25 December 2014

Oh Sayangku, Indonesia



Adapun apa keinginanku? Indonesia santun politiknya, adil ekonominya, tegak hukumnya, indah kebudayaannya — sehingga berhak tidur sambil beranak-pinak. (Al-Mu’allim Syarwan. Muhammad Ainun Nadjib)

Bismillahirrohmanirrohim. Setelah habis shalat isya saya menghadap monitor komputer. Tidak, saya tidak nyembah monitor. Saya sedang stalking. Berusaha melihat dan merasakan gambaran-gambaran besar kondisi psikis, kesehatan, dan emosi paling dalam dari Kekasih saya yang cantik: Indonesia di sebuah lcd monitor computer selebar 9 x 6 Inci.

Maka seperti stalker lainnya, saya menjadi rentan galau. Hati saya teraduk-aduk. Dari konten ke konten di Internet, mata saya jelalatan, pikiran saya berloncatan, dan kondisi perasaan saya berubah-ubah. Saya bisa senang dan berbangga dengan prestasi timnas U-19, atau menertawakan lawakan-lawakan cak Lontong, lalu kadang geram dengan FPI, dan geleng-geleng kepala dengan palu-ketuk yang masih pingin main sembunyi-sembunyian, di antara orang-orang serius di gedung DPR. Palu yang tidak dewasa, mirip dengan kita. Tidak cukup dewasa untuk memahami hidup bernegara dan berdemokrasi. Uh!

Seperti stalker lainnya pula. Dengan perasaan was-was saya terus-terusan memikirkan relationship saya dengan Indonesia. Setelah sebelumnya saya lelah memikirkan seorang gadis sunguhan yang bahkan tidak mau disapa di twitter atau di fesbuk-nya. Ah, lupakan.
 
Saya percaya, apa pun profesi, status sosial, dan jenis keimanan saya. Saya tercatat dalam Akte Kelahiran, Kartu Tanda Penduduk, dan Kartu Keluarga, sebagai warga Indonesia. Warga Indonesia dan keturunan Nabiyulloh Adam yang selain belajar ngaji, desain grafis, dan (secara otodidak) mempelajari ilmu menaklukkan hati perempuan; saya juga belajar dan memahami dan mengimplemenatsikan UUD 45. Sedikit demi sedikit.

Hasil konkritnya di usia 23 tahun, saya belum pernah ditilang sama polisi lalu lintas karena tidak punya SIM. Kalau karena helm sih pernah, kenanya 100.000-. Atau ngebayarin temen karena lampunya gak nyala juga pernah. Kenanya 50.000,- tapi selain dari itu saya merasa tidak pernah melanggar hukum yang lain. Kecuali kalau suka sama si dia itu melanggar hukum. Oiya, saya pernah membuka soal ujian (dokumen rahasia Negara) juga. Maapin saya, Indonesia.

Maka saya yang tercatat sebagai warga Negara Indonesia secara administratif ini sudah berhak mengklaim, bahwa saya dengan Indonesia masih dalam status inrelationship. Persis kayak user facebook yang in-relationship. Sip! Gitulah pokoknya. Kamu mah pasti ngerti lah.


***

“Kalau saya tanya apa kabar Indonesia, apa jawabmu Kang Rud?”
 
“Rawan.”
Lalu saya gak nanya macam-macam. Kami sepakat bahwa ada banyak cara untuk menjadi kelihatan bodoh. Salah satunya adalah mudah percaya begitu saja dengan huru-hara apa pun di media sosial, media cetak, atau media elektronik. Meski pada akhirnya itu semua lah yang merupakan satu-satunya jembatan relationship antara kita dengan sesuatu yang sangat seksi dan kita cintai: Indonesia. Sulit kan?

Indonesia terlalu penting bagi saya. Mungkin bagi kamu juga penting. Tapi apa? Penting apanya? Penting di sebelah mananya?

Penting untuk merasa tentram, penting untuk merasa aman, penting untuk merasa dipandang penting. Seperti relationship-realtionship romantis yang lain.
Lalu apa?

Kan saya bingung. (saya berhenti melanjutkannya, kemudian meng-capture dan mengunggah halaman word ini ke facebook)

(3 Jam kemudian)
 
Maka dengan posisi yang nyaman (duduk sambil bbm-an)  saya teringat kembali apa yang John F Kennedy bilang soal hidup berbangsa dan bernegara “Jangan tanyakan apa yang telah Negara buat untukmu, tapi tanyakanlah apa yang kamu buat untuk negaramu”
 
Seperti Naruto saja; sayapun masuk dalam Mode Sage. Semacam Mode Kontemplasi gitu lah.
 
Bercermin pada apa yang diucapkan John F Kennedy. Dengan alasan apa pun kita sudah seharusnya mampu bertanya pada hati masing-masing, apakah dalam keluh kesah kita tentang relationship kita dengan Indonesia, kita telah melakukan kewajiban kita sebagai warga negara Indonesia yang baik?
 
Jika kita belum juga mampu menanyakannya. Jangan-jangan hubungan kita dengan Indonesia cuma hubungan main-main saja. Hubungan pura-pura. Hubungan tanpa status (HTS). Cinta monyet. Cinta Syatuh Malamph. Yaelah.

 
***
 
(5 Hari kemudian)

Umumnya hal yang umumnya terjadi ketika menghadapi kegalauan dengan status relationship kita adalah dengan menanyakan kembali pada diri sendiri apakah sesuatu/seseorang tersebut berarti sesuatu yang penting bagi kita?
 
Maka dalam konteks ini. Apakah Indonesia berarti sesuatu bagi kita? (Ah ini mah klise. Pasti jawabannya bakal itu-itu aja. Cik, kata ‘Indonesia’ itu diambil dari bahasa apa? Tahu gak? Gak kan? Sama! Saya juga gak tahu)
 
Apakah PANCASILA berarti sesuatu untuk kita? (Apalagi pertanyaan ini. Cik coba… apa merk mesin ketik yang dipakai ngetik proklamasi sebelum dibacain Bung Karno? Kamu gak tahu kan?)

Maka kita arahkan saja pertanyaan-pertanyaan itu pada hal-hal yang lebih sederhana.
 
Apakah di Indonesia membuang sampah pada tempatnya berarti sesuatu bagi kita?
 
Apakah di Indonesia bertindak hati-hati dan taat hukum saat berkendara berarti sesuatu bagi kita?

Apakah di Indonesia menghormati orang yang berbeda keyakinan berarti sesuatu bagi kita?
 
Apakah di Indonesia menjaga kebersihan fasilitas-fasilitas umum berarti sesuatu bagi kita?
 
Kalau iya, maka seperti relationship-relationship lainnya. Hal-hal yang mengukuhkan status inrelationship kita yang romantis dan indah itu sederhana. Seperti menyelimutkan jaketmu pada tubuhnya yang kedinginan, bertindak melindungi saat kalian menyeberang jalan, menanyakan kabarnya, menceritakan humor-humor yang menyenangkannya. Atau mencuri-curi kesempatan untuk menyuapinya sesendok es krim dari cup eskrimmu. Hal-hal yang kecil tapi besar, remeh tapi penting.
 
Maka seperti relationship-realationship lainnya. Perbuatan-perbuatan kecil yang sederhana tersebutlah yang menjelaskan seberapa penting relationship kita dengan sesuatu atau seseorang bagi kita. Dalam hal ini adalah Indonesia.

 
***
 

Khotimah 
Kemudian habislah masa mode kontemplasi saya. Saya dapati diri saya yang sedang stalking Indonesia, mengamat berita dan yang lain-lain. Oh gaduh sekali. Saya tertinggal berita sangat jauh. Seperti LDR (Long Distance Relationship) atau yang lebih parah dari itu fase LDR kami sepertinya sudah memasuki fase-hubungan-menggantung. Fase di mana hubungan kami memasuki pertanyaan “mau dibawa ke mana hubungan kita?”

Tapi kami optimistis dengan keadaan ini. Saya tetap berusaha untuk tidak merokok di kendaraan umum yang penuh orang. Entah apa kaitannya.

Tapi Cak Nun bilang. Marilah terus-menerus bermudzakarah tentang Kewajiban Asasi Manusia (KAM), setelah kita secara alami hapal Hak Asasi Manusia (HAM). Entah sebagai manusia yang beragama, berbangsa, bermoral, beradab, berbudaya, berperikemanusiaan, atau berpasang-pasangan. *eh.

So, My Honey, Indonesia, what can we do with our relationship?




Ini desain kaos, gimana? Bikin aja kali ya?




1 comment:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...