07 October 2014

Cinta Bertepuk Sebelah Tangan


a.

Maka di sinilah saya, mendengar radio dan merasa harus manulis sesuatu setelah membaca sesuatu dari Marmut Merah Jambu, bukunya Raditya Dika yang menurut saya sudah luntur rasa humornya.
Dia menulis sesuatu yang menampar saya terkait Cinta Bertepuk Sebelah Tangan, untuk selanjutnya kita singkat saja dengan CBST.

Katanya, CBST adalah ketika kau merasakan rasa inferior dan krisis kepercayaan diri yang luar biasa. Hal ini ditandai dengan perasaan betapa jauhnya kamu dari kepantasan untuknya. Itu jleb se-ka-li. Maka saya bangun dari selonjoran saya. Berpikir sungguh-sungguh. Merefleksikan tahun-tahun dalam hidup yang telah saya lewati.

Jika Radit berbicara cinta bertepuk sebelah tangan hanya sebagai seorang remaja yang tak pernah berani menmgungkapkan perasaannya, atau seseorang yang mengungkapkan perasaannya pada seseorang yang sudah pasti menolaknya (Ah kamu pasti ngerti maksudku). 

Tapi bukan itu yang ingin saya bicarakan. Lagipula merasa ditolak seorang gadis yang saya sukai, bukanlah hal yang baru bagi saya, juga bukan hal yang terlalu penting untuk saya bicarakan saat ini.
Kali ini saya membawa istilah CBST ini pada ruang lingkup yang lebih besar: hidup. Saya adalah orang yang sangat suka membicarakan mimpi-mimpi saya yang besar dan muluk-muluk. Tanyakan Aziz, tanyakan Rian, dan tanyakan Kang Rudi. Mereka pasti diam-diam sudah menggelari saya dengan The Bullshit Man. Hahaha.

Seperti orang cerewet kebanyakan saya terlalu percaya diri juga terlalu sok tahu dengan apa-apa yang saya bicarakan dan saya pikirkan. Tetapi Rian, salah satu teman saya selalu mengatakan, itu keren Rid…  pada setiap celotehan yang saya bicarakan dalam keadaan mabuk bajigur.

Sesekali saya bertanya “Yan, bukankah saya terlalu berlebihan?” dia malah mengutip quote yang sering saya kutipkan untuknya “Rid, kan kamu yang bilang, bermimpilah setingi langit, toh, kalaupun cuma kesampaian setinggi gunung. Itu udah uyuhan”. Lalu saya merasa ingin bunuh diri karena pernah menelikung quote yang bagus menjadi seperti itu bunyinya.


b.

Kemarin beberapa teman yang baik main ke Purwakarta. Saya selalu senang ketemu mereka, walaupun mungkin mereka tidak begitu senang ketemu saya.

Ada Agus, Rafidah, dan Zia. Agus datang dengan kabar baik, ia bertanya-tanya detail jasa kami: bikin kaos untuk OSPEK. Faridah datang dengan buah tangan yang enak, semacam pizza tanpa nama. Sementara Zia datang dengan banyak cerita. Sampai kemudian diantara banyak ceritanya yang bagus seperti dia dan pacarnya membuat ulah di kampus dan ketertarikannya yang intens dengan karya-karya  Pramoedya  A Toer, dia bilang dia pernah  hampir bunuh diri. Saya tidak heran dan heran sekaligus. Lah?

Saya heran, karena yang saya tahu tentang dia adalah: dia punya banyak teman yang sayang sama dia. Dia punya pacar yang serius dengan hidup dan masa depan akan hubungan mereka. Dan dia adalah orang yang amanah dan dipercayai banyak orang. Ya, dia punya banyak teman yang sayang sama dia.

Ketidakheranan saya selain menyimpulkan caranya menulis puisi adalah hal yang umum terkait kondisi psikis manusia (Anjreeet!).

Memang saja setiap kita selalu punya masa hidup yang benar-benar membuat kita merasa tidak penting untuk berada di antara lautan bintang dan galaksi. Merasa kerdil dan tidak penting (inferior).
Ya, kamu boleh menyebut keadaan ini dengan CBST, di mana segala hal yang kamu lihat dalam hidupmu tidak berjalan seperti yang kamu mau. Lalu kamu merasa seolah semesta saling bekerja sama untuk membuatmu ingin hilang dari apapun yang kamu tahu. Kupikir kamu pasti tahu maksudku, walaupun aku gak ngerti-ngerti banget. 

“Zi, waktu saya masih mesantren di Sragen dulu, ada sebuah peraturan aneh yang tercantum dalam buku besar peraturan di Pesantren kami… bunyinya: Para santri dilarang keras berharap pada selain Allah….”

Wajahnya datar. Saya juga. Tapi kita paham apa itu artinya. Kita sepakat.

“Peraturan yang aneh, tapi itu benar.” Lalu saya melanjutkannya dengan pembicaraan tentang hidup, harapan, dan kekecewaan. Tapi tidak sedramatis tokoh dalam cerpennya Dewi Lestari “Semangkok Acar untuk Tuhan dan Cinta”.

Tapi seperti biasa saya hanya pandai menceritakan cerita yang sudah diceritakan. Lalu bagaimana saya melihat diri saya dalam kondisi itu. Kondisi yang juga saya dapati sedang dalam diri saya saat ini.

Sekali lagi ini bukan persoalan asmara. Ini persoalan CBST dalam pandangan yang lebih luas.
Saya sudah sampai di bulan ke tujuh dalam merintis usaha. Keadaan usaha/bisnis kami rasanya lebih membaik dari bulan-bulan sebelumnya. Tapi ada sesuatu yang tidak bisa saya bicarakan di sini… sesuatu yang membuat saya berpikir, jangan-jangan saya tidak pantas berada di sini. Sangat inferior.
Saya melihat kenyataan berjalan jauh dari rencana saya. Saya tidak tahu apa artinya itu ‘jauh-dari-rencana’. Apakah itu berarti jauh lebih dekat dengan rencana utamanya, atau benar-benar sangat jauh secara harfiyah.

Ibu saya blak-blakan soal kesibukan saya yang menurutnya tak menghasilkan apapun dalam diri saya. Saya sampai dongkodan bertanya

“Apa barometernya ‘menghasilkan’?” Tanya saya kesal.
“Ya apalagi kalau bukan uang? Masa mau beli celana jeans aja minta ke Ibu?”

Saya kesal. Celana jeans saya sudah kusam, dan saya cuma punya dua. Saya juga kesal buku yang saya idam-idamkan harganya masih mahal. Rasanya saya ingin menangis. Bukan karena dua hal itu, tapi karena Ibu saya bilang kesibukan saya tidak menghasilkan. 

Saya tahu sejak awal ibu dan bapak saya selalu ingin saya menjadi mu’allim di kelas Tahfidz, sekaligus mahasiswa yang tekun.

Tapi permaslahan itu ada pada saya. Saya sedang suka melakukan sesuatu yang saat ini saya lakukan. Tidak cukup legakah beliau-beliau ini jika saya senang dengan apa yang saya lakukan? Tidakkah mereka berpikir jika apa yang saya lakukan saat ini akan menjadi investasi besar di masa depan kami nanti?

Toh saat ini saya tidak membuat bom, saya tidak masuk ISIS, saya tidak ikutan demo-demoan, dan saya (demi Tuhan) tidak punya cita-cita jadi ketua umum partai Demokrat! Bukankah mereka harusnya lega dengan itu?

Saya hanya duduk di depan komputer mengerjakan pesanan desain, mengerjakan pesanan sablonan, bepergian ke luar kota membeli bahan baku, sesekali menulis di blog, sesekali ikutan acara kesenian dan semacamnya. Hidup yang menyenangkan bagi saya, tapi mungkin tidak bagi mereka.

Meski tidak langsung. Saya merasa mereka menolak apa-apa yang saya inginkan dalam hidup saya. Saya tahu pikiran seperti ini sangat egois. Tapi sekali ini saja. Dalam alenia ini saja, ijinkan saya egois.


b.

Konklusi saya adalah, CBST adalah penolakan. 

Dan manusia waras mana yang suka ditolak?

Lalu sisi lain saya bilang. Ada! Orang-orang besar! Orang-orang yang lebih agung dari penolakan. Orang-orang yang berbeda dari kebanyakan! Orang-orang yang dikira 'gila' padahal sangat waras di antara orang-orang yang pura-pura waras! Orang-orang yang berani memeluk rasa takutnya! Orang-orang yang menambal sisi buruknya dengan sisi baiknya! 

Nuh dengan ide Bahtera di atas Gunung! Muhammad dengan buta-hurufnya! Musa dengan lidah cadelnya! Ibrohim dengan kapaknya! Daud dengan katapelnya!

Daaan Kamu! Farid! 

Dengan kejombloannya? 

(Bolehlah!)

Aaaah! Menyebalkan sekali mengetahui ada sisi lain saya yang bijaksana dan penuh semangat. Saya benci sisi mario-teguh saya yang penuh dengan omong kosong motivasi ini. 

Dan kamu, siapapun kamu yang telah membuang-buang waktu untuk membaca tulisanku ini. Apa kamu sebal dengan sifat sok tegarmu sendiri? Kalau iya, ayo kita berjabat tangan. Lalu dengan kondisi semabuk-mabuknya kita berteriak dengan lantang.

“Makasih Tuhan! Walaupun engkau ciptakan dalam diri kami sisi motivator, yang kami benci sekaligus yang kami butuhkaaaaaaaan!”

Okey! Sekarang saya merasa agak baikan. Saya akan datangi orang-orang yang saya pikir akan membantu visi saya jauh lebih mudah dilihat. Saya akan bicara pada mereka. Pada orangtua saya juga. Seperti yang sudah-sudah, mungkin saya akan gagal, mungkin juga saya akan berhasil. Siapa peduli? Berhasil atau tidak, bukanlah urusan saya saat ini!

Oya! Saya akan telepon kamu dan bilang “Assalamualaikum. Saya Ahmad Farid, suka kamu. Saya suka percakapan-percakapan tak berguna kita di social media” lalu saya tutup telepon itu dengan salam terlebih dulu. Sopan kan?
Read more ...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...