19 May 2014

Perpisahan: momentum nostalgis dan pesan-pesan kecil yang tidak penting

Faidzaa faroghta Fanshob –Al-Insyirah


“jika kamu kelar dari suatu urusan maka sibukkanlah dirimu dalam kesibukan yang lain -QS Al-Insyirah”



Post ini saya persembahkan untuk Alumnus SMA Al-Muhajirin Angkatan 2013-2014


Juga buat kamu... iya kamu...

Kiranya dua tahun yang lalu saya jebol dari Sma. Hampir pada hari yang sama dengan saat ini. Adik-adik kelas saya menyusul, lulus, dan bersiap menghadap masa depan yang lebih cerah, saking cerahnya jadi blank! Mau lanjut kuliah terbentur biaya, mau kuliah di antah barantah terbentur jarak. Dan mau tidak jauh dari si doi, eh doinya milih kuliah jauh. Ini alamat bakal LDR, dan yang lebih pedih (menurut asumsi jitu saya) LDR tak akan pernah bertahan lebih dari enam bulan.


Dua tahun yang lalu. Saat saya dengan kawan seangkatan sedang kelas tiga. Kami melakukan banyak hal, dipusingkan oleh banyak hal, juga digalaukan banyak hal pula. Lalu singkatnya perpisahan digelar sedemikian rupa. Kami susun sendiri runtutan acara perpisahan berikut gelaran-gelaran show di dalamnya; sebagai tradisi yang lumrah dan turun temurun di pesantren dan sekolah kami. Tidak mudah menyatukan banyak kepala, menyamakan suara, dan menyejajarkan langkah kerja. Sementara waktu terus berpacu... dan... syukurlah tidak ada yang memilih bunuh diri.


Tidak cukup itu saja yang menguras tenaga, pikiran, bahkan perasaan. Ada juga hal lain, seperti menyusun ulang mimpi-mimpi selepas SMA yang tentunya dengan lebih serius. Tidak segampang menjawab pertanyanan ibu guru saat di TK dulu “Anak-anak mau jadi apa nanti kalau udah besar?”  lalu sekonyong-konyong dengan muka polos kita bilang “dokter, bu guruuu,” “astronot, bu guruu!” 


Duh kampretnya kita waktu TK dulu, seandainya sejak TK kita diberitahu betapa mahalnya biaya kuliah kedokteran... barangkali kita yang masih polos saat itu gak akan suka asal ngomong soal cita-cita. Apalagi kalau mau jadi astronot, mesti punya bulu ketek dulu. Kan gak lucu anak TK udah make parfum semprot. Memangnya minyak telon aja gak cukup apa? (Lihat iklan Axe) dan saya masih bingung apa hubungannnya anak TK yang pingin jadi astronot dengan pertumbuhan bulu ketek.


Di titik inilah kita yang baru saja lulus SMA mulai belajar berkompromi dengan kondisi diri, bernegoisasi dengan keadaan ekonomi keluarga, berimprovisasi dengan keinginan yang tak sesuai harapan. Lalu belajar beradaptasi untuk setiap pilihan yang diambil.


Dan, ya, ini waktunya kamu bisa bilang kencang-kencang di twit, facebook, dan path-mu “hirup mah peurih... da akumah apa atuh...” celah-celah optimismemu pudar, dan realitas terasa seperti menghukummu. Kamu yang bahkan sejak SMP ingin kuliah di UI, akhirnya musti sadar kalau NEM-mu tidak sesuai syarat, keluarga tidak punya biaya kuliahmu. Lalu ingin kuliah sambil bekerja part-time kamu akan menjadi serba kagok.


Di Perpisahan SMA dan SMP Al-Muhajirin angkatan 2013-2014 ini saya merasakan hal itu lagi, momentum nostalgis yang berujung pada kegalauan kolektif. Di angkatan ini pula saya menemukan anak-anak muda yang punya kebesaran hati dari bocah bernama Sayyid, kesabaran dan kedewasaan dari Nurdiansyah, lalu ada Dara sama Dini, ada juga Megan, mereka anak-anak yang baik. Semoga mereka tidak menjadi anak-anak Break Dance. Lalu hal-hal lain yang tidak mungkin saya sebut satu demi satu. Semuanya mengingatkan saya pada dua tahun yang lalu. Sangat emosional dan menguras perasaan. Saya jadi kangen teman-teman SMA saya: seperti Aziz di Mesir, Aroka di Etiopia, Emil di Zimbabwe, Hilda di Tanzania, Putri di India, Sani di Qatar, dan banyak lagi. Teman-teman yang baik, dekat, tapi jauh. Saya kangen perdebatan-perdebatan tidak penting diantara kami, diskusi sok pintar kami di kelas, lalu kasus-kasus kecil yang kami buat di sekolah, jatuh cinta, surat-suratan, kirim-kiriman hadiah, titip-titip salam. Duh... begitu menguras perasaan. Tapi biasa aja sih, gak sampai kayak di film-film gitu.


Selesai sudah saya bahas soal momentum nostalgis semacam ini. Saya tidak bisa berlarut-larut, nanti saya bisa ceurik leleweheun; kangen mantan, kangen pacarnya mantan, kangen temennya pacar mantan yang sekarang pacaran sama mantannya pacar yang rumahnya deket dagang bubur terus anaknya sekolah di SMK, punya Ninja hijau terus knalpotnya bunyinya kenceng. Tuh kan gak fokus.



Nasehat-nasehat kecil buat kawan-kawan yang baru lepas SMA


Teman-teman, adik-adik saya yang baik. Segalau apapun, semelodramatik apapun kondisi jiwamu hari ini, buatlah pilihan, realistislah, buatlah perhitungan yang matang, dan yang terpenting jadilah dewasa, atau paksakan dirimu dewasa. Jika tidak begitu duh... wake up bung! Sukses itu perlu perhitungan, kerja keras, pengorbanan, keringat, darah, dan air mata. Tidak seperti pertunjukan kabaret yang kau mainkan kemarin. Yang 10 tahun bisa jadi 30 detik saja.


Kalau kau kuliah, kau akan ketemu banyak hal yang barangkali cuma kau dengar dari kakak-kakak kelasmu, atau kau dapat dari novel dan film kesukaanmu. Dan yang paling penting bahwa kamu tidak mungkin ketemu seorang pacar hanya karena kamu tidak sengaja bertabrakan lalu masing-masing bawaan kalian jatuh dan kalianpun beradu pandang. Kampret. Itu mah sinetron woy!


Dan waspadai beberapa hal. Salah satunya pergaulan. Kau pasti tidak asing kalau teman-teman yang di sekeliling kita adalah bagian besar dari pembentukan karakter kita sendiri. 


Ah, saya langsung ke poin saja. begini kawan, nanti kalau kau kuliah lalu ada yang ngajak-ngajak bisnis member atau MLM tolong ditolak saja. Saya serius. Bukan karena MLM itu buruk, tapi, ya, memang buruk. Buat yang gak ngerti MLM cari di google gih!


Nah, di tempat kuliah ini pulalah kamu akan banyak bertemu perkumpulan-perkumpulan, organisasi-organisasi dan komunitas-komunitas. carilah yang sungguh-sungguh menarik minatmu lalu bergabunglah. Di situ kembangkan keterampilanmu, berjejaringlah, perbanyak teman. Atau silakan coba ikuti setiap perkumpulan itu satu-persatu. Cocokkan minat dan gairahmu di sana. Mirip kayak cari jodoh gitulah... 


Oya! Untuk yang gadis. Hati-hati juga dengan kakak tingkat atau senior cowok yang suka sok cool. Orang-orang semacam ini suka banyak yang sedang incar-mengincar mencari pacar. Acara Masa Orientasi atau Taaruf Mahasiswa biasanya dijadikan momentum semacam ini (soalnya saya juga suka sok cool di depan mahasiswi baru, tapi sering gagal).

Hati-hati juga... pergaulan kampus bisa jadi sangat kontras dengan lingkungan pergaulan saat kau sma. Kalau tidak pandai-pandai adaptasi, nanti bisa kaget. Jantungan. Dan mati dengan cara yang gak seru.



GAWE


Next... Kalau kau memutuskan ingin bekerja selepas Sma. Dengan sangat ikhlas saya sarankan kamu untuk bekerja di tempat yang mengasah gairah kreatifmu, mengorek rasa ingin tahumu, dan menambah relasi dan perkawananmu. Sebab di saat seperti ini, menurut saya kau tidak perlu mengejar gaji UMR segala. Carilah pekerjaan yang cocok dengan passion dan gairahmu. Besaran gaji memang penting. Tapi keahlian, pengalaman, dan jaringan relasi yang terus dapat kau asah; tidak akan bisa ditukar oleh gaji-gaji di manapun tempat kamu bekerja nanti. Dan hal-hal semacam ini akan terus menambah nilai lebihmu dari waktu ke waktu. Saya serius soal ini.


Jika memang ingin bekerja, bekerjalah di manapun saja, asal halal. Hanya saja soal memilih bekerja di pabrik, jangan dijadikan pilihan pertama. Buat saya pribadi akan sangat keren jika kamu ingin mencoba membangun usaha sendiri, bergabung dengan teman-teman, atau bergabung dengan bisnis-bisnis kecil mandiri yang kamu kenal dan sukai. Jual donat online kek, reseller kripik kek, atau yang lebih absurd jadi mak comblang online kek... atau kalau kamu tertarik bisnis merchandise, souvenir, percetakan, dan sablon kaos, mungkin saya bisa membantu.



Mixing, kuliah sambil bekerja


Ah... ini mah ya diatur aja waktunya. Kalau gak shanggup ya shanggupin. Kalau masih gak sanggup ya wayahna weh kamu memang tidak mungkin berpoligami soal ini. Kuliah ya kuliah... Nyari duit ya nyari duit.


Soal ini saya juga mengalami. Agak berat. Setelah mulai membangun bisnis sablon kecil-kecilan, jam kuliah saya jadi banyak bolongnya. Bahkan UTS kemarin saya gak ikut sama sekali. Yahh... akhirnya nilai gak dapet, apalagi pacar. Tapi kau bisa atasi hal semacam ini dengan mendaftar di kelas karyawan atawa non-reguler. Biasanya waktu kuliahnya lebih fleksibel, juga muatan mata kuliah dan tugas-tugas rumahnya lebih ringan.



Nganggurisme kampretisme


Terakhir, kalau kamu memutuskan mau menganggur... benar-benar menganggur. Wah, sial! Setan aja gak pernah nganggur.


Faidzaa faroghta Fanshob (jika kamu kelar dari suatu urusan maka sibukkanlah dirimu dalam kesibukan yang lain). Kalau kata Ayu Utami; jangan jadi “Parasit Lajang” atau kayak yang Alm. Asep Sunandar bilang “Ai dahar hayang, lamun digawe embung!” (kalau makan mau, giliran kerja gak mau). Pamali.



Apapun yang terjadi nanti, masa depan tetaplah ghaib, terimalah itu sebagai hadiah besar yang kau singkap sedikit demi sedikit. Apapun yang kau tahu soal hidup ini anggaplah tiap rahasianya adalah tantangan, dan upaya menyingkapnya adalah hiburan yang menyenangkan.


Aku pamit ya guys! Ada meeting dengan siluman maling korek, siluman gagang panto, dan siluman turug sangu.



2 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...