15 January 2013

Kematian

-Putri Permata Prasetya-



Entahlah Put, bagaimana aku harusnya memaknai kematian (ketiadaan), sedang aku saja masih perlu banyak tahu apa itu kehidupan (ada). Tapi di tengah bingungnya kita pada arus berkehidupan, kita akhirnya akan mendapati diri terbentur  sedemikian rupa dengan realitas-realitas yang tidak menyenangkan, seperti kematian.

Kematian ayah tersayangmu, sudah berlalu beberapa minggu. Di Facebook kamu memajang photo Ayahmu; terpejam dan berkafan. Melihatnya aku cuma bisa memaku dan menanyakan apa maksud photo itu, kalau saja itu joke belaka, maka aku tak akan pernah memafkan joke seperti itu. Namun benar rupanya, ayah tercintamu dijemput Tuhan. Lebih cepat –karena kita tak pernah tahu apa itu arti “sudah saatnya”

Nampaknya ini bulan-bulan yang cukup berat bagiku. Kabar kematian tiga kali terdengar dalam 6 bulan terakhir ini. Pertama Bpk H Nendi Junaidy Al-Hafidz, penghapal Al-Quran terbaik di pesantren kami. Berat rasanya, kabar itu datang dengan tiba yang tiba-tiba. Saat itu langit di daerah Bandung mencapai puncak senja dan gerimis merapalkan doa malamnya diatap-atap rumah, sementara kabar  kematian dating dengan cara yang paling tidak aku suka. Tapi Tuhan barangkali sudah terlalu rindu dengan orang-orang Sholeh semacam beliau. Lalu kabar kematian Teh Neni, datang melalui pesan pendek bapakku “Rid, The Neni meninggal jam 20.00 tadi, banyakin Doa buat beliau”. Pesan pendek dari bapak, melesat diantara hujan dan langit purwakarta yang malam dan risau; dibiarkannya aku melongo. Bingung.
Kematian, betapapun berbedanya pengertian manusia tentang itu, pada akhirnya hanya air mata-lah yang berani mencoba  mendeskripsikan dan menyimpulkannya ditengah-tengah perbedaan akan pengertian tentang kematian tersebut.

Dalam konteks kematian; air mata menjadi simbol “Perpisahan”. Tak ada yang maukan perpisahan. Bahkan Nabi Muhammad Saw ketika Ibrohim, anaknya diangkat maut. Diantara riuhnya prosesi pemakaman, tanpa kata-kata air matanya mengalir, berbicara. Mengundang pertanyaan polos sahabatnya “Wahai utusan Tuhan mengapa pula engkau menangis?”. Muhammad Saw bukanlah dusta; perihal surga bagi kanak-kanak yang belum dewasa, Muhammad Saw bukanlah tidak tahu bahwa perpisahan dan rasa kehilangannya hanya sementara saja, sebab Muhammad Saw tahu pasti, ia akan bertemu dangan Ibrohim, anak yang ia kasihi tersebut di Surga. Tapi itulah yang terjadi.

Kematian, barangkali cuma air mata-lah yang memahaminya.

Put, menangislah jika (masih) perlu. Dan jangan tanya “kenapa?”. Kamu sudah Akil Baligh kan?

Nama : Putri Permata Prasetya. Remaja telat baligh dan cenderung alay :)

Read more ...

13 January 2013

“tuhan” yang malang (Puisi)

tuhan” yang malang

Untuk kawanku, Salma. Biar aroma cerita ini mengiang di kitar kudung abu-abu mu. Semalam “tuhan” terbang disebuah pulau, membuat keributan. Telepisi dan koran-koran; berbunga api, tak kunjung padam.

Ada “tuhan” dalam kelebat api, potongan daging, ledakan dan tentu saja darah. “tuhan” yang malang, dimanipulasi dengan sorga dan ceramah yang marah; konon Yesus pun disalib kerana bersengketa dengan “tuhannya” Musa, barangkali Marxis yang akan bertanya-tanya, ada apa sebenarnya dengan “tuhan-tuhan” yang suka ribut itu.

Di negeri Gandhi konon “tuhan” menumpahkan darah, dengan bau mesiu dan jerit kanak-kanak. Juga Negeri Gibran yang hangus, katanya “tuhan” juga yang membakarnya; jika “tuhan” sejahat itu, aku curiga jangan-jangan dia sedang jenuh. Ah, kayak manusia aja, harus jenuh segala.

Meledak, semudah itulah “tuhan” dipahami. lalu sorga menjadi semudah memencet tombol lampu di kamar tidurmu. Klik... Blarr! Sampailah di sorga. Ah ada-ada saja. Padahal kita sejak lama jumpa dan kenal dengan “tuhan”, beberapa sudah akrab bahkan. Katanya dia sejak lama sudah bicara pada kita. Kita pula katanya mendengar suaranya sambil terkantuk-kantuk, mengobrol dan ketawa-ketiwi, sampai esoknya, kita kaget-kaget, sudah terbitlah darah ditempat kita biasa melihat matahari terbit. Kasihan kita, rumah sudah seribut begini; kita malah repot menyalahkan “tuhan”.

Aku heran sekali, Tuhankah yang beragama atau agama yang bertuhan, sebenarnya?



Mungkin agak SARA, tapi menurut saya pribadi bagaimanapun juga puisi seharusnya dapat memotret dengan jelas realitas-realitas yang mungkin sekali sulit dirapalkan dalam jalinan kata-kata.

Dalam kemaha-jujuran seperti ini, mungkin kita akan tersinggung, karena (mungkin) saja jauh dalam diri kita sedang berusaha menafikan realitas dari gaya berkehidupan jamak yang benar-benar kompleks. Well, saudara-saudara, karya sastra cuma salah satu cermin dari sekian cermin yang mau tak mau menampilkan realitas yang "itulah adanya".

Selamat menikamati. Salam :)


Read more ...

11 January 2013

Proses Kepenyairan Saya (2)

Pa
-buat Mendiang WS Rendra-
pa, bagaimana kabarmu? apa tuhan ridho surganya engkau tinggali? pa, engkau pasti tau, di sini aku menyeru namamu, memantrai kembangkembang di pesarean, berasapasapan dengan surat yaa siin, sedang nisan yang menamaimu, menyisakan bekas ciuman mulutku.
pa, engkau bukan nabi, maka kukabari masamasa setelah sajakmu digilir matahari dan bulan. pa, masa terus berjanin. jaman pun terbit dari rahim kami; riuh dan bising. ada mediamedia, panggung hiburan, diskotek, pelacuran semua bergulir begitu saja: seperti biasa, sesekali ada saja gambargambar mesum bapak birokrat nun jauh di sana, atau khotbah orangorang tengil di kotak telepisi, juga spanduk politisi dan jargon politiknya di kalender masjid. ada juga aksi todong menodong antara wartawan, polisi dan jelata. dan di desa kami, orang-orang dewasa cuma beradu terka, tipudaya siapa yang sedang berkubang hari ini?
pa, aku berjalan di selasar pembangunan, jumpa bebauan, busuk teramat sangat pa. ini apa bau pa? pa, aku tau engkau tak diam, dan geligimu yang gemeretuk menyatakan: tanganmu yang masih erat menggenggam batu, mengusap bercak darah di kerutkerut jidatmu. mereka bilang, itu darah dari selangkang langit negeri ini yang luka, diperkosa budaya impor, dikebiri kapitalisme
pa, aku sudah sebesar ini, tapi pembangunan belum juga sampai rupa. dan hutang masih saja mengangkang. teringat kotang Doli juga kupluk mang Eman, yang kini sudah setengah tiang digagahi inflasi. pa, orang dewasa bilang kami bangsa yang gagah, tapi kenapa ibu kami diekspor, lalu bapak kami dibiarkan bunuh diri di pelacuran kelas teri. pun kakak kami yang tak tamat sekolah, belajar sejahtera di bekas tempat bapak mati. hanya lampu merah menjadi satusatunya pusat tawaf keluarga kami, menggerayangi apasaja; merogoh receh dan menghitung jutaan mimpi yang berceceran
pa, kami lahir dari jejak sejarah yang gelap, sanggup mengasah senjata, demi tim bola kesayangan atau pacar dan cinta buta ala pilem india. dan kami tak lagi perlu ribut untuk kesejahteraan semua, karena demokrasi membuahkan apa saja, termasuk motor yang diimpor dari keringat ibu di saudi. pa, barangkali kamilah buto ijo itu, berzina dengan kemilau dunia, mengandung anak jadah, lalu menanamnya di sungaisungai; sebab tuhan sudah makzul, kerana sinetron dan jaringan internet. dan potongan tubuh bergelimpangan dimutilasi teknologi. pa, diamdiam udara terasa panas. menghantar maut di helahela napas
pa, aku takut.



Prosa ini saya kirim untuk turut membuat penuh sebuah Trilogi Kritik Sosial, yang terdiri dari 2 Buku Anthology Puisi dan 1 Kumpulan Cerpen. Aneh dan.. Ah, lagi-lagi saya gak tau musti bilang apa. Bye :)


Read more ...

07 January 2013

Proses Kreatif Kepenyairan Saya (1)

Gamang, ngirim ke koran. Belum lagi, katanya format Surat pengantarnya yang sepertinya gak benar. DAN ITU BENAR-BENAR BUKAN NOMER REKENING SAYA

Saya tidak begitu mengerti bahkan bingung bagaimana seseorang bisa mendapati label Penyair. Seperti bingungnya saya ketika ditanyai seorang adik santri "A, gimana sih
Read more ...

05 January 2013

"Gairah"

Ekspresi Ababil yang sedang "ber-Gairah"

Ziah, entah kenapa aku suka melihat adegan perempuan saat sedang mengikat rambutnya, tapi aku tak pernah melihatmu begitu. kamu berkerudung dan kadang aku melihat rambutmu melengkung, terikat didalam kudungmu itu. Melihatmu dengan rambutmu itu aku merasa sedang dalam moment paling puitis, bahkan dibanding film romantis manapun. Tapi lelaki keren itu ternyata yang bawa Ninja dan main musik, terlepas dari
Read more ...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...