23 May 2013

Kelahiran

Saya memang ganteng! Gausah protes! 


Di tanggal 22 dari bulan ini, 21 tahun yang lalu lahirlah si jabang bayi. Dalam akta kelahirannya bayi tersebut tercatat lahir di Sumedang, pada hari Jumat, jam 12.00 siang. Bayi itu adalah buah hati pertama dari seorang perempuan desa yang bersuamikan seorang pelukis. Barangkali waktu itu hari begitu terik, saat itu sang suami sedang berada di Makkah, Arab Saudi. Tapi sebelum ia berangkat ke tanah Saudi tersebut ia mewanti-wanti sang ibu jika nanti anak mereka yang lahir adalah laki-laki maka sang ibu akan menamainya dengan nama: Muhammad Farid. 
Kelahiran pertama ini merupakan saat-saat yang begitu sulit bagi si ibu muda tersebut. Sampai ia begitu banyak kehabisan darah saat proses persalinan dan diopname selama satu bulan pasca persalinannya.
“Siapa namanya?” Tanya si kakek jabang bayi yang menggantikan sang ayah untuk mengazani telinga bayi tersebut. “ceuk si akang mah, Muhammad farid” si kakek diam tak bergeming  “dia sipit, kayak orang-orang etnis tiong hoa,” lalu diam dan tersenyum “mungkin ini semacam isyarat, dia akan jadi orang kaya seperti orang-orag cina itu… namai dia Ahmad Farid!" ujarnya agak memerintah. "Muhammad Farid terlalu panjang dan umum" begitu alasannya.
“Apa yang berbanding lurus dengan usia yang semakin tua?” menjadi ungkapan selamat ulang tahun paling menohok. Iya ..apa yang berubah/apa yang positive/apa yang manfaat dari 21 tahun itu usia saya? Saya melihat cermin, ada semacam wajah, sepasang mata yang dulu putih dan hitam nan harmonis,  hari ini kelihatan agak merah, bahkan sedikit kekuningan. Lalu kulitnya agak gosong menghitam, bekas jerawat dan jerawat itu sendiri melebur menjadi wajah itu sendiri, lalu kumis dan janggut tumbuh pendek-pendek, melingkar disekitar bibir. Padahal di 10 atau 5 tahun yang lalu mereka bahkan belum terlihat.
Dari cermin, saya alihkan pandangan ke sisi tembok kamar saya yang lain, ada sebentang kertas polio, terpasang dengan tidak indah. Tahun lalu saya pernah menulis sesuatu disana, lalu saya baca lagi tulisan-tulisan disana. Pelan-pelan saya mulai bertanya pada diri sendiri. Sebenarnya hal-hal bodoh macam apa yang saya tulis dikertas naas ini? 300 Ahlam (Re: 300 Mimpi).
Saya baca beberapa dari mimpi tersebut. Menerbitkan Novel, menerbitkan antologi  puisi, haunting photo di Afrika. Dan.. hahaha saya ketawa sendirian. Saya gak bisa bayangkan beberapa teman yang sempat-sempatnya membaca kata-kata konyol tersebut, saya salut kenapa mereka tidak terlihat sakit perut oleh sebab menahan tawanya.
Setelah membaca beberapa lalu saya mulai menghitung, ada berapa mimpi-mimpi bodoh yang saya telah tuliskan disana. Baru lima puluh enam saja. Lalu dari sekian puluh itu sudah berapa yang terealisasi? Nol besar! Apa saya gagal? Kita semua tahu motivator tidak akan bilang bahwa saya gagal, hanya saja keberhasilan yang belum tiba. Tiba-tiba saya ingin mencukur habis bagian depan rambut di kepala saya, memakai kacamata dan tuksedo hitam. Lalu orang-orang memanggil saya… Farido Teguh?
Dua puluh satu tahun telah genap pada usia saya. Saya mulai menyusuri banyak memori, ada puluhan bahkan ratusan nama yang masih hinggap dalam ingatan. Lalu nama-nama baru yang tak kalah banyaknya. Dua puluh satu tahun, berapakah orang yang saya kecewakan? Saya sangat tak enak hati jadinya.
Pada akhirnya saya mustilah mengerti, bahwa saya dan kelahiran saya hanyalah awal bagaimana panggung musik sedang dipentaskan. Dan sampai hari ini panggung musik tersebut masih bergema, sudah berkali-kali panggung musik tersebut dilempari sandal bahkan botol minuman dan air  mineral. Tapi tak jarang pula beberapa tepuk tangan terasa begitu bergemuruh.
Namun, seperti umumnya panggung musik, pada suatu kali nanti semua akan sadar panggung musik ini akan berhenti, dan show its over… praktis orang-orang akan pulang ke rumah masing-masing, beberapa membawa bunga-bunga mereka sendiri, mungkin ada yang masih merasa kesal karena panggung musik tadi tak seperti harapan, namun beberapa lagi merasa begitu bahagia. Lalu masing-masing mereka menyimpan video dan gambar darinya lalu mengenang-ngenang kembali betapa konser musik tadi benar-benar begitu hidup. Fluktuatif, dinamis; seperti normalnya rotasi kehidupan lengkap dengan berbagai implikasinya. Dan mereka, akan belajar tentang bagaimana meneruskan panggung musiknya masing-masing.

Tapi sampai detik ini-pun, ternyata show masih berjalan. Saya berharap tak ada yang dirugikan lagi dari 21 tahun hidup saya. Selamat menikmati hari lahir.

1 comment:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...