30 December 2014

ADAKAH YANG LEBIH LUCU DARI PERASAAN MANUSIA?

Add caption



Di suatu dialog dalam film The Invisible Woman yang mengisahkan Charles Dickens, si tokoh bilang Life is nothing  without friends. Tapi di salah satu bukunya dia bilang "Dengan siapapun kita bersama, sejatinya kita tetaplah sendirian." Disinilah saya baru mulai peka merasakan sisi humor Charles Dickens; seperti yang orang-orang bilang.

Kemarin saya ke Bandung. Seorang teman punya keperluan. Aku sudah sejak lama tidak ke sini. Maka sejak pagi tadi dengan semangat saya menyegerakan diri untuk mandi (sesuatu yang jarang saya lakukan). Kemudian ngambil uang di ATM, dan turut serta dengan teman-teman yang lain yang kebetulan akan ke Bandung juga. 

Saya sampai ke Ledeng. Setelah saya menunaikan keperluan saya dengan seeorang (yang saat ini tidak sehat dan mendadak menjadi membosankan) saya pun berniat untuk segera pulang. Tapi di tengah jalan, saya bertemu Ihas, teman yang lain. Orangnya baik, pintar, sopan dan cantik. Saat itu terlihat anggun dengan switer abu misty bertuliskan Kompas Kampus. Benar-benar menampilkan sisi kecerdasan dan sisi njurnal-nya. Buat saya, itu mempesona.

Pertemuan tak disengaja ini membuat saya senang sekali. Entah apa alasannya, saya tidak mau langsung pulang. Saya ingin sekali bicara banyak hal denganya, mendengar cerita-ceritanya, buku-buku yang dia baca, dan hal-hal lainnya. Seperti beberapa waktu yang lalu-lalu.

Setelah saya memastikan apakah dia sedang luang, dan dia bilang cuma menyerahkan tugas. Saya pun menunggu di depan kampusnya. Tapi keadaan tampaknya tidak bisa seperti yang saya harapkan sebelumnya. Bagaimana tidak, dia sudah membuat saya menunggu sampai Dzuhur.

Setelah Dzuhur pun saya tidak diberitahu apa dia sudah selesai atau belum dengan urusannya. Saya menunggu lagi. Saya duduk di trotoar. Hape tidak bisa diajak main. Ingin mencatat jurnal di pinggir jalan merasa rikuh. Membaca buku juga tidak mungkin, karena rikuh juga. 

Saya dijangkiti rasa bosan setelah dua jam duduk di depan jalan, tanpa kepastian. Lalu saya pindah ke taman kampus. Di taman kampus yang banyak pohon-pohonnya (mungkin nama taman itu Bareti atau apalah...) pohon-pohon merimbun. Hawa sejuk berhembus, benar-benar taman yang enak dilihat. 

"Asyik ya tamannya" begitu basa-basi saya kepada seorang laki-laki di sebelah saya yang saya pinjami koreknya.

Ah, biasa aja, katanya. Kata dia yang dengan sangat mantap mengenalkan diri dengan nama Yanu, berkeyakinan Atheis, semester 5 jurusan sejarah, dan merokok Sampoerna Mild. Saya mendengar nada bicara yang antusias dan sinis sekaligus.

Tak lama kemudian Yanu ini pergi begitu saja dengan pertanyaan dan komentar. Kamu pernah pernah ketemu orang atheis? Tanyanya. Saya bengong. Hari ini kamu beruntung, Rid. Ia melanjutkan.

Sialan kau Yanu! Saya baru saja ketemu sahabat saya yang saat ini menjadi tidak asik setelah punya pacar. Lalu sahabat saya satunya lagi yang  sudah saya tunggu sejak 3 jam-an yang lalu sedang berada 200 meter dari mata saya. Sibuk dengan berkas-berkas beasiswa, padahal dia bilang dia tidak punya kegiatan hari ini selain setoran tugas. Bagaimana mungkin itu sebanding dengan pertemuan dan dialog singkat dengan orang atheis yang sinis kayak kamu?

Okelah Bung Yanu. Salam sama Darwin, Marx, Lenin, dan ateis-ateis lainnya. Aku kagum dengan orang-orang kayak kalian. Btw biar aku kutipkan untukmu apa yang Chairil Anwar bilang "aku kagum pada mereka yang berani hidup" Begitulah aku membatin.

Lalu aku merokok  sebatang lagi. 200 meter di tempat yang terbuka untuk saya saling melihat dengan Ihas. Ihas seperti masih serius di tempatnya duduk. Saya bingung musti gimana, lalu saya mencatat sesuatu di jurnal saya. Kemudian bosan. Kemudian menyalakan rokok, kemudian bosan. Kemudian membaca buku, kemudian bosan. Kemudian saya berdiri. Bersiap pulang. Karena bosan juga. 

Saya kian sadar. Implikasi rasa bosan itu ternyata cuma merasa sendirian dan terasing. Memang tidak enak. Entah sudah berapa jam saya melakukan kegiatan-bosan-kegiatan-bosan-kegiatan-bosan tersebut. Tapi dari kejauhan saya merasa Ihas tidak begitu tertarik untuk mendatangi saya atau menyisihkan waktu dengan orang seperti saya. Setelah beberapa menit, saya berdiri memantapkan posisi tas dan jaket. Lalu saya berniat berputar arah. Langsung pulang. Tetapi saya khawatir itu akan menjadi tindakan tidak sopan. 

Demi kesopanan saya memendam segala macam dongkol saya. lalu mendatangi Ihas yang tampak sibuk. Kira-kira beberapa meter sebelum sampai, dia sudah berdiri. Mau ke fakultas, lagi nih... katanya. 

"Oke saya pamit, Has." Aku sahut aja gitu.

Dia berdadah-dadah ria dengan tangannya. Lalu sebagai pelengkap untuk melupakan kekesalan dan menampakkan kesopanan saya, saya melontarkan joke. Kamu pernah ketemu atheis?

Kenapa? Kamu atheis? Begitu jawabnya. Ah, Ihas selalu punya selera joke yang asyik. Saya jadi sungkan karena sudah kesal dengan perempuan manis yang punya selera humor bagus.

Tapi saya tetap pulang. Tempat ini benar-benar terasa sangat dingin. Saya membawa gigilnya di perjalanan. Terasa seperti beban-beban kekecewaan. Berat. Saya merasa dia menjaga jarak dari saya. Dan saya merasa sedang dijauhi. Untuk dua alasan yang juga saya tidak tahu apa pastinya inilah; saya merasa kekecewaan saya beralasan. 

Masih UPI yang sama. Gedung-gedung bertambah banyak. Penataan spanduk dan reklame semakin baik. Ada juga semacam tempat naruh bendera-bendera gitu. Kampus ini kian lama kian bagus dan serius.

Barangkali begitulah waktu. Sangat lesat melaju. Dan segala hal yang berada dalam ruang lingkupnya seperti ikut dibawa serta. Nampaknya begitu juga yang terjadi dengan orang-orang yang saya kenal. Waktu telah membawa mereka kian dewasa dan lebih terarah hidupnya. Tapi saya, mungkin tidak seperti siapapun, waktu terus berlalu dan saya tidak ke mana-mana. Tidak dibawanya serta.

Seperi yang ibu saya bilang, saya tidak jauh beda dari Ahmad, adik lelaki saya yang baru kelas 6 SD. Kekanak-kanakan --karena pulang ke rumah pakai celana pendek yang digunting begitu saja.

Ah, seandainya saja hari ini saya tidak ambil pusing dengan kekecewaan dan prasangka saya. Mungkin saya tidak akan terlalu dongkol, lalu ketiduran dan kesasar sampai ke Cikampek. Seandainya saya tidak kesasar ke Cikampek saya tidak perlu menyewa ojek seharga 40 ribu. Seandainya saja saya tidak menyewa ojek sudah barang tentu saya tidak perlu pulang ke rumah pakai celana pendek. 

Kalau saya tidak pulang, sudah barang tentu saya tidak perlu dimarahi ibu karena pake celana pendek. Kayak tukang bangunan.

"Tukang bangunan aja sekarang bergaya. Kamu mah Parid, kayak jelema nu gelo." Kata ibu saya menyempurnakan kesewotannya. Lalu Aini dan Diyah ikut ketawa. Saya juga. Dan dalam gelap malam tersebut. Di depan gerbang rumah kami. Aku melihat Ibu juga ketawa menyusul kami.

Ya Ampun hidup. Aku senang, Ibu, Aini, dan Diyah bisa ketawa dengan kekonyolan Aa-nya.

jadi inget lukisan Affandi dengan judul "tamparlah Aku Ma!" hanya karena dia kangen diomelin ibunya. Oh aku lupa kalau hari ini sedang ngambek ke Ihas dan Fau.

Lalu demi agar Bapak tidak melihat saya dengan celana pendek, ibu mengusir saya dari rumah. Ah aku-pun ke Pedes, ketemu Adit dan jomblo-jomblo jorok lainnya. Membakar ikan. Nonton film, main Stronghold Crussader, membicarakan siswi-siswi sma, dan bangun kesiangan. Ah, senangnya.

Untuk Ihas, dan Fau saya gak marah sama kamu-kamu. Dan kalaupun kamu membaca ini, jangan percaya kalau saya sedang menuliskan kalian berdua. Ini abad media sosial, abad prasangka, abad kecurigaan. Kalau mau tetap hidup bahagia; jangan sering stalking, apalagi ambil pusing. Gud lak buat bea siswa-nya Has. Gud lak buat lpj-nya Fau. Makasih udah bilang berhentilah merokok kalau mau gampang jodoh. Saya akan pertimbangkan itu.

Read more ...

25 December 2014

Oh Sayangku, Indonesia



Adapun apa keinginanku? Indonesia santun politiknya, adil ekonominya, tegak hukumnya, indah kebudayaannya — sehingga berhak tidur sambil beranak-pinak. (Al-Mu’allim Syarwan. Muhammad Ainun Nadjib)

Bismillahirrohmanirrohim. Setelah habis shalat isya saya menghadap monitor komputer. Tidak, saya tidak nyembah monitor. Saya sedang stalking. Berusaha melihat dan merasakan gambaran-gambaran besar kondisi psikis, kesehatan, dan emosi paling dalam dari Kekasih saya yang cantik: Indonesia di sebuah lcd monitor computer selebar 9 x 6 Inci.

Maka seperti stalker lainnya, saya menjadi rentan galau. Hati saya teraduk-aduk. Dari konten ke konten di Internet, mata saya jelalatan, pikiran saya berloncatan, dan kondisi perasaan saya berubah-ubah. Saya bisa senang dan berbangga dengan prestasi timnas U-19, atau menertawakan lawakan-lawakan cak Lontong, lalu kadang geram dengan FPI, dan geleng-geleng kepala dengan palu-ketuk yang masih pingin main sembunyi-sembunyian, di antara orang-orang serius di gedung DPR. Palu yang tidak dewasa, mirip dengan kita. Tidak cukup dewasa untuk memahami hidup bernegara dan berdemokrasi. Uh!

Seperti stalker lainnya pula. Dengan perasaan was-was saya terus-terusan memikirkan relationship saya dengan Indonesia. Setelah sebelumnya saya lelah memikirkan seorang gadis sunguhan yang bahkan tidak mau disapa di twitter atau di fesbuk-nya. Ah, lupakan.
 
Saya percaya, apa pun profesi, status sosial, dan jenis keimanan saya. Saya tercatat dalam Akte Kelahiran, Kartu Tanda Penduduk, dan Kartu Keluarga, sebagai warga Indonesia. Warga Indonesia dan keturunan Nabiyulloh Adam yang selain belajar ngaji, desain grafis, dan (secara otodidak) mempelajari ilmu menaklukkan hati perempuan; saya juga belajar dan memahami dan mengimplemenatsikan UUD 45. Sedikit demi sedikit.

Hasil konkritnya di usia 23 tahun, saya belum pernah ditilang sama polisi lalu lintas karena tidak punya SIM. Kalau karena helm sih pernah, kenanya 100.000-. Atau ngebayarin temen karena lampunya gak nyala juga pernah. Kenanya 50.000,- tapi selain dari itu saya merasa tidak pernah melanggar hukum yang lain. Kecuali kalau suka sama si dia itu melanggar hukum. Oiya, saya pernah membuka soal ujian (dokumen rahasia Negara) juga. Maapin saya, Indonesia.

Maka saya yang tercatat sebagai warga Negara Indonesia secara administratif ini sudah berhak mengklaim, bahwa saya dengan Indonesia masih dalam status inrelationship. Persis kayak user facebook yang in-relationship. Sip! Gitulah pokoknya. Kamu mah pasti ngerti lah.


***

“Kalau saya tanya apa kabar Indonesia, apa jawabmu Kang Rud?”
 
“Rawan.”
Lalu saya gak nanya macam-macam. Kami sepakat bahwa ada banyak cara untuk menjadi kelihatan bodoh. Salah satunya adalah mudah percaya begitu saja dengan huru-hara apa pun di media sosial, media cetak, atau media elektronik. Meski pada akhirnya itu semua lah yang merupakan satu-satunya jembatan relationship antara kita dengan sesuatu yang sangat seksi dan kita cintai: Indonesia. Sulit kan?

Indonesia terlalu penting bagi saya. Mungkin bagi kamu juga penting. Tapi apa? Penting apanya? Penting di sebelah mananya?

Penting untuk merasa tentram, penting untuk merasa aman, penting untuk merasa dipandang penting. Seperti relationship-realtionship romantis yang lain.
Lalu apa?

Kan saya bingung. (saya berhenti melanjutkannya, kemudian meng-capture dan mengunggah halaman word ini ke facebook)

(3 Jam kemudian)
 
Maka dengan posisi yang nyaman (duduk sambil bbm-an)  saya teringat kembali apa yang John F Kennedy bilang soal hidup berbangsa dan bernegara “Jangan tanyakan apa yang telah Negara buat untukmu, tapi tanyakanlah apa yang kamu buat untuk negaramu”
 
Seperti Naruto saja; sayapun masuk dalam Mode Sage. Semacam Mode Kontemplasi gitu lah.
 
Bercermin pada apa yang diucapkan John F Kennedy. Dengan alasan apa pun kita sudah seharusnya mampu bertanya pada hati masing-masing, apakah dalam keluh kesah kita tentang relationship kita dengan Indonesia, kita telah melakukan kewajiban kita sebagai warga negara Indonesia yang baik?
 
Jika kita belum juga mampu menanyakannya. Jangan-jangan hubungan kita dengan Indonesia cuma hubungan main-main saja. Hubungan pura-pura. Hubungan tanpa status (HTS). Cinta monyet. Cinta Syatuh Malamph. Yaelah.

 
***
 
(5 Hari kemudian)

Umumnya hal yang umumnya terjadi ketika menghadapi kegalauan dengan status relationship kita adalah dengan menanyakan kembali pada diri sendiri apakah sesuatu/seseorang tersebut berarti sesuatu yang penting bagi kita?
 
Maka dalam konteks ini. Apakah Indonesia berarti sesuatu bagi kita? (Ah ini mah klise. Pasti jawabannya bakal itu-itu aja. Cik, kata ‘Indonesia’ itu diambil dari bahasa apa? Tahu gak? Gak kan? Sama! Saya juga gak tahu)
 
Apakah PANCASILA berarti sesuatu untuk kita? (Apalagi pertanyaan ini. Cik coba… apa merk mesin ketik yang dipakai ngetik proklamasi sebelum dibacain Bung Karno? Kamu gak tahu kan?)

Maka kita arahkan saja pertanyaan-pertanyaan itu pada hal-hal yang lebih sederhana.
 
Apakah di Indonesia membuang sampah pada tempatnya berarti sesuatu bagi kita?
 
Apakah di Indonesia bertindak hati-hati dan taat hukum saat berkendara berarti sesuatu bagi kita?

Apakah di Indonesia menghormati orang yang berbeda keyakinan berarti sesuatu bagi kita?
 
Apakah di Indonesia menjaga kebersihan fasilitas-fasilitas umum berarti sesuatu bagi kita?
 
Kalau iya, maka seperti relationship-relationship lainnya. Hal-hal yang mengukuhkan status inrelationship kita yang romantis dan indah itu sederhana. Seperti menyelimutkan jaketmu pada tubuhnya yang kedinginan, bertindak melindungi saat kalian menyeberang jalan, menanyakan kabarnya, menceritakan humor-humor yang menyenangkannya. Atau mencuri-curi kesempatan untuk menyuapinya sesendok es krim dari cup eskrimmu. Hal-hal yang kecil tapi besar, remeh tapi penting.
 
Maka seperti relationship-realationship lainnya. Perbuatan-perbuatan kecil yang sederhana tersebutlah yang menjelaskan seberapa penting relationship kita dengan sesuatu atau seseorang bagi kita. Dalam hal ini adalah Indonesia.

 
***
 

Khotimah 
Kemudian habislah masa mode kontemplasi saya. Saya dapati diri saya yang sedang stalking Indonesia, mengamat berita dan yang lain-lain. Oh gaduh sekali. Saya tertinggal berita sangat jauh. Seperti LDR (Long Distance Relationship) atau yang lebih parah dari itu fase LDR kami sepertinya sudah memasuki fase-hubungan-menggantung. Fase di mana hubungan kami memasuki pertanyaan “mau dibawa ke mana hubungan kita?”

Tapi kami optimistis dengan keadaan ini. Saya tetap berusaha untuk tidak merokok di kendaraan umum yang penuh orang. Entah apa kaitannya.

Tapi Cak Nun bilang. Marilah terus-menerus bermudzakarah tentang Kewajiban Asasi Manusia (KAM), setelah kita secara alami hapal Hak Asasi Manusia (HAM). Entah sebagai manusia yang beragama, berbangsa, bermoral, beradab, berbudaya, berperikemanusiaan, atau berpasang-pasangan. *eh.

So, My Honey, Indonesia, what can we do with our relationship?




Ini desain kaos, gimana? Bikin aja kali ya?




Read more ...

07 October 2014

Cinta Bertepuk Sebelah Tangan


a.

Maka di sinilah saya, mendengar radio dan merasa harus manulis sesuatu setelah membaca sesuatu dari Marmut Merah Jambu, bukunya Raditya Dika yang menurut saya sudah luntur rasa humornya.
Dia menulis sesuatu yang menampar saya terkait Cinta Bertepuk Sebelah Tangan, untuk selanjutnya kita singkat saja dengan CBST.

Katanya, CBST adalah ketika kau merasakan rasa inferior dan krisis kepercayaan diri yang luar biasa. Hal ini ditandai dengan perasaan betapa jauhnya kamu dari kepantasan untuknya. Itu jleb se-ka-li. Maka saya bangun dari selonjoran saya. Berpikir sungguh-sungguh. Merefleksikan tahun-tahun dalam hidup yang telah saya lewati.

Jika Radit berbicara cinta bertepuk sebelah tangan hanya sebagai seorang remaja yang tak pernah berani menmgungkapkan perasaannya, atau seseorang yang mengungkapkan perasaannya pada seseorang yang sudah pasti menolaknya (Ah kamu pasti ngerti maksudku). 

Tapi bukan itu yang ingin saya bicarakan. Lagipula merasa ditolak seorang gadis yang saya sukai, bukanlah hal yang baru bagi saya, juga bukan hal yang terlalu penting untuk saya bicarakan saat ini.
Kali ini saya membawa istilah CBST ini pada ruang lingkup yang lebih besar: hidup. Saya adalah orang yang sangat suka membicarakan mimpi-mimpi saya yang besar dan muluk-muluk. Tanyakan Aziz, tanyakan Rian, dan tanyakan Kang Rudi. Mereka pasti diam-diam sudah menggelari saya dengan The Bullshit Man. Hahaha.

Seperti orang cerewet kebanyakan saya terlalu percaya diri juga terlalu sok tahu dengan apa-apa yang saya bicarakan dan saya pikirkan. Tetapi Rian, salah satu teman saya selalu mengatakan, itu keren Rid…  pada setiap celotehan yang saya bicarakan dalam keadaan mabuk bajigur.

Sesekali saya bertanya “Yan, bukankah saya terlalu berlebihan?” dia malah mengutip quote yang sering saya kutipkan untuknya “Rid, kan kamu yang bilang, bermimpilah setingi langit, toh, kalaupun cuma kesampaian setinggi gunung. Itu udah uyuhan”. Lalu saya merasa ingin bunuh diri karena pernah menelikung quote yang bagus menjadi seperti itu bunyinya.


b.

Kemarin beberapa teman yang baik main ke Purwakarta. Saya selalu senang ketemu mereka, walaupun mungkin mereka tidak begitu senang ketemu saya.

Ada Agus, Rafidah, dan Zia. Agus datang dengan kabar baik, ia bertanya-tanya detail jasa kami: bikin kaos untuk OSPEK. Faridah datang dengan buah tangan yang enak, semacam pizza tanpa nama. Sementara Zia datang dengan banyak cerita. Sampai kemudian diantara banyak ceritanya yang bagus seperti dia dan pacarnya membuat ulah di kampus dan ketertarikannya yang intens dengan karya-karya  Pramoedya  A Toer, dia bilang dia pernah  hampir bunuh diri. Saya tidak heran dan heran sekaligus. Lah?

Saya heran, karena yang saya tahu tentang dia adalah: dia punya banyak teman yang sayang sama dia. Dia punya pacar yang serius dengan hidup dan masa depan akan hubungan mereka. Dan dia adalah orang yang amanah dan dipercayai banyak orang. Ya, dia punya banyak teman yang sayang sama dia.

Ketidakheranan saya selain menyimpulkan caranya menulis puisi adalah hal yang umum terkait kondisi psikis manusia (Anjreeet!).

Memang saja setiap kita selalu punya masa hidup yang benar-benar membuat kita merasa tidak penting untuk berada di antara lautan bintang dan galaksi. Merasa kerdil dan tidak penting (inferior).
Ya, kamu boleh menyebut keadaan ini dengan CBST, di mana segala hal yang kamu lihat dalam hidupmu tidak berjalan seperti yang kamu mau. Lalu kamu merasa seolah semesta saling bekerja sama untuk membuatmu ingin hilang dari apapun yang kamu tahu. Kupikir kamu pasti tahu maksudku, walaupun aku gak ngerti-ngerti banget. 

“Zi, waktu saya masih mesantren di Sragen dulu, ada sebuah peraturan aneh yang tercantum dalam buku besar peraturan di Pesantren kami… bunyinya: Para santri dilarang keras berharap pada selain Allah….”

Wajahnya datar. Saya juga. Tapi kita paham apa itu artinya. Kita sepakat.

“Peraturan yang aneh, tapi itu benar.” Lalu saya melanjutkannya dengan pembicaraan tentang hidup, harapan, dan kekecewaan. Tapi tidak sedramatis tokoh dalam cerpennya Dewi Lestari “Semangkok Acar untuk Tuhan dan Cinta”.

Tapi seperti biasa saya hanya pandai menceritakan cerita yang sudah diceritakan. Lalu bagaimana saya melihat diri saya dalam kondisi itu. Kondisi yang juga saya dapati sedang dalam diri saya saat ini.

Sekali lagi ini bukan persoalan asmara. Ini persoalan CBST dalam pandangan yang lebih luas.
Saya sudah sampai di bulan ke tujuh dalam merintis usaha. Keadaan usaha/bisnis kami rasanya lebih membaik dari bulan-bulan sebelumnya. Tapi ada sesuatu yang tidak bisa saya bicarakan di sini… sesuatu yang membuat saya berpikir, jangan-jangan saya tidak pantas berada di sini. Sangat inferior.
Saya melihat kenyataan berjalan jauh dari rencana saya. Saya tidak tahu apa artinya itu ‘jauh-dari-rencana’. Apakah itu berarti jauh lebih dekat dengan rencana utamanya, atau benar-benar sangat jauh secara harfiyah.

Ibu saya blak-blakan soal kesibukan saya yang menurutnya tak menghasilkan apapun dalam diri saya. Saya sampai dongkodan bertanya

“Apa barometernya ‘menghasilkan’?” Tanya saya kesal.
“Ya apalagi kalau bukan uang? Masa mau beli celana jeans aja minta ke Ibu?”

Saya kesal. Celana jeans saya sudah kusam, dan saya cuma punya dua. Saya juga kesal buku yang saya idam-idamkan harganya masih mahal. Rasanya saya ingin menangis. Bukan karena dua hal itu, tapi karena Ibu saya bilang kesibukan saya tidak menghasilkan. 

Saya tahu sejak awal ibu dan bapak saya selalu ingin saya menjadi mu’allim di kelas Tahfidz, sekaligus mahasiswa yang tekun.

Tapi permaslahan itu ada pada saya. Saya sedang suka melakukan sesuatu yang saat ini saya lakukan. Tidak cukup legakah beliau-beliau ini jika saya senang dengan apa yang saya lakukan? Tidakkah mereka berpikir jika apa yang saya lakukan saat ini akan menjadi investasi besar di masa depan kami nanti?

Toh saat ini saya tidak membuat bom, saya tidak masuk ISIS, saya tidak ikutan demo-demoan, dan saya (demi Tuhan) tidak punya cita-cita jadi ketua umum partai Demokrat! Bukankah mereka harusnya lega dengan itu?

Saya hanya duduk di depan komputer mengerjakan pesanan desain, mengerjakan pesanan sablonan, bepergian ke luar kota membeli bahan baku, sesekali menulis di blog, sesekali ikutan acara kesenian dan semacamnya. Hidup yang menyenangkan bagi saya, tapi mungkin tidak bagi mereka.

Meski tidak langsung. Saya merasa mereka menolak apa-apa yang saya inginkan dalam hidup saya. Saya tahu pikiran seperti ini sangat egois. Tapi sekali ini saja. Dalam alenia ini saja, ijinkan saya egois.


b.

Konklusi saya adalah, CBST adalah penolakan. 

Dan manusia waras mana yang suka ditolak?

Lalu sisi lain saya bilang. Ada! Orang-orang besar! Orang-orang yang lebih agung dari penolakan. Orang-orang yang berbeda dari kebanyakan! Orang-orang yang dikira 'gila' padahal sangat waras di antara orang-orang yang pura-pura waras! Orang-orang yang berani memeluk rasa takutnya! Orang-orang yang menambal sisi buruknya dengan sisi baiknya! 

Nuh dengan ide Bahtera di atas Gunung! Muhammad dengan buta-hurufnya! Musa dengan lidah cadelnya! Ibrohim dengan kapaknya! Daud dengan katapelnya!

Daaan Kamu! Farid! 

Dengan kejombloannya? 

(Bolehlah!)

Aaaah! Menyebalkan sekali mengetahui ada sisi lain saya yang bijaksana dan penuh semangat. Saya benci sisi mario-teguh saya yang penuh dengan omong kosong motivasi ini. 

Dan kamu, siapapun kamu yang telah membuang-buang waktu untuk membaca tulisanku ini. Apa kamu sebal dengan sifat sok tegarmu sendiri? Kalau iya, ayo kita berjabat tangan. Lalu dengan kondisi semabuk-mabuknya kita berteriak dengan lantang.

“Makasih Tuhan! Walaupun engkau ciptakan dalam diri kami sisi motivator, yang kami benci sekaligus yang kami butuhkaaaaaaaan!”

Okey! Sekarang saya merasa agak baikan. Saya akan datangi orang-orang yang saya pikir akan membantu visi saya jauh lebih mudah dilihat. Saya akan bicara pada mereka. Pada orangtua saya juga. Seperti yang sudah-sudah, mungkin saya akan gagal, mungkin juga saya akan berhasil. Siapa peduli? Berhasil atau tidak, bukanlah urusan saya saat ini!

Oya! Saya akan telepon kamu dan bilang “Assalamualaikum. Saya Ahmad Farid, suka kamu. Saya suka percakapan-percakapan tak berguna kita di social media” lalu saya tutup telepon itu dengan salam terlebih dulu. Sopan kan?
Read more ...

02 September 2014

Sesuatu Yang Sederhana Tentang Jihad



Aku suka pada mereka yang berani hidup
(Chairil Anwar)

Masuk surga lebih mudah daripada mendamaikan Palestina-Israel. Gitu katanya di suatu artikel koran yang sengaja saya lupakan, karena memang saya pelupa. Statemen ini sejujurnya mengguncangkan saya. Serius. Sampai pada akhirnya saya terpaksa mengakui bahwa dari banyaknya jumlah peperangan yang ada di muka bumi ini; hampir selalu dengan latar belakang yang sama: agama.

Kemarin, saat Ramadhan. Waktu sedang ramai-ramainya serangan Israel ke Gaza (lagi). Teman saya si Abang entah bercanda atau serius sering bilang...

A, tolong cariin link ke Palestina lah... gue pengen perang nih. Pengen nusuk ubun-ubun tentara Israel.”

Dia berulangkali bilang gitu. Dan tiap kali itu terjadi saya cuma senyum-senyum saja. Karena merasa geli dengan pikirannya menusuk ubun-ubun tentara Israel. Itu menggelikan. Kenapa gak pake pistol aja? Kan lebih hemat waktu dan efisien. Tentara Israel kan pake kevlar? Iyaudah sih nyewa snipper. Beres.

Sampai kemudian habis subuh, kami bersiap tidur. Dia memutar musik, lalu saya cerita-cerita. Hitung-hitung dongengan sebelum tidur-lah.

Bang, saya punya cerita. Mau dengar?

Iya A, mau.

Suatu hari... seorang pemuda datang pada Nabi Saw. Nabi yang sangat tampan dan pemberani. Abang tahu itu nabi siapa?

Nabi Muhammad, A

Benar sekali! Abang mau tahu kelanjutan ceritanya?

“Mau, A.”

Abang memang kadang-kadang selalu pandai membuat momen yang weird begini  jadi begitu menyenangkan.

Lampu dimatikan sejak tadi. Kamar kosan menjadi gelap karenanya. Memet dan Ryan sudah ngorok. Bukan karena lampu sudah mati, tapi karena main PES semalam suntuk sampai sahur dan subuh.

Lalu di dalam kegelapan yang demikian perlahan-lahan saya menyentuh punggung si Abang, pelan-pelan sekali. Seperti mengelus-ngelus sesuatu yang ah gitu lah pokoknya.

Geli, A. Gitu dia bilang. 

Lalu saya berhenti bertindak seperti itu. Hahaha.

“Nah... si pemuda tadi namanya Bang Ibnu,” lanjutku.

“Iya, A. Keren A. Kayak nama saya A.”

Percaya aja dia kalau saya ngasal aja soal nama itu. Lagipula Ibnu itu kan artinya “anak lelaki” saya kan gak bohong jadinya.

“Dia bilang pada Nabi: Yaa Nabi, ijinkan saya ikut berperang dengan Engkau.

Nabi melihatnya. Si Ibnu masih muda belia. Dan Nabi Saw. adalah manusia paliiing bijaksana sedunia.

Begitu bilang saya. Eh, si Abang malah percaya aja saya bilangi begitu. Ya, iya abang kan anak yang soleh.

“Terus... coba tebak bang... Rosul nyuruh apa ke Si Ibnu yang muda dan pemberani itu...”

“Apa tuh A”

“Sana... mention ibumu! Bilang kalau kamu pengen pacar”

“Ah masa A?”

“Ya gak lah! Rosul bilang... kamu masih punya Ibu?”

“Ya, masih.” 

"Beliau bersabda: Hendaklah engkau tetap berbakti kepadanya, karena sesungguhnya surga itu di bawah kedua kakinya.”

Sederhana. Tapi tidak seperti kelihatannya.



***

Seperti halnya saya juga, haqqulyaqin pastilah yang lain memikirkan hal yang sama seperti yang Abang pikirkan.

Entah karena seperti melihat shortcut menuju Surga atau barangkali karena hidup ini begitu payah dan menjenuhkan. Nah, justru disinilah hal yang paling saya khawatirkan tentang keinginan berperang  (yang katanya adalah Jihad) di Palestina itu. Eskapisme: sikap frustasi pada hidup, ketakutan pada hidup, atau yang lebih buruk dari itu legitimasi pada laku kekerasan. Duh, ya Rabb.

Menurutku perang hari ini sudah ahmpir tidak jelas lagi. Serba blur. Apa memperjuangkan apa. Apa mencita-citakan apa. Tapi yang jelas tidak ada yang berniat berhenti. 

Sampai kemudian saya hanya ingin berkesimpulan dengan sederhana dari segala kesaruan itu. Perang adalah satu hal. Tetapi jihad, barangkali adalah hal yang lain. Hal yang lebih luas dari sekadar perang fisik, perang darah, atau perang perasaan.



Dan saya mulai curiga, jangan-jangan jihad kita yang seharusnya adalah: menghentikan perang.

Gitu.


***

Toh kita sekarang masih sama saja rupanya. Gitu-gitu aja sampai sekarang. Masih duduk lenjeh-lenjeh sampil nge-ping sana nge-ping sini.  Berharap dapat pacar karenanya. Padahal adek-adekan aja gak dapet-dapet.

Palestina, Suriah, dan tempat-tempat lainnya di Irak masih penuh dengan perang saudara. Dan kita gak tahu mau gimana lagi. Selain mengganti DP/Ava/ PM dengan #PrayForGaza, ikut sumbang dana, atau mencantumkan kesedihan dalam doa.

Atau sekarang sedang adem ayem, nunggu hashtag #prayforgaza #prayforsuriah etc jadi trending topic lagi. Untuk kemudian kita semua berjamaah mengulang perbuatan yang sama: ganti AVA atau DP.


Udahlah, saya sedang lapar. Sebagai penutup saya mau kutipkan ini aja: WAR IS OVER! IF YOU WANT IT. John Lennon & Yoko





Catatan:

Oh iya... ini hadits lengkapnya. Hadits yang saya ceritakan pada Abang.

Dari Mu’wiyah bin Jahimah as-Salami bahwasanya Jahimah pernah datang menemui Nabi shallallahu alaihi wasallam lalu berkata: Wahai Rasulullah, aku ingin pergi jihad, dan sungguh aku datang kepadamu untuk meminta pendapatmu. Beliau berkata: “Apakah engkau masih mempunyai ibu?” Ia menjawab: Ya, masih. Beliau bersabda: “Hendaklah engkau tetap berbakti kepadanya, karena sesungguhnya surga itu di bawah kedua kakinya.”

Di sebelah kiri saya itulah si Abang. Kami panggil dia begitu
karena kami malu memanggilnya Mbak.
Nge-blog di http://emgelap.blogspot.com/
Read more ...

11 August 2014

Sesuatu Yang Kupikir "Kabar Kematian"

Dalam jalan ke Masjid Maghrib tadi saya terkenang Alm. Ayong, kawan se-smp yang baru saja meninggal beberapa minggu yang lalu. Saya belum sempat mengunjungi Ibunya, untuk sekedar mmm entahlah apakah itu takziah atau bersikap kikuk di depan seorang ibu yang (istilahnya Willy) baru saja menghadapi peristiwa kemanusiaan yang biasa kita namai dengan kehilangan.


Saya selalu bingung untuk menyikapi kabar kematian.

Seperti yang sudah-sudah. Jika saja suatu waktu ketika saya sedang memikirkan hal-hal yang (cuma Allah Swt.  aja yang boleh tahu) sambil mengerjakan hal-hal yang tidak berguna maka saya akan juga mela...“Rid, si A meninggal.”
  
Saya langsung diam; dalam beberapa jenak saya memikirkan akan menampilkan ekspresi seperti apa dengan kabar semacam itu. Lalu “Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun. Kapan?” Sambil juga saya menoleh menampilkan wajah bengong sinetronis. Berhasil! Nonton sinetron sesekali membekali saya skill untuk menjadi (bisa disebut) manusiawi ketika menghadapi kabar kematian.

--


Tiap-tiap orang punya dua wajah, satu yang ditampilkan di depan sesuatu yang bukan dirinya, satu lagi wajah yang dia tampakkan untuk dirinya sendiri dan untuk orang-orang yang membuatnya merasa sedang di depan dirinya sendiri. Eh. Mungkin ini bisa juga jadi contoh mudah menjelaskan teori “Ruang-Antara” yang dibilang Slavoj Zizek. Tapi mungkin gak relevan sama sekali... yaudahlah.


Soal bagaimana menemui orang yang sedang berduka, saya belum biasa dengan kalimat 
“Aku turut berduka”Juga tidak begitu suka denga kalimat “yang sabar ya...” tapi yang aku ingin bilang jika aku memang ma(mp)u...

“Hei, Bro. Orang yang kamu cintai dan berharga dalam hidupmu sudah mati. Menangislah, karena kamu perlu itu sekarang.”


Bukankah dalam garis kewaktuan (dalam hidup) yang tidak pernah kita maapkan ini, setiap kita harus punya waktu untuk bersedih? 

Dan menangis adalah yang paling mudah dan sederhana untuk menyikapi kesedihan. Kecuali... kecuali kalau kamu setuju bahwa kamu bisa tidak ingin ikut mati ketika menghadapi kesedihan semacam itu.

 
***

Saya tidak punya banyak kenangan dengan Ayong, barangkali itulah sebabnya saya tidak begitu merasakan rasa hilang yang terlalu. Tapi tentu saja saya benar-benar merasa sulit jika berekspresi dengan dasar ini... masa saya mau cuma bilang “Oh” kalau misalnya ada teman lain  sekampus yang meninggal dunia?  


Kecuali kalau kelinci Bang Ibnu yang mati. Apa boleh buat, paling-paling juga si kelinci itu mati dengan tidak gagah karena kegilas motor. Percuma bilang innalillahi juga. Mau disate juga udah gak halal. Lagipula apa kaitannya innalillahi dengan sate kelinci?

Tapi, merasa tidak mungkin lagi berttemu Ayong yang gagah perawakannya, enak becandanya, dan banyak ceritanya adalah hal yang juga mebuat saya ingin bilang “Duh, lur... cepat sekali kamu pergi...”


***

Masih dalam perjalan sore tadi menuju masjid saya juga terkenang pada Soe Hok Gie yang bilang “Beruntunglah mereka yang tidak dilahirkan, beruntunglah mereka yang mati muda.” Dan Gie terlalu mda untuk mati, dan itu baik mungkin baginya setelah hidup bertahan dengan sebutan mahasiswa idealis, sang demonstan dan sebutan-sebutan heroik lainnya. Mungkin.


Lalu di suatu kali yang biasa-biasa aja, saya menyeletuk di depan Rian yang sedang fesbukan


“Yan. Kayaknya kalau kita terlalu keren ketika muda, mungkin kita akan cepat mati. Kayak Gie, atau Chairil Anwar”


“Rid, kamu akan mati muda.” Terasa saja memang dia memuji saya.


Tapi, mati, kadang-kadang terasa begitu misterius. Dan tidak ada yang lebih menakutkan sekaligus menarik selain-selain hal-hal yang misterius. Mirip seperti seorang gadis yang sedang saya taksir. Nah saya sudah mulai melantur.


Yaudah. Fine. Lalu setelah dari obrolan itu, saya nyadar betapa absurdnya apa yang kami obrolkan itu. Tapi mungkin Freud pernah bilang soal ini, bahwa setiap orang punya kecenderungan ‘ ingin bunuh diri’. Hanya saja seperti yang pernah kusinggung soal Ruang-Antara tadi, juga soal dua-wajah yang dimiliki setiap orang, kita semua enggan mengaku, enggan mengaku betapa sesaknya dada kita dalam keluasan hidup.


Apa boleh buat. Putus-asa memang lebih mudah datang dan lebih mudah terasa.

Entah apa yang menggerakkan saya menulis catatan buruk ini. Mungkin saya sddang lapar, sudah jam 22:57, pekerjaan hari ini cukup memelahkan, dan sialnya harga Gudang Garam Filter dan kopi sachet Indocafe udah naik jadi 1500,- . KAMPRET.


Eh.. mungkin saja saya sedang butuh jatuh cinta (lagi) agar tidak menulis seketus ini. Biar seperti yang dibilang N.H. Kleinbaum, di Dead Poets Society “.... tetapi puisi, keindahan, asmara, dan cinta adalah alasan kamu untuk tetap hidup”



Ini lengkapnya...


“We don't read and write poetry because it's cute. We read and write poetry because we are members of the human race. And the human race is filled with passion. So medicine, law, business, engineering... these are noble pursuits and necessary to sustain life. But poetry, beauty, romance, love... these are what we stay alive for.”

― N.H. Kleinbaum, Dead Poets Society

Epilog

Saya mencintai Ayong, itulah sebabnya saya merasa kehilangan, itulah sebabnya saya tulis tulisan buruk ini untuk terus belajar memandang hidup dan mati; juga satuan garis waktu yang membuat jarak di antara keduanya.
 
Read more ...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...