11 January 2013

Proses Kepenyairan Saya (2)

Pa
-buat Mendiang WS Rendra-
pa, bagaimana kabarmu? apa tuhan ridho surganya engkau tinggali? pa, engkau pasti tau, di sini aku menyeru namamu, memantrai kembangkembang di pesarean, berasapasapan dengan surat yaa siin, sedang nisan yang menamaimu, menyisakan bekas ciuman mulutku.
pa, engkau bukan nabi, maka kukabari masamasa setelah sajakmu digilir matahari dan bulan. pa, masa terus berjanin. jaman pun terbit dari rahim kami; riuh dan bising. ada mediamedia, panggung hiburan, diskotek, pelacuran semua bergulir begitu saja: seperti biasa, sesekali ada saja gambargambar mesum bapak birokrat nun jauh di sana, atau khotbah orangorang tengil di kotak telepisi, juga spanduk politisi dan jargon politiknya di kalender masjid. ada juga aksi todong menodong antara wartawan, polisi dan jelata. dan di desa kami, orang-orang dewasa cuma beradu terka, tipudaya siapa yang sedang berkubang hari ini?
pa, aku berjalan di selasar pembangunan, jumpa bebauan, busuk teramat sangat pa. ini apa bau pa? pa, aku tau engkau tak diam, dan geligimu yang gemeretuk menyatakan: tanganmu yang masih erat menggenggam batu, mengusap bercak darah di kerutkerut jidatmu. mereka bilang, itu darah dari selangkang langit negeri ini yang luka, diperkosa budaya impor, dikebiri kapitalisme
pa, aku sudah sebesar ini, tapi pembangunan belum juga sampai rupa. dan hutang masih saja mengangkang. teringat kotang Doli juga kupluk mang Eman, yang kini sudah setengah tiang digagahi inflasi. pa, orang dewasa bilang kami bangsa yang gagah, tapi kenapa ibu kami diekspor, lalu bapak kami dibiarkan bunuh diri di pelacuran kelas teri. pun kakak kami yang tak tamat sekolah, belajar sejahtera di bekas tempat bapak mati. hanya lampu merah menjadi satusatunya pusat tawaf keluarga kami, menggerayangi apasaja; merogoh receh dan menghitung jutaan mimpi yang berceceran
pa, kami lahir dari jejak sejarah yang gelap, sanggup mengasah senjata, demi tim bola kesayangan atau pacar dan cinta buta ala pilem india. dan kami tak lagi perlu ribut untuk kesejahteraan semua, karena demokrasi membuahkan apa saja, termasuk motor yang diimpor dari keringat ibu di saudi. pa, barangkali kamilah buto ijo itu, berzina dengan kemilau dunia, mengandung anak jadah, lalu menanamnya di sungaisungai; sebab tuhan sudah makzul, kerana sinetron dan jaringan internet. dan potongan tubuh bergelimpangan dimutilasi teknologi. pa, diamdiam udara terasa panas. menghantar maut di helahela napas
pa, aku takut.



Prosa ini saya kirim untuk turut membuat penuh sebuah Trilogi Kritik Sosial, yang terdiri dari 2 Buku Anthology Puisi dan 1 Kumpulan Cerpen. Aneh dan.. Ah, lagi-lagi saya gak tau musti bilang apa. Bye :)


1 comment:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...