09 August 2014

NONSENSE (1)


“Jika kau masih bisa merasa hidup tanpa menulis, maka berhentilah berpikir bahwa kamu adalah seorang penulis.”
(kalau gak salah quote ini ada di Letters to a Young Poet karya Rainer Maria Rilke)

Seperti judulnya, jika kamu berharap tulisan saya kali ini bagus, pendek, ringkas, simple, dan bermanfaat, maka saya ucapkan “selamat menyesal!”

Kalau bukan karena melihat blog http://nidyarestulestari.blogspot.com/ adik kelas di SMA dulu, barangkali saya akan keukeuh untuk terus menulis tanpa diselesaikan dan lalu menyimpannya begitu saja dalam folder D komputer. Sambil bermimpi jika pecahan-pecahan tulisan itu menjadi sebuah bundelan tulisan yang menyenangkan pembacanya. Persetan jika dari 2010 sampai saat ini saya adalah blogger yang malas, setengah hati, dan tidak punya banyak pembaca.

Belakangn ini saya merasa tidak ada yang benar-benar ingin saya tulis dan selesaikan. Akhir-akhir ini banyak yang saya kerjatuliskan dan tak pernah tuntas. Kecuali jurnal harian yang mencatat keluhkesah manusiawi saya yang tidak mungkin saya ejawantahkan dalam kolom-kolom status media sosial. Ya masa iya kalau saya sedang kangen seorang gadis -yang bahkan saya tidak pernah bercakap-cakap dengannya langsung lebih dari 5 menit- mau di posting di kolom twit dan status? Kan gak macho.

Apa yang saya maksud tidak ada yang bisa saya tuliskan barangkali bukan karena tidak ada inspirasi, ide, atau waktu luang. Tapi belakangan ini, waktu, bagi saya rasa-rasanya benar-bear membuatku berfikir... waktu adalah uang. Materialis. Tapi ya nampaknya begitulah seperti yang seharusnya berjalan. Saat ini saya sudah belajar tidak bergantung pada supply uang jajan dari orang tua, saya juga sudah tidak lagi menghonor dari pekerjaan mengajar dan membimbing ekskur. Artinya keseharian saya bergantung pada apa yang saya dan teman-teman saya lakukan di PEDES.

Saya mulai pragmatis, realistis... dan hey, menjadi materialistis kadang-kadang memang perlu dan manusiawi. Kami punya tanggungan biaya sewa tempat produksi, jadwal deadline, rancangan strategi, dan kami semua adalah pebisnis amatiran dan pekerja yang malas. Maka kesemua ini sudah seharusnya membangunkan setiap pagi kami dengan “Hari ini selesaikan deadline, lakukan strategi baru, taat jadwal bayaran, ingat-ingat tagihan sewa.”

Berat?

Ya!

Bisa?

Gak tahu! Sebab saya gak mau sok-sok-an bilang “ya saya pasti bisa” karena mungkin saja saya tidak bisa. Tapi, apakah kami semu di PEDES bisa? Ya... kalau... nah, saya menjadi apatis dan agak pesimistis. Saya tidak heran. Barangkali inilah yang disebut realistis, saya menjadi sedikit optimistis dan percaya diri tapi juga pesimistis dan banyak keragu-raguan. Dan sebagai haiahnya saya mungkin  tidak akan terjebak pada kata-kata "sukses" yang indah, tapi utopis, ta’ammuliy, dan sia-sia.

Setelah semua siklus ini mulai masuk akal, barangkali hidup adalah soal menyelesaikan masalah yang kita buat sendiri.
Tapi perasaan yang begini tidak seperti dulu; saat mimpi saya sangat tinggi dan penuh cita-cita. Dulu,  tidur dan bangun semaunya, asal 3 jam dalam sehari di senin-rabu hari aku masuk kelas lalu sisanya kamis-sabtu kuliah. Setelah itu aku cuma menulis, main ke kost-an teman di Bandung, karawang, atau Jakarta. Ke toko buku, ikut seminar-seminar penulisan gratis, kadang seminar bisnis,  dan hal-hal yang tidak menghasilkan uang lainnya. 

Sekarang ke Bandung untuk beli bahan baku pin, gantunga kunci, mug, Kertas, peralatan sablon, dan lain-lain. ke Jakarta hunting bahan kaos dan lain-lain. Ah,  padahal sudah sejak lama jika saya teringat Jakarta -yang membuat saya selalu takut menyebrang jalan itu- saya mendambakan TIM dan Jl. Salihara sebagai tempat wajib di Jakarta yang saya ingin kunjungi.
 
Ada banyak tema yang blogger-blogger lain tulis dalam masa-masa sekarang. Seperti ISIS dan Pilpres misalnya. Di zaman ini memang tidak ada yang bisa disebut “tidak ada bahan dan motivasi menulis”. Lomba menulis kian banyak, media pemberitaan mudah diakses, isu-isu populer terus bergulir dan ramai, dan seluruh blogger dan netizen umumnya selalu mengambil bagian dengan opini dan lainnya.

Saya menjadi pelupa, mungkin terlalu banyak yang dipikirkan, mungkin jadwal istirahat dan makan saya kacau, mungkin saja karena kebiasaan merokok saya membuat saya begitu pelupa. Kadang saking pelupanya saya sering lupa di mana saya naruh rokok yang baru saja saya bakar. Ini buruk. Ngomong-ngomong soal kebiasaan merokok, belakangan ini saya merokok lebih ganas. Meski begitu belakang ini saya mulai belajar mengatasi kecanduan saya dengan membeli rokok dengan cara ngeteng atau batangan, dengan begitu saya mengurangi konsumsi rokok saya. Belum lagi kadang-kadang gambar di bungkus rokok itu membuat saya tidak mau menyambung satu batang ke batang yang lain. Dan, Kawan, saya sedang berusaha.

Bahkan terhitung sejak malam tadi saya sedang dalam memelajari produk Vaporizer untuk beralih dari kebiasaan merokok tembakau ke sejenis  rokok elektrik yang lebih aman. Katanya lebih aman dari rokok tembakau. Dan soal ini benarlah seperti yang dibilang Shitliciuos bahwa kebiasaan merokok bukan soal asap, tapi oral behaviournya. Saya mungkin bisa berhenti dengan asap, tapi kebiasan mulut saya menghisap rokok sulit digantikan; bahkan kalau diganti dengan permen. Karena saya punya gaya makan permen yang ndeso: dengan benar-benar memakannya.

Kalau juga bukan karena tulisan Maulana Abd Aziz yang panjang kemarin saya akan tetap bertahan tidak menulis di blog ini. Banyak rencana marketing saya untuk PEDES yang menghadapi masa-masa Hari Ulang Tahun Purwakarta. Belum lagi tuntutan klien yang musti dipenuhi... dan itu semua lagi-lagi soal uang. 

Sial memang jika segala hal tentang waktu harus soal uang.

Kabar baiknya... saat ini adalah hari Minggu, masing-masing kami harus meliburkan diri. Mungkin bang Ibnu sedang ngajak jalan gadis yang dia dapatkan nomernya semalam saat kami jalan-jalan. Adit juga mungkin sedang membuat janji kencan, karena hampir tiap malam teleponan dan suka mengata-ngatai saya “Mending LDR-an, setidaknya bisa sayang-sayangan di telepon.” Kampret!

Sendol juga mungkin sedang mencoba mencari pacar baru atau balikan lagi dengan mantannya, atau main PES sampai kurus. Ryan latihan Tae Kwon Do, dan Rayyan masih betah dengan Smartphone barunya. Dia juga sudah berhenti total merokok, entah untuk berapa lama. Sedang saya, apa boleh buat, tidak punya jadwal kencan, maka saya berniat menyelesaikan tulisan yang sia-sia dan nirmanfaat ini.

Jam 11 : 59. Baru sampai 2 halaman, dan saya tidak merencanakan akan jadi berapa halaman jika tulisan sia-sia ini selesai. Sebagai gantinya 2 gelas kopi, dan 4 batang rokok yang saya beli mengecer tadi tandas. Saya harus makan siang+sarapan sekarang.

Kalau begitu saya harus benar-benar menamatkannya sekarang. 

Tidak ada kata-kata baik yang ingin saya tuliskan sekarang. Kamu tahu kenapa? Karena saya tidak begitu mood membuat kata-kata penyemangat jika memang tanpa semangatpun (seperti yang Aziz bilang) hidup terlalu indah untuk tidak disyukuri. 

Persetan juga dengan struktur ideal tulisan. Kita semua memang cuma sering terlalu sok pintar dan sok idealis untuk mengenali berbagai hal yang merentang di hadapan kita sendiri. Termasuk perihal tulis-menulis, atau hidup itu sendiri.

Sudah menyesal membaca tulisan ini? Selamat!

1 comment:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...