24 June 2011

belajar menyikapi perbedaan.


Beberapa hari yang lalu teman saya berujar “eh rid gue sebetulnya ga setuju ama hadits yang bunyinya kurang lebih 'perbedaan ummatku adalah rahmat'". Kontan saya bertanya “loh, kenapa?, Dia bilang “dilihat dari kualitas hadits ia termasuk hadits dhoif, belum lagi implementasinya yang lebih banyak merugikan”, oooh “aku manggut-manggut kaya curut.

Merugikan? Hmm… mungkin dia teringat bagaimana khilafiyah di kalangan ulama dulu, yang mengakibatkan ka’bah memiliki blok-blok pemisah antar pengikut madzhab, seandainya itu terjadi hingga hari ini bukankah itu tidak nyaman?. Belum lagi pertumpahan darah yang “katanya” di sebabkan oleh perbedaan(khilafiyah) antar madzhab tersebut.
Dia juga berkomentar “masa berbeda itu rahmat?”. Lah… harusnya gimna dong? Haruskah semua Seragam? Wahh itu bakalan sulit bukan? Bukankah anda setuju bahwa berbeda itu memang sudah ada atau seseorang bahkan berani menilai “seandainya selera seluruh manusia Cuma satu bakalan banyak pedagang rugi. Dan bayangkan saja bagaimana kalo kamu jalan-jalan di mall lalu melihat semua orang berjualan baju dengan model yang sama. Bhaha.. bukankah itu akan sangat lucu?. Masih inget gimana president (or king?) kita yang ke2 dulu, matia-matian mencekoki rakyat dengan paham pancasila versi otaknya yang sempit dan kacau itu,(meracuni penentangnya dan memperkaya keluarga BESARnya). Menurut anda apa yang tersisa dari usaha pemaksaan pemikiran konyolnya tersebut?. K.A.C.A.U !! sampai hari ini bahkan orang lebih suka mengutuknya ketimbang mengutuk PAK HITLERR yang biadabnya ga ketulungan. (eits … katanya ada yang mau jadiin dia pahlawan tau… iya emang die pahlawan.. pahlawan keluarganya kali yee)

untuk masalah kualitas hadits, jelas setiap orang pasti berpegang pada pendapat ulama-ulama tertentu yang diidolakannya tentunya. Tapi kitapun sama-sama tau, terkadang para ulama pun berbeda pendapat tentang kualitas suatu hadits. Tapi yang paling penting adalah hadits ini tidak bertentangan dengan nas-nas yang ada/yang sejenisnya secara ma’nawi. Saya bukan ahli hadits jadi tak begitu tau keabsahan hadits diatas.

menurut aku pribadi perbedaan bukanlah hal yang mutlak negatife, bukankah sejak kita lahir kita sudah akrab dengan perbedaan?. Dari yang paling sederhana seperti warna kulit, warna rambut hingga yang lebih rumit seperti DNA manusia,sidik jari dsbg.

Menurutku kita mesti memahami arti perbedaan itu sendiri, tidakkah kita setuju bahwa apa yang alloh swt ciptakan pada diri kita sekalian adalah anugerah? Lalu bagaimana dengan corak-corak yang ada dan bahkan sudah tercipta, yang tuhan bekalkan pada diri kita? Toh itupun juga anugerah bagi kita wahai orang-orang berakall. Dalam menyikapi perbedaan, kita memang belumlah sebaik sahabat zaman nabi Muhammad S.A.W. namun jika setiap orang mengerti bagaimana arti perbedaan tersebut maka percaya tak percaya takkan ada pengeboman dalam mesjid seperti yang terjadi akhir-akhir ini. Aku pingin nanya nih.. tidakkah si pengebom tersebut tahu malu bahwa dia ngebom dalam masjid? Mmm.. padahal orang bodo kayak aku aja malu lohh ngebom pake gas dimasjid.. sumpe dehh…

Kesimpulan aku, perbedaan itu tidaklah begitu mengusik hanya saja aku benar-benar pingin belajar bagaimana harusnya menghargai berbagai perbedaan yang ada, selama perbedaan itu tak merugikan banyak orang. Nahh.. Kalau kamu gimana?





2 comments:

  1. gua ga rasis sih, jadi menanggapi perbedaan, entah beda etnik, budaya, suku, ato agama, yah biasa aja..

    ReplyDelete
  2. :)
    ooh haha,, jadi saya ini rasis dong?
    not bad.. :)
    salam kenal..

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...