11 August 2014

Sesuatu Yang Kupikir "Kabar Kematian"

Dalam jalan ke Masjid Maghrib tadi saya terkenang Alm. Ayong, kawan se-smp yang baru saja meninggal beberapa minggu yang lalu. Saya belum sempat mengunjungi Ibunya, untuk sekedar mmm entahlah apakah itu takziah atau bersikap kikuk di depan seorang ibu yang (istilahnya Willy) baru saja menghadapi peristiwa kemanusiaan yang biasa kita namai dengan kehilangan.


Saya selalu bingung untuk menyikapi kabar kematian.

Seperti yang sudah-sudah. Jika saja suatu waktu ketika saya sedang memikirkan hal-hal yang (cuma Allah Swt.  aja yang boleh tahu) sambil mengerjakan hal-hal yang tidak berguna maka saya akan juga mela...“Rid, si A meninggal.”
  
Saya langsung diam; dalam beberapa jenak saya memikirkan akan menampilkan ekspresi seperti apa dengan kabar semacam itu. Lalu “Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun. Kapan?” Sambil juga saya menoleh menampilkan wajah bengong sinetronis. Berhasil! Nonton sinetron sesekali membekali saya skill untuk menjadi (bisa disebut) manusiawi ketika menghadapi kabar kematian.

--


Tiap-tiap orang punya dua wajah, satu yang ditampilkan di depan sesuatu yang bukan dirinya, satu lagi wajah yang dia tampakkan untuk dirinya sendiri dan untuk orang-orang yang membuatnya merasa sedang di depan dirinya sendiri. Eh. Mungkin ini bisa juga jadi contoh mudah menjelaskan teori “Ruang-Antara” yang dibilang Slavoj Zizek. Tapi mungkin gak relevan sama sekali... yaudahlah.


Soal bagaimana menemui orang yang sedang berduka, saya belum biasa dengan kalimat 
“Aku turut berduka”Juga tidak begitu suka denga kalimat “yang sabar ya...” tapi yang aku ingin bilang jika aku memang ma(mp)u...

“Hei, Bro. Orang yang kamu cintai dan berharga dalam hidupmu sudah mati. Menangislah, karena kamu perlu itu sekarang.”


Bukankah dalam garis kewaktuan (dalam hidup) yang tidak pernah kita maapkan ini, setiap kita harus punya waktu untuk bersedih? 

Dan menangis adalah yang paling mudah dan sederhana untuk menyikapi kesedihan. Kecuali... kecuali kalau kamu setuju bahwa kamu bisa tidak ingin ikut mati ketika menghadapi kesedihan semacam itu.

 
***

Saya tidak punya banyak kenangan dengan Ayong, barangkali itulah sebabnya saya tidak begitu merasakan rasa hilang yang terlalu. Tapi tentu saja saya benar-benar merasa sulit jika berekspresi dengan dasar ini... masa saya mau cuma bilang “Oh” kalau misalnya ada teman lain  sekampus yang meninggal dunia?  


Kecuali kalau kelinci Bang Ibnu yang mati. Apa boleh buat, paling-paling juga si kelinci itu mati dengan tidak gagah karena kegilas motor. Percuma bilang innalillahi juga. Mau disate juga udah gak halal. Lagipula apa kaitannya innalillahi dengan sate kelinci?

Tapi, merasa tidak mungkin lagi berttemu Ayong yang gagah perawakannya, enak becandanya, dan banyak ceritanya adalah hal yang juga mebuat saya ingin bilang “Duh, lur... cepat sekali kamu pergi...”


***

Masih dalam perjalan sore tadi menuju masjid saya juga terkenang pada Soe Hok Gie yang bilang “Beruntunglah mereka yang tidak dilahirkan, beruntunglah mereka yang mati muda.” Dan Gie terlalu mda untuk mati, dan itu baik mungkin baginya setelah hidup bertahan dengan sebutan mahasiswa idealis, sang demonstan dan sebutan-sebutan heroik lainnya. Mungkin.


Lalu di suatu kali yang biasa-biasa aja, saya menyeletuk di depan Rian yang sedang fesbukan


“Yan. Kayaknya kalau kita terlalu keren ketika muda, mungkin kita akan cepat mati. Kayak Gie, atau Chairil Anwar”


“Rid, kamu akan mati muda.” Terasa saja memang dia memuji saya.


Tapi, mati, kadang-kadang terasa begitu misterius. Dan tidak ada yang lebih menakutkan sekaligus menarik selain-selain hal-hal yang misterius. Mirip seperti seorang gadis yang sedang saya taksir. Nah saya sudah mulai melantur.


Yaudah. Fine. Lalu setelah dari obrolan itu, saya nyadar betapa absurdnya apa yang kami obrolkan itu. Tapi mungkin Freud pernah bilang soal ini, bahwa setiap orang punya kecenderungan ‘ ingin bunuh diri’. Hanya saja seperti yang pernah kusinggung soal Ruang-Antara tadi, juga soal dua-wajah yang dimiliki setiap orang, kita semua enggan mengaku, enggan mengaku betapa sesaknya dada kita dalam keluasan hidup.


Apa boleh buat. Putus-asa memang lebih mudah datang dan lebih mudah terasa.

Entah apa yang menggerakkan saya menulis catatan buruk ini. Mungkin saya sddang lapar, sudah jam 22:57, pekerjaan hari ini cukup memelahkan, dan sialnya harga Gudang Garam Filter dan kopi sachet Indocafe udah naik jadi 1500,- . KAMPRET.


Eh.. mungkin saja saya sedang butuh jatuh cinta (lagi) agar tidak menulis seketus ini. Biar seperti yang dibilang N.H. Kleinbaum, di Dead Poets Society “.... tetapi puisi, keindahan, asmara, dan cinta adalah alasan kamu untuk tetap hidup”



Ini lengkapnya...


“We don't read and write poetry because it's cute. We read and write poetry because we are members of the human race. And the human race is filled with passion. So medicine, law, business, engineering... these are noble pursuits and necessary to sustain life. But poetry, beauty, romance, love... these are what we stay alive for.”

― N.H. Kleinbaum, Dead Poets Society

Epilog

Saya mencintai Ayong, itulah sebabnya saya merasa kehilangan, itulah sebabnya saya tulis tulisan buruk ini untuk terus belajar memandang hidup dan mati; juga satuan garis waktu yang membuat jarak di antara keduanya.
 
Read more ...

09 August 2014

NONSENSE (1)


“Jika kau masih bisa merasa hidup tanpa menulis, maka berhentilah berpikir bahwa kamu adalah seorang penulis.”
(kalau gak salah quote ini ada di Letters to a Young Poet karya Rainer Maria Rilke)

Seperti judulnya, jika kamu berharap tulisan saya kali ini bagus, pendek, ringkas, simple, dan bermanfaat, maka saya ucapkan “selamat menyesal!”

Kalau bukan karena melihat blog http://nidyarestulestari.blogspot.com/ adik kelas di SMA dulu, barangkali saya akan keukeuh untuk terus menulis tanpa diselesaikan dan lalu menyimpannya begitu saja dalam folder D komputer. Sambil bermimpi jika pecahan-pecahan tulisan itu menjadi sebuah bundelan tulisan yang menyenangkan pembacanya. Persetan jika dari 2010 sampai saat ini saya adalah blogger yang malas, setengah hati, dan tidak punya banyak pembaca.

Belakangn ini saya merasa tidak ada yang benar-benar ingin saya tulis dan selesaikan. Akhir-akhir ini banyak yang saya kerjatuliskan dan tak pernah tuntas. Kecuali jurnal harian yang mencatat keluhkesah manusiawi saya yang tidak mungkin saya ejawantahkan dalam kolom-kolom status media sosial. Ya masa iya kalau saya sedang kangen seorang gadis -yang bahkan saya tidak pernah bercakap-cakap dengannya langsung lebih dari 5 menit- mau di posting di kolom twit dan status? Kan gak macho.

Apa yang saya maksud tidak ada yang bisa saya tuliskan barangkali bukan karena tidak ada inspirasi, ide, atau waktu luang. Tapi belakangan ini, waktu, bagi saya rasa-rasanya benar-bear membuatku berfikir... waktu adalah uang. Materialis. Tapi ya nampaknya begitulah seperti yang seharusnya berjalan. Saat ini saya sudah belajar tidak bergantung pada supply uang jajan dari orang tua, saya juga sudah tidak lagi menghonor dari pekerjaan mengajar dan membimbing ekskur. Artinya keseharian saya bergantung pada apa yang saya dan teman-teman saya lakukan di PEDES.

Saya mulai pragmatis, realistis... dan hey, menjadi materialistis kadang-kadang memang perlu dan manusiawi. Kami punya tanggungan biaya sewa tempat produksi, jadwal deadline, rancangan strategi, dan kami semua adalah pebisnis amatiran dan pekerja yang malas. Maka kesemua ini sudah seharusnya membangunkan setiap pagi kami dengan “Hari ini selesaikan deadline, lakukan strategi baru, taat jadwal bayaran, ingat-ingat tagihan sewa.”

Berat?

Ya!

Bisa?

Gak tahu! Sebab saya gak mau sok-sok-an bilang “ya saya pasti bisa” karena mungkin saja saya tidak bisa. Tapi, apakah kami semu di PEDES bisa? Ya... kalau... nah, saya menjadi apatis dan agak pesimistis. Saya tidak heran. Barangkali inilah yang disebut realistis, saya menjadi sedikit optimistis dan percaya diri tapi juga pesimistis dan banyak keragu-raguan. Dan sebagai haiahnya saya mungkin  tidak akan terjebak pada kata-kata "sukses" yang indah, tapi utopis, ta’ammuliy, dan sia-sia.

Setelah semua siklus ini mulai masuk akal, barangkali hidup adalah soal menyelesaikan masalah yang kita buat sendiri.
Tapi perasaan yang begini tidak seperti dulu; saat mimpi saya sangat tinggi dan penuh cita-cita. Dulu,  tidur dan bangun semaunya, asal 3 jam dalam sehari di senin-rabu hari aku masuk kelas lalu sisanya kamis-sabtu kuliah. Setelah itu aku cuma menulis, main ke kost-an teman di Bandung, karawang, atau Jakarta. Ke toko buku, ikut seminar-seminar penulisan gratis, kadang seminar bisnis,  dan hal-hal yang tidak menghasilkan uang lainnya. 

Sekarang ke Bandung untuk beli bahan baku pin, gantunga kunci, mug, Kertas, peralatan sablon, dan lain-lain. ke Jakarta hunting bahan kaos dan lain-lain. Ah,  padahal sudah sejak lama jika saya teringat Jakarta -yang membuat saya selalu takut menyebrang jalan itu- saya mendambakan TIM dan Jl. Salihara sebagai tempat wajib di Jakarta yang saya ingin kunjungi.
 
Ada banyak tema yang blogger-blogger lain tulis dalam masa-masa sekarang. Seperti ISIS dan Pilpres misalnya. Di zaman ini memang tidak ada yang bisa disebut “tidak ada bahan dan motivasi menulis”. Lomba menulis kian banyak, media pemberitaan mudah diakses, isu-isu populer terus bergulir dan ramai, dan seluruh blogger dan netizen umumnya selalu mengambil bagian dengan opini dan lainnya.

Saya menjadi pelupa, mungkin terlalu banyak yang dipikirkan, mungkin jadwal istirahat dan makan saya kacau, mungkin saja karena kebiasaan merokok saya membuat saya begitu pelupa. Kadang saking pelupanya saya sering lupa di mana saya naruh rokok yang baru saja saya bakar. Ini buruk. Ngomong-ngomong soal kebiasaan merokok, belakangan ini saya merokok lebih ganas. Meski begitu belakang ini saya mulai belajar mengatasi kecanduan saya dengan membeli rokok dengan cara ngeteng atau batangan, dengan begitu saya mengurangi konsumsi rokok saya. Belum lagi kadang-kadang gambar di bungkus rokok itu membuat saya tidak mau menyambung satu batang ke batang yang lain. Dan, Kawan, saya sedang berusaha.

Bahkan terhitung sejak malam tadi saya sedang dalam memelajari produk Vaporizer untuk beralih dari kebiasaan merokok tembakau ke sejenis  rokok elektrik yang lebih aman. Katanya lebih aman dari rokok tembakau. Dan soal ini benarlah seperti yang dibilang Shitliciuos bahwa kebiasaan merokok bukan soal asap, tapi oral behaviournya. Saya mungkin bisa berhenti dengan asap, tapi kebiasan mulut saya menghisap rokok sulit digantikan; bahkan kalau diganti dengan permen. Karena saya punya gaya makan permen yang ndeso: dengan benar-benar memakannya.

Kalau juga bukan karena tulisan Maulana Abd Aziz yang panjang kemarin saya akan tetap bertahan tidak menulis di blog ini. Banyak rencana marketing saya untuk PEDES yang menghadapi masa-masa Hari Ulang Tahun Purwakarta. Belum lagi tuntutan klien yang musti dipenuhi... dan itu semua lagi-lagi soal uang. 

Sial memang jika segala hal tentang waktu harus soal uang.

Kabar baiknya... saat ini adalah hari Minggu, masing-masing kami harus meliburkan diri. Mungkin bang Ibnu sedang ngajak jalan gadis yang dia dapatkan nomernya semalam saat kami jalan-jalan. Adit juga mungkin sedang membuat janji kencan, karena hampir tiap malam teleponan dan suka mengata-ngatai saya “Mending LDR-an, setidaknya bisa sayang-sayangan di telepon.” Kampret!

Sendol juga mungkin sedang mencoba mencari pacar baru atau balikan lagi dengan mantannya, atau main PES sampai kurus. Ryan latihan Tae Kwon Do, dan Rayyan masih betah dengan Smartphone barunya. Dia juga sudah berhenti total merokok, entah untuk berapa lama. Sedang saya, apa boleh buat, tidak punya jadwal kencan, maka saya berniat menyelesaikan tulisan yang sia-sia dan nirmanfaat ini.

Jam 11 : 59. Baru sampai 2 halaman, dan saya tidak merencanakan akan jadi berapa halaman jika tulisan sia-sia ini selesai. Sebagai gantinya 2 gelas kopi, dan 4 batang rokok yang saya beli mengecer tadi tandas. Saya harus makan siang+sarapan sekarang.

Kalau begitu saya harus benar-benar menamatkannya sekarang. 

Tidak ada kata-kata baik yang ingin saya tuliskan sekarang. Kamu tahu kenapa? Karena saya tidak begitu mood membuat kata-kata penyemangat jika memang tanpa semangatpun (seperti yang Aziz bilang) hidup terlalu indah untuk tidak disyukuri. 

Persetan juga dengan struktur ideal tulisan. Kita semua memang cuma sering terlalu sok pintar dan sok idealis untuk mengenali berbagai hal yang merentang di hadapan kita sendiri. Termasuk perihal tulis-menulis, atau hidup itu sendiri.

Sudah menyesal membaca tulisan ini? Selamat!
Read more ...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...