07 August 2013

Lebaran, Zombie, dan Emil.

Tiba-tiba udah lebaran! Cepet amat ya? Jidatmu! Lah, kemaren-kemaren siapa yang misuh-misuh hatinya lantaran gak bisa lagi minum kopi tiap pagi?

Siapa pula yang ngedumel gak karuan karena musti dapat giliran ngimam teraweh hampir tiap malamnya?

Iya, saya mau jujur saja soal betapa keihklasan masihlah menjadi rahasia yang kurang ajar ghaibnya di tiap-tiap amal ibadah saya. Saya selalu mencurigai tiap bentuk ibadah saya. Jangan-jangan selama ini saya beribadah ala zombie! Iya, ibadah tanpa niat, ibadah karena takut disebut menyimpang, ibadah karena ikut kultur dan budaya.

Duh, saya merasa malu terhadadap Allah Swt, malu juga dengan diri sendiri, dengan murid ngaji, dengan mama, papa dan Ariel Noah.

Ah, tapi yasudahlah… ini lebaran, ibadah saya akan tetap diteruskan dengan proses istiqamah, kontinyu, dan khusu, yang semoga saja akan memandu saya untuk menemukan titik sentral di tiap ritus peribadatan saya.

Nah, ini memang lebaran, kewajiban ibadah saya agaknya akan bertambah, sebut saja aktifitas meminta/memberi maaf. Ah, tapi saya akan lebih banyak memaafkan ketimbang meminta maaf. Karena ternyata sangatlah kacangan mengetikkan kata-kata maaf yang tidak kreatif tersebut lengkap dengan tanda “dari Si Fulan dan keluarga” lalu dikirimkan kepada semua kontak di hape.

Alih-alih saya lakukan hal tersebut maka saya pun memilih menyeduh kopi, menanti sms-sms minta maaf tersebut, dan membalasnya satu per-satu dengan sabar dan gagah jempolan. Namun tetap dengan redaksi yang sama “Iya! Semua sudah saya maafkan! Segala bentuk hutang juga sudah  saya anggap lunas! Cukup?”

***

Takbiran yang terdengar fals dari kanak-kanak, pesta bedug di pusat kota, lalu dentum petasan dan kembang api yang silih mengisi di hitam langit awal syawal. Baik. Semua jadi lengkap dengan omelan ibu saya soal merecon, atau status-status dan twit rombengan dari kawan-kawan di jejaring social. Iya, lengkap.

Selain lengkap, ini malam yang basah, bukan saja soal hujan yang pelan-pelan melintas, mungkin ada hujan lain yang tiba sesaat setelah melewati detik-detik yang tegang di depan layar tifi yang sedang menyiar musyawarah sidang itsbat penetapan 1 syawwal. Ya, hati saya basah. Entah karena sayanya yang sedang melankolis, atau memang saya sedang merasa terlempar ke suatu masa dimana saya melewati suatu hari lebaran tanpa merasa sesepi ini.

Saya tidak pernah mengerti idealnya lebaran itu harus seperti apa… iya saya tahu musti takbir dengan khusyu!

Tapi bukan hal macam itu yang ingin saya biacarakan, kali ini saya ingin bicarakan rasa sepi saya, juga Emil, sahabat saya yang tahun-tahun lalu kami sering menggembel sama-sama di momen seperti ini, tapi kini ia sedang berdarah-darah menempuh terjalnya medan ilmu dan pengetahuan di Mesir sana. Iya sukurnya dia tidak ikut didemo, karena memang dia orang yang tidak penting dan sama sekali tak punya kaitan apapun dengan politik Mesir. Karena yang saya tahu, dia cuma orang yang otoriter kalau sudah dua hari tidak ketemu nasi.

Saya jadi sedih membayangkannya sehingga lupa dengan kesedihan saya sendiri. Emil pasrti kangen kampung halamannya, kangen kucingnya, kangen pacarnya, kangen emaknya, kangen juga pada teman-temannya yang tidak penting itu (termasuk saya). Tapi Mesir adalah tempat dengan  jarak yang jauh sekali dengan kampung halamannya di Subang, kamu bisa bayangkan, untuk samapi ke Subang, Emil harus berenang melawan jeramnya arus Sungai Nil, lalu belum lagi ia harus merintangi luasnya Laut Merah dan Samudera Pasifik *eh. Maka pilihan dia untuk lebaran di Kairo kali ini sangatlah logis dan manusiawi.

Saya tahu Emil tidak sesedih saya dengan kesepian ini, dia tabah meskipun melankolis, dia besar meskipun kurus, dia pemakan daging meskipun suka jengkol. Dan dalam kesepian ini, pada lebaran ini saya belajar kembali untuk menghormati kenangan dan lebih sayang lagi dengan teman.

Saya kangen Emil, meski Emil tidak kangen saya. Karena itu baik buat kami semua, sebab apabila kami sama-sama kangen, maka kami akan malu disebut laki-laki. Begitulah. Lalu saya mendoakan segala hal yang baik untuknya. Maka rindu terkeren apalagikah yang ujung-ujungnya adalah doa?

Oke Emil kami tersayang! Selamat Idul Fithri, semoga kamu sama Mesir sama-sama tabah dan damainya. Kami di sini akan terus makan jengkol dan saling mendominasi kamar mandi dengan bau aneh yang sama, sampai saatnya tiba pemilu 2014 dimana jengkol dimasukkan ke dalam rancangan undang-undang sebagai binatang tak berkaki yang mengganggu sistem sanitasi nasional!

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...