08 January 2014

Media (anti) Sosial.


Manusia media sosial: ramai-ramai tapi terpencil

“Apakah kepak sebelah sayap kupu-kupu di Brazil dapat menyebabkan badai tornado di Texas?” Pertanyaan ini meloncat dari pikiran Edward Lopez, si peramal cuaca yang tekun melakukan percobaan, pada tahun 1960.
Apakah jika ada seseorang pemuda labil menulis status galau di salah satu pulau antah barantah di Indonesia akan menyebabkan tanah-tanah kerontang di Afrika sekonyong-konyong bisa ditanami pohon rambutan? Kalau iya, “Butterfly Effect” memang benar-benar mengacau.
Duh saya gak ngerti sekali soal teori Butterfly Effect ini…
Yang pasti saat ini saya duduk dengan tenang, membuka facebook. Saya ceria melihat Real Madrid menang, lalu kesenangan bertambah ketika membaca sapaan dari teman lama. Tapi beberapa detik kemudian tiba-tiba saya merasa enek dan  sakit hati dengan isi status teman dekat yang seolah-olah sedang membicarakan saya. Saya merasa ini tidak wajar.
Setiap bacaan dan informasi yang berpendar di mata saya memuat reaksi psikologis yang beragam. Hal tersebut tidak terimbangi oleh pertukaran kondisi hati saya yang rasanya tidak siap ini. Sehingga terjadilah apa yang oleh Vicky maksud dengan “Kudeta Hati”. Sepanjang hari ini hati berasa digoyang-goyang. Implikasinya dalam seharian penuh saya sulit berkonsentrasi pada setiap tugas yang saya emban. Kondisi hati saya jadi rentan galau, dengan indikasi paling kentara: wajah terlipat sedemikian rupa, perasaan tidak menentu, lalu rasa cemas menghantui sepanjang hari. Setelah era media sosial, teman bukan lagi rumah teraman untuk berbagi cinta, cerita, dan rahasia. Kampus bukan lagi tempat belajar yang memintarkan. Majlis ceramah tidak jadi tempat yang mencerahkan. Ratusan kegiatan sosial, bukan lagi menjadi bakti sosial, semuanya menjadi satu panggung dalam pementasan adu narsis.
Barangkali ada yang salah dengan diri saya. Sebab tidak enak rasanya kalau setiap pagi merasa seperti ini. Saya tidak tahu pasti, adakah setiap pengguna facebook atau media sosial lainnya selalu merasa seperti saya juga?
Mat Hitut bilang, Mat Hitut dibilangi oleh Roy Suryo yang sekarang jadi Menteri (mungkin karena kumisnya) katanya ini abad social media; di mana pertukaran informasi dan pola-pola berkomunikasi menjadi super-lesat dan ultra-cepat. Tak heran jika pola hidup manusia di abad ini pun sudah hampir berubah sama serupa: menyesuaikan.
Semua dilakukan dengan cepat-cepat. Makan cepat-cepat, shalat cepat-cepat, kuliah cepat-cepat, eek cepat-cepat. Dan hasilnya? Semua jadi tidak fokus dan tidak bisa dinikmati. Akhirnya belepotan! Yang makan hilang rasa soal sambal, yang salat hilang Tuhan dalam khusyu, yang kuliah hilang kenikmatan dalam ilmu, dan yang eek hilang rasa syukur setelah membuang isi perut. Maka implikasi yang lebih fatalnya adalah tempat-tempat makan menjadi tempat kufur nikmat, masjid menjadi kamar mandi umum, kampus menjadi tempat pacaran dan dagang, dan wese-wese di dunia menjadi belepotan, jejak kotoran melekat di mana-mana. Kacau! Balau!
Mat Hitut cerita, dulu sekali ia sering melihat kakaknya saat masih di kampung. Tiap habis Subuh. Kakaknya yang pelajar segera menilik buku-buku pelajaran, barangkali ada pekerjan rumah yang belum dikerjakan. Lalu Abahnya yang seorang petani segera bersiap membersihkan segala macam perangkat sawahnya untuk kemudian pergi sebelum pagi benar-benar sempurna. Sedang hari ini Mat Hitut risau denganku, karena tak ada yang bisa seperti bapak dan kakaknya. Tiap bangun aku langsung liat twit dan facebook, membalas pesan teks, atau melihat berita web. Seolah-olah begitulah kehidupanku dituntut hari ini. Dia risau. Pagi-pagi kita repot pada hal-hal yang belum tentu baik untuk kesehatan dan pertumbuhan jiwa saya.
Bicara soal pola komunikasi dan pertukaran informasi hari ini; media sosial adalah satu hal yang mewakili dari dua hal tersebut. Di Media Sosial inilah kemudahan, kemajuan, dan kepraktisan dalam mengakses informasi, dan melakukan komuniskasi berfungsi cukup baik. Dengan media inilah akhirnya kita mengakses informasi, bertegur sapa, dan terlibat langsung atau tak langsung dengan hal-hal yang kita sukai.
Tapi di sisi lain, coba lihat sungguh-sungguh beranda facebook atau twitter kita. Di sana kita  melihat bahwa kita ini jadi gampang mengeluh dan minim semangat juang. Seterusnya kita jadi ringan bertukar serapah. Heran. Ini kan media sosial, kalau memang ingin seperti itu, kenapa tidak bikin media anti sosial saja?
“Kamu kenapa?
“Galau, baca status teman kuliah”
“Oalah! Media sosial kok malah menjadi media anti sosial…”
“Mat! Kayaknya ini semua adalah bagian dari teori konspirasi Yahudi ya mat, untuk melemahkan etos kerja dan semangat belajar kita”
“Maksudmu?”
“Itu! Lihat aja Mark Zuckerberg!”
“Terus?”
“Warna biru sama putih yang dominan di website Facebook”
“Iya... lalu?”
“Dia yahudi! Dan itu kan warna bendera Israel!”
Tuuuuuut… Mat Hitut langsung kentut.
“Mat? Teu Sopan!” Tegurku.
“Mau ditulis di status? Silahkan. Aku gak akan baca, apalagi meng-galau kayak kamu.”
“Percuma. Ente kan gak punya facebook

Sebelum gulung layar, saya akan kutipkan sebuah status facebook yang bagus. “Kalau kita benar-benar mengisi kolom status facebook dengan kesungguhan ingin menjawab ‘Apa yang Anda pikirkan’  maka kitapun akan berpikir berkali-kali sebelum status facebook kita malah akan membuat orang lain tak nyaman, dan membuat diri sendiri semakin kelihatan buruk.”
Thats all about….

1 comment:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...