07 June 2013

Semacam cinta (2)

Seperti yang teman-teman saya bilang, saya nampaknya gak bakat untuk punya pacar. Kasian .



Let’s talk about love…


Simpang siur soal bagaimana pemaknaan cinta yang benar adalah hal yang tak perlu lagi menjadi bahan pembicaraan. Sebab pada dasarnya kita bisa memahaminya dengan dua sudut pandang yang berbeda; pertama cinta sebagai hal yang konkrit; lalu kedua, cinta sebagai hal yang abstrak.

Boleh lah kamu akan mengatakan cinta adalah bersatunya dua manusia yang saling ingin memberi dalam ikatan yang diakui, entah oleh lingkungan atau badan administrasi negara. Dengan begitu, maka yang kamu bilang itu adalah cinta dalam perspektif yang konkret.

Tapi dia akan bilang bahwa cinta adalah memberi tanpa henti dan tanpa batas apapun –label, komunitas, ras, bangsa, agama dan semacamanya. Dan hal ini marilah kita sebut saja sebagai cinta dalam sudut pandang “cinta sebagai hal yang abstrak”.

Jika yang pertama bicara soal yang kelihatan, maka yang kedua bicara soal yang tidak kelihatan. Apakah ada yang salah atau benar antara satu dengan yang lainnya? Nampaknya memang tidak ada bukan?

Cinta memang telah menjadi pangkal segala puisi dan tak pernah berhenti dalam jutaan ragam dan narasi karya-karya seni di wajah dunia, sepanjang masa.

Well, secara general kita mungkin gak pernah tahu kalau cinta terlalu besar dan lebar untuk kita terjemahkan. Dan sialnya sinetron telah memaksakan caranya untuk kita; agar kita percaya bahwa cinta memang seperti yang sinetron jewantahkan (pedekate-pacaran-putus-cari lagi-kenalan-pedekate-bla bla bla).

Ah, kenapa pula saya serius sekali?

Saya hanya ingin memesankan pada diri saya sendiri bahwa cinta bukanlah semata-mata saya dengan seorang perempuan yang saya kagumi akhirnya harus dikenal oleh semesta alam sebagai pasangan yang berpacaran, lalu berbalas mention di twitter dan memuat status hubungan di facebook menjadi; berpacaran, agar tampak sangat bahagia di mata orang-orang.

Saya muslim laki-laki yang normal, dan hal inilah yang membuat saya seringkali mengalami pergelutan nilai dalam benak saya: antara keyakinan saya sebagai muslim (yang masih dalam pencarian) dengan kenyataan saya yang sedang jatuh cinta pada seorang gadis (lengkap dengan kualifikasi saya sebagai lakai-laki siap “tempur”). Belum lagi kalau bicara apakah saya siap menikah atau belum, tentu saja jawabannya: belum!

Masalah lainnya adalah saya tidak yakin ada pacaran islami, dimana sepasang laki-laki-perempuan yang belum sah secara administrasi dan syariat untuk berpasangan akhirnya mengaku saling cinta dengan transparan.

Saya tahu, betapapun memang tulisan ini tampak seperti hal yang munafik bukan main. Tapi nampaknya memang cuma itu saja-lah yang menjadi titik tolak dari tulisan ini.


Adapun yang masih berkilah bahwa pacaran syar’i nan islami itu memanglah ada, wah! Silahkan saja, masa saya harus ngancam bom bunuh diri? Kan ga lucu itu…
Read more ...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...