02 September 2014

Sesuatu Yang Sederhana Tentang Jihad



Aku suka pada mereka yang berani hidup
(Chairil Anwar)

Masuk surga lebih mudah daripada mendamaikan Palestina-Israel. Gitu katanya di suatu artikel koran yang sengaja saya lupakan, karena memang saya pelupa. Statemen ini sejujurnya mengguncangkan saya. Serius. Sampai pada akhirnya saya terpaksa mengakui bahwa dari banyaknya jumlah peperangan yang ada di muka bumi ini; hampir selalu dengan latar belakang yang sama: agama.

Kemarin, saat Ramadhan. Waktu sedang ramai-ramainya serangan Israel ke Gaza (lagi). Teman saya si Abang entah bercanda atau serius sering bilang...

A, tolong cariin link ke Palestina lah... gue pengen perang nih. Pengen nusuk ubun-ubun tentara Israel.”

Dia berulangkali bilang gitu. Dan tiap kali itu terjadi saya cuma senyum-senyum saja. Karena merasa geli dengan pikirannya menusuk ubun-ubun tentara Israel. Itu menggelikan. Kenapa gak pake pistol aja? Kan lebih hemat waktu dan efisien. Tentara Israel kan pake kevlar? Iyaudah sih nyewa snipper. Beres.

Sampai kemudian habis subuh, kami bersiap tidur. Dia memutar musik, lalu saya cerita-cerita. Hitung-hitung dongengan sebelum tidur-lah.

Bang, saya punya cerita. Mau dengar?

Iya A, mau.

Suatu hari... seorang pemuda datang pada Nabi Saw. Nabi yang sangat tampan dan pemberani. Abang tahu itu nabi siapa?

Nabi Muhammad, A

Benar sekali! Abang mau tahu kelanjutan ceritanya?

“Mau, A.”

Abang memang kadang-kadang selalu pandai membuat momen yang weird begini  jadi begitu menyenangkan.

Lampu dimatikan sejak tadi. Kamar kosan menjadi gelap karenanya. Memet dan Ryan sudah ngorok. Bukan karena lampu sudah mati, tapi karena main PES semalam suntuk sampai sahur dan subuh.

Lalu di dalam kegelapan yang demikian perlahan-lahan saya menyentuh punggung si Abang, pelan-pelan sekali. Seperti mengelus-ngelus sesuatu yang ah gitu lah pokoknya.

Geli, A. Gitu dia bilang. 

Lalu saya berhenti bertindak seperti itu. Hahaha.

“Nah... si pemuda tadi namanya Bang Ibnu,” lanjutku.

“Iya, A. Keren A. Kayak nama saya A.”

Percaya aja dia kalau saya ngasal aja soal nama itu. Lagipula Ibnu itu kan artinya “anak lelaki” saya kan gak bohong jadinya.

“Dia bilang pada Nabi: Yaa Nabi, ijinkan saya ikut berperang dengan Engkau.

Nabi melihatnya. Si Ibnu masih muda belia. Dan Nabi Saw. adalah manusia paliiing bijaksana sedunia.

Begitu bilang saya. Eh, si Abang malah percaya aja saya bilangi begitu. Ya, iya abang kan anak yang soleh.

“Terus... coba tebak bang... Rosul nyuruh apa ke Si Ibnu yang muda dan pemberani itu...”

“Apa tuh A”

“Sana... mention ibumu! Bilang kalau kamu pengen pacar”

“Ah masa A?”

“Ya gak lah! Rosul bilang... kamu masih punya Ibu?”

“Ya, masih.” 

"Beliau bersabda: Hendaklah engkau tetap berbakti kepadanya, karena sesungguhnya surga itu di bawah kedua kakinya.”

Sederhana. Tapi tidak seperti kelihatannya.



***

Seperti halnya saya juga, haqqulyaqin pastilah yang lain memikirkan hal yang sama seperti yang Abang pikirkan.

Entah karena seperti melihat shortcut menuju Surga atau barangkali karena hidup ini begitu payah dan menjenuhkan. Nah, justru disinilah hal yang paling saya khawatirkan tentang keinginan berperang  (yang katanya adalah Jihad) di Palestina itu. Eskapisme: sikap frustasi pada hidup, ketakutan pada hidup, atau yang lebih buruk dari itu legitimasi pada laku kekerasan. Duh, ya Rabb.

Menurutku perang hari ini sudah ahmpir tidak jelas lagi. Serba blur. Apa memperjuangkan apa. Apa mencita-citakan apa. Tapi yang jelas tidak ada yang berniat berhenti. 

Sampai kemudian saya hanya ingin berkesimpulan dengan sederhana dari segala kesaruan itu. Perang adalah satu hal. Tetapi jihad, barangkali adalah hal yang lain. Hal yang lebih luas dari sekadar perang fisik, perang darah, atau perang perasaan.



Dan saya mulai curiga, jangan-jangan jihad kita yang seharusnya adalah: menghentikan perang.

Gitu.


***

Toh kita sekarang masih sama saja rupanya. Gitu-gitu aja sampai sekarang. Masih duduk lenjeh-lenjeh sampil nge-ping sana nge-ping sini.  Berharap dapat pacar karenanya. Padahal adek-adekan aja gak dapet-dapet.

Palestina, Suriah, dan tempat-tempat lainnya di Irak masih penuh dengan perang saudara. Dan kita gak tahu mau gimana lagi. Selain mengganti DP/Ava/ PM dengan #PrayForGaza, ikut sumbang dana, atau mencantumkan kesedihan dalam doa.

Atau sekarang sedang adem ayem, nunggu hashtag #prayforgaza #prayforsuriah etc jadi trending topic lagi. Untuk kemudian kita semua berjamaah mengulang perbuatan yang sama: ganti AVA atau DP.


Udahlah, saya sedang lapar. Sebagai penutup saya mau kutipkan ini aja: WAR IS OVER! IF YOU WANT IT. John Lennon & Yoko





Catatan:

Oh iya... ini hadits lengkapnya. Hadits yang saya ceritakan pada Abang.

Dari Mu’wiyah bin Jahimah as-Salami bahwasanya Jahimah pernah datang menemui Nabi shallallahu alaihi wasallam lalu berkata: Wahai Rasulullah, aku ingin pergi jihad, dan sungguh aku datang kepadamu untuk meminta pendapatmu. Beliau berkata: “Apakah engkau masih mempunyai ibu?” Ia menjawab: Ya, masih. Beliau bersabda: “Hendaklah engkau tetap berbakti kepadanya, karena sesungguhnya surga itu di bawah kedua kakinya.”

Di sebelah kiri saya itulah si Abang. Kami panggil dia begitu
karena kami malu memanggilnya Mbak.
Nge-blog di http://emgelap.blogspot.com/

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...