30 December 2014

ADAKAH YANG LEBIH LUCU DARI PERASAAN MANUSIA?

Add caption



Di suatu dialog dalam film The Invisible Woman yang mengisahkan Charles Dickens, si tokoh bilang Life is nothing  without friends. Tapi di salah satu bukunya dia bilang "Dengan siapapun kita bersama, sejatinya kita tetaplah sendirian." Disinilah saya baru mulai peka merasakan sisi humor Charles Dickens; seperti yang orang-orang bilang.

Kemarin saya ke Bandung. Seorang teman punya keperluan. Aku sudah sejak lama tidak ke sini. Maka sejak pagi tadi dengan semangat saya menyegerakan diri untuk mandi (sesuatu yang jarang saya lakukan). Kemudian ngambil uang di ATM, dan turut serta dengan teman-teman yang lain yang kebetulan akan ke Bandung juga. 

Saya sampai ke Ledeng. Setelah saya menunaikan keperluan saya dengan seeorang (yang saat ini tidak sehat dan mendadak menjadi membosankan) saya pun berniat untuk segera pulang. Tapi di tengah jalan, saya bertemu Ihas, teman yang lain. Orangnya baik, pintar, sopan dan cantik. Saat itu terlihat anggun dengan switer abu misty bertuliskan Kompas Kampus. Benar-benar menampilkan sisi kecerdasan dan sisi njurnal-nya. Buat saya, itu mempesona.

Pertemuan tak disengaja ini membuat saya senang sekali. Entah apa alasannya, saya tidak mau langsung pulang. Saya ingin sekali bicara banyak hal denganya, mendengar cerita-ceritanya, buku-buku yang dia baca, dan hal-hal lainnya. Seperti beberapa waktu yang lalu-lalu.

Setelah saya memastikan apakah dia sedang luang, dan dia bilang cuma menyerahkan tugas. Saya pun menunggu di depan kampusnya. Tapi keadaan tampaknya tidak bisa seperti yang saya harapkan sebelumnya. Bagaimana tidak, dia sudah membuat saya menunggu sampai Dzuhur.

Setelah Dzuhur pun saya tidak diberitahu apa dia sudah selesai atau belum dengan urusannya. Saya menunggu lagi. Saya duduk di trotoar. Hape tidak bisa diajak main. Ingin mencatat jurnal di pinggir jalan merasa rikuh. Membaca buku juga tidak mungkin, karena rikuh juga. 

Saya dijangkiti rasa bosan setelah dua jam duduk di depan jalan, tanpa kepastian. Lalu saya pindah ke taman kampus. Di taman kampus yang banyak pohon-pohonnya (mungkin nama taman itu Bareti atau apalah...) pohon-pohon merimbun. Hawa sejuk berhembus, benar-benar taman yang enak dilihat. 

"Asyik ya tamannya" begitu basa-basi saya kepada seorang laki-laki di sebelah saya yang saya pinjami koreknya.

Ah, biasa aja, katanya. Kata dia yang dengan sangat mantap mengenalkan diri dengan nama Yanu, berkeyakinan Atheis, semester 5 jurusan sejarah, dan merokok Sampoerna Mild. Saya mendengar nada bicara yang antusias dan sinis sekaligus.

Tak lama kemudian Yanu ini pergi begitu saja dengan pertanyaan dan komentar. Kamu pernah pernah ketemu orang atheis? Tanyanya. Saya bengong. Hari ini kamu beruntung, Rid. Ia melanjutkan.

Sialan kau Yanu! Saya baru saja ketemu sahabat saya yang saat ini menjadi tidak asik setelah punya pacar. Lalu sahabat saya satunya lagi yang  sudah saya tunggu sejak 3 jam-an yang lalu sedang berada 200 meter dari mata saya. Sibuk dengan berkas-berkas beasiswa, padahal dia bilang dia tidak punya kegiatan hari ini selain setoran tugas. Bagaimana mungkin itu sebanding dengan pertemuan dan dialog singkat dengan orang atheis yang sinis kayak kamu?

Okelah Bung Yanu. Salam sama Darwin, Marx, Lenin, dan ateis-ateis lainnya. Aku kagum dengan orang-orang kayak kalian. Btw biar aku kutipkan untukmu apa yang Chairil Anwar bilang "aku kagum pada mereka yang berani hidup" Begitulah aku membatin.

Lalu aku merokok  sebatang lagi. 200 meter di tempat yang terbuka untuk saya saling melihat dengan Ihas. Ihas seperti masih serius di tempatnya duduk. Saya bingung musti gimana, lalu saya mencatat sesuatu di jurnal saya. Kemudian bosan. Kemudian menyalakan rokok, kemudian bosan. Kemudian membaca buku, kemudian bosan. Kemudian saya berdiri. Bersiap pulang. Karena bosan juga. 

Saya kian sadar. Implikasi rasa bosan itu ternyata cuma merasa sendirian dan terasing. Memang tidak enak. Entah sudah berapa jam saya melakukan kegiatan-bosan-kegiatan-bosan-kegiatan-bosan tersebut. Tapi dari kejauhan saya merasa Ihas tidak begitu tertarik untuk mendatangi saya atau menyisihkan waktu dengan orang seperti saya. Setelah beberapa menit, saya berdiri memantapkan posisi tas dan jaket. Lalu saya berniat berputar arah. Langsung pulang. Tetapi saya khawatir itu akan menjadi tindakan tidak sopan. 

Demi kesopanan saya memendam segala macam dongkol saya. lalu mendatangi Ihas yang tampak sibuk. Kira-kira beberapa meter sebelum sampai, dia sudah berdiri. Mau ke fakultas, lagi nih... katanya. 

"Oke saya pamit, Has." Aku sahut aja gitu.

Dia berdadah-dadah ria dengan tangannya. Lalu sebagai pelengkap untuk melupakan kekesalan dan menampakkan kesopanan saya, saya melontarkan joke. Kamu pernah ketemu atheis?

Kenapa? Kamu atheis? Begitu jawabnya. Ah, Ihas selalu punya selera joke yang asyik. Saya jadi sungkan karena sudah kesal dengan perempuan manis yang punya selera humor bagus.

Tapi saya tetap pulang. Tempat ini benar-benar terasa sangat dingin. Saya membawa gigilnya di perjalanan. Terasa seperti beban-beban kekecewaan. Berat. Saya merasa dia menjaga jarak dari saya. Dan saya merasa sedang dijauhi. Untuk dua alasan yang juga saya tidak tahu apa pastinya inilah; saya merasa kekecewaan saya beralasan. 

Masih UPI yang sama. Gedung-gedung bertambah banyak. Penataan spanduk dan reklame semakin baik. Ada juga semacam tempat naruh bendera-bendera gitu. Kampus ini kian lama kian bagus dan serius.

Barangkali begitulah waktu. Sangat lesat melaju. Dan segala hal yang berada dalam ruang lingkupnya seperti ikut dibawa serta. Nampaknya begitu juga yang terjadi dengan orang-orang yang saya kenal. Waktu telah membawa mereka kian dewasa dan lebih terarah hidupnya. Tapi saya, mungkin tidak seperti siapapun, waktu terus berlalu dan saya tidak ke mana-mana. Tidak dibawanya serta.

Seperi yang ibu saya bilang, saya tidak jauh beda dari Ahmad, adik lelaki saya yang baru kelas 6 SD. Kekanak-kanakan --karena pulang ke rumah pakai celana pendek yang digunting begitu saja.

Ah, seandainya saja hari ini saya tidak ambil pusing dengan kekecewaan dan prasangka saya. Mungkin saya tidak akan terlalu dongkol, lalu ketiduran dan kesasar sampai ke Cikampek. Seandainya saya tidak kesasar ke Cikampek saya tidak perlu menyewa ojek seharga 40 ribu. Seandainya saja saya tidak menyewa ojek sudah barang tentu saya tidak perlu pulang ke rumah pakai celana pendek. 

Kalau saya tidak pulang, sudah barang tentu saya tidak perlu dimarahi ibu karena pake celana pendek. Kayak tukang bangunan.

"Tukang bangunan aja sekarang bergaya. Kamu mah Parid, kayak jelema nu gelo." Kata ibu saya menyempurnakan kesewotannya. Lalu Aini dan Diyah ikut ketawa. Saya juga. Dan dalam gelap malam tersebut. Di depan gerbang rumah kami. Aku melihat Ibu juga ketawa menyusul kami.

Ya Ampun hidup. Aku senang, Ibu, Aini, dan Diyah bisa ketawa dengan kekonyolan Aa-nya.

jadi inget lukisan Affandi dengan judul "tamparlah Aku Ma!" hanya karena dia kangen diomelin ibunya. Oh aku lupa kalau hari ini sedang ngambek ke Ihas dan Fau.

Lalu demi agar Bapak tidak melihat saya dengan celana pendek, ibu mengusir saya dari rumah. Ah aku-pun ke Pedes, ketemu Adit dan jomblo-jomblo jorok lainnya. Membakar ikan. Nonton film, main Stronghold Crussader, membicarakan siswi-siswi sma, dan bangun kesiangan. Ah, senangnya.

Untuk Ihas, dan Fau saya gak marah sama kamu-kamu. Dan kalaupun kamu membaca ini, jangan percaya kalau saya sedang menuliskan kalian berdua. Ini abad media sosial, abad prasangka, abad kecurigaan. Kalau mau tetap hidup bahagia; jangan sering stalking, apalagi ambil pusing. Gud lak buat bea siswa-nya Has. Gud lak buat lpj-nya Fau. Makasih udah bilang berhentilah merokok kalau mau gampang jodoh. Saya akan pertimbangkan itu.

2 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Daebak.

    "Kalau mau tetap hidup bahagia; jangan sering stalking, apalagi ambil pusing."

    "berhentilah merokok kalau mau gampang jodoh."

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...