25 December 2013

Mencacat Teman (2)


Tak ada mimpi yang terlalu besar, tak ada pemimpi yang terlalu kecil -Turbo The Movies-

Salah satu teman saya Maulana Abd Aziz, baru saja berangkat ke Kairo. Nah, buat kamu yang gak tahu Kairo,  itu sebuah tempat  yang letaknya dekat dari belokan ke arah Pasar Jumat kalau kau datang dari arah Cikampek.

Ajis adalah satu-satu teman yang berani mengatakan pada saya bahwa saya penuh dengan mimpi dan perencanaan-perencanaan besar yang omong kosong. Dan sialnya dia benar. Dan yang lebih sial adalah dia adalah orang yang sama belaka dengan saya. Itulah sebabnya dia penting buat saya.

Teman saya ini sampai ke Kairo dengan selamat, meski sebelumnya saya berpikir begitu dia melayang di atas langit Mesir yang sedang didera musim dingin dia akan mati karena ingusnya menjadi es; lalu dia akan mencoba bernapas dengan mulutnya, tapi liurnya sudah membeku. Naas memang. Kemudian dia berpikir untuk bernapas dengan lubang lain yang berada di tubuhnya misalnya lubang telinga, pori-pori, atau yang lebih ekstrim… ah, udahlah ini pasti mengerikan. Tahunya di Kairo dia tetap hidup.  Well, ternyata saya memang bukan anak IPA.

Dia bahkan berfoto sebelum dia benar-benar sampai ke Mesir.
Padahal bisa saja itu cuma ornamen Mesir di bandara Zimbabwe
Sejak kami SMA, saya tahu sedikit mengenai proses Ajis yang entah kenapa dia sangat memimpikan menempuh pendidikan formalnya di luar Indonesia. Waktu kami masih SMA dia sudah bergabung dengan website program Au Pair yang katanya akan memberangkatkannya ke Jerman dan Kanada. Tapi entah kenapa dia tidak jadi kesana. Mungkin karena khawatir dihamili. Padahal dia laki-laki.

Lalu setelah kami libur UN dia ikut tes ke Mesir, dia tidak lolos. Mungkin karena takut dijadikan pasukan Hosni Mubarak saat itu. Dengan berat hati akhirnya ia masuk UIN Bandung.  Kemudian selang beberapa waktu dia ikut tes ke Sudan, tapi tidak jadi berangkat. Begitu juga saat dia bilang dia akan ke Turki, sama, dia tidak berangkat juga. Dia down meski dia tidak pernah bilang pada saya.

Maka Ajis yang down tadi bertahap namun pasti dia belajar mengubur dalam-dalam mimpinya untuk kuliah di luar negeri dan belajar mencintai almamaternya UIN Bandung, tapi ternyata dia tidak benar-benar terlepas dari mimpi-mimpinya sendiri, itulah sebabnya setelah jatuh berkali-kali di ruang keimigrasian dan kedutaan, kemudian dia malah berusaha keras untuk merayu orang tuanya agar merelakan dirinya yang bungsu ini ke Kairo, pergi jauh dari kampung halamannya di Wanayasa.

Meski rencana-rencananya ke luar negeri seperti Mesir, Jerman, Kanada, Sudan, lalu Turki ini pernah gagal, namun sejak awal saya yakin Ajis tak akan lama di UIN Bandung. Sebab UIN bagi orang sepertinya hanyalah kebun binatang, sementara teman saya ini adalah primata hutan yang malu-malu dengan keinginannya untuk ke alam liar yang lebih luas dan menantang yang pastinya sangat cocok dengannya. Saya selalu punya firasat orang ini akan pergi ke tempat yang jauh meski hanya untuk numpang pipis dan membaca buku-buku sastra yang dikarang oleh Ahmad Tohari, Acep Z Noor, dan Sapardi Djoko Damono.

Saya merasa kehilangan, saya sempat menitikkan air mata saat di bandara, saya sedih karena saya ijin merokok lalu begitu selesai ternyata dia sudah masuk ruang check-in, sehingga pelukan terkahir kami hanya dengan melambaikan tangan saja, ini lebih menyedihkan ketimbang sinema-sinema persahabatan manapun. Mungkin saya harus berhenti merokok.

Akhirnya, bertambahlah satu teman ldr saya. Sulit rasanya ldr dengan teman-teman terkasih ketimbang dengan pacar sendiri. Meskipun saya tidak punya pacar untuk di-ldr-in. Dan ternyata hal yang kedualah yang lebih sedih.


Tidak ada mimpi yang terlalu besar, tidak ada pemimpi yang terlalu kecil.

Aziz adalah seekor rusa yang hamil, dan segala hal yang merintanginya adalah cheetah-cheetah yang lapar, cheetah tersebut selalu menunggu si rusa melahirkan sebab mereka tahu bahwa rusa yang melahirkan akan lemah dan mudah diserang.

Begitulah kita, ketika rintangan-rintangan yang kian besar menantang diri kita untuk  lebih maju, mereka selalu terasa semakin berat dan sulit. Jika itu yang terjadi, berarti kamu sedang akan sampai pada mimpi besarmu. Seperti si ibu rusa yang terus menerus mencari cara menyiasati diri dari cheetah-cheetah yang menunggu waktu persalinannya, misalnya dengan memasang cctv dan menyewa densus88 untuk melindunginya sampai selesai melahirkan.

Kita selalu berharap akan ada orang lain yang membantu mewujudkan mimpi-mimpi besar kita sendiri, namun kita tak pernah akan mendapatinya; sebab orang yang kita tunggu untuk mewujudkan mimpi kita itu sendiri adalah diri kita sendiri.

Itulah yang saya sarikan dari Joel Osten, seorang Kristen yang baik yang semalam mengisi acara di V-Chanel. Saya menontonnya karena beliau ini lebih asyik daripada Ustadz Solmet! Lagipula saya ingin merayakan kegembiraan umat Kristen dalam kekhusyukan dan gempita Natal, dengan mengambil sebanyak-banyak hikmah.


Kesempatan, kegagalan, dan proses

Setelah berkali-kali mendengar keberangkatan Ajis yang tertunda saya sempat mengutarakan bela sungkawa dan keberatan saya dengan keinginan Ajis untuk ke luar negeri. Saya sering bilang padanya bahwa Indonesia adalah tempat yang tepat menimba ilmu, meski semua orang tahu bahwa orang-orangnya tak akan pernah mudah menerima dan sungguh-sungguh mengapresiasi orang- orang yang benar-benar mencintai ilmu pengetahuan. Tapi dia memang kampret. Dan setiap pemimpi adalah kampret. Kampret yang mengagumkan.

Sejak awal Aziz sangat ingin ke Mesir, tapi pada awalnya dia tidak berhasil, mungkin karena dia kurang sungguh-sungguh. Sungguh-sungguh yang saya maksud adalah dengan mengirim sms ancaman bom ke kedutaan Mesir. Dia tidak melakukannya, maka diapun pantas gagal waktu itu. Tapi setelah berlalu hampir dua tahun ini dia berhasil berangkat ke Kairo entah apakah dia benar-benar melakukan seperti yang saya kira atau hal lain, misalnya memacari anak gadis dari menteri luar negeri Mesir.

Sudah beberapa kali Ajiz menelan kekecewaan sebelum akhirnya ia dapat berangkat ke tempat yang sejak SMP dia inginkan. Dia berkli-kali kecewa dengan segala hal yang pernah dia lakukan, dia sempat down dan ingin makan jengkol sampai mati. Tapi apa yang kali ini Ajiz dapati membuat saya penasaran, apakah kekecewaan adalah cara Tuhan untuk membisiki kita, bahwa ada yang lebih penting daripada terwujudnya mimpi kita, yaitu proses untuk menujunya.

Menurut Joel Osten, Tuhan selalu menunjuki kita arah menuju mimpi-mimpi besar kita, namun kegegalan yang kita temui nyatanya bukanlah cara Tuhan untuk menghalangi. Masih menurut Joey, kegagalan adalah hasil dari salah-langkah kita, juga untuk memberi kita satu pelajaran bahwa masih ada kesempatan lain yang akan Allah tunjukkan pada kita dengan sabar.

Gagallah teman, maka kamu akan temukan betapa nikmatnya proses dan berharganya kesempatan. Kesempatan yang Allah tunjukkan padamu dengan kesabaranNya; juga proses luar biasa yang Tuhan pilihkan bagimu.

So, saya jadi bertanya-tanya  seberapa beranikah saya menantang diri demi mimpi saya sendiri?

Ini sebulan sebelum dia berangkat, Ajis yang saya bicarakan
adalah dia yang pakai kacamata.
"Mandi" itu bahasa Mesir juga?

Read more ...

25 November 2013

Mencacat Teman (1)


Jika di tempatmu saat ini sedang siang dan hangat pastilah ada sisi lain dari bumi ini yang sedang malam dan dingin. Maka begitulah rupanya jika di satu sisi bumi ini sedang dalam hal damai dan masa tenang maka selalu ada sisi lain yang sedang ditimpa malang yang panjang –atau  perang? Tapi kenapa dengan perang? Ah. Gak nyambung!
Ini semua sebenarnya soal yang gampang. Seorang teman yang kuliah di Bandung kabarnya sedang mencelat jatuh dari motornya, lalu terkapar di rumah sakit Hasan Sadikin. Kami agak shock. Hari sudah malam sekali, sementara dia jauh dari keluarganya. Dengan semena-mena kami yang di Purwakarta segera titip pesan pada teman-teman yang sedang di Bandung untuk menjenguk dan memastikan keadaannya segera. Walhasil hampir selusin dari kami yang di Bandung langsung meluncur ke rumah sakit tersebut. 
Tapi sial bukan kepalang. Si teman saya yang katanya kecelakaan ini tak diketemukan. Dikontak ke nomer hapenya tak bisa, ditanyakan ke resepsionis rumah sakit-pun namanya tidak tertera. Kami yang di Bandung dan di Purwakarta sama was-wasnya. 
Saya tak bisa tidur karena was-was. Sebab, sejak masih sekolah kecelakaan motor di angkatan kami bukanlah hal yang pertama terjadi. "Farij belum ditemukan" Begitu bunyi sms salah satu teman saya yang meluncur ke RSHS. Saya mulai benar-benar was-was. Dan hampir saja saya kirim sms “coba cek ke ruang mayat,” tapi saya khawatir kalau itu tidak sopan. Saya bilang "Ditunggu aja masbrow, mungkin dia salah nyebut nama sendiri"
Malam itu sulit untuk saya tidur kembali, pasalnya saya teringat dengan foto-foto korban kecelakaan yang kepalanya pecah kelindas mobil-mobil besar. Lalu sekonyong-konyong saya bayangkan dia menjadi hantu dengan lelehan otak di sekujur lehernya, dia datang mendatangi saya, menakut-nakuti. Lalu saya gemetar, tapi saya ingat satu hal…
“Bayar utang lo begok!”
Sontak si hantu itu lari tunggang langgang. Ya, iya... mana ada hantu punya uang dan berpenghasilan? Orang masih hidup saja belum tentu punya pekerjaan, apalagi hantu yang matinya gara-gara jatuh dari sepeda motor.
Singkat cerita… semprul memang si Farij ini. Ternyata dia iseng mengabari semua teman-temannya via sms, kalau dia sedang terkapar di rumah sakit Hasan Sodikin. Kami semua ditipu.
Meski tertipu, agaknya saya senang, meskipun agak kesal juga. Sebab bagaimanapun. Meski ditipu mentah-mentah saya tetaplah sayang kepada teman. Ya, dengan sangat keren dan bodoh sesungguhnya aksi picisan dia rupanya adalah aksi yang penuh dengan hikmat dan pelajaran yang bijak.
Aksinya tersebut seolah mempertanyakan dan meminta bukti tali pertemanan kami semua. Seolah-olah aksinya ini bilang “mana buktinya? Katanya elo temen gue…”

Penampakan Farij Manohara Saat Acara Perpisahan SMA
Read more ...

26 August 2013

Galau massal di bulan Agustus

Selamat para pemimpiiin... rakyat makmur terjamin.. la la la la..

(Post ini pernah saya post di catatan facebook pada 17 Agustus kemarin)


Saya pusing dengan orang-orang di Media Jejaring sosial, mereka hari ini bicara tentang Indonesia dengan riang setelah sehari yang lalu bicara soal Mesir yang sedih dan setelahnya galau membicarakan sang pacar yang tidak membalas pesan pendeknya. 

Indonesia, krisis kemanusiaan, perang, 17 Agustus… semua hal ini mengingatkan saya pada  beberapa waktu yang lalu di kampus. Singkat cerita saya berpapas muka dengan Pak Firman, dosen kami yang asik tersebut mengajar komunikasi lintas budaya. Dia bercerita, konon tragedi bom atom di Hiroshima dan Nagasaki terjadi salah satunya disebabkan oleh kesalah pahaman dalam komunikasi lintas budaya, antara pasukan Amerika yang sedang berada di udara dengan Pasukan Jepang yang berada di darat. Saya lupa lagi bagaimana kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka saat itu. Mungkin begini…

“Kamu mau aku Bom gak?” Tanya serdadu Amerika, yang sedang marah diliput dendam karena tragedi Pearl Harbour. Serdadu Jepang tidak kaget “Mmm… kasih tahu gak ya?” begitu jawabnya berusaha akrab. “Kami ini Amerika! Ini bom atom tahu!” Sahut si Amerika mengingatkan. Lalu si Jepang malah bertanya balik, tentu dengan niat berakrab ria “Atom aja, atau Atom banget?”

Blammm!! @#$^&*&*(*()*^$#$@#!$%%*,.

Kira-kira begitulah kejadiannya. Ini miss understanding! Amerika mengira Jepang mengejeknya, padahal memang Jepangnya saja yang agak alay, dan alay bukanlah sesuatu yang buruk di Jepang. Itu murni budayanya (lihat aja AKB48 yang akhirnya melahirkan JKT48)

Bom atom tersebut, diusulkan oleh Einstein kepada Presiden As Roosevelt dengan alasan ia khawatir bahwa bom sejenisnya sudah pasti ditemukan oleh pihak Jerman dan sekutunya. Dan usaha serangan ke Jepang adalah bentuk Sow Off dan reaksi defensif dari militer sekutu dan Amerika. Lalu pada tanggal 6 dan 9 Agustus 140 ribu jiwa di Hiroshima dan Nagasaki habis (!)

Lalu dari kejadian Hiroshima dan Nagasaki yang tragis tersebut, muncullah kemudian wacana kemerdekaan bangsa Indonesia –yang kita rayakan- ini. Walaupun, toh sejatinya saat itu Jepang sendiripun sedang hampir surut dari pergolakan perang dunia II, Jepang sudah mengalami banyak kekalahan pada perang pasifik, belum lagi munculnya banyak perlawanan dari rakyat Indonesia yang mereka bina dan didik sebelumnya. Jepang sudah goyah saat itu, lalu bom atom yang jatuh di Hiroshima dan Nagasaki membuat kegoyahan itu semakin dahsyat. Kamu-kamu pasti tahu bagaimana daya kerja bom atom dalam hal merampas nyawa manusia, infrastruktur fisik, ekonomi bahkan mental dari negara manapun.

Einstein su’udzon dan paranoid! tentara Amerika di langit Nagasaki salah paham! Mungkin Einstein yang berdarah yahudi itu tidak salah, mungkin memang Hitler yang membuatnya begitu, mungkin juga kerakusan dan kesemena-menaan leluhur Einstein yang yahudi-lah yang menciptakan manusia semacam Hitler. Mungkin aja sih… mungkin. Bisa jadi! Bisa jadi!

Tapi dari segala kemungkinan itu, kita sangat hapal beberapa hal dari sejarah hidup kita sebagai manusia. Pertama, kekerasan selalu melahirkan kekerasan lainnya. Kedua, betapa buruknya prasangka buruk, dan ketiga, betapa mengerikannya intoleransi dan fanatisme (apapun bentuknya).

Maka dari momentum Lebaran dan Hari Jadi RI ini marilah menjadi manusia yang galau segalau-galaunya! Kita akan bergalau massal! Galau yang manfaat dari galau yang biasanya. Maka lupakanlah pacarmu yang tidak perhatian, atau mantanmu yang menyakitkan dan mulai sering minta balikan.

Mari galau dengan melihat 17 Agustus dari sudut pandang yang lain, bahwa 17 Agustus mungkin saja bukan lagi sebagai simbol kemerdekaan bangsamu, dan 360 tahun masa penjajahan di atas bumi nusantara pun bukanlah penjajahan hakiki, sebab apalah arti penjajahan bagi mereka (para pahlawan kita) yang jujur dan dan setia hidupnya pada kebenaran walau akhirnya mati diracun, ditembak, disangkur, dan dipenjara. Dan apalah arti kemerdekaan, jika dunia pendidikan, politik, ekonomi, budaya, agama yang kita tempuh dan rasakan bertahun-tahun tidak membuat kita dewasa, jujur, produktif, kreatif, dan setia kepada nilai kebaikan; bukannya malah membuat kita semakin fanatis dengan partai politik tertentu, ormas, madzhab fikih tertentu, team bola, geng motor, boy/girlband yang Demi Allah! Semua itu tidak akan membuat kita kian pintar, sejahtera, ganteng/cantik di dunia maupun di akhirat!

Muhammad Saw. bersabda saat dalam perjalan pulang dari pertempuran Badr: Perang yang sesungguhnya adalah perang melawan Nafsu (ketidak jujuran, anti toleransi, fanatisme, anti keadilan). Maka apalah arti 17 Agustus, atau status facebook dan twit sok nasionalis dan pura-pura merdeka jika saja kita masih terjajah jiwanya. Sebab penjajahan di Indonesia bukan lagi rentetan senjata, derap pasukan berkuda dan semacamnya. Penjajahan terhadap bangsa kita adalah ketidak jujuran, kontra produktif, anti toleransi, anti keadilan, rakus kekuasaan, fanatisme, dan materialisme.

Tiba-tiba saya kangen bangku kuliah, kangen tiduran saat dosen pada dua jam pelajaran penuh berceramah, kangen pula saat bersilang pendapat dengan dosen Ulumul-Quran dan hampir dibilang kafir, kangen dengan tugas-tugas kelompok yang lebih sering tidak efektif, kangen juga ketika meragukan integritas beberapa oknum dosen dengan mata kuliah yang diajarkannya di kelas saya. Kangen yang aneh.

Duh, pendidikan di Indonesia. Duh, generasi bangsa. Duh, pejabat Negara. Duh, kemerdekaan Indonesia. Jauh panggang dari api! Sebagai sate kambing, sesungguhnya cuma kambing saja yang sudah merdeka dan tidak galau lagi.

Rumahnya Pak Haji Adang, 17 Agustus 2013
Read more ...

25 August 2013

Bandung (1)








Saya baru pulang dari Bandung, kau tahulah kawan, laki-laki muda itu harus banyak melakukan perjalanan penting dalam hidupnya. Tapi saya ngerasa keseringan ke Bandung, saya khawatir itu akan jadi semacam perjalan spiritual yang rutin atau semacam umroh gitu... Thawaf di Pasar Baru, Sa'i Jalan Braga, terus lempar jumrah di Trans Studio (lantaran kesel sama harga tiketnya).

Iya, betapapun kerennya saya ini, ternyata Bandung memang harus tahu, bahwa saya dibutuhkan oleh dunia untuk tugas-tugas besar: seperti merokok di SPBU dan berenang juga lompat indah di sungai Cikapundung.

Oh bukan gitu maksud saya rupanya...

Harusnya kan saya lebih sering ke Jakarta, belanja mobil, numpang pipis, ketemuan sama yayang Maudy Ayundha* dan ngajak dia makan-makan di warung tenda terus minta dia yang bayarin. Tapi pada kenyataannya saya baru saja dari Bandung. Entah gimana ceritanya, intinya saya.. mmm... yaudahlah, daripada diputusin Ariel, akhirnya saya ke Bandung. 

Ngapain saya di Bandung, saya pikir bukanlah hal yang penting, saya cuma mengambil lensa kamera yang sedang di service di daerah Braga, lalu membeli kuas di ABC, dan saya berjalan kaki sendirian dari satu tempat ke tempat lain, mirip vokalis-vokalis keren di video klip musik mereka. Saya merasa seperti Ariel Noah, tapi Ariel Noah tidak merasa seperti saya, yasudah itu bukan masalah.

Saya juga sempat Shalat Dzuhur di Masjid Raya Bandung, rumah ibadat yang menakjubkan, selalu tampak ratusan manusia di sana. Gak usah diomongin kalo yang bikin banyak itu pedagang kopi dan rokok yang gentayangan di serambinya, bahkan ada yang menggelar warung nasi dan panti pijat segala. 

Ah, lalu hujan tiba dengan tiba-tiba. Saya diam, di sela-sela hujan tersebut saya merasa terjebak di tempat yang begitu puitis dan menyenangkan. Tempat yang melambangkan kedekatan manusia dengan Tuhan, alam, dan manusia. Keren!

Saya pesan kopi, pesan juga sebatang rokok. Saya diam, orang di samping saya diam, pedagang rokok diam, tukang pijat diam. Semuanya diam, kami sama-sama mengatupkan ketiap rapat-rapat, serambi masjid banyak orang berteduh dari hujan dan bertahan melawan dingin.

Saya melihat dedaunan palem di halaman masjid; sama-sama gemetar disentuh jemari hujan, sementara daratan habis diseduhnya, dan atap masjid ini bersahutan bunyinya menyambut hujan, gelegar guntur dan petir. Saya benar-benar merasa beruntung dengan momen puitis ini, biar-pun belum juga mengredit motor.

Soal pedagang-pedagang di serambi Masjid ini... entah kenapa, saya tidak marah kalau orang-orang ini membuka lahan ekonomi di rumah Allah yang maha pemurah dan lapang hati-Nya itu. Tapi siapapun yang sewot dengan kehadiran mereka, maka ketahuilah sesungguhnya Allah Swt sudah memerintahkan untuk bersikap bijak dan meninggalkan tijarah (segala bentuk aktivitas duniawi) saat ada panggilan ibadah. Kalaupun ternyata kita semua ngeyel dan Allah Swt. tidak sambar kita dengan petir-Nya, maka jangan-jangan Ia menggantinya dengan ketidak-tenangan, kegalauan, dan kesulit jodohan, ketidak adilan pemimpin, kebobrokan moral dan lain-lain. 

Fiyuhhh...
Read more ...

07 August 2013

Lebaran, Zombie, dan Emil.

Tiba-tiba udah lebaran! Cepet amat ya? Jidatmu! Lah, kemaren-kemaren siapa yang misuh-misuh hatinya lantaran gak bisa lagi minum kopi tiap pagi?

Siapa pula yang ngedumel gak karuan karena musti dapat giliran ngimam teraweh hampir tiap malamnya?

Iya, saya mau jujur saja soal betapa keihklasan masihlah menjadi rahasia yang kurang ajar ghaibnya di tiap-tiap amal ibadah saya. Saya selalu mencurigai tiap bentuk ibadah saya. Jangan-jangan selama ini saya beribadah ala zombie! Iya, ibadah tanpa niat, ibadah karena takut disebut menyimpang, ibadah karena ikut kultur dan budaya.

Duh, saya merasa malu terhadadap Allah Swt, malu juga dengan diri sendiri, dengan murid ngaji, dengan mama, papa dan Ariel Noah.

Ah, tapi yasudahlah… ini lebaran, ibadah saya akan tetap diteruskan dengan proses istiqamah, kontinyu, dan khusu, yang semoga saja akan memandu saya untuk menemukan titik sentral di tiap ritus peribadatan saya.

Nah, ini memang lebaran, kewajiban ibadah saya agaknya akan bertambah, sebut saja aktifitas meminta/memberi maaf. Ah, tapi saya akan lebih banyak memaafkan ketimbang meminta maaf. Karena ternyata sangatlah kacangan mengetikkan kata-kata maaf yang tidak kreatif tersebut lengkap dengan tanda “dari Si Fulan dan keluarga” lalu dikirimkan kepada semua kontak di hape.

Alih-alih saya lakukan hal tersebut maka saya pun memilih menyeduh kopi, menanti sms-sms minta maaf tersebut, dan membalasnya satu per-satu dengan sabar dan gagah jempolan. Namun tetap dengan redaksi yang sama “Iya! Semua sudah saya maafkan! Segala bentuk hutang juga sudah  saya anggap lunas! Cukup?”

***

Takbiran yang terdengar fals dari kanak-kanak, pesta bedug di pusat kota, lalu dentum petasan dan kembang api yang silih mengisi di hitam langit awal syawal. Baik. Semua jadi lengkap dengan omelan ibu saya soal merecon, atau status-status dan twit rombengan dari kawan-kawan di jejaring social. Iya, lengkap.

Selain lengkap, ini malam yang basah, bukan saja soal hujan yang pelan-pelan melintas, mungkin ada hujan lain yang tiba sesaat setelah melewati detik-detik yang tegang di depan layar tifi yang sedang menyiar musyawarah sidang itsbat penetapan 1 syawwal. Ya, hati saya basah. Entah karena sayanya yang sedang melankolis, atau memang saya sedang merasa terlempar ke suatu masa dimana saya melewati suatu hari lebaran tanpa merasa sesepi ini.

Saya tidak pernah mengerti idealnya lebaran itu harus seperti apa… iya saya tahu musti takbir dengan khusyu!

Tapi bukan hal macam itu yang ingin saya biacarakan, kali ini saya ingin bicarakan rasa sepi saya, juga Emil, sahabat saya yang tahun-tahun lalu kami sering menggembel sama-sama di momen seperti ini, tapi kini ia sedang berdarah-darah menempuh terjalnya medan ilmu dan pengetahuan di Mesir sana. Iya sukurnya dia tidak ikut didemo, karena memang dia orang yang tidak penting dan sama sekali tak punya kaitan apapun dengan politik Mesir. Karena yang saya tahu, dia cuma orang yang otoriter kalau sudah dua hari tidak ketemu nasi.

Saya jadi sedih membayangkannya sehingga lupa dengan kesedihan saya sendiri. Emil pasrti kangen kampung halamannya, kangen kucingnya, kangen pacarnya, kangen emaknya, kangen juga pada teman-temannya yang tidak penting itu (termasuk saya). Tapi Mesir adalah tempat dengan  jarak yang jauh sekali dengan kampung halamannya di Subang, kamu bisa bayangkan, untuk samapi ke Subang, Emil harus berenang melawan jeramnya arus Sungai Nil, lalu belum lagi ia harus merintangi luasnya Laut Merah dan Samudera Pasifik *eh. Maka pilihan dia untuk lebaran di Kairo kali ini sangatlah logis dan manusiawi.

Saya tahu Emil tidak sesedih saya dengan kesepian ini, dia tabah meskipun melankolis, dia besar meskipun kurus, dia pemakan daging meskipun suka jengkol. Dan dalam kesepian ini, pada lebaran ini saya belajar kembali untuk menghormati kenangan dan lebih sayang lagi dengan teman.

Saya kangen Emil, meski Emil tidak kangen saya. Karena itu baik buat kami semua, sebab apabila kami sama-sama kangen, maka kami akan malu disebut laki-laki. Begitulah. Lalu saya mendoakan segala hal yang baik untuknya. Maka rindu terkeren apalagikah yang ujung-ujungnya adalah doa?

Oke Emil kami tersayang! Selamat Idul Fithri, semoga kamu sama Mesir sama-sama tabah dan damainya. Kami di sini akan terus makan jengkol dan saling mendominasi kamar mandi dengan bau aneh yang sama, sampai saatnya tiba pemilu 2014 dimana jengkol dimasukkan ke dalam rancangan undang-undang sebagai binatang tak berkaki yang mengganggu sistem sanitasi nasional!
Read more ...

07 June 2013

Semacam cinta (2)

Seperti yang teman-teman saya bilang, saya nampaknya gak bakat untuk punya pacar. Kasian .



Let’s talk about love…


Simpang siur soal bagaimana pemaknaan cinta yang benar adalah hal yang tak perlu lagi menjadi bahan pembicaraan. Sebab pada dasarnya kita bisa memahaminya dengan dua sudut pandang yang berbeda; pertama cinta sebagai hal yang konkrit; lalu kedua, cinta sebagai hal yang abstrak.

Boleh lah kamu akan mengatakan cinta adalah bersatunya dua manusia yang saling ingin memberi dalam ikatan yang diakui, entah oleh lingkungan atau badan administrasi negara. Dengan begitu, maka yang kamu bilang itu adalah cinta dalam perspektif yang konkret.

Tapi dia akan bilang bahwa cinta adalah memberi tanpa henti dan tanpa batas apapun –label, komunitas, ras, bangsa, agama dan semacamanya. Dan hal ini marilah kita sebut saja sebagai cinta dalam sudut pandang “cinta sebagai hal yang abstrak”.

Jika yang pertama bicara soal yang kelihatan, maka yang kedua bicara soal yang tidak kelihatan. Apakah ada yang salah atau benar antara satu dengan yang lainnya? Nampaknya memang tidak ada bukan?

Cinta memang telah menjadi pangkal segala puisi dan tak pernah berhenti dalam jutaan ragam dan narasi karya-karya seni di wajah dunia, sepanjang masa.

Well, secara general kita mungkin gak pernah tahu kalau cinta terlalu besar dan lebar untuk kita terjemahkan. Dan sialnya sinetron telah memaksakan caranya untuk kita; agar kita percaya bahwa cinta memang seperti yang sinetron jewantahkan (pedekate-pacaran-putus-cari lagi-kenalan-pedekate-bla bla bla).

Ah, kenapa pula saya serius sekali?

Saya hanya ingin memesankan pada diri saya sendiri bahwa cinta bukanlah semata-mata saya dengan seorang perempuan yang saya kagumi akhirnya harus dikenal oleh semesta alam sebagai pasangan yang berpacaran, lalu berbalas mention di twitter dan memuat status hubungan di facebook menjadi; berpacaran, agar tampak sangat bahagia di mata orang-orang.

Saya muslim laki-laki yang normal, dan hal inilah yang membuat saya seringkali mengalami pergelutan nilai dalam benak saya: antara keyakinan saya sebagai muslim (yang masih dalam pencarian) dengan kenyataan saya yang sedang jatuh cinta pada seorang gadis (lengkap dengan kualifikasi saya sebagai lakai-laki siap “tempur”). Belum lagi kalau bicara apakah saya siap menikah atau belum, tentu saja jawabannya: belum!

Masalah lainnya adalah saya tidak yakin ada pacaran islami, dimana sepasang laki-laki-perempuan yang belum sah secara administrasi dan syariat untuk berpasangan akhirnya mengaku saling cinta dengan transparan.

Saya tahu, betapapun memang tulisan ini tampak seperti hal yang munafik bukan main. Tapi nampaknya memang cuma itu saja-lah yang menjadi titik tolak dari tulisan ini.


Adapun yang masih berkilah bahwa pacaran syar’i nan islami itu memanglah ada, wah! Silahkan saja, masa saya harus ngancam bom bunuh diri? Kan ga lucu itu…
Read more ...

23 May 2013

Kelahiran

Saya memang ganteng! Gausah protes! 


Di tanggal 22 dari bulan ini, 21 tahun yang lalu lahirlah si jabang bayi. Dalam akta kelahirannya bayi tersebut tercatat lahir di Sumedang, pada hari Jumat, jam 12.00 siang. Bayi itu adalah buah hati pertama dari seorang perempuan desa yang bersuamikan seorang pelukis. Barangkali waktu itu hari begitu terik, saat itu sang suami sedang berada di Makkah, Arab Saudi. Tapi sebelum ia berangkat ke tanah Saudi tersebut ia mewanti-wanti sang ibu jika nanti anak mereka yang lahir adalah laki-laki maka sang ibu akan menamainya dengan nama: Muhammad Farid. 
Kelahiran pertama ini merupakan saat-saat yang begitu sulit bagi si ibu muda tersebut. Sampai ia begitu banyak kehabisan darah saat proses persalinan dan diopname selama satu bulan pasca persalinannya.
“Siapa namanya?” Tanya si kakek jabang bayi yang menggantikan sang ayah untuk mengazani telinga bayi tersebut. “ceuk si akang mah, Muhammad farid” si kakek diam tak bergeming  “dia sipit, kayak orang-orang etnis tiong hoa,” lalu diam dan tersenyum “mungkin ini semacam isyarat, dia akan jadi orang kaya seperti orang-orag cina itu… namai dia Ahmad Farid!" ujarnya agak memerintah. "Muhammad Farid terlalu panjang dan umum" begitu alasannya.
“Apa yang berbanding lurus dengan usia yang semakin tua?” menjadi ungkapan selamat ulang tahun paling menohok. Iya ..apa yang berubah/apa yang positive/apa yang manfaat dari 21 tahun itu usia saya? Saya melihat cermin, ada semacam wajah, sepasang mata yang dulu putih dan hitam nan harmonis,  hari ini kelihatan agak merah, bahkan sedikit kekuningan. Lalu kulitnya agak gosong menghitam, bekas jerawat dan jerawat itu sendiri melebur menjadi wajah itu sendiri, lalu kumis dan janggut tumbuh pendek-pendek, melingkar disekitar bibir. Padahal di 10 atau 5 tahun yang lalu mereka bahkan belum terlihat.
Dari cermin, saya alihkan pandangan ke sisi tembok kamar saya yang lain, ada sebentang kertas polio, terpasang dengan tidak indah. Tahun lalu saya pernah menulis sesuatu disana, lalu saya baca lagi tulisan-tulisan disana. Pelan-pelan saya mulai bertanya pada diri sendiri. Sebenarnya hal-hal bodoh macam apa yang saya tulis dikertas naas ini? 300 Ahlam (Re: 300 Mimpi).
Saya baca beberapa dari mimpi tersebut. Menerbitkan Novel, menerbitkan antologi  puisi, haunting photo di Afrika. Dan.. hahaha saya ketawa sendirian. Saya gak bisa bayangkan beberapa teman yang sempat-sempatnya membaca kata-kata konyol tersebut, saya salut kenapa mereka tidak terlihat sakit perut oleh sebab menahan tawanya.
Setelah membaca beberapa lalu saya mulai menghitung, ada berapa mimpi-mimpi bodoh yang saya telah tuliskan disana. Baru lima puluh enam saja. Lalu dari sekian puluh itu sudah berapa yang terealisasi? Nol besar! Apa saya gagal? Kita semua tahu motivator tidak akan bilang bahwa saya gagal, hanya saja keberhasilan yang belum tiba. Tiba-tiba saya ingin mencukur habis bagian depan rambut di kepala saya, memakai kacamata dan tuksedo hitam. Lalu orang-orang memanggil saya… Farido Teguh?
Dua puluh satu tahun telah genap pada usia saya. Saya mulai menyusuri banyak memori, ada puluhan bahkan ratusan nama yang masih hinggap dalam ingatan. Lalu nama-nama baru yang tak kalah banyaknya. Dua puluh satu tahun, berapakah orang yang saya kecewakan? Saya sangat tak enak hati jadinya.
Pada akhirnya saya mustilah mengerti, bahwa saya dan kelahiran saya hanyalah awal bagaimana panggung musik sedang dipentaskan. Dan sampai hari ini panggung musik tersebut masih bergema, sudah berkali-kali panggung musik tersebut dilempari sandal bahkan botol minuman dan air  mineral. Tapi tak jarang pula beberapa tepuk tangan terasa begitu bergemuruh.
Namun, seperti umumnya panggung musik, pada suatu kali nanti semua akan sadar panggung musik ini akan berhenti, dan show its over… praktis orang-orang akan pulang ke rumah masing-masing, beberapa membawa bunga-bunga mereka sendiri, mungkin ada yang masih merasa kesal karena panggung musik tadi tak seperti harapan, namun beberapa lagi merasa begitu bahagia. Lalu masing-masing mereka menyimpan video dan gambar darinya lalu mengenang-ngenang kembali betapa konser musik tadi benar-benar begitu hidup. Fluktuatif, dinamis; seperti normalnya rotasi kehidupan lengkap dengan berbagai implikasinya. Dan mereka, akan belajar tentang bagaimana meneruskan panggung musiknya masing-masing.

Tapi sampai detik ini-pun, ternyata show masih berjalan. Saya berharap tak ada yang dirugikan lagi dari 21 tahun hidup saya. Selamat menikmati hari lahir.
Read more ...

20 May 2013

Semacam cinta (1)



Amsal Penyair

pencarian ini tak akan pernah sampai/
hingga waktunya nanti ku temukan makna cinta/
perjalanan ini tak akan pernah sampai/
hingga waktunya nanti ku dapati arti pulang/

Tuhan bimbinglah langkahku/
Tuhan jagalah jiwaku/
Tuhan terimalah hadirku/
Tuhan sambutlah pulangku/

-Rudi Aliruda-

Ini adalah puisi romantis paling berhasil dalam mengikat konsespsi cinta dan spiritualitas yang agung. Barangkali karena puisi inilah saya selalu merasa dalam rantau. Barangkali persislah sudah, bahwa hidup adalah perjalanan paling panjang yang sedang kita lalui. Dan “muasal kita” adalah "pulang" yang paling ingin kita ketahui dengan telanjang. Akhirnya saya harus tahu bahwa sains, filsafat, dan agama; semua mencoba menguak rahasia tentang “pulang” tersebut dengan caranya sendiri.

Saya merasa, tadi sore yang keren, saya menatap matahari yang susut. Saya berjalan santai sepertinya, menyambangi warung tenda langganan, memesan ampela goreng, meminta porsi lebih yang akhirnya tak habis dimakan semua. “Duh… maap nih mbak, gak habis… tadi saya pikir kalo seharian belum makan, musti bales dendam,” “ya gitu mas… kalo suka telat makan.” Ujar si Mbak menjawab. Saya mengerutkan kening, ada yang kurang dari kata-katanya, saya bertanya lagi “kira-kira kalao saya telat makan terus-terusan begini, bakalan mati muda gak?” Dia masih sibuk menata ayam gorengnya di balik kaca… suara saya habis dimakan gemuruh kompor minyak yang menyala.

Saya melirik lagi nasi itu, nasi yang belum habis saya makan; nasi yang akhirnya tersisa dan tersia karena keserakahan saya. Saya agak menyesal, pasti di ujung-ujung benua Afrika sana masih ada bocah-bocah yang tampil di televisi seperti boneka hitam berkepala besar, dengan perut dan tungkai kaki sebesar batang-batang pohon singkong. Lengkap dengan bopeng di permukanan kulitnya juga dengan sorot mata kosong. Lalu saya merasa mulai membenci sesuatu.

Read more ...

14 May 2013

Semacam Takut (2)



Ini separuh Mei yang cukup puitik, karena saya, keluarga, adik-adik, handai taulan, para guru, santri, gebetan, mantan serta pacar saya dikaruniai kesehatan semuanya.

Dan lebih dari itu, saya hendak bercerita tentang tubuh dan perasaan saya di tangggal 7 dan 8 yang lalu, dimana saya mengalami hari yang demikian asyik pake banget. Pasalnya saya diajak ikutan jalan-jalan, menemani study tour para siswa dan siswi dari almamater saya. Tentu saja gratis (Biar-pun saya belum punya motor, tapi kan saya udah jadi pengajar).

Mmm…

Di tanggal 7 yang lalu, saya menemani siswa-siswi SLTP dan SLTA kelas 1 dan 2. Kami menempuh jalan yang jauh dari Purwakarta ke BSD. Iya kami ke tempat hiburan yang dinamai The Jungleland, disana daerah yang asyik, kotanya bersih dan wahana permainannya masih gress dan baru.

Saya naik wahana hihiberan, semacam wahana yang memompa adrenalin, wahana ini memang sialan rupanya… sehingga rasanya ingin sekali punya pacar seperti Nikita Mirzani. Iya, demi Tuh…. haaaan  dalam posisi 180 derajat melawan grafitasi bumi pada ketinggian 20 meter, dan diaduk-aduk dalam kecepatan beberapa kilometer perjam. Dalam hati saya ingin teriak udaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah berhentiiiii! Tapi saya tidak lakukan itu, karena percaya atau tidak, para murid yang sedang mengantri itu-pun pasti sedang mengawasi, dalam benak mereka bertanya, benarkah guru mereka ini imannya tebal… tampaknya mereka ketipu.

Wahana Biaddab!


Sial, saat naik wahana itu saya benar-benar bungkam. Tapi saya tidak teriak-teriak seperti seorang murid yang duduk di sebelah saya. Dia, anak itu menjerit sungguh-sungguh “Allohu akbar… Yaa Allooh.. Ibu..” haha saya merasa itu lucu, tapi waktu itu saya tak punya waktu buat ketawa atau lebih tepatnya saya tak punya daya dan upaya untuk ketawa. Karena bisa jadi kalau-kalau pengamanan yang merengkuh tubuh saya tau longgar, lalu saya terlepas dari wahana dan salto di udara berkali sampai akhirnya mendarat di aspal dengan posisi kepala di bawah.  Kalau sudah begitu, masa saya masih harus ketawa juga.

Waktu itu tangan saya erat mencengkram. Kaki saya menjinjit, berharap agar ikatan di badan saya merengkuh lebih rapat. Lalau sampailah akhirnya 2 menit yang sialan itu berlalu, permainan-pun otomatis berhenti. Saya mendesah, bersyukur, dan berharap bertemu si operator wahana itu lalu saya bentur-benturkan kepalanya ke tembok. Tapi saya urung melakukan hal sekeji itu, sebab setelah turun dari wahana tersebut, saya merasa pusing dan mual. Dan saya dapati sisa gemetar di kaki dan selangkangan saya.

Saya masih terdiam… berpikir.

Dalam hentakan mesin yang kecil, lalu keamanan yang mengunci tubuh saya, saya masih mengakui bahwa saya ketakutan. Saya ulangi… sa-ya-ke-ta-ku-tan.

Dalam permainan kecil yang jika dihitung dengan teori-teori fisika hanyalah samacam percikan yang maha kecil dari kesatuan alam tersebut. Sesungguhnya saya merasa malu sebagai manusia yang seringkali mendapati diri sebagai binatang yang congkak dan tak tahu diri.

Sekali lagi, dalam ketakutan itulah saya sungguh belajar, betapa kita adalah NOL! Tak ada apa-apanya di bawah daya semesta yang belum seberapa itu.


Lihatlah, ini kami waktu di Karang Bolong, kami semua keliatan bahagia, padahal belum tentu hidup lebih dari 50 tahun...

Iya, ada inti aneh yang sebenarnya mudah dipahami dari semacam rasa takut seperti ini. Ah... apa itu, saya lupa.

Bye!
Read more ...

09 May 2013

Semacam Takut (1)



Kira-kira dua atau tiga minggu yang lalu. Hari itu sungguh siang yang kantuk, sekonyong-konyong telepon genggam saya (yang tidak pintar itu) berdering, sebuah panggilan telepon! saya mengangkatnya, lalu bilang “halohhh!” (dengan mulut membuka lebar dan lidah sedikit terjulur keluar). Oh ternyata dia teman saya (yang dulunya sempat sangat dekat dengan saya). Saya memang jelek, tapi pacar dan teman-teman dekat saya pada cantik (mungkin mereka memang sakit mata atau semacamnya saat mau-maunya dengan dekat saya).
Katanya, dia sedang di depan asrama, membawa pacarnya juga. Katanya dia mau saya panggilkan teman-temannya. Nasib buruk menimpanya… maka tinggallah saya saja menemuinya. Ahha… sebagai calon penyair tak lupa saya bawa buku anthology puisi (yang mana tiga puisi saya terbuhul di dalamnya) untuk diberikan pada mereka: sepasang kekasih yang sedang dalam masa keemasan untuk mengonsumsi banyak puisi, demi kesehatan hubungan dan keberkahan hidup. *benerin resleting*
Kami duduk berhadap-hadap. Dia dengan pacarnya bersanding dekat, saya di seberangnya kayak monyet doger kebelet megang garpu. Saat itu entah kenapa saya merasa lutut saya agak gemetaran. Dan dengan polosnya saya bilang “kok saya agak rikuh gini ya? Aneh deh.” Menanggapi saya, si cowok ketawa. Lalu obrolan mendera kami bertiga, mereka akan menikah dua atau tiga tahun lagi katanya. Saya melihat mereka begitu cocok, seperti Tahu sumedang dengan cabe-nya [analoginya maksa], lalu saya tandaskan “loh… kenapa musti lama-lama? menikah muda-pun elok rasanya… baik untuk membantu skripsi, kebutuhan sehari-hari bahkan kebutuhan akan teman tidur.”  Untuk hal yang terakhir itu saya tidak bilang kencang-kencang.
Maka singkat cerita obrolan segera berakhir. Saya kembali ke asrama untuk menjadi penyair lagi. Sementara mereka akan melanjutkan ulin-nya. Setelah kegiatan saya usai, saya baru ingat… belum bilang makasih atas kunjungan dan traktiranya. Saya sms dia, dan saya bilang “kalian cocok.” Kerana begitulah saya mengira cara berterima kasih pada mereka yang sedang dilibas asmara. Lalu dia bertanya “iya makasih… menurut lo, kami bakal langgeng gak?”
Maka saya tertegun. Buka celana dan menyalakan webcame. Lalu saya-pun memanggil para malaikat untuk membuat video joget Harlem Shake dengan Saya. Ah bukan begitu maksudnya… saya tertegun sungguhan, dan termangu-mangu begitu lama. Saya berpikir. Ada yang menggelitik di sini. Ah… sungguh tumben saya berpikir. Saya teringat firman Tuhan dalam kitab suci al-Qur’an. Begini bunyinya
“sesungguhnya para kekasih Tuhan tiada akan merasa takut dan sedih.”
Lalu saya merasa mendapatkan cahaya terang dalam jiwa saya. Saya-pun joget Gangnam Style sambil shalawat-an. Ah bukan begitu maksudnya. Intinya begini… saya memaknai ayat tersebut, seperti mana DR. Aidh Al-qorniy yang mengaitkan bahwa “takut” berarti kekhawatiran terhadap masa depan. Sedang “sedih” berarti kegalauan (yang tingkat internasional) pada masa lalu.
Kita, dalam melihat apapun selalu terjebak pada dua hal tersebut. Ah sungguh benar kasihan kita ini. Sedih dengan masa lalu, dan ketakutan dengan masa yang belum tiba. Dalam menjalani relasi asmara-pun kita begitu. Saya sering melihat gejala ini pada perempuan. Sedangkan pada lelaki, tidak terlihat begitu jelas. Ya lucu aja kalo cowok curhat masalah begituan, ya kan?
Ahh.. saya genggam lagi hape saya (yang keren itu) dan saya ketik semacam kata-kata, begini bunyinya:
“Put… soal itu cuma kalian yang bisa tahu dan pastikan. Sementara dari luar kami cuma tahu, bahwa kalian sedang membangun rumah impian. Sementara tentang bagaimana rupa dan kekuatan si rumah yang sedang kalian bangun itu cuma kalian yang bisa pastikan. barangkali cuma konsistensilah yang dibutuhkan untuk memelihara visi dan misi kalian dalam membangun rumah impian tersebut. Maka jadikan visi dan misi tersebut bermuara pada ketaan kepada Tuhan, dan amal bakti bagi kemanusiaan. Loh kok jadi ceramah sih? Hehe.”
Setelah saya menjadi sebijak Plato itu, serta merta saya kembali idiot seperti biasanya. Happy Idiot Day semuanyaaa!!
Read more ...

30 April 2013

Semacam Ta...


Saya ini kenapa begitu aneh… begitu ingin dihormati, begitu marah dan benci dihina. Padahal saya ini hina: karena kemana-mana tahi dibawa. Ke kampus bawa tahi, ke kelas bawa tahi, ke wese bawa tahi, ketemu pacar bawa tahi, bahkan ke masjid pun saya bawa tahi. 

Duh... tahi aja dibawa-bawa dan saya entah kenapa masih merasa begitu layak dihormati, dimuliakan dan semacamnya.
Ini, sebenernya soal apa sih? Semacam tahi gitu ya?


Read more ...

15 January 2013

Kematian

-Putri Permata Prasetya-



Entahlah Put, bagaimana aku harusnya memaknai kematian (ketiadaan), sedang aku saja masih perlu banyak tahu apa itu kehidupan (ada). Tapi di tengah bingungnya kita pada arus berkehidupan, kita akhirnya akan mendapati diri terbentur  sedemikian rupa dengan realitas-realitas yang tidak menyenangkan, seperti kematian.

Kematian ayah tersayangmu, sudah berlalu beberapa minggu. Di Facebook kamu memajang photo Ayahmu; terpejam dan berkafan. Melihatnya aku cuma bisa memaku dan menanyakan apa maksud photo itu, kalau saja itu joke belaka, maka aku tak akan pernah memafkan joke seperti itu. Namun benar rupanya, ayah tercintamu dijemput Tuhan. Lebih cepat –karena kita tak pernah tahu apa itu arti “sudah saatnya”

Nampaknya ini bulan-bulan yang cukup berat bagiku. Kabar kematian tiga kali terdengar dalam 6 bulan terakhir ini. Pertama Bpk H Nendi Junaidy Al-Hafidz, penghapal Al-Quran terbaik di pesantren kami. Berat rasanya, kabar itu datang dengan tiba yang tiba-tiba. Saat itu langit di daerah Bandung mencapai puncak senja dan gerimis merapalkan doa malamnya diatap-atap rumah, sementara kabar  kematian dating dengan cara yang paling tidak aku suka. Tapi Tuhan barangkali sudah terlalu rindu dengan orang-orang Sholeh semacam beliau. Lalu kabar kematian Teh Neni, datang melalui pesan pendek bapakku “Rid, The Neni meninggal jam 20.00 tadi, banyakin Doa buat beliau”. Pesan pendek dari bapak, melesat diantara hujan dan langit purwakarta yang malam dan risau; dibiarkannya aku melongo. Bingung.
Kematian, betapapun berbedanya pengertian manusia tentang itu, pada akhirnya hanya air mata-lah yang berani mencoba  mendeskripsikan dan menyimpulkannya ditengah-tengah perbedaan akan pengertian tentang kematian tersebut.

Dalam konteks kematian; air mata menjadi simbol “Perpisahan”. Tak ada yang maukan perpisahan. Bahkan Nabi Muhammad Saw ketika Ibrohim, anaknya diangkat maut. Diantara riuhnya prosesi pemakaman, tanpa kata-kata air matanya mengalir, berbicara. Mengundang pertanyaan polos sahabatnya “Wahai utusan Tuhan mengapa pula engkau menangis?”. Muhammad Saw bukanlah dusta; perihal surga bagi kanak-kanak yang belum dewasa, Muhammad Saw bukanlah tidak tahu bahwa perpisahan dan rasa kehilangannya hanya sementara saja, sebab Muhammad Saw tahu pasti, ia akan bertemu dangan Ibrohim, anak yang ia kasihi tersebut di Surga. Tapi itulah yang terjadi.

Kematian, barangkali cuma air mata-lah yang memahaminya.

Put, menangislah jika (masih) perlu. Dan jangan tanya “kenapa?”. Kamu sudah Akil Baligh kan?

Nama : Putri Permata Prasetya. Remaja telat baligh dan cenderung alay :)

Read more ...

13 January 2013

“tuhan” yang malang (Puisi)

tuhan” yang malang

Untuk kawanku, Salma. Biar aroma cerita ini mengiang di kitar kudung abu-abu mu. Semalam “tuhan” terbang disebuah pulau, membuat keributan. Telepisi dan koran-koran; berbunga api, tak kunjung padam.

Ada “tuhan” dalam kelebat api, potongan daging, ledakan dan tentu saja darah. “tuhan” yang malang, dimanipulasi dengan sorga dan ceramah yang marah; konon Yesus pun disalib kerana bersengketa dengan “tuhannya” Musa, barangkali Marxis yang akan bertanya-tanya, ada apa sebenarnya dengan “tuhan-tuhan” yang suka ribut itu.

Di negeri Gandhi konon “tuhan” menumpahkan darah, dengan bau mesiu dan jerit kanak-kanak. Juga Negeri Gibran yang hangus, katanya “tuhan” juga yang membakarnya; jika “tuhan” sejahat itu, aku curiga jangan-jangan dia sedang jenuh. Ah, kayak manusia aja, harus jenuh segala.

Meledak, semudah itulah “tuhan” dipahami. lalu sorga menjadi semudah memencet tombol lampu di kamar tidurmu. Klik... Blarr! Sampailah di sorga. Ah ada-ada saja. Padahal kita sejak lama jumpa dan kenal dengan “tuhan”, beberapa sudah akrab bahkan. Katanya dia sejak lama sudah bicara pada kita. Kita pula katanya mendengar suaranya sambil terkantuk-kantuk, mengobrol dan ketawa-ketiwi, sampai esoknya, kita kaget-kaget, sudah terbitlah darah ditempat kita biasa melihat matahari terbit. Kasihan kita, rumah sudah seribut begini; kita malah repot menyalahkan “tuhan”.

Aku heran sekali, Tuhankah yang beragama atau agama yang bertuhan, sebenarnya?



Mungkin agak SARA, tapi menurut saya pribadi bagaimanapun juga puisi seharusnya dapat memotret dengan jelas realitas-realitas yang mungkin sekali sulit dirapalkan dalam jalinan kata-kata.

Dalam kemaha-jujuran seperti ini, mungkin kita akan tersinggung, karena (mungkin) saja jauh dalam diri kita sedang berusaha menafikan realitas dari gaya berkehidupan jamak yang benar-benar kompleks. Well, saudara-saudara, karya sastra cuma salah satu cermin dari sekian cermin yang mau tak mau menampilkan realitas yang "itulah adanya".

Selamat menikamati. Salam :)


Read more ...

11 January 2013

Proses Kepenyairan Saya (2)

Pa
-buat Mendiang WS Rendra-
pa, bagaimana kabarmu? apa tuhan ridho surganya engkau tinggali? pa, engkau pasti tau, di sini aku menyeru namamu, memantrai kembangkembang di pesarean, berasapasapan dengan surat yaa siin, sedang nisan yang menamaimu, menyisakan bekas ciuman mulutku.
pa, engkau bukan nabi, maka kukabari masamasa setelah sajakmu digilir matahari dan bulan. pa, masa terus berjanin. jaman pun terbit dari rahim kami; riuh dan bising. ada mediamedia, panggung hiburan, diskotek, pelacuran semua bergulir begitu saja: seperti biasa, sesekali ada saja gambargambar mesum bapak birokrat nun jauh di sana, atau khotbah orangorang tengil di kotak telepisi, juga spanduk politisi dan jargon politiknya di kalender masjid. ada juga aksi todong menodong antara wartawan, polisi dan jelata. dan di desa kami, orang-orang dewasa cuma beradu terka, tipudaya siapa yang sedang berkubang hari ini?
pa, aku berjalan di selasar pembangunan, jumpa bebauan, busuk teramat sangat pa. ini apa bau pa? pa, aku tau engkau tak diam, dan geligimu yang gemeretuk menyatakan: tanganmu yang masih erat menggenggam batu, mengusap bercak darah di kerutkerut jidatmu. mereka bilang, itu darah dari selangkang langit negeri ini yang luka, diperkosa budaya impor, dikebiri kapitalisme
pa, aku sudah sebesar ini, tapi pembangunan belum juga sampai rupa. dan hutang masih saja mengangkang. teringat kotang Doli juga kupluk mang Eman, yang kini sudah setengah tiang digagahi inflasi. pa, orang dewasa bilang kami bangsa yang gagah, tapi kenapa ibu kami diekspor, lalu bapak kami dibiarkan bunuh diri di pelacuran kelas teri. pun kakak kami yang tak tamat sekolah, belajar sejahtera di bekas tempat bapak mati. hanya lampu merah menjadi satusatunya pusat tawaf keluarga kami, menggerayangi apasaja; merogoh receh dan menghitung jutaan mimpi yang berceceran
pa, kami lahir dari jejak sejarah yang gelap, sanggup mengasah senjata, demi tim bola kesayangan atau pacar dan cinta buta ala pilem india. dan kami tak lagi perlu ribut untuk kesejahteraan semua, karena demokrasi membuahkan apa saja, termasuk motor yang diimpor dari keringat ibu di saudi. pa, barangkali kamilah buto ijo itu, berzina dengan kemilau dunia, mengandung anak jadah, lalu menanamnya di sungaisungai; sebab tuhan sudah makzul, kerana sinetron dan jaringan internet. dan potongan tubuh bergelimpangan dimutilasi teknologi. pa, diamdiam udara terasa panas. menghantar maut di helahela napas
pa, aku takut.



Prosa ini saya kirim untuk turut membuat penuh sebuah Trilogi Kritik Sosial, yang terdiri dari 2 Buku Anthology Puisi dan 1 Kumpulan Cerpen. Aneh dan.. Ah, lagi-lagi saya gak tau musti bilang apa. Bye :)


Read more ...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...