29 November 2011

(goVlog) kitalah ODHA yang sebenarnya


Bicara tentang HIV/AIDS, Mungkin sulit dipersalahkan kalo ada menyebutnya sebagai perwujudan kutukan Tuhan atas nama penyakit. Walaupun aku tahu bahwa judge itu sedikit naïf. tapi bagaimana buat mereka yang sok suci, dengan mengata-ngatai saudara-saudara yang kepalang menderita ini. keterlaluan! 

Tapi entah mengapa orang yang harusnya mendapat perhatian lebih seperti  itu
harus terpojok dengan kita yang lebih baik keadaannya. Jangan-jangan kita jauh lebih cocok untuk “terkapar” dirumah-rumah sakit.

siapapun itu, tentu tidak ada yang ingin dirinya jadi ODHA, bahkan kerabat-kerabatnya. namun banyak hal yang kadang terjadi begitu saja. korban takdir? oh itu naif sekali kawan.


AKU DAN MEREKA
judul sub tema yang sedikit rasis memang, namun ini demi memperjelas arah dan karakter tulisan saja. (sejauh ini saya tidak pernah menulis dengan arah yang jelas hehe)

Kenalkan, Aku manusia pesantren. kira-kira 11 tahun sudah aku bersimpuh didalamnya. terbilang semenjak umurku 6 tahun sampai detik ini, dan tentu aku masih nyaman dalam naungannya.

dengan latar belakang tersebut tentu tidak banyak yang aku tahu tentang hal ini selain dari buku, Koran, film dan cerita kawan-kawan yang sudah lama hidup diluar pesantren terutama saat mereka masih masa-masa SMA. Kuno banget yah? Meskipun tidak bisa lihat langsung bukan berarti aku tidak bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Selalu terbayang bagaimana mereka harus berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun tergeletak lunglai didipan rumah sakit, tanpa tau kapan dan dimana ia dapat mengakhiri semua rasa sakit yang menggerayangi tubuh sehatnya.

Sulit dibayangkan imunitas tubuh yang terus menerus turun dan effeknya pada yang buruk bagi tubuh. Belum lagi ditambah tekanan mental dan psikologi yang ia dapatkan dari reaksi orang-orang terdekat mereka.


Sekecil-kecilnya semut, diinjek ngigit juga.
Dulu aku pernah mendengar istilah jarum duduk. Jarum  yang sudah
terkontaminasi darah pengidap HIV. Yang katanya sering  diletakkan
dikursi bioskop yang gelap  dengan posisi bagian tajamnya  menghadap
keatas. Bisa diperkirakan apa yang terjadi jika seseorang  duduk
diatas kursi tersebut? sedikit horor kawan. belum lagi yang belakangan ini terjadi :
jangan tanya ulah siapa… mari bertanya sebabnya apa?

Lalu apa kita ini?
semua ini bisa lebih banyak dilihat diberbagai media. bukankah seharusnya kita lebih peka? mungkin saja apa  yang menimpa mereka bukanlah musibah bagi dirinya sendiri. Tapi lebih  tepat untuk dikatakan sebagai ujian bagi kita, untuk menguji sampai mana  batas humanisme kita dan batas kepedulian kita terhadap sesama.

Bukan  kah kita setuju bahwa tidak ada pengkastaan dan penyekatan -penyakatan  sosial hanya karena masalah beda anugerah dan beda musibah secara kasat  mata?

Dalam banyak hal seharusnya  kita menyadari kesalahan itu bukanlah salah jika kita mulai belajar  untuk menyadari bahwa kesalahan itu adalah kesalahan dan tidak baik diulangi. jika sebelumnya kita abai pada mereka yang butuh kita sebagai kawan, sebagai sandaran dan tempat berbagi. dan jika kesalahan ini terus berlanjut, maka kitalah ODHA yang sebenarnya (orang dengan HIV Aids) sebab ketidak pedulian adalah "VIRUS", dan tindak deskriminatif terhadap suatu golongan adalah "AIDS" yang siap membunuh pengidapnya.

Bukan mereka dan kami, tapi kita dan kami
Aku tak tahu dibalahan bumi bagian mana mereka saat ini. Mungkin mereka bisa dengar suara orang-orang yang sama sepertiku. Berteriak tanpa lelah


“kami sejumput manusia yang peduli pada-mu, masih ada. dan Tuhan, tentu saja mendengar segala keluh kesah hambanya”
tidak usah muluk-muluk tunjukkan saja rasa peduli kita. dimulai dari hal yang paling mudah!


(Purwakarta-jawa barat)


7 comments:

  1. bner th,,pernah denger yg soal jarum suntik ituh,,,brrr serem!

    ga suka bgt ama salah 1 pengomentar di pesbuk ituh!

    ReplyDelete
  2. ODHA mempunyai hak2 yang sama layaknya manusia sehat lainnya. ngga sepatutnya kita mendiskriminasi ODHA. seharunya kita bisa lebih bersyukur dan memberikan semangat kepada ODHA

    ReplyDelete
  3. ODHA berhak mendapat perhatian dari kita semua.. bukan hinaan.

    ReplyDelete
  4. ODHA juga manusia, punya hati punya perasaan.
    Di putar balik saja, jika kamu ada di posisi mereka. apa yang bakal kamu pikirkan. :3

    ReplyDelete
  5. ODHA juga manusia, tapi terkadang karena kita mikirnya udah macem2 jadi nggak mau deh deket2 mereka :(

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...