09 May 2013

Semacam Takut (1)



Kira-kira dua atau tiga minggu yang lalu. Hari itu sungguh siang yang kantuk, sekonyong-konyong telepon genggam saya (yang tidak pintar itu) berdering, sebuah panggilan telepon! saya mengangkatnya, lalu bilang “halohhh!” (dengan mulut membuka lebar dan lidah sedikit terjulur keluar). Oh ternyata dia teman saya (yang dulunya sempat sangat dekat dengan saya). Saya memang jelek, tapi pacar dan teman-teman dekat saya pada cantik (mungkin mereka memang sakit mata atau semacamnya saat mau-maunya dengan dekat saya).
Katanya, dia sedang di depan asrama, membawa pacarnya juga. Katanya dia mau saya panggilkan teman-temannya. Nasib buruk menimpanya… maka tinggallah saya saja menemuinya. Ahha… sebagai calon penyair tak lupa saya bawa buku anthology puisi (yang mana tiga puisi saya terbuhul di dalamnya) untuk diberikan pada mereka: sepasang kekasih yang sedang dalam masa keemasan untuk mengonsumsi banyak puisi, demi kesehatan hubungan dan keberkahan hidup. *benerin resleting*
Kami duduk berhadap-hadap. Dia dengan pacarnya bersanding dekat, saya di seberangnya kayak monyet doger kebelet megang garpu. Saat itu entah kenapa saya merasa lutut saya agak gemetaran. Dan dengan polosnya saya bilang “kok saya agak rikuh gini ya? Aneh deh.” Menanggapi saya, si cowok ketawa. Lalu obrolan mendera kami bertiga, mereka akan menikah dua atau tiga tahun lagi katanya. Saya melihat mereka begitu cocok, seperti Tahu sumedang dengan cabe-nya [analoginya maksa], lalu saya tandaskan “loh… kenapa musti lama-lama? menikah muda-pun elok rasanya… baik untuk membantu skripsi, kebutuhan sehari-hari bahkan kebutuhan akan teman tidur.”  Untuk hal yang terakhir itu saya tidak bilang kencang-kencang.
Maka singkat cerita obrolan segera berakhir. Saya kembali ke asrama untuk menjadi penyair lagi. Sementara mereka akan melanjutkan ulin-nya. Setelah kegiatan saya usai, saya baru ingat… belum bilang makasih atas kunjungan dan traktiranya. Saya sms dia, dan saya bilang “kalian cocok.” Kerana begitulah saya mengira cara berterima kasih pada mereka yang sedang dilibas asmara. Lalu dia bertanya “iya makasih… menurut lo, kami bakal langgeng gak?”
Maka saya tertegun. Buka celana dan menyalakan webcame. Lalu saya-pun memanggil para malaikat untuk membuat video joget Harlem Shake dengan Saya. Ah bukan begitu maksudnya… saya tertegun sungguhan, dan termangu-mangu begitu lama. Saya berpikir. Ada yang menggelitik di sini. Ah… sungguh tumben saya berpikir. Saya teringat firman Tuhan dalam kitab suci al-Qur’an. Begini bunyinya
“sesungguhnya para kekasih Tuhan tiada akan merasa takut dan sedih.”
Lalu saya merasa mendapatkan cahaya terang dalam jiwa saya. Saya-pun joget Gangnam Style sambil shalawat-an. Ah bukan begitu maksudnya. Intinya begini… saya memaknai ayat tersebut, seperti mana DR. Aidh Al-qorniy yang mengaitkan bahwa “takut” berarti kekhawatiran terhadap masa depan. Sedang “sedih” berarti kegalauan (yang tingkat internasional) pada masa lalu.
Kita, dalam melihat apapun selalu terjebak pada dua hal tersebut. Ah sungguh benar kasihan kita ini. Sedih dengan masa lalu, dan ketakutan dengan masa yang belum tiba. Dalam menjalani relasi asmara-pun kita begitu. Saya sering melihat gejala ini pada perempuan. Sedangkan pada lelaki, tidak terlihat begitu jelas. Ya lucu aja kalo cowok curhat masalah begituan, ya kan?
Ahh.. saya genggam lagi hape saya (yang keren itu) dan saya ketik semacam kata-kata, begini bunyinya:
“Put… soal itu cuma kalian yang bisa tahu dan pastikan. Sementara dari luar kami cuma tahu, bahwa kalian sedang membangun rumah impian. Sementara tentang bagaimana rupa dan kekuatan si rumah yang sedang kalian bangun itu cuma kalian yang bisa pastikan. barangkali cuma konsistensilah yang dibutuhkan untuk memelihara visi dan misi kalian dalam membangun rumah impian tersebut. Maka jadikan visi dan misi tersebut bermuara pada ketaan kepada Tuhan, dan amal bakti bagi kemanusiaan. Loh kok jadi ceramah sih? Hehe.”
Setelah saya menjadi sebijak Plato itu, serta merta saya kembali idiot seperti biasanya. Happy Idiot Day semuanyaaa!!

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...