20 May 2013

Semacam cinta (1)



Amsal Penyair

pencarian ini tak akan pernah sampai/
hingga waktunya nanti ku temukan makna cinta/
perjalanan ini tak akan pernah sampai/
hingga waktunya nanti ku dapati arti pulang/

Tuhan bimbinglah langkahku/
Tuhan jagalah jiwaku/
Tuhan terimalah hadirku/
Tuhan sambutlah pulangku/

-Rudi Aliruda-

Ini adalah puisi romantis paling berhasil dalam mengikat konsespsi cinta dan spiritualitas yang agung. Barangkali karena puisi inilah saya selalu merasa dalam rantau. Barangkali persislah sudah, bahwa hidup adalah perjalanan paling panjang yang sedang kita lalui. Dan “muasal kita” adalah "pulang" yang paling ingin kita ketahui dengan telanjang. Akhirnya saya harus tahu bahwa sains, filsafat, dan agama; semua mencoba menguak rahasia tentang “pulang” tersebut dengan caranya sendiri.

Saya merasa, tadi sore yang keren, saya menatap matahari yang susut. Saya berjalan santai sepertinya, menyambangi warung tenda langganan, memesan ampela goreng, meminta porsi lebih yang akhirnya tak habis dimakan semua. “Duh… maap nih mbak, gak habis… tadi saya pikir kalo seharian belum makan, musti bales dendam,” “ya gitu mas… kalo suka telat makan.” Ujar si Mbak menjawab. Saya mengerutkan kening, ada yang kurang dari kata-katanya, saya bertanya lagi “kira-kira kalao saya telat makan terus-terusan begini, bakalan mati muda gak?” Dia masih sibuk menata ayam gorengnya di balik kaca… suara saya habis dimakan gemuruh kompor minyak yang menyala.

Saya melirik lagi nasi itu, nasi yang belum habis saya makan; nasi yang akhirnya tersisa dan tersia karena keserakahan saya. Saya agak menyesal, pasti di ujung-ujung benua Afrika sana masih ada bocah-bocah yang tampil di televisi seperti boneka hitam berkepala besar, dengan perut dan tungkai kaki sebesar batang-batang pohon singkong. Lengkap dengan bopeng di permukanan kulitnya juga dengan sorot mata kosong. Lalu saya merasa mulai membenci sesuatu.

Read more ...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...