan menjadi reaktif pada banyak hal. Ditambah lagi, saya kian cerewet. Di antara hal-hal tersebut adalah Khutbah Jumat. Kadang saya merasa sedih, kadang saya merasa kesal dan dongkol. Kadang juga saya merasa senang dan tenang. Sayangnya hal terkahir ini adalah rasa yang jarang saya bawa pulang sebagi oleh-oleh dan buah tangan dari para Khotib Jumat. 

Saat ini saya sedang mood ingin menyorot beberapa oknum khotib yang payah tersebut. Ada banyak hal yang menjadikan si Khotib menjemukan: khotib yang tak bisa membedakan antara pembacaan naskah proklamasi dengan khutbah (yang notabene adalah bayan/ceramah/penjelasan).

Padahal khutbah tetaplah masuk dalam rumpun Public Speaking. Di dalamnya terdapat rules dan goal yang sama. Efektivitas waktu, teknik penyampaian, kesesuaian materi, dan yang paling penting adalah membuat pesan dan persuasi benar-benar sampai kepada jamaah (audience).

Seperti jumat ini. Di mana saya hanya menahan diri untuk tidak kabur dan berjumat di Masjid lain. Khotibnya menunduk hampir sepanjang khutbahnya. Apa-apaan itu? Pemalas sekali! Dia membaca teks! Mana waktunya lama pula. Dan yang paling menyebalkan dari itu semua, saya sudah tak tahan dengan rasa perih di perut saya. Lapar. Sedangkan isinya? Yaampun. Saya lebih suka membayangkan Mario Teguh yang berdiri di mimbar itu. Tentu saja dia haru memakai kopeah. Saya tidak mau kelilipan dengan kilap di kepalanya.

Saya mendadak jadi kangen masa kecil saya. Ketika waktu-khutbah yang panjang seperti itu selalu saya pakai untuk petan (mencari kutu), atau pijit-pijitan, atau adu rumput. Setelah sedikit agak besar. Waktu-khutbah menjadi waktu mengobrol yang asyik. Lalu ketika saya sudah tidak di pesntren lagi (di mana hal tersebut membuat saya terpaksa sholat Jumat dengan orang-orang baru atau teman-teman yang memang bawaannya sudah sholeh sejak lahir) saya menjadikan waktu-khutbah sebagai waktu tidur yang menyenangkan. Atau mengamati struktur tulisan di selebaran dan artikel-jumat yang biasa ditaruh di sisi-sisi kotak amal.

Jika saja saya harus jujur. Saya melawan rasa bosan saya tadi dengan mengkhayalkan banyak hal sepanjang khutbah sang khotib yang lamanya masyaallah tadi itu. Diam-diam saya kok mulai mencurigai diri. Jangan-jangan saya mulai tidak betah tinggal di masjid. Atau ada hal lain. Rasa perih di perut saya yang kosong lah yang membuat saya merasa ingin hengkang. Mungkin hal ke dua lah yang membuat saya begitu (lagipula saya belum siap dituduh munafiq karena kayak yang tidak betah di Masjid).

Sepanjang khutbah saya berpikir banyak hal. Banyak sekali. Sampai kemudian saya berada di depan komputer ini dengan rasa kesal. Sebab saya bingung jika harus menuliskan semuanya. Saya berharap dapat menulis seluruh khayalan saya yang melesat-lesat, melompat-lompat, berganti tema, karakter, dan latar. Seperti mimpi. 

Sekali hal saya memikirkan sang khotib, lalu memikirkan perut saya yang perih, lalu memikirkan sebuah dialog dari film Birdman yang saya pikir akan keren jika dituangkan dalam fiksi mini atau dibuat film pendek. Banyak lagi, tapi  yang paling lucu adalah membayangkan percakan macam apakah yang kira-kira terjadi anatara Hitler dan Eva Braun sebelum akhirnya mereka ditemukan matri bunuh diri. Konon Eva Braun meregang maut dengan racun. Sementara Hitler dengan sebuah peluru di kepalanya.

Tahukah kamu, sayang, diam-diam ada maniak teori konspirasi yang bilang. Hitler memilih mati sebagai tua-bangka. Sambil terpingkal-pingkal di dalam bunker, menertawakan sisa umat Yahudi yang merayakan sepasang jasad gosong.

Tapi itu kan cum,a teori. By the way. Jika memang Hitler benar-benar sangat pandai bicara, kira-kira apa yang dia katakan pada Eva Braun soal bunuh diri bersama? Apakah dia menawarkan Sorga yang luasnya milyaran kali lipat dari luasnya daerah jajahan Nazi? Sorga yang dipenuhi dengan arwah tentara-tentara ras aria. Bidadari elok dengan rambut blonde. O ya? Dengan Hitler sebagai penjaminnya. Jangan-jangan Eva Braun memang benar-benar memenangkan lotre. Dinikahi tuhannya. Diajak pula bersamanya di surga. Yampun.

***

Kemudian usailah Shalat Jumat. Setelah saya sempat bersin dan menutup mulut saya, seseorang di sebelah saya mengajak salaman. Lalu saya bersyukur, dan berjalan pulang untuk menulis sesuatu di blog. Setelah saya sebisa mungkin melarang diri untuk tidak menuliskan apapun yang buruk, jadilah tulisan ini.

Read more ...

20 May 2013

Semacam cinta (1)



Amsal Penyair

pencarian ini tak akan pernah sampai/
hingga waktunya nanti ku temukan makna cinta/
perjalanan ini tak akan pernah sampai/
hingga waktunya nanti ku dapati arti pulang/

Tuhan bimbinglah langkahku/
Tuhan jagalah jiwaku/
Tuhan terimalah hadirku/
Tuhan sambutlah pulangku/

-Rudi Aliruda-

Ini adalah puisi romantis paling berhasil dalam mengikat konsespsi cinta dan spiritualitas yang agung. Barangkali karena puisi inilah saya selalu merasa dalam rantau. Barangkali persislah sudah, bahwa hidup adalah perjalanan paling panjang yang sedang kita lalui. Dan “muasal kita” adalah "pulang" yang paling ingin kita ketahui dengan telanjang. Akhirnya saya harus tahu bahwa sains, filsafat, dan agama; semua mencoba menguak rahasia tentang “pulang” tersebut dengan caranya sendiri.

Saya merasa, tadi sore yang keren, saya menatap matahari yang susut. Saya berjalan santai sepertinya, menyambangi warung tenda langganan, memesan ampela goreng, meminta porsi lebih yang akhirnya tak habis dimakan semua. “Duh… maap nih mbak, gak habis… tadi saya pikir kalo seharian belum makan, musti bales dendam,” “ya gitu mas… kalo suka telat makan.” Ujar si Mbak menjawab. Saya mengerutkan kening, ada yang kurang dari kata-katanya, saya bertanya lagi “kira-kira kalao saya telat makan terus-terusan begini, bakalan mati muda gak?” Dia masih sibuk menata ayam gorengnya di balik kaca… suara saya habis dimakan gemuruh kompor minyak yang menyala.

Saya melirik lagi nasi itu, nasi yang belum habis saya makan; nasi yang akhirnya tersisa dan tersia karena keserakahan saya. Saya agak menyesal, pasti di ujung-ujung benua Afrika sana masih ada bocah-bocah yang tampil di televisi seperti boneka hitam berkepala besar, dengan perut dan tungkai kaki sebesar batang-batang pohon singkong. Lengkap dengan bopeng di permukanan kulitnya juga dengan sorot mata kosong. Lalu saya merasa mulai membenci sesuatu.

Read more ...

07 January 2013

Proses Kreatif Kepenyairan Saya (1)

Gamang, ngirim ke koran. Belum lagi, katanya format Surat pengantarnya yang sepertinya gak benar. DAN ITU BENAR-BENAR BUKAN NOMER REKENING SAYA

Saya tidak begitu mengerti bahkan bingung bagaimana seseorang bisa mendapati label Penyair. Seperti bingungnya saya ketika ditanyai seorang adik santri "A, gimana sih
Read more ...

05 January 2013

"Gairah"

Ekspresi Ababil yang sedang "ber-Gairah"

Ziah, entah kenapa aku suka melihat adegan perempuan saat sedang mengikat rambutnya, tapi aku tak pernah melihatmu begitu. kamu berkerudung dan kadang aku melihat rambutmu melengkung, terikat didalam kudungmu itu. Melihatmu dengan rambutmu itu aku merasa sedang dalam moment paling puitis, bahkan dibanding film romantis manapun. Tapi lelaki keren itu ternyata yang bawa Ninja dan main musik, terlepas dari
Read more ...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...