17 March 2014

SURAT CINTA YANG TAK AKAN PERNAH DIKIRIMKAN (Cerpen)


Jadi begini, saya baru saja dua hari ini diteror AS Laksana dengan "Murjangkung: cinta yang dungu dan hantu-hantu". Saya merasa sesuatu musti dituliskan, barangkali tentang hantu-hantu yang datang dan raib di tiap sebelah kakiku masuk kamar mandi jam satu dini hiri. Atau hal lain yang setidaknya mirip dengan hantu: cinta. Barangkali cinta memang begitu. Seperti peristiwa hantu. Dungu.

Kau tahu aku tuliskan ini bertepatan dengan temanku Dika yang kurang-ajar dengan tanyanya tentang sosok perempuan macam apa yang kelak akan kudampingi atau mendampingiku (terserah kamu saja mau pakai kata yang mana).

Aku ingin  bilang perempuan itu akan seperti kamu, meski bukan kamu. Tapi aku berbohong.  Aku bilang dia akan mirip penyanyi dangdut dengan tubuh penuh, padat, dan ranum. Dengan suara dayu, dan mata yang sayu. Sekali lihat kau akan mengingat ranjang paling hangat sedunia. Meski, mungkin, di mana saja kau tidur, ranjang cuma soal tempat yang polos, tergantung dengan siapa yang ngorok di sisimu. Oh ya... soal si penyanyi dangdut ini kau takkan pernah jemu menatapnya, apalagi waktu dia sedang menggoreng nasi tiap kali pagimu memang harus saja sarapan.

"Dalam hidupmu ini, kau ingin apa sepuluh tahun ke depan dari usiamu sekarang?"

"Aku ingin... mmm..."

"Kau ini payah"

Aku masih senang mengingat-ingat bagaimana kau bilang-bilangi aku soal segala pernak-pernik hidupku yang gak tertib. Dengan matamu yang teduh "sayang, kau musti berhenti merokok, banyak minum air putih dan jangan lupa sarapan, dan satu lagi. Jangan begadang!"

"Aku kan penulis.” Aku selalu memerlukan malam sebagai rumah kontemplasi dan bermacam-macam bentuk permenungan.

"Penulis apa? Gak ada yang ngerti dengan tulisan-tulisanmu. Kamu musti juga berpikir untuk mencari karir lain... paling tidak nanti kamu akan menikah bukan?

"Ya, dengan kamu..."

"Mungkin. Mungkin iya, mungkin tidak."

Jika percakapan sudah sampai di titik ini. Aku akan mulai kesal. Tapi aku tak ingin merasa kesal pada perempuan sepertimu, yang ibu bagiku.

“Baik, aku akan tidur tepat waktu seperti katamu, aku juga akan minum air putih, berapa gelas seharinya?

“200 gelas! Bodoh!”

***

Tiba di malam pertama setelah Ama janji pada seorang perempuan dalam kepalanya, ia berniat akan berhenti begadang atau terus menerus bermimpi untuk memenangkan perburuan singgasana cerpen di Koran Kompas.
Tetapi. Malam itu sesuatu yang terasa begitu mengganggunya tiba-tiba saja muncul di kepalanya, seperti tamu karibmu yang kemalaman, menggedor-gedor pintumu. Ijin menginap. Minta dituliskan.

Kau pasti tahu bagaimana ide selalu datang dan pergi begitu saja, maka seorang ilmuwan besar yang (barangkali) kau kenal dengan Nama As-syafii pernah bilang “Ilmu adalah hewan buruan dan tulisan adalah tali ikatnya, maka ikatlah hewan buruanmu dengan ikatan yang kukuh dan kuat, karena akan sangat bodoh jika binatang buruanmu lepas karena kau tak mengikatnya dengan baik.”

***

Aku akan bercerita… entah cerita apa… tapi aku ingin menceritakan bagaiamana seeorang yang sering menulis surat cinta tapi tak pernah dikirimkannya.
Akan kujuduli  apa ya kalau saja cerpen ini memang sudah 5000 karakter? Oh ya aku musti bikin outline dulu, sebelum akhirnya aku selesaikan dalam bentuk utuh.

Outline 1
Jadi kalau kamu merasa cantik, kamu sebenarnya tidak akan bisa begitu. Kamu tidak cantik, kamu harusnya terima itu kecuali kalau namamu Tiwi.

Outline 2
Jadi apapun yang terjadi apakah aku harus membahasnya denganmu, aku rasa iya. Itu baik. Tapi mungkin itu tidak perlu, entah apakah sangat menarik bagimu jika saja kita bahas sesuatu yang terjadi di Riau dan pembalakan hutan. Lalu sebuah pesawat dari Malaysia yang hilang. Badai, banjir, dan gempa bumi ganti-mengganti mengunjungi negeri kita yang Ayu, seperti kamu.

Bagaimana akan kau jawab aku, akankah kau seperti ibuku yang selalu mengatakan padaku “semua kehendak Allah nak, dan kau tak boleh terlalu pusing dengan masalah yang samasekali tidak memerlukan keterlibatanmu.”

Tapi, sayang. Eh, maap aku sebut kamu begitu. Aku pikir akan sangat normal jika kupanggil kamu begitu. Aku membacanya di internet, katanya jika kau ingn dekat dengan seseorang kau harus memanggilnya dengan nama yang dia sukai. Tapi aku tak tahu apa nama yang kau sukai sebagai nama panggilanmu.

Jadi, sayang, eh, mmm… apa sebenarnya yang terjadi, di negeri kita? Kamu akan menjawabnya seperti ibuku bilang kan? Lalu bagaiamana kau akan menjawab kerinduan yang menyergapku, lalu memaksaku menuliskannya. Untuk kamu atau…

***

Outline-nya belum selesai kau tahu, Ama sudah lelah. Aku pikir dia tak lelah dia hanya pusing akan memakai teknik apa. Teknik alur-mundur atau flashback sudah terlalu gampang dan cerpen macam ini menurutnya tidak akan mengesankan redaktur Kompas. Tapi yasudah, toh, Ama sudah lelah.

Ama  tiba-tiba saja seperti ingin menuruti suara perempuan dalam pikirannya. Ia merasa harus tidur. Kau pasti tahu itu.

Nah, para pembaca sekalian… apakah anda-anda sekalian paham kenapa menurutmu surat-surat cinta di atas yang sama sekali tidak romantis itu tidak akan pernah dikirimkan? Kenapa pula cerpen ini bisa sampai kepada para pembaca? Apakah pertanyaan-pertanyaan macam ini pantas ditanyakan? Toh apapun tulisan ini nantinya dinamai; nyatanya tulisan ini sudah lebih dari 50.000 karakter. Aku –kau boleh panggil aku pendongeng yang gagal- harus pamit. Undur diri. Dadah…


Purwakarta, 2014

2 comments:

  1. Replies
    1. "Karya lahir, penulis mati"
      Apapun pesannya, ane pikir itu sudah menjadi "urusan" masyarakat dan sidang pembaca sekalian. Pengarang tidak berhak menjelaskan kembali "apa yang sudah dituliskannya". Begitu agar tidak ada kesan 'sok tahu' dan 'menggurui'.

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...