25 August 2013

Bandung (1)








Saya baru pulang dari Bandung, kau tahulah kawan, laki-laki muda itu harus banyak melakukan perjalanan penting dalam hidupnya. Tapi saya ngerasa keseringan ke Bandung, saya khawatir itu akan jadi semacam perjalan spiritual yang rutin atau semacam umroh gitu... Thawaf di Pasar Baru, Sa'i Jalan Braga, terus lempar jumrah di Trans Studio (lantaran kesel sama harga tiketnya).

Iya, betapapun kerennya saya ini, ternyata Bandung memang harus tahu, bahwa saya dibutuhkan oleh dunia untuk tugas-tugas besar: seperti merokok di SPBU dan berenang juga lompat indah di sungai Cikapundung.

Oh bukan gitu maksud saya rupanya...

Harusnya kan saya lebih sering ke Jakarta, belanja mobil, numpang pipis, ketemuan sama yayang Maudy Ayundha* dan ngajak dia makan-makan di warung tenda terus minta dia yang bayarin. Tapi pada kenyataannya saya baru saja dari Bandung. Entah gimana ceritanya, intinya saya.. mmm... yaudahlah, daripada diputusin Ariel, akhirnya saya ke Bandung. 

Ngapain saya di Bandung, saya pikir bukanlah hal yang penting, saya cuma mengambil lensa kamera yang sedang di service di daerah Braga, lalu membeli kuas di ABC, dan saya berjalan kaki sendirian dari satu tempat ke tempat lain, mirip vokalis-vokalis keren di video klip musik mereka. Saya merasa seperti Ariel Noah, tapi Ariel Noah tidak merasa seperti saya, yasudah itu bukan masalah.

Saya juga sempat Shalat Dzuhur di Masjid Raya Bandung, rumah ibadat yang menakjubkan, selalu tampak ratusan manusia di sana. Gak usah diomongin kalo yang bikin banyak itu pedagang kopi dan rokok yang gentayangan di serambinya, bahkan ada yang menggelar warung nasi dan panti pijat segala. 

Ah, lalu hujan tiba dengan tiba-tiba. Saya diam, di sela-sela hujan tersebut saya merasa terjebak di tempat yang begitu puitis dan menyenangkan. Tempat yang melambangkan kedekatan manusia dengan Tuhan, alam, dan manusia. Keren!

Saya pesan kopi, pesan juga sebatang rokok. Saya diam, orang di samping saya diam, pedagang rokok diam, tukang pijat diam. Semuanya diam, kami sama-sama mengatupkan ketiap rapat-rapat, serambi masjid banyak orang berteduh dari hujan dan bertahan melawan dingin.

Saya melihat dedaunan palem di halaman masjid; sama-sama gemetar disentuh jemari hujan, sementara daratan habis diseduhnya, dan atap masjid ini bersahutan bunyinya menyambut hujan, gelegar guntur dan petir. Saya benar-benar merasa beruntung dengan momen puitis ini, biar-pun belum juga mengredit motor.

Soal pedagang-pedagang di serambi Masjid ini... entah kenapa, saya tidak marah kalau orang-orang ini membuka lahan ekonomi di rumah Allah yang maha pemurah dan lapang hati-Nya itu. Tapi siapapun yang sewot dengan kehadiran mereka, maka ketahuilah sesungguhnya Allah Swt sudah memerintahkan untuk bersikap bijak dan meninggalkan tijarah (segala bentuk aktivitas duniawi) saat ada panggilan ibadah. Kalaupun ternyata kita semua ngeyel dan Allah Swt. tidak sambar kita dengan petir-Nya, maka jangan-jangan Ia menggantinya dengan ketidak-tenangan, kegalauan, dan kesulit jodohan, ketidak adilan pemimpin, kebobrokan moral dan lain-lain. 

Fiyuhhh...

1 comment:

  1. Mbah, tour mu ke Bandung membuat saya terkesima hingga minuman teh sisri di tangan saya tumpah ruah. Dan langsung berangkat menuju hamam. Patut diapresiasi. :D Selamat berjumpa di kota kelahiran saya :D

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...