13 January 2013

“tuhan” yang malang (Puisi)

tuhan” yang malang

Untuk kawanku, Salma. Biar aroma cerita ini mengiang di kitar kudung abu-abu mu. Semalam “tuhan” terbang disebuah pulau, membuat keributan. Telepisi dan koran-koran; berbunga api, tak kunjung padam.

Ada “tuhan” dalam kelebat api, potongan daging, ledakan dan tentu saja darah. “tuhan” yang malang, dimanipulasi dengan sorga dan ceramah yang marah; konon Yesus pun disalib kerana bersengketa dengan “tuhannya” Musa, barangkali Marxis yang akan bertanya-tanya, ada apa sebenarnya dengan “tuhan-tuhan” yang suka ribut itu.

Di negeri Gandhi konon “tuhan” menumpahkan darah, dengan bau mesiu dan jerit kanak-kanak. Juga Negeri Gibran yang hangus, katanya “tuhan” juga yang membakarnya; jika “tuhan” sejahat itu, aku curiga jangan-jangan dia sedang jenuh. Ah, kayak manusia aja, harus jenuh segala.

Meledak, semudah itulah “tuhan” dipahami. lalu sorga menjadi semudah memencet tombol lampu di kamar tidurmu. Klik... Blarr! Sampailah di sorga. Ah ada-ada saja. Padahal kita sejak lama jumpa dan kenal dengan “tuhan”, beberapa sudah akrab bahkan. Katanya dia sejak lama sudah bicara pada kita. Kita pula katanya mendengar suaranya sambil terkantuk-kantuk, mengobrol dan ketawa-ketiwi, sampai esoknya, kita kaget-kaget, sudah terbitlah darah ditempat kita biasa melihat matahari terbit. Kasihan kita, rumah sudah seribut begini; kita malah repot menyalahkan “tuhan”.

Aku heran sekali, Tuhankah yang beragama atau agama yang bertuhan, sebenarnya?



Mungkin agak SARA, tapi menurut saya pribadi bagaimanapun juga puisi seharusnya dapat memotret dengan jelas realitas-realitas yang mungkin sekali sulit dirapalkan dalam jalinan kata-kata.

Dalam kemaha-jujuran seperti ini, mungkin kita akan tersinggung, karena (mungkin) saja jauh dalam diri kita sedang berusaha menafikan realitas dari gaya berkehidupan jamak yang benar-benar kompleks. Well, saudara-saudara, karya sastra cuma salah satu cermin dari sekian cermin yang mau tak mau menampilkan realitas yang "itulah adanya".

Selamat menikamati. Salam :)


21 comments:

  1. hmmm...apa ya??? ane ngga bisa ngoceh nih

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe gak usah juga gak dosa bang :)
      salam kenal. he

      Delete
  2. Bagus banget puisinya. Ya, memang gua lihat kehidupan manusia saat ini ironis. Di Indonesia contohnya. Agama yg harusnya mengajarkan cinta kasih, malah jadi alat politik dan penyebab ketidakrukunan di dalam hidup bermasyarakat. Orang ngaku beragama, tapi cuma jalanin ritualnya tanpa tau maknanya. Agama ga ada bedanya sama opium...

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama kayak opium bang? wah... metaforanya menarik juga... heu.

      Delete
  3. Bingung mau comment apa, gue gak ngerti puisi :( sian ye gue

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha bisaan aja bang upil mah... udah gak usah ngerti puisi, ntar dikira gak gaul! heu

      Delete
  4. bener kata guru gue dulu.. agama - selain jadi pemersatu - juga jadi pemecah....

    ReplyDelete
  5. Banyak yang mengatasnamakan tuhan untuk mengeruk harta, tuhan untuk kepentingan golongan. Entah kenapa agama itu sebagai sebuah senjata bagus untuk membeli kepercayaan orang, padahal di dalam hatinya belum tentu dia ngerti agama yg dibilangnya itu,, huahua

    ReplyDelete
  6. bingung mau koment apa tak ngerti puisi :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah... sama kang, saya juga gak ngerti hehe

      Delete
  7. agama menciptakan Tuhan....
    agama dibuat manusia..
    jd Tuhan dibuat manusia...
    gmn hayow...?

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah.. muali berteologi nih.. kabur ahhh.. :D

      Delete
  8. “Requiem Aeternam Deo” semoga Tuhan beristirahat dengan tenang

    ReplyDelete
    Replies
    1. wihhh... jleb bang jleb! :)
      salam kenal :)

      Delete
  9. Um.. *thinking*

    semoga tidak ada yang mengatasnamakan "semua" karena ulah "satu" orang. #apaini *OOT ye bang? maav. hehe

    Sangat menghargai pendapat yang tercetus dalam karya sasta diatas.^^

    ReplyDelete
  10. BAGUS JUGA NIH PUISI.....ALIRAN PASTI NATURALIS...
    AYO ANDA BERBAKAT.....SILAHKAN IKUT LOMBA PUISI TEMA SAMUDERA. SILAHKAN KLIK LINK : http://riyannailanie.wordpress.com/info-lomba-penulisan-puisi-oleh-komunitas-rumah-sastra-indonesia/

    ReplyDelete
  11. Tuhankah yang beragama atau agama yang bertuhan, sebenarnya?
    Kalo menurut gue sih, agama yang berTuhan. Bukan sebaliknya.

    Oh yah, diksinya keren-keren

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...