15 January 2014

PENDAKIAN DAN PENDIDIKAN


“Wa la tamsyi fil ardhi maroha, innaka lan tahriqol ardh wa lan tablughol jibaala thuula”
Jangan kau berjalan di muka bumi dengan penuh kesombongan (dan kesengakan) sebab kau takkan pernah mampu mengitari seluruh permukaan bumi, dan takkan juga engkau sampai pada ketinggian gunung-gunungnya. (Dari Al-Quran, saya lupa ini ayat dan surat berapa)

Ayat ini sering saya lihat dituliskan di dinding-dinding pesantren saya dulu, kakak kelas pun seringkali saya dapati menuliskan ayat ini di balik sampul mushaf quran dan buku catatan mereka. Tapi saya baru sedikit mengerti ayat ini kemarin-kemarin, setelah perjalanan dan pendakian kecil-kecilan selama 3 hari.

Maka tema pembicaraan kita hari ini adalah perjalanan dan pendakian.


Perjalanan 3 hari

Dari hari Kamis, saya mulai melangklahkan kaki ke luar Purwakarta, saya bolos UAS, tentu bukan maksud hati saya mengabaikan kewajiban saya sebagai mahasiswa, tapi kalau dikira begitupun saya harus bilang apa? 

Singkatnya saya ke Bandung dengan niat ke Kuningan untuk technical meeting perlombaan Film Pendek anak-anak sekolah. Tapi entah kenapa Bandung dengan event baca puisi-nya membuat saya menggelinjang lalu muntah sedikit dan ah pkoknya saya sampai Bandung. Di sana saya baca puisi WS Rendra “Koyan yang malang” lalu dikira orang planet lain. Tapi gak apa-apa lah daripada harus mengakui bagaimana saya dengan teman-teman Asas mengikuti acara dalam sebuah kafe, tapi makanan dan minumannya beli dari warung tenda seberang jalan. Zuhud dengan miskin memang tipis rupanya. Acara ini cukup impressif meski ada beberapa hal yang saya yakini harus diperbaiki di acara apapun di manapun, yaitu efektifitas mc, durasi waktu, dan peralatan. Tapi yaudahlah saya kan datang tak diundang tadinya.

Sehabis itu saya terus nginap di markas anak-anak Asas UPI Bandung. Di sana saya nonton film india berdua dengan kang Wishu. Ternyata rasanya memang agak aneh nonton film india malam hari, berdua dengan laki-laki pula. Serius, agak geli. Tapi syukurnya kami lebih banyak mengobrol soal proses kreatif dan ruang penciptaan puisi kami masing-masing. Itu menenangkan daripada berpikir hal yang “tidak-tidak” ketika menonton film india. Beberapa hal yang saya catat dengan Kang Wishu ini, soal mencintai seorang perempuan, Pablo Neruda, dan ruang pencil penyair. Asyik.

Lalu hari jumatnya, saya pulang ke Purwakarta. Sabtunya saya ke Kuningan untuk menemani adik-adik saya berlomba, lalu ke Bandung begitu hari sampai siangnya. Lagi. Untuk melakukan pendakian ke Gunung Geulis.


Pendakian satu malam

Bagi beberapa umat beragama pendakian adalah bagian dari ritus ibadah mereka. Ada Sa’I pada rukun haji, ada Himalaya bagi orang-orang budha dan umat rilijius Tibet lainnya.

Saya turut mendaki dengan teman-teman, ini pendakian yang perdana dan sederhana dengan teman-teman. Meski ini pendakian sederhana, tapi saya mengakui ini bukan penadakian yang mudah. Sepanjang keletihan dan kesabaran, saya hanya berusaha mengalihkan keletihan saya pada bayang-bayang betapa agung keletihan dan kesabaran Hajar dan Musa pada pendakiannya masing-masing. Yang satu karena bayi Ismail yang haus, yang satu lagi karena sang istri yang kedinginan. Mereka mendaki dengan kegentingan yang sama, mereka pasti sangat letih luar biasa, tapi keadaan lah membuat mereka harus tetap menyimpan betapa letihnya mereka, ada pendidikan jiwa bagi keduanya yaitu mementingkan selain diri sendiri atau menyingkirkan jiwa dan sifat egois. Maka Musa pulang dengan tongkat mukjizat dan cahaya di telapak tangannya, Sayyidah Hajar pulang dengan Zam-zam dari telapak kaki Ismail. Sebagai hadiah dari Allah dari pendakian mereka masing-masing.

Sepanjang pendakian yang singkat di Gunung Geulis ini saya belajar banyak hal; menahan diri untuk tidak menghardik teman sependakian yang pengeluh, sambil juga menahan diri untuk memikirkan betapa sia-sianya apa yang saya lakukan saat itu. Saya berkali-kali meyakinkan diri sedang ibadah dan belajar mendidik diri untuk lebih mementingkan yang selain saya. Untuk belajar saling menjaga dan melatih jiwa kesabaran dan kepahlawanan.

Saya baru mengerti kenapa ada orang semacam Alm. Soe Hok Gie yang menyerahkan hidupnya dengan ikhlas untuk sejumlah pendakian-pendakian. Meski tentu saja bukannya tidak ada kemungkinan jika di antara sedemikian banyak orang-orang yang mengaku pendaki hanya ingin narsis-narsisan dan sok jagoan.

Thats all kawan-kawan… saya pikir pendakian sangatlah baik untuk dijadikan bagian dari kampus kehidupan; untuk belajar tentang hidup: menempa kepekaan hati, melatih kehalusan jiwa, dan mengakui keberadaanNya dengan cara yang tak terduga-duga.

Jika ada yang harus saya sebutkan pada diri sendiri tentang hadiah apa yang Allah berikan pada saya dari pendakian ini; sebagaimana hadiah Tongkat Mukjizat dan sumur Zam-zam bagi kedua pendaki agung di atas tadi; maka cukuplah saya bersinyata bahwa pendakian sederhana kemarin memberikan saya Firmansyah yang semangatnya menular, Rasikah yang kameranya bagus, Rafidah yang mendukung penerbitan buku perdana saya (big thanks… sist), lalu gadis manis bernama Enje, Abang Ibnu yang riang, lalu ada juga Lani, Icha dan Wini yang harus terus diawasi.

Sepulang dari pendakian ada lagi hadiah yang tak kalah luar biasa; ada Rian, Jajang, dan Heri yang menjemput kami dengan motor, mereka membonceng kami di antara hujan dan angin malam dengan cuma memakai kaos dan kolor bola saja. Hawa sangat tidak asyik untuk berkendara dengan motor, saya sampai merasakan gemetar mereka di antara deru mesin. Kalian gila Bro! Demikianlah hal-hal yang bagi saya merupakan kejutan dari Allah swt sebagai awal mula pendakian, lengkap dengan hadiahnya. Sementara juga saya yakin bahwa untuk saya nanti akan ada pendakian-pendakian lain dengan doorprize-doorpize yang lebih banyak dan puitis tentunya.








*Foto-foto diambil oleh Em Ibnu dan Rasikah Subekti.
Read more ...

08 January 2014

Media (anti) Sosial.


Manusia media sosial: ramai-ramai tapi terpencil

“Apakah kepak sebelah sayap kupu-kupu di Brazil dapat menyebabkan badai tornado di Texas?” Pertanyaan ini meloncat dari pikiran Edward Lopez, si peramal cuaca yang tekun melakukan percobaan, pada tahun 1960.
Apakah jika ada seseorang pemuda labil menulis status galau di salah satu pulau antah barantah di Indonesia akan menyebabkan tanah-tanah kerontang di Afrika sekonyong-konyong bisa ditanami pohon rambutan? Kalau iya, “Butterfly Effect” memang benar-benar mengacau.
Duh saya gak ngerti sekali soal teori Butterfly Effect ini…
Yang pasti saat ini saya duduk dengan tenang, membuka facebook. Saya ceria melihat Real Madrid menang, lalu kesenangan bertambah ketika membaca sapaan dari teman lama. Tapi beberapa detik kemudian tiba-tiba saya merasa enek dan  sakit hati dengan isi status teman dekat yang seolah-olah sedang membicarakan saya. Saya merasa ini tidak wajar.
Setiap bacaan dan informasi yang berpendar di mata saya memuat reaksi psikologis yang beragam. Hal tersebut tidak terimbangi oleh pertukaran kondisi hati saya yang rasanya tidak siap ini. Sehingga terjadilah apa yang oleh Vicky maksud dengan “Kudeta Hati”. Sepanjang hari ini hati berasa digoyang-goyang. Implikasinya dalam seharian penuh saya sulit berkonsentrasi pada setiap tugas yang saya emban. Kondisi hati saya jadi rentan galau, dengan indikasi paling kentara: wajah terlipat sedemikian rupa, perasaan tidak menentu, lalu rasa cemas menghantui sepanjang hari. Setelah era media sosial, teman bukan lagi rumah teraman untuk berbagi cinta, cerita, dan rahasia. Kampus bukan lagi tempat belajar yang memintarkan. Majlis ceramah tidak jadi tempat yang mencerahkan. Ratusan kegiatan sosial, bukan lagi menjadi bakti sosial, semuanya menjadi satu panggung dalam pementasan adu narsis.
Barangkali ada yang salah dengan diri saya. Sebab tidak enak rasanya kalau setiap pagi merasa seperti ini. Saya tidak tahu pasti, adakah setiap pengguna facebook atau media sosial lainnya selalu merasa seperti saya juga?
Mat Hitut bilang, Mat Hitut dibilangi oleh Roy Suryo yang sekarang jadi Menteri (mungkin karena kumisnya) katanya ini abad social media; di mana pertukaran informasi dan pola-pola berkomunikasi menjadi super-lesat dan ultra-cepat. Tak heran jika pola hidup manusia di abad ini pun sudah hampir berubah sama serupa: menyesuaikan.
Semua dilakukan dengan cepat-cepat. Makan cepat-cepat, shalat cepat-cepat, kuliah cepat-cepat, eek cepat-cepat. Dan hasilnya? Semua jadi tidak fokus dan tidak bisa dinikmati. Akhirnya belepotan! Yang makan hilang rasa soal sambal, yang salat hilang Tuhan dalam khusyu, yang kuliah hilang kenikmatan dalam ilmu, dan yang eek hilang rasa syukur setelah membuang isi perut. Maka implikasi yang lebih fatalnya adalah tempat-tempat makan menjadi tempat kufur nikmat, masjid menjadi kamar mandi umum, kampus menjadi tempat pacaran dan dagang, dan wese-wese di dunia menjadi belepotan, jejak kotoran melekat di mana-mana. Kacau! Balau!
Mat Hitut cerita, dulu sekali ia sering melihat kakaknya saat masih di kampung. Tiap habis Subuh. Kakaknya yang pelajar segera menilik buku-buku pelajaran, barangkali ada pekerjan rumah yang belum dikerjakan. Lalu Abahnya yang seorang petani segera bersiap membersihkan segala macam perangkat sawahnya untuk kemudian pergi sebelum pagi benar-benar sempurna. Sedang hari ini Mat Hitut risau denganku, karena tak ada yang bisa seperti bapak dan kakaknya. Tiap bangun aku langsung liat twit dan facebook, membalas pesan teks, atau melihat berita web. Seolah-olah begitulah kehidupanku dituntut hari ini. Dia risau. Pagi-pagi kita repot pada hal-hal yang belum tentu baik untuk kesehatan dan pertumbuhan jiwa saya.
Bicara soal pola komunikasi dan pertukaran informasi hari ini; media sosial adalah satu hal yang mewakili dari dua hal tersebut. Di Media Sosial inilah kemudahan, kemajuan, dan kepraktisan dalam mengakses informasi, dan melakukan komuniskasi berfungsi cukup baik. Dengan media inilah akhirnya kita mengakses informasi, bertegur sapa, dan terlibat langsung atau tak langsung dengan hal-hal yang kita sukai.
Tapi di sisi lain, coba lihat sungguh-sungguh beranda facebook atau twitter kita. Di sana kita  melihat bahwa kita ini jadi gampang mengeluh dan minim semangat juang. Seterusnya kita jadi ringan bertukar serapah. Heran. Ini kan media sosial, kalau memang ingin seperti itu, kenapa tidak bikin media anti sosial saja?
“Kamu kenapa?
“Galau, baca status teman kuliah”
“Oalah! Media sosial kok malah menjadi media anti sosial…”
“Mat! Kayaknya ini semua adalah bagian dari teori konspirasi Yahudi ya mat, untuk melemahkan etos kerja dan semangat belajar kita”
“Maksudmu?”
“Itu! Lihat aja Mark Zuckerberg!”
“Terus?”
“Warna biru sama putih yang dominan di website Facebook”
“Iya... lalu?”
“Dia yahudi! Dan itu kan warna bendera Israel!”
Tuuuuuut… Mat Hitut langsung kentut.
“Mat? Teu Sopan!” Tegurku.
“Mau ditulis di status? Silahkan. Aku gak akan baca, apalagi meng-galau kayak kamu.”
“Percuma. Ente kan gak punya facebook

Sebelum gulung layar, saya akan kutipkan sebuah status facebook yang bagus. “Kalau kita benar-benar mengisi kolom status facebook dengan kesungguhan ingin menjawab ‘Apa yang Anda pikirkan’  maka kitapun akan berpikir berkali-kali sebelum status facebook kita malah akan membuat orang lain tak nyaman, dan membuat diri sendiri semakin kelihatan buruk.”
Thats all about….
Read more ...

06 January 2014

Tahun 2014 dan Resolusi Politik Selfie


Alhamdulillah, akhirnya kita tutup tahun 2013, kita buang uang untuk kembang api, kita tinggalkan sekolah-sekolah di ujung Indonesia sebelah sana dengan atap dan dinding yang siap rebah di atas para siswa dan pewaris utang Negara yang belum tentu sekolahnya akan sampai SMP itu. Pak Presiden pasti bingung, apakah kerobohan sekolah-sekolah itu nantinya akan memakan korban atau tidak. Nah kalaupun iya, berkuranglah orang-orang malang yang belum jelas masa depannya. Kalau saya jadi presiden mungkin saya akan minum baygon. Tapi gak boleh begitu kata pak Bakrie yang uangnya banyak dan sering muncul di televisi itu, katanya kita musti optimistis dan konstitusional. Seperti pak Presiden, segala tindakannya harus ada surat-surat tugas dan akomodasi berjuta-juta. Iya, kebaikan itu mahal, belum lagi harus bayar tim dokumentasi foto. Tapi syukurkah Pak Beye sudah mengangkat Ibu Negara jadi kameramennya, itu artinya di 2013 kemarin sudah ada penghematan anggaran Negara untuk istana. Ngomong-ngomong inilah yang harus ditahu oleh mereka yang aktif stalking akun instagramnya Bu Ani, Bu Ani itu mau membantu suaminya untuk menghemat pengeluaran Negara, setelah Negara yang kaya dan banyak malingnya ini kenal dengan Akil Mukhtar, Angelina Sondakh, Nazarudin, dan Luthfi Hasan Ishaq. Jadi jangan suka menghujat Ibu Negara hanya karena kameranya DSLR dengan Lensa Tele yang tampak bagus dan mahal itu.

Saya gak tahu apakah Tahun baruan mesti senang atau sedih, yang jelas waktu saya ikut-ikutan merayakan tahun baru, saya tutup tahun dengan teman-teman dari Sangsastra dan Sukmasarakan beserta jomblo-jomblo shaleh lainnya untuk membaca puisi. Saya baca “Ballada Terbunuhnya Atmo Karpo” dan “Koyan yang Malang”. Saya dibilang ganteng. Nah, entah beruntung atau super sial, saat itu saya juga ketemu mantan pacar saya yang masih cantik, dia bawa pula pacar barunya yang ganteng dan sudah punya mobil sendiri. Kan saya jadi pengen makan beling kayak di panggung-panggung lain yang sedang ditebar oleh Dedy Mulyadi yang sangat cinta Purwakarta, kesenian, dan mungkin juga pencitraan untuk menaikkan jabatan dirinya sebagai menteri pertahanan Mesir.

Sebentar, apa hubungannya Mesir dengan Purwakarta? Ternyata ini ada kaitannya dengan teman saya Emil, bukan Emil Ridwan Kamil yang membuat taman Jomblo di Bandung itu, bukan. Ini Emil sahabat saya. Tapi tetap saja Purwakarta tidak punya hubungan bilateral dengan Mesir. Kalaupun ada mungkin harus secara Intelijensial dengan penghubungnya Robert Snowden. Nah, kalau begitu itu urusannya, maka soal Purwakarta dan Mesir ini sudah menjadi urusan sensitif, mungkin saja itu terkait adanya pengayaan uranium di bawah Waduk Jatiluhur, tapi itu semua benar-benar di luar territorial saya. Saya kan santri.


Tahun Pemilu, Tahun “Kiamat Sughro”

Memasuki 2014 ini artinya Indonesia benar-benar di ambang “kiamat sughro” yang rutin, namanya pemilu. Apakah memang pemilu itu kiamat? Bisa jadi… bisa jadi… kalau mau tahu jawabannya tanya saja mahasiswa UPI yang matanya hampir robek karena kejatuhan sepanduk sebesar tembok China bergambar politisi yang demi apapun tidak lebih ganteng dari Gita Wiryawan yang sekarang jadi menteri dan sebentar lagi hampir jadi presiden. Semoga saja dia jadi Presiden, sebab kasihan dia itu, tiap kali buka facebook saya melihat iklan sponsornya terhimpit di antara iklan obat kuat pria dan website film dewasa.

Pak Wiryawan itu rajin sekali nongol di iklan facebook, saking rajinnya saya pernah bilang sama dia “bro, kenal mang Jamal gak bro…” ternyata dia gak kenal… wah sayang sekali, padahal mang Jamal itu adalah tokoh kunci dalam kenyamanan ibadah dan belajar kami di Kampus STAI Al-Muhajirin.

Menurut saya, saya dikasih tahu Google, selfie atau kebiasaan memotret diri dengan kamera sendiri atau narsis atau kepala miring-miring atau mata sipit-sipit sayu mengindikasikan adanya kondisi jiwa yang selfish dan cenderung sangat mementingkan dirinya sendiri. Itulah sebabnya di masa Umar Bin Abd Aziz tidak ada itu baliho-baliho pemilu bergambar wajahnya, padahal di Baghdad sudah ditemukan tekhnologi photograpy, juga sudah banyak pelukis realis yang handal. Kalau boleh curhat, sebenarnya saya (pribadi) takut sekali dengan gadis yang suka moto-moto selfie. Komo deui mun lalaki, geleuh! Tapi selfie ditahun 2013 berhasil menjadi kata paling popular menjelang tutup tahun 2013.
Nah, maka jangan tanya kenapa koruptor di kita banyak? Itu mudah dikenali, lihat saja baliho-naliho politik yang ada. Kenali saja foto dan kalimat-kalimat persuasif (yang gagal) di balihonya tersebut. Kalau jeli kalian akan melihat sorot mata mereka adalah sorot mata orang yang pingin punya istri sirri delapan, spbu dua puluh pangkal, dan sebuah hotel bintang toedjoe di Singapura. Maka tak heran jika di Singaparna ada Acep Zamzam Noor yang sangat memahami seni merayu, juga jeli melihat emosi dalam foto, dengan responnya yang genial ia membangun Partai Nurul Sembako (PNS) di mana pilihan mereka hanya satu orang untuk segala macam pemilu, yaitu Pak Putih… maka disebutlah beliau ini Kyai Golput.

Saya tidak yakin tahu, apa yang saya rekomendasikan sebagai resolusi untuk menyambut tahun baru 2014 ini kepada sidang pembaca sekalian. Harga gas naik, calon presiden yang digadang-gadang ternyata ada yang suka “begadang”. Tapi ada beberapa hal sebenarnya…

Buat adik-adik gadis yang unyu-unyu, chabi-chabi, chibi-chibi dan cabe-cabe please deh ah… jangan terlalu sering berfoto-foto di cermin kamar mandi, apalagi dengan kepala yang dimiringkan, dan bibir dimuncungkan. Itu tidak baik untuk tulang lehermu, pendidikan jiwa beragamamu, dan mental politikmu. Dan untuk kamu yang laki-laki, janganlah kamu-kamu sekalian berfoto dengan telanjang dada, karena aku (demi Tuhan yang menggenggam jiwa Muhammad di tanganNya) merasa itu adalah… ueeeek.

Nah, sekarang mari kita berdoa, doa menyambut tahun baru 2014. Semoga dosa kita; dosa Denny JA, Bung Karno, Pak Harto, Mr. Habibie, Gus Dur, Bu Mega, dan Pak Esbeye di tahun-tahun sebelumnya diampuni dan diganti dengan terkabulnya harapan kita yang asyik untuk tahun-tahun ke depan. Amin. Eh, apakah doa ini boleh dipimpin Eyang Subur? Gak boleh, ya? Ya sudah.







Nah sebagai bonus karena kamu-kamu sekalian mau-maunya datang ke blog ini, biar saya kasih bonus foto Selfie saya... Ini foto selfie saat saya masih di Lombok tahun 2009/2010. Sekarang saya sudah taubat.

Sejujurnya saya menyesal pernah mengalami masa seperti ini pada rentang waktu 2009-2011, 
tapi ini sebagai pembelajaran buat anak cucu saya nanti. Sekarang saya sudah bertaubat.

Read more ...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...