26 August 2013

Galau massal di bulan Agustus

Selamat para pemimpiiin... rakyat makmur terjamin.. la la la la..

(Post ini pernah saya post di catatan facebook pada 17 Agustus kemarin)


Saya pusing dengan orang-orang di Media Jejaring sosial, mereka hari ini bicara tentang Indonesia dengan riang setelah sehari yang lalu bicara soal Mesir yang sedih dan setelahnya galau membicarakan sang pacar yang tidak membalas pesan pendeknya. 

Indonesia, krisis kemanusiaan, perang, 17 Agustus… semua hal ini mengingatkan saya pada  beberapa waktu yang lalu di kampus. Singkat cerita saya berpapas muka dengan Pak Firman, dosen kami yang asik tersebut mengajar komunikasi lintas budaya. Dia bercerita, konon tragedi bom atom di Hiroshima dan Nagasaki terjadi salah satunya disebabkan oleh kesalah pahaman dalam komunikasi lintas budaya, antara pasukan Amerika yang sedang berada di udara dengan Pasukan Jepang yang berada di darat. Saya lupa lagi bagaimana kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka saat itu. Mungkin begini…

“Kamu mau aku Bom gak?” Tanya serdadu Amerika, yang sedang marah diliput dendam karena tragedi Pearl Harbour. Serdadu Jepang tidak kaget “Mmm… kasih tahu gak ya?” begitu jawabnya berusaha akrab. “Kami ini Amerika! Ini bom atom tahu!” Sahut si Amerika mengingatkan. Lalu si Jepang malah bertanya balik, tentu dengan niat berakrab ria “Atom aja, atau Atom banget?”

Blammm!! @#$^&*&*(*()*^$#$@#!$%%*,.

Kira-kira begitulah kejadiannya. Ini miss understanding! Amerika mengira Jepang mengejeknya, padahal memang Jepangnya saja yang agak alay, dan alay bukanlah sesuatu yang buruk di Jepang. Itu murni budayanya (lihat aja AKB48 yang akhirnya melahirkan JKT48)

Bom atom tersebut, diusulkan oleh Einstein kepada Presiden As Roosevelt dengan alasan ia khawatir bahwa bom sejenisnya sudah pasti ditemukan oleh pihak Jerman dan sekutunya. Dan usaha serangan ke Jepang adalah bentuk Sow Off dan reaksi defensif dari militer sekutu dan Amerika. Lalu pada tanggal 6 dan 9 Agustus 140 ribu jiwa di Hiroshima dan Nagasaki habis (!)

Lalu dari kejadian Hiroshima dan Nagasaki yang tragis tersebut, muncullah kemudian wacana kemerdekaan bangsa Indonesia –yang kita rayakan- ini. Walaupun, toh sejatinya saat itu Jepang sendiripun sedang hampir surut dari pergolakan perang dunia II, Jepang sudah mengalami banyak kekalahan pada perang pasifik, belum lagi munculnya banyak perlawanan dari rakyat Indonesia yang mereka bina dan didik sebelumnya. Jepang sudah goyah saat itu, lalu bom atom yang jatuh di Hiroshima dan Nagasaki membuat kegoyahan itu semakin dahsyat. Kamu-kamu pasti tahu bagaimana daya kerja bom atom dalam hal merampas nyawa manusia, infrastruktur fisik, ekonomi bahkan mental dari negara manapun.

Einstein su’udzon dan paranoid! tentara Amerika di langit Nagasaki salah paham! Mungkin Einstein yang berdarah yahudi itu tidak salah, mungkin memang Hitler yang membuatnya begitu, mungkin juga kerakusan dan kesemena-menaan leluhur Einstein yang yahudi-lah yang menciptakan manusia semacam Hitler. Mungkin aja sih… mungkin. Bisa jadi! Bisa jadi!

Tapi dari segala kemungkinan itu, kita sangat hapal beberapa hal dari sejarah hidup kita sebagai manusia. Pertama, kekerasan selalu melahirkan kekerasan lainnya. Kedua, betapa buruknya prasangka buruk, dan ketiga, betapa mengerikannya intoleransi dan fanatisme (apapun bentuknya).

Maka dari momentum Lebaran dan Hari Jadi RI ini marilah menjadi manusia yang galau segalau-galaunya! Kita akan bergalau massal! Galau yang manfaat dari galau yang biasanya. Maka lupakanlah pacarmu yang tidak perhatian, atau mantanmu yang menyakitkan dan mulai sering minta balikan.

Mari galau dengan melihat 17 Agustus dari sudut pandang yang lain, bahwa 17 Agustus mungkin saja bukan lagi sebagai simbol kemerdekaan bangsamu, dan 360 tahun masa penjajahan di atas bumi nusantara pun bukanlah penjajahan hakiki, sebab apalah arti penjajahan bagi mereka (para pahlawan kita) yang jujur dan dan setia hidupnya pada kebenaran walau akhirnya mati diracun, ditembak, disangkur, dan dipenjara. Dan apalah arti kemerdekaan, jika dunia pendidikan, politik, ekonomi, budaya, agama yang kita tempuh dan rasakan bertahun-tahun tidak membuat kita dewasa, jujur, produktif, kreatif, dan setia kepada nilai kebaikan; bukannya malah membuat kita semakin fanatis dengan partai politik tertentu, ormas, madzhab fikih tertentu, team bola, geng motor, boy/girlband yang Demi Allah! Semua itu tidak akan membuat kita kian pintar, sejahtera, ganteng/cantik di dunia maupun di akhirat!

Muhammad Saw. bersabda saat dalam perjalan pulang dari pertempuran Badr: Perang yang sesungguhnya adalah perang melawan Nafsu (ketidak jujuran, anti toleransi, fanatisme, anti keadilan). Maka apalah arti 17 Agustus, atau status facebook dan twit sok nasionalis dan pura-pura merdeka jika saja kita masih terjajah jiwanya. Sebab penjajahan di Indonesia bukan lagi rentetan senjata, derap pasukan berkuda dan semacamnya. Penjajahan terhadap bangsa kita adalah ketidak jujuran, kontra produktif, anti toleransi, anti keadilan, rakus kekuasaan, fanatisme, dan materialisme.

Tiba-tiba saya kangen bangku kuliah, kangen tiduran saat dosen pada dua jam pelajaran penuh berceramah, kangen pula saat bersilang pendapat dengan dosen Ulumul-Quran dan hampir dibilang kafir, kangen dengan tugas-tugas kelompok yang lebih sering tidak efektif, kangen juga ketika meragukan integritas beberapa oknum dosen dengan mata kuliah yang diajarkannya di kelas saya. Kangen yang aneh.

Duh, pendidikan di Indonesia. Duh, generasi bangsa. Duh, pejabat Negara. Duh, kemerdekaan Indonesia. Jauh panggang dari api! Sebagai sate kambing, sesungguhnya cuma kambing saja yang sudah merdeka dan tidak galau lagi.

Rumahnya Pak Haji Adang, 17 Agustus 2013

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...