25 December 2013

Mencacat Teman (2)


Tak ada mimpi yang terlalu besar, tak ada pemimpi yang terlalu kecil -Turbo The Movies-

Salah satu teman saya Maulana Abd Aziz, baru saja berangkat ke Kairo. Nah, buat kamu yang gak tahu Kairo,  itu sebuah tempat  yang letaknya dekat dari belokan ke arah Pasar Jumat kalau kau datang dari arah Cikampek.

Ajis adalah satu-satu teman yang berani mengatakan pada saya bahwa saya penuh dengan mimpi dan perencanaan-perencanaan besar yang omong kosong. Dan sialnya dia benar. Dan yang lebih sial adalah dia adalah orang yang sama belaka dengan saya. Itulah sebabnya dia penting buat saya.

Teman saya ini sampai ke Kairo dengan selamat, meski sebelumnya saya berpikir begitu dia melayang di atas langit Mesir yang sedang didera musim dingin dia akan mati karena ingusnya menjadi es; lalu dia akan mencoba bernapas dengan mulutnya, tapi liurnya sudah membeku. Naas memang. Kemudian dia berpikir untuk bernapas dengan lubang lain yang berada di tubuhnya misalnya lubang telinga, pori-pori, atau yang lebih ekstrim… ah, udahlah ini pasti mengerikan. Tahunya di Kairo dia tetap hidup.  Well, ternyata saya memang bukan anak IPA.

Dia bahkan berfoto sebelum dia benar-benar sampai ke Mesir.
Padahal bisa saja itu cuma ornamen Mesir di bandara Zimbabwe
Sejak kami SMA, saya tahu sedikit mengenai proses Ajis yang entah kenapa dia sangat memimpikan menempuh pendidikan formalnya di luar Indonesia. Waktu kami masih SMA dia sudah bergabung dengan website program Au Pair yang katanya akan memberangkatkannya ke Jerman dan Kanada. Tapi entah kenapa dia tidak jadi kesana. Mungkin karena khawatir dihamili. Padahal dia laki-laki.

Lalu setelah kami libur UN dia ikut tes ke Mesir, dia tidak lolos. Mungkin karena takut dijadikan pasukan Hosni Mubarak saat itu. Dengan berat hati akhirnya ia masuk UIN Bandung.  Kemudian selang beberapa waktu dia ikut tes ke Sudan, tapi tidak jadi berangkat. Begitu juga saat dia bilang dia akan ke Turki, sama, dia tidak berangkat juga. Dia down meski dia tidak pernah bilang pada saya.

Maka Ajis yang down tadi bertahap namun pasti dia belajar mengubur dalam-dalam mimpinya untuk kuliah di luar negeri dan belajar mencintai almamaternya UIN Bandung, tapi ternyata dia tidak benar-benar terlepas dari mimpi-mimpinya sendiri, itulah sebabnya setelah jatuh berkali-kali di ruang keimigrasian dan kedutaan, kemudian dia malah berusaha keras untuk merayu orang tuanya agar merelakan dirinya yang bungsu ini ke Kairo, pergi jauh dari kampung halamannya di Wanayasa.

Meski rencana-rencananya ke luar negeri seperti Mesir, Jerman, Kanada, Sudan, lalu Turki ini pernah gagal, namun sejak awal saya yakin Ajis tak akan lama di UIN Bandung. Sebab UIN bagi orang sepertinya hanyalah kebun binatang, sementara teman saya ini adalah primata hutan yang malu-malu dengan keinginannya untuk ke alam liar yang lebih luas dan menantang yang pastinya sangat cocok dengannya. Saya selalu punya firasat orang ini akan pergi ke tempat yang jauh meski hanya untuk numpang pipis dan membaca buku-buku sastra yang dikarang oleh Ahmad Tohari, Acep Z Noor, dan Sapardi Djoko Damono.

Saya merasa kehilangan, saya sempat menitikkan air mata saat di bandara, saya sedih karena saya ijin merokok lalu begitu selesai ternyata dia sudah masuk ruang check-in, sehingga pelukan terkahir kami hanya dengan melambaikan tangan saja, ini lebih menyedihkan ketimbang sinema-sinema persahabatan manapun. Mungkin saya harus berhenti merokok.

Akhirnya, bertambahlah satu teman ldr saya. Sulit rasanya ldr dengan teman-teman terkasih ketimbang dengan pacar sendiri. Meskipun saya tidak punya pacar untuk di-ldr-in. Dan ternyata hal yang kedualah yang lebih sedih.


Tidak ada mimpi yang terlalu besar, tidak ada pemimpi yang terlalu kecil.

Aziz adalah seekor rusa yang hamil, dan segala hal yang merintanginya adalah cheetah-cheetah yang lapar, cheetah tersebut selalu menunggu si rusa melahirkan sebab mereka tahu bahwa rusa yang melahirkan akan lemah dan mudah diserang.

Begitulah kita, ketika rintangan-rintangan yang kian besar menantang diri kita untuk  lebih maju, mereka selalu terasa semakin berat dan sulit. Jika itu yang terjadi, berarti kamu sedang akan sampai pada mimpi besarmu. Seperti si ibu rusa yang terus menerus mencari cara menyiasati diri dari cheetah-cheetah yang menunggu waktu persalinannya, misalnya dengan memasang cctv dan menyewa densus88 untuk melindunginya sampai selesai melahirkan.

Kita selalu berharap akan ada orang lain yang membantu mewujudkan mimpi-mimpi besar kita sendiri, namun kita tak pernah akan mendapatinya; sebab orang yang kita tunggu untuk mewujudkan mimpi kita itu sendiri adalah diri kita sendiri.

Itulah yang saya sarikan dari Joel Osten, seorang Kristen yang baik yang semalam mengisi acara di V-Chanel. Saya menontonnya karena beliau ini lebih asyik daripada Ustadz Solmet! Lagipula saya ingin merayakan kegembiraan umat Kristen dalam kekhusyukan dan gempita Natal, dengan mengambil sebanyak-banyak hikmah.


Kesempatan, kegagalan, dan proses

Setelah berkali-kali mendengar keberangkatan Ajis yang tertunda saya sempat mengutarakan bela sungkawa dan keberatan saya dengan keinginan Ajis untuk ke luar negeri. Saya sering bilang padanya bahwa Indonesia adalah tempat yang tepat menimba ilmu, meski semua orang tahu bahwa orang-orangnya tak akan pernah mudah menerima dan sungguh-sungguh mengapresiasi orang- orang yang benar-benar mencintai ilmu pengetahuan. Tapi dia memang kampret. Dan setiap pemimpi adalah kampret. Kampret yang mengagumkan.

Sejak awal Aziz sangat ingin ke Mesir, tapi pada awalnya dia tidak berhasil, mungkin karena dia kurang sungguh-sungguh. Sungguh-sungguh yang saya maksud adalah dengan mengirim sms ancaman bom ke kedutaan Mesir. Dia tidak melakukannya, maka diapun pantas gagal waktu itu. Tapi setelah berlalu hampir dua tahun ini dia berhasil berangkat ke Kairo entah apakah dia benar-benar melakukan seperti yang saya kira atau hal lain, misalnya memacari anak gadis dari menteri luar negeri Mesir.

Sudah beberapa kali Ajiz menelan kekecewaan sebelum akhirnya ia dapat berangkat ke tempat yang sejak SMP dia inginkan. Dia berkli-kali kecewa dengan segala hal yang pernah dia lakukan, dia sempat down dan ingin makan jengkol sampai mati. Tapi apa yang kali ini Ajiz dapati membuat saya penasaran, apakah kekecewaan adalah cara Tuhan untuk membisiki kita, bahwa ada yang lebih penting daripada terwujudnya mimpi kita, yaitu proses untuk menujunya.

Menurut Joel Osten, Tuhan selalu menunjuki kita arah menuju mimpi-mimpi besar kita, namun kegegalan yang kita temui nyatanya bukanlah cara Tuhan untuk menghalangi. Masih menurut Joey, kegagalan adalah hasil dari salah-langkah kita, juga untuk memberi kita satu pelajaran bahwa masih ada kesempatan lain yang akan Allah tunjukkan pada kita dengan sabar.

Gagallah teman, maka kamu akan temukan betapa nikmatnya proses dan berharganya kesempatan. Kesempatan yang Allah tunjukkan padamu dengan kesabaranNya; juga proses luar biasa yang Tuhan pilihkan bagimu.

So, saya jadi bertanya-tanya  seberapa beranikah saya menantang diri demi mimpi saya sendiri?

Ini sebulan sebelum dia berangkat, Ajis yang saya bicarakan
adalah dia yang pakai kacamata.
"Mandi" itu bahasa Mesir juga?

2 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...