10 October 2015

Kpd Syekh Maulana: Antara merokok dan membaca



Syaikh maulana. Tiba-tiba saja saya teringat ketika engkau masih di tanah air Indonesia (tanah  tempat kita mengenang seluruh jasa pahlawan dan kasih sayang mantan). Engkau denganku bermesraan dalam sebuah keheningan danau buatan, rasa dingin di Wanayasa, dan sepasang gelas plastik berisi susu hangat. Aku merokok, dan engkau makan Chocolatos. Lalu engkau bertanya padaku tentang sesuatu.

“Masih jomblo, Rid?” Tanyamu. Lalu byur! Saya ceburin engkau ke Situ Wanayasa yang dangkal, berlumpur, dan ada sepanduk gambar Kang Dedi-nya.

“Apa sih enaknya rokok?” Tanyamu. Aku lupa waktu itu jawab apa. Tapi seandainya pertanyaan itu terjadi lagi. Maka atas nama kenangan, kesepian, dan tali kasih sayang sesama ummat Muhammad Saw. ijinkan saya menjawab semampunya. Saat ini juga.

Syaikh Maulana. Pernahkah saya bertanya padamu: Apa sih nikmatnya membaca dan menemukan puisi yang bagus? Tidak kan? Karena selain kita ini sombong, kita sama paham belaka. Bahwa kadar keenakan sesuatu tidak melulu sama dengan enaknya makanan atau selipan adegan panas di film-film box office. Yang bisa menyamakan itu barangkali adalah reaksi kita terhadap hal tersebut.

Misalnya (seringkali) puisi yang bagus menawan kita dalam ke-degdeg-an orang jaruh cinta, pedihnya patah hati, eksait birahi, ektase-ektase transenden, bahkan desperete orang-orang yang ingin bunuh diri.

Apapun yang puisi-bagus tawarkan, kita cuma punya dua hal. Pertama: menyerah tanpa complain. Selanjutnya adalah rasa ketagihan.

Puisi yang bagus akan membuat kita terus membacanya kembali, berkali-kali. Mengutipnya lagi di suatu kesempatan. Bahkan menghapalkannya untuk sekadar ditampilkan jika saja kita terjebak dalam sekumpulan orang membosankan yang menurut kita harus kita bacakan puisi.

Seperti nikmat merokok itu sendiri Syaikh!

Sebagaimana penikmat puisi yang baik. Setiap perokok hapal betul mana rokok yang nikmatnya cocok untuk menghadapi cuaca tertentu. Juga hapal betul jenis kopi atau gorengan apa yang bisa membarenginya.

Contohnya... jumhur perokok menyepakati. Bahwa jika sedang berada di daerah dingin sebaiknya bekalilah dirimu dengan Dji Sam Soe kretek. Sebab dalam kelas sigaret kretek Dji Sam Soe adalah radja! Kalau tidak kebeli bolehlah antum mekeulan Sampoerna Kretek. Separuh harga dari sang Radja kretek.

Dan kopinya... Syaikh anda bisa menyeduh sesachet Kapal Api hitam. Gorengannya, goreng pisang. Perfecto!

Kupikir inilah dia titik tangga kosmos pertama yang menyamai titik tangga trance milik para Sufi, atau momentum Eureka! milik orang-orang jenius di masa renaisance. Yang bagimu ini seakan batasan surga dan dunia fana kita hanya setipis batas kita dengan kenangan manis akan mantan. Insyaalah terasa dekat, walaupun sebenernya jauh banget. :D

Nah. Sementara itu teguklah perlahan-lahan kopi antum selagi panas. Tapi, bersabarlah menanti ampasnya di permukaan mulai mengendap ke dasar gelas. Lalu hisaplah Dji Sam Soe antum perlahan-lahan. Tahan sejenak... biarkan hangatnya menyebar ke dasar dada, ke dalam jiwa. Biarkan ia mengaduk seluruh pusat kosmos dalam sukmamu.

Dan jangan lupa! Ucapkan Alhamdulillahi ‘ala kulli halin. Bukan “Alhamdulillah yahh sesuatuh”. Karena tak ada yang lebih menentramkan hati selain dzikrullah. Alaa Bidzikrillahi tathmainnul Qulub.

Nah, jika cuaca sedang panas. Akan berbeda lagi jenis rokok seperti apa yang laik dinikmati. Tapi yasudahlah, Syaikh. Pembicaraan ini nampaknya sudah terlalu jauh. Apalagi saya sendiri sudah sejak empat bulan yang lalu berhenti merokok.

Tapi, begitulah kurang lebihnya. Menikamti puisi yang bagus, sama kiranya dengan menikmati rokok dengan momen dan pelengkap yang tepat. Unspeakable!


Kemudian kita bertanya: bagaimana caranya semua nikmat itu datang? Proses, Syaikh! Proses.

Kenapa Dji Sam Soe bisa menjadi radja dalam kelas kretek; karena ia lahir dan bergulir dalam proses yang panjang dan konsisten. Konon, di Kudus sana quality control djisamsoe ini sudah dilakukan sejak dari pemilihan kualitas tembakau, treatment pra linting, olah-racikan, dan keterampilan para pegawai yang turun temurun sejak Indonesia masih dalam pendjdjahan Dai-Nippon (Nenek Moyang Miyabi yang absurd itu.)

Dji Sam Soe adalah bukti bagaimana kualitas rasa, kekuatan aroma, dan keintiman nikmat merokok yang terjaga sejak hayat perokok kekinian masih dikandung badan.


Keduanya. Kepenulisan (kemampuan dan karya tulis) yang baik dan Dji Sam Soe ini memiliki satu kesamaan. Proses yang... panjang, istiqamah, dan serius!

So. Bravo-lah mereka yang percaya bahwa tulisan yang baik adalah hal-hal yang tersuling dari proses permenungan, kontemplasi, katarsis, dialektika konteks, intertekstualitas, dan sarapan makanan dengan gizi baik. :D

Lalu apakah judul dan isi tulisan ini sesuai, Syaikh? Enggak kan? Wah, saya bahkan akan sangat kaget jika ada tulisan saya yang berhasil dalam menyesuaikan judul dan isinya.

Salam tabique!
Read more ...

03 October 2015

Berusaha Mencatat dari Peristiwa Alm. Salim Kancil




Waktu masih mesantren di Sragen, selain menghapal Ayat dan Mufradat (kosakata Arab) kami juga biasa menerima hafalan mahfudzot, semacam kata-kata mutiara dalam bahasa arab. Mungkin kita kenal beberapa dari Mahfudzot tersebut. Seperti Man jadda Wajada (barangsiapa yang bersungguh-sungguh maka akan mendapatkan berhasil.)

Ustadz kami tiap hari membacakan satu Mahfudzot yang kemudian kami catat dengan sigap, untuk kemudian kami setorkan dalam bentuk hafalan.

Ada salah satu mahfudzot yang saat ini baru saya ngeh maknanya semalam. Setelah membaca ulasan  Mas Kokok Dirgantoro di Mojok.co. tentang Pembunuhan Pak Salim Kancil, Seorang Petani yang Menolak Pertambangan di Daerahnya.

Al-Fallahu sayyidul ummah. Petani adalah Sayyid (tuan) bagi umat. Begitu bunyi mufradatnya.
Di tangan mereka yang ligat menggenggam tanah. Dalam keringat mereka; Hidup kita terus berlanjut. Tapi bagaimana kita (umat) memperlakukan mereka, para tuan kita?

We just dont care, right? Di sekolah-sekolah kita ditanami pemikiran bahwa pekerjaan mencangkul adalah pekerjaan yang tidak menjanjikan apapun. Kalau di jamanku SD dulu, katanya menjadi petani itu ciri-ilmu-gak berkah.

Coba ingat-ingat lagi waktu sekolah kita pernah gak menjawab cita-cita kita adalah bertani? Paling astronout, dokter, atau arsitek. Duh. Siapa sih yang mulai semua ini? Orang macem apa sih yang memberikan pilihan cita-cita sesempit itu?

Sejak dari  kecil bahkan kita tidak diajari untuk menghormati jasa petani dan mewarisi kerja keras mereka. Sejak SD kita diajari untuk menjadi arsitek dan semacamnya, SMP kita diberitahu bagaimana pertambangan menyokong denyut perekonomian, sementara di SMA kita diajari bahwa kuliah itu mahal.

Terbunuhnya Mas Kancil adalah gambaran wong cilik dan perlakuan yang diterimanya hari ini. Simbol dari bagaimana kondisi ketahanan pangan kita menghadapi berbagai bentuk serangan. Dari luar ia diserang produk impor, di tempat sendiri ia dipecundangi tengkulak. Dan pemerintah... saya gak tahu apa yang sudah dilakukan pemerintah selain memendam beras raskin sampai busuk. Untuk kemudian dibagi-bagikan.

Mas Kancil dari haribaan bumi mungkin sedang menertawakan betapa absurdnya kita ini. Sementara di daerah-daerah kecil yang jarang terekspos media –sebab Jakarta terlalu sibuk memenuhi layar televisi- masih banyak Mas Kancil yang lain. Mereka mempertahankan diri sendirian. Tanpa spot-spot media, tanpa pembelaan dari Negara. Mereka melawan musuh yang lebih berat dari sekadar penjajah; mereka melawan musuh di dalam daerah sendiri. Seperti kata anak-anak Meme kadang kita dipertemukan dengan “anjing” yang mirip “teman”.

Sementara kita bicara kegaduhan politik; membuat dan meramaikan hastag-hastag rasa Jokowi dan peristiwa internasional di sosial media, di kafe-kafe bercemil-cemil ria dengan kopi dan shisa.
Akhirnya dengan mengutip kata-kata sedih seorang mojokis kita dapat menyimpulkan bagaimana Tuan-tuan (Sayyid Al-Ummahh) kita diperlakukan; mas kancil dibicarakan dan menjadi perhatian berita. Sementara persoalan keadilannya entah akan seperti apa.

Lihatlah diri kita saat ini. Kita mirip dengan orang-orang yang terkena tulah karena tidak berlaku baik pada tuannya sendiri. Sebelum semuanya terlanjur; ketika lumbung-lumbung padi kita di Indramayu, dan Subang berubah menjadi tambang-entah-apa lagi. Marilah kita... eumm... apa ya...  entah apa yang harus kita lakukan. Mungkin anak-anak twitter lebih paham apa yang seharusnya dilakukan selain membuat tagar-tagar save, shame, no, dll.

Al- Fallahu sayyidul Ummah (petani adalah tuan-nya umat.) Saya teringat hamparan sawah dalam lukisan bapak, saya teringat sawah-sawah di tanah kelahiran di Sumedang, yang kini menjadi hamparan tol yang panjang dan luas. Saya melihat tuan-tuan yang terusir, saya melihat tuan-tuan yang nampaknya lebih suka menerima ganti rugi tanah dan sawah mereka untuk kemudian berbelanja ria dan memugar rumah ketimbang membangun sawah produktif di tempat yang lain.

Apakah efek domino dalam program-program pembangunan ini sudah diperhitungkan oleh Mas Jok dan bapak-bapak yang di sana? Atau ia memang sedang ingin membuat sebuah Big Joke seperti kata Roschad di film Watchmen: mengorbankan sekian hal, untuk memenangkan hal yang lebih besar.
Mengorbankan orang-orang seperti Mas Kancil, untuk sesuatu yang lebih besar: Misalnya, titel sebagai negara yang maju.

Kita memang tidak tahu persis akan seperti apa Indonesia kita di masa depan. Tapi jika boleh memilih. Saya tidak mau ketika saya tua, lalu duduk di beranda rumah, sendirian. Sedang bergidik melihat betapa besar dan buas Bebegig Pembangunan yang tidak lagi  memberikan kita emas, batu bara, nikel, baja dll. tetapi malah sebaliknya. Ia membawa kita pada bencana-bencana khas judgement day seperti di film-film Hollywood.

Jika itu memang terjadi... ah saya hanya berharap saya sudah tidak sendiri. Sehingga saya punya teman untuk berbagi kesedihan seperti itu.

Saat ini saya sedang di kantin kampus. Tiba-tiba pemeran Sophia di film Da Vinci Code mengatakan: aku Sofi, aku gadis impor dari Prancis, menyukai filsafat dan sejarah Prancis, terutama bab-bab Revolusi Prancis. Kamu mau traktir aku Marimas dan Indomie Telor?

Lalu datanglah si Teteh kantin dengan dua gelas Marimas rasa jeruk Bali dan Mie goreng di tangannya “Ini, A.” Yang terdengar seperti “Bon Apatite, Monsiour, Madame”

“Viva La Vida!” Sahutku ngasal. Srupuut.

Read more ...

01 October 2015

Panji dan JKT48




Assalamulaikum Syaikh, setelah antum BBM dan memesan sebuah tulisan dengan tema Manajemen Fans saya malah teringat kawan saya Panji Saputra. Masih ingat sama belio, Syaikh?

Nah, si Panji yang kita panggil Panjul pas kita Tsanawiyah, yang juga terkenal satu pesantren gara-gara pernah jatuh dari lantai dua itu, kini sudah menjadi seorang Wota garda depan untuk chapter Karawang.

Kegilaannya pada dedek-dedek JKT 48, specially dedek Melody dan Nabilah membuatnya tidak ragu-ragu untuk meretwit apapun yang bercuit dari akun para Member JKT48. Belum lagi jika ditambah dengan foto-foto yang dia upload. Wuoh! Wota syekaleh!


Syaikh, Panji yang berperawakan isi untuk tidak disebut gemuk, legam untuk tidak disebut gosong, dan bisa nyetir mobil itu msudah mengkalrifikasi  sebagai Wota lahir bathin. Dalam akun twitter, facebook, dan yang lainnya dia seolah menegaskan semua itu. Seolah-olah, bagi saya kini, mengaingat Panji adalah cara saya untuk membedakan yang mana Melody dan yang mana Nabilah. Atau yang bagaimana yang disebut Wota garda depan, Wota radikal, Wota malu-malu-ihik-ihik, dan Wota karbitan partikelir.

Melihat Panji seperti ini awalnya membuat saya sedih. Saya tentu akan lebih suka jika dia benar-benar mengidolakan Paque seperti yang pernah dia lakukan tempo lalu. Tapi ternyata itu cuma terjadi sebagai uforia pertandingan antar Paque dan Mayweather beberapa waktu yang lalu. Sebagai catatan dia memang anak twitter. Gak ikut berhastag baginya adalah sebuah kemurtadan dalam bersosial media. Gak berhastag, gak kaffah. Gitu kira-kira kredo bersocmednya.

Sayang sekali, kesukaannya pada tinju hanyalah karena ikut Trending Topic. Awalnya saya pikir karena dia memang anak yang garang. 

Ah, Syaikh betapa banyaknya kita ditipu. Setelah kita tak pernah selesai ditipu bayang-bayang kenangan. Kali ini kita ditipu oleh wajah garang berhati fans grup-idol garda depan.

Tapi kemudian. Saya sadar. Bahwa kebahagiaan seseorang punya standar masing-masing. Memakai standar kita untuk mengukur kebahagiaan orang lain adalah sesuatu yang sangat bodoh. 

Maka kaffahlah kebodohan kita ketika mengatakan setiap jomblo itu tidakbahagia lantaran hidup kesepian. Belum tentu. Memang tidak berpasangannya seorang jomblo itu sudah barang tentu. Tapi kan... siapa tahu dia memang lebih bahagia sendirian. Persoalan setiap malam dia memutar lagu-lagu Payung Teduh melulu itu kan soal lain.

Atau misalnya kebahagiaan Syaikh yang sekarang ini. Mendengar lagu Keep Being You dari Isyana. Sambil sepedahan di sekitar jalan-jalan padat di Kairo. Lalu membayangkan seorang ukhti ihik-ihik-ekhm yang imut-imut, lucu, pintar ngaji dan main musik menyanyikan untukmu “I dont need your flower, i just need your love.” Kan ya woah banget itu. Gak heran kenapa Syaikh bisa menghadapi seluruh malam-malam yang panjang tanpa selimut tetangga.

Nah ketika hal-hal yang fatatik dan menyedihkan seperti itu malah membuat Syaikh bahagia, maka saya tidak berhak mengatakan bahwa Syaikh emang sudah sejak dari sononya susah move on. Tenggelam dalam samudra ingin-balikan yang telah menenggelamkan dan membuat Syaikh ingin mati saja di dasar samudera itu lantaran some one like her memang tidak pernah ada. 

Eh. maaf syeikh. Aku sudah terlalu subyektif.

Membicarakan Panji sebagai seorang Wota Lahir Bathin akanlah sia-sia jika kita tidak tahu apapun soal nge-fans atau to-be-fans.

Syaikh. Izinkan saya yang faqir ilmu ini memberikan pandangan tentang apa yang membuat seseorang akhirnya mendaku diri sebagai fans dari sesuatu.

Bagi kita yang tak punya keterkaitan dan pengetahuan apapun dengan JKT 48; hentakan lagu yang easy listening, paras ayu nan imut-imut, serta goyangan enerjik para member JKT 48 mungkin tak jauh beda dengan goyangan Duo Serigala. Yang ehm-ehm lalu udahan.

Tapi bagi panji yang Wota sejak dalam pikirian itu. Setiap nada, setiap gerak, setiap kata bahkan merchandise yang mengarah pada JKT48 adalah bagian dari denyut nadi dan detak jantungnya sendiri. Singkatnya. Seorang fans sejati semisal Panji ini sudah merasa manunggaling (menyatu) dengan idolanya. Gak JKT48, gak Panji. Gitulah kira-kira. 

(Persoalan misalnya nanti di sepuluh tahun ke depan dia akan menggemari bacaan murottal sembari mendaku sebagai super-fanatic-fans dari seorang Syaikh Abdurrahman As Sudais yang imam Makk itu; maka itu akan menjadi persoalan yang di luar bahasan kita kali ini.)

Pada titik inilah kita temukan apa yang Jean Paul Satre bicarakan L’existence precede l’essence (Eksistensi mendahului esensi.) tentang bagaiamana seseorang menjadikan hal lain di luar dirinya sebagai identitas atau bahkan bagian dari dirinya sendiri.
 
Tidak perlulah saya bilang pada Syaikh. Bahwa mengidolakan seseorang hampirlah sama dengan jatuh cinta. Sejatuh-jatuhnya. Sementara menasihati orang yang jatuh cinta untuk tidak nekat adalah kesia-siaan.

Tanyakan pada cewek-cewek cakep bohay yang akhirnya memacari cowok-cowok yang maaf jelek bermotor Ninja. Atas dasar apakah mereka mau macarin cowok jelek? Pasti mereka bilang “Ya mau gimana lagi. Udah kadung cinta, Mas.” 

Gak mungkin mereka bilang: Karena motornya keren, Mas.

Nah!

Pada suatu kali Irsyad si juara 2 di Stand Up Comedi Session 5 bicara soal Fans dalam blognya.

Fans? Katanya Mereka gak ngefans dengan kita. Mereka (fans) mengingat dan mengagumi kita dalam karya-karya kita.

Apa yang dia bicarakan sekilas mudah dipahami. Tapi juga menjadi bias tatkala seringkali para idola merasa terganggu dengan tingkah fans dan insan media.

Mereka yang merasa menjadi idola harusnya paham belaka, bahwa memisahkan karya dari si kreator adalah sesuatu yang mustahil. Mungkin saja ada sebagian orang yang bisa hidup sebagai fans yang seperti dalam kutipan Mark Twain; Memakan sop bebek yang enak, tidak sama dengan bertemu dengan bebeknya langsung.

Atau jika ditarik dengan lelaku to-be-fans saya pribadipada sosok penyair dari Tasik, Acep Z. Noor. 

Pada suatu kesempatan di Tasik, saya melihat Kang Acep. Teman-teman yang juga mengagumi dan baru saja membeli bukunyna mengajak-ngajk saya untuk mendatangi beliau untuk meminta tanda tangan dan foto bareng dengannya. 

Saya bergeming. Dia kelihatan sedang asik mengobrol dengan teman-temannya. Saya menolak ajakan teman-teman saya, dan  memilih untuk duduk di tempat saya dan memperhatikannya dari jauh. 

Diam-diam saya sadar. Acep Z Noor bukanlah apa-apa tanpa puisi yang dia tulis. 

Jika suatu hari nanti Syaikh merasa punya fans, lalu fans itu terasa mengganggu. Maka saran saya sederhana. Biarkan dia bahagia. Lagipula tidak ada kebahagiaan yang tidak fana. Toh dia tidak merampok kita, kan? Selain itu, saya percaya bahwa fans-fans yang sopan selalu ada.

Dan jika kau ketemu idolamu. Jangan lupa. Sapalah sekadarnya. Atau abaikan saja, jika menurutmu itu baik untuknya.

Nah! Bagaimana dengan Panji dan JKT48? Dalam istilah Descartes, bagi Panji “Aku berOSHI, maka aku ada.”

Sekalipun kita ini emang Melody dan Nabilah, mau gimana lagi kita?

PS:

Sebentar, ya, Syaikh. Saya ke dapur dulu. Makan. Sebab keharusan menjaga kesehatan tidak perlu karena ada yang mengingatkan. Makan ya makan aja. Gak usah nungggu ada yang bbm “udah makan belum?” Kelamaan. Kamu juga jangan lupa makan, Syaikh.

O ya Syaikh. Sebagai sesuatu yang penting kamu tahu. Bahwa meadaptkan kesempatan foto bareng dengan Member JKT48 adalah seagung-agung nikmat bagi para Wota. Jangan tanya kenapa.


The Incredible Panjul

Read more ...

30 September 2015

HBD SYAIKH MAULANA

Selamat Ulang Tahun Syaikh Maulana. Rasanya selalu menyenangkan mengetahui teman sebaik antum masih hidup di antara banyaknya hal yang terjadi di dunia fana ini.


Donald Trump (katanya) bakal nyalon di Amerika, Dedi Mulyadi membuat aturan soal kencan, Raisa punya pacar. Sementara kita berdua masih bertahan dalam amukan-amukan badai kesepian. Tak ada foto kue yang bisa kita upload di instagram. Ah, masih syukur ada yang nulis HBD di dinding Facebook.


Setidaknya semua hal inilah kiranya yang membuat kita connected.


Apakah antum benar-benar menyadari sesuatu di usia ke 23 ini? Usia di mana deg-degan pasa masa SMA sudah tidak ada lagi. Usia di mana kiita mulai menebak-nebak ke mana hidup akan membawa kita. Usia yang membuat kita mau-tak-mau sudah bi(a)sa menjawab "Udah siap nikah belum?" dengan "Gampanglah, semua sudah dalam rancangan."


Dan di zaman dengan kredo "aku online, maka aku ada" inilah setidaknya kita tetap keep in touch. Zaman di mana kita mampu melanjutkan percakapan kita melewati seluruh pembatas ruang dan waktu. Aku di Munjul, kamu di Kairo, tapi mantan tetap hati. Duh!


Selebihnya mari berterimaksih dengan Yahudi (yang mengaku Atheis) jenius ciptaan Allah yang bernama Mark Zuckerberg itu. Thank you Mark. Aku harap kamu jadi mentri KEMENINFO di sini?


Syaikh, Maul. Apakah Syaikh Maul mulai berani menatap kaca cermin lebih lama. Memperhatikan kerut wajah, mata yang sudahlagi tidak secerah dahulu, dan bulu-buku yang tumbuh di beberapa daerah. Mungin juga sudah mulai beruban. Padahal baru 23 tahun. kesepian memang bahan bakar yang laik-uji untuk membuat kita cepat tua.


Semetara kamu masih percaya, bahwa kamu selalu layak untuk cinta yang kamu inginkan. Walaupun kamu tidak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi.


Apa yang kamu pikirkan di usia 23 tahun, Syaikh? Apakah kamu memang sedang bersiap akan menikah satu atau dua tahun lagi, sebagaimana anjuran orang tuamu.Atuakah kamu ingin benar-benar sedang merencanakan satu album lagu musikalisasi puisi dengan lantunan musik sunda?

Aku tahu. Cutterme sudah membuatmu lupa bahwa kamu laki-laki yang kadang-kadang lihat iklan pengaman aja langsung bergetar seluruh kakimu.

Syaikh.Saya berdoa. Semoga kesepian bukanlah apa-apa. Semoga kita tetap produktif dan kontributif untuk maslahat ummat.Amin.

Sebagai kado, biar aku pesani kamu sebuah alasan untuk ngeles. Kita bisa berapologi bahwa Soe Hok Gie saja sering kandas cintanya. Ya maklum. Mahasiswa jenis pejuang memang musti serba-korban. Korban perasaan itu cuma hal sepele. Hal sepele yang menyesakkan. Yaelah.


*Catatan Telat Posting.
Read more ...

29 August 2015

Kpd Syeikh Maulana: Ikhtiar Melawan Dollar


Cutterme dan Ikhtiar Melawan Dollar


Syeikh Maulana. Sungguh menyenangkan membaca surat balasan antum. Bagi saya yang lemah ini cukuplah penjagaan Allah Swt atas antum di Kairo; yang tidak terlalu jahat bagi antum yang dulunya Inlander, dikejar-kejar akun cewek gadungan, dan sering dikatain tukang PHP.

Sebelumnya saya sempat penasaran. Apakah jika musim dingin di Kairo (yang konon bersalju) dapat membuat ingus kita membeku dan kemudian mengganggu pernapasan? Apakah hawa dingin di sana akan naik dua kali lipat jika kita masih menjomblo ketika musim dingin?

Sungguh, rasa penasaran yang menunjukkan betapa ceteknya pengetahuan saya tentang ilmu biologi dasar. Pantesan saja dulu saya diputusin dia (yang saat ini sedang menyiapkan kelulusannya di Akademi Kebidanan).

Nah, Syaikh. Kenaikan Dollar saya perhatikan mulai sering dibicarakan. Kenaikannya itu loh Syaikh. Semakin menukik tajam. Awalnya saya gak paham. Berimbas pada apakah kenaikan dollar ini? Tapi ternyata, kenaikan nilai dollar (yang diikuti turunnya nilai rupiah) ini membuat ratusan orang di Bekasi terkena PHK.

Lalu kenaikan itu juga berdampak pada jumlah transferanmu dan teman-teman Indonesia di Kairo. Jatah yang sebelumnya bisa dipakai hidup sebulan, jadi cuma cukup 3 Minggu. Dan saya baru paham sekarang. Dan kenyataan ini jauh lebih saya pahami daripada tema-tema bahaya neo-kapitalisme yang sering dibicarakan akhi-akhi HTI.

Kreatifitas Adalah Koentjinja!

Pada tahun 1999 terjadi yang namanya Krisis Moneter. Turunnya nilai rupiah atas dolar dan sebagainya. Membuat beberapa investor luar negeri ramai-ramai mencabut investasi mereka. Beberpa perusahaan gulung tikar. Dan PHK besar-besaran pun terjadi. Gak cukup sampai sana. Huru-hara terjadi. Pecahlah kerusuhan Mei. Orang-orang etnis tionghoa disalahkan. Lalu “dihabisi”.

Selanjutnya pertanyaan pun timbul. Dari mana asal mula datangnya istilah “Ini salah si Cina! Kita dijajah secara ekonomi”? Sudah pasti ada yang bertindak seperti Hitler. Memicu ashobiyah dan fasisme orang-orang Aria. Menjadikan orang-orang Yahudi sebagai “Kambing Hitam”. Dan membuatnya merasa perlu untuk mengobarkan perang dunia.

Saya berlebihan ya Syaikh? Bisa aja iya. Bisa aja tidak.

Ini sejarah Syaikh. Jika kita mau belajar dari pengalaman. Maka kita sama tahu Syaikh. Kekacauan ekonomi bukanlah masalah jika masyarakat waspada dan tetap stay cool. Memahami bahwa ada yang lebih mengerikan dari krisis ekonomi. Yaitu krisis kreatifitas.

Pada tahun 1998 tersebut. Ketika para ekonom kita sibuk memikirkan cara untuk mengembalikan investasi luar negeri ke dalam negeri. Ada seseorang yang berpikir lain. Namanya Reynald Kashali. Dia tahu bahwa menunggu hasil yang dilakukan pemerintah itu sama halnya dengan menunggu jawaban dari gebetan tentang perasaan kita.

Yang mana jawabannya tidak menentu. Dan selalu memakan waktu yang lama. Sementara untuk urusan krisis ekonomi. Tidak ada alasan untuk menunggu dan bergantung pada tindakan pemerinatah. Begitu pikir Om Reynald. Kerusuhan pecah di mana-mana. Pengangguran terus bertambah. Harga kebutuhan pokok? Sudah pasti meledak.

Syaikh. Saya melihat antum dan Cutterme! antum. Sebuah bentuk kerja kreatif yang patut dijadikan contoh. Contoh yang sangat positif dan tentu saja progresif. Sebuah langkah kecil yang tidak sepele. Seolah-olah kamu mengatakan kepada Indonesia. Bahwa yang paling penting dari Ikhtiar ekonomi melawan kenaikan dollar adalah: Jangan sampai orang-orang Indonesia krisis kreatifitas!

Komunitas kreatif harus terus didukung. Sekolah-sekolah dan perguruan tinggi didorong untuk menjadikan para (maha)siswa lebih kreatif dan produktif. Kantung-kantung perkumpulan umat: Ormas, LSM, Perserikatan Buruh. Mulai dari yang doyan sweeping, yang resmi, bahkan sampai yang gurem sekalipun. Semua diarahkan untuk menjadi lebih kreatif, produktif, dan lebih siap untuk menghadapi kemungkinan paling buruk dalam penurunan nilai rupiah ini.

Seperti yang sudah antum contohkan sekarang. Atau yang Reynald Kashali lakukan di tahun 1998.

O ya. Selamat untuk kelas Menulis Kreatif yang antum mentori. Saya tahu. Di Purwakarta kami juga harus melakukannya di sini. Makasih sudah menginspirasi. Salam hangat dari Purwakarta.

PS:

Oh ya, ada satu hal yang penting. Ternyata indikator krisis bukan hanya kurs dollar. Masih banyak variabel makro ekonomi selain itu. Nah, berarti saya sedang agak berlebihan. Hehe.

Nah... buat yang penasaran dengan apa itu Cutterme! Silakan klik fanpage ini https://www.facebook.com/cutterme .








Agustus 2015


Read more ...

28 August 2015

Kpd Syaikh Maulana: Di Jember, Tuhan Menegur Kita



Syekh Maulana. Ada beberapa hal yang saya soroti dari surat balasan antum. Tapi kali ini saya akan berfokus mengenai dilema yang kamu hadapi sebagai pemilik dan pengampu nama awal Maulana. Duh kasian kamu Syaikh. Sama nama sendiri aja kamu dilematis. Apalagi kalau ada ukhti-ukhti luchuk, yang pinter nyanyi sambil main ukulele. Semacam Mimi Nizrina, yang nanya “Pa cik, kapan kamu nak datang ke Malay, ketemu Abi-nya Mimi?”

Walah! Ya bingung-bingung-kebelet toh?

Kalau saya tidak salah, Maulana adalah gelar akademis, sekaligus semacam gelar Ustadz di daerah Pakistan sana. Seseorang akan dipanggil Maulana ketika ia menyelasaikan study keislaman (minimal Kutub Sittah). Dan seringkali mereka adalah Hafidz al-Quran. Gak kayak di kita. Ada cowok yang namanya Maulana. Dia suka ceramah di tipi. Terus aja dia dipanggil Ustadz Maulana. Jama’aaaah katanya tiap pagi di TPI. Eeee... sahut si penonton bayarannya. Alhamdu.... katanya. Yaelah! Kataku sambil mencet remot. Pindah saluran.

Nah, aku kenal kamu Syaikh. Makanya aku ndak mau panggil kamu Ustadz Maulana. Aku panggil kamu Syaikh Maulana. Lumayan, seperti yang kamu setujui. Mungkin itu bisa jadi asbab kita berdua jadi kenek dalam rombongan para ulama di mahsyar. Toh itu juga udah warrbyazza. Iya toh Syekh? Sebuah ikhtiyar yang maha serius. Ketika dunia sudah dipenuhi fitan, huru-hara, dan kemakruhan-kemakruhan. Bagaimana tidak? Ditanyai mbak-mbak KFC mau paha atau dada saja, rasa-rasanya udah pengen copot sarung.

O ya Syeikh, ini minggu ke-4 saya mengajar di SMP Fullday Al-Muhajirin. Selalu begitu. Menjadi guru ternyata tidak lebih ringan dari menjalankan sebuah usaha percetakan kecil-kecilan.

Semenjak jadi guru. Saya tak bisa tidur pagi. Plus harus mandi pula! Lalu di depan kelas saya akan bediri dan berjalan dalam jam-jam penuh pelajaran. Begitu jam istirahat datang. Entahkenapa siswa-siswa suka sekali masuk ke kantor sekedar ngobrol dengan guru-gurunya. Mengganggu sekali.

Belum lama saya di sini. Nampaknya saya sudah punya kelompok cheersleader. Yang suka memanggil dan menggombali saya (ini serius). Saya sampai agak jantungan ketika salah satu siswi yang tingginya 10 cm melebihi saya menanyai saya Bapa mau jadi gebetan aku gak?


Hah? Hati saya kacau. Bukan. Bukan karena saya merasa cukup tampan untuk membuat seorang siswi SMP kelas 3 berani bilang itu. Tapi pertanyaan itu membuat saya teringat pertanyaan yang hampir sama bunyinya... Sebenernya kita udah jadian apa belum sih?

Sebuah pertanyaan yang membuat si penanya tersebut sekarang mendapatkan calon suami yang kaya. Dan selalu mengajaknya berkeliling tempat-tempat asyik dengan mobil. Namun yang pastinya lelaki itu bukanlah saya.

Warbyaza syekh! Kupikir beberapa wanita nampaknya sadar betul, bahwa dunia ini adalah ATM Serba Ada. Yang mereka perlukan adalah password/pertanyaan yang tepat untuk mengaksesnya.

Password yang sebenernya itu-itu aja. Kalau gak Mau gak jadi gebetan aku? Mau gak jadi kakak-adekan aku? Sebenarnya aku ini apanya kamu? Atau yang lebih ngebom dan meneror... Kapan mau ketemu abi aku?

Ya pokoknya gitu-gitu lah Syekh!

Eh. Maaf hilang fokus Syaikh. Persoalan di sekolah ini sebenarnya ada yang membuatku pusing. Meskipun klise! Soal mengenali dan menghapal nama-nama seluruh siswa.

Nah di sini dia masalahnya. Selain ingatan saya yang kadang sering kabur. Nama-nama itu loh Syaikh duh! Biarlah saya kasih tahu Syekh beberapa nama... Raja Deef, Reginald, Kean Anshory, Rafasha.

Saya gak ngerti budaya penamaan anak saat ini nampaknya sangat berkiblat pada nama-nama selebriti atau nama-nama import (yang kemudian gagal diingat cara penulisannya). Nagita Slavia, Aliando, Duvarez, etc.

Mungin memang itulah nama yang baik. Mereka, para anak-anak yang kebanyakan lahir di tengah keluarga muda. Dari keluarga papa-papa gawl dan mama-mama hepy.Saya percaya semua nama itu diberikan setelah melakukan pertapaan di kedalaman laut Internet, di puncak-puncak gunung Search Engine. Dan belantara-belantara Website yang ada. Sesuatu yang agaknya mustahil dilakukan kakek nnene kita sehingga menamai bapak-ibu kita dengan Dadang, Mimin, Teten, Abun, dan Ecep. Sampai kemudian kita sadar, bahwa orang tua kita menamai kita dengan maksud yang baik: agar gampang nyebutnya.

Yaiya. Kalau papamu orang Korea mungkin saja namamu Muhamad Song Jok Doo atau semacamnya.

Di Jember kita dikejutkan dengan seorang tukang bangunan. Yang ber-KTP dengan nama Tuhan. Membuat masyarakat netizen bereaksi dengan macam-macam bentuk. Tapi yang jelas ketika saya membacanya pertama kali. Saya langsung tergelak. Lucu.

Saya langsung membayangkan sebuah percakapan suami-istri ketika mereka hendak menamai anaknya.

“Eh, kita namain apa ni anak?” Si Papa yang biasanya punya tanggung jawab atas ini mulai ragu-ragu dan bimbang. Dia tahu. Terlalu banyak yang bernama Sukarno, Yudhoyono, Susilo, Widodo, dan Abdurahman. Itu semua membuatnya merasa dibayangi dosa-dosa tindak plagiatif. Walaupun dalam konteks ini, pemahan tersebut bener-bener aneh.

“Apa ya pak? Aku bingung.” Jawab sang istri. Ikut bingung juga. Tapi syukurnya sang mamah tidak bilang “terserah”. Sebab semua lelaki tahu, jika perempuan bilang “terserah” akan ada huru-hara besar. Sesuatu yang sama sekali tidak baik untuk menyambut kelahiran jabang bayi lelaki yang sehat.

“Gimana kalau kita namakan dia dengan nama yang paling agung?”

“Oke, fine. Gimana kalau kita namakan dengan nama yang sering disebut oleh seluruh umat manusia?” Pikir si Ibu.

“Setuju! Brilian!” Kata sang Ayah.


“Kita beri dia nama....” sang istri memberi jeda. “Tuhan” kata mereka bersamaan! Eureka! Mereka memang pasangan suami istri yang sehati dan sepemikiran.

Tentu saja percakapan tadi sebenernya adalah percakapan imajiner. Percakapan yang ingin saya ceritakan ketika istri saya baru melahirkan nanti. Cerita yang lucu. Agar jabang bayi kami tahu dan terbiasa menerima humor yang aneh di sepanjang hidupnya kelak. Bersama Ayah yang keren, dan mamanya yang cantik, penyayang, cerdas, pintar, dan agak cerewet! (Duh, ini kode serampangan).

Si Tuhan. Beberapa waktu lalu menolak untuk mengganti namanya. Kendati hal tersebut sudah diminta oleh pihak MUI setempat. Si Tuhan bergeming –memangnya di mana sih di Indonesia ini yang taat sama MUI?

Singkatnya si Tuhan tetap bertahan dengan namanya. Alasannya dia tidak mau mengganti pemberian orang tuanya. Untuk itulah Tuhan, seaneh apapun dirinya dan namanya itu. Dia mengajari kita sesuatu. Nama, seaneh apapun. Adalah satu dari sekian cara orang tua kita mencintai kita.

Well, setidaknya mulai sekarang kita (dan seluruh orang yang terbiasa menggunakan kata “Tuhan”) musti mengganti diksi Tuhan, dengan diksi yang lain. Pokoknya yang tidak membuat kita ingat si Tuhan yang dari Jember dan tukang bangunan itu. Duh! Sialan kamu, Han!

PS:
Lalu. Tepat di menit ini. Di mana saya hampir memposting post ini. Teman saya bilang, sekarang ada yang namanya Saiton! Orang Palembang. Hahaha. Tawa saya meledak gak karu-karuan.

Eh, Syaikh. Sampai detik ini Bumi masih di galaksi Bima Sakti kan?
Read more ...

26 August 2015

Diorama

Bapaku. "Art for eat, eat for pray." Begitu kredonya.


Pada suatu senja yang berparas pagi, aku diserang perasaan ingin menulis puisi. Matahari seperti tak pernah muncul utuh seharian. Tentu saja perasaaan seperti ini tidak datang begitu saja. Suara kumbang di dalam angin. 

Sepasang belalang yang kawin, orang-orangan sawah yang bergoyang ditiup angin, rasa dingin lumpur di tangan dan di kakiku. Lalu hujan rintik-rintik. Hawa dingin terasa seperti sedang bermantel air yang tipis. Semuanya terasa sedang memanggil sesuatu dari alam ingatan; yang karib dan juga asing sekaligus.

Dari jauh bukit-bukit menjulang hijau tua. Sebelum pandangan sampai ke sana. Menghampar hijau yang luas; sawah-sawah berundak  dengan tunas-tunas padi berwarna hijau muda. Segar dan basah.

Seperti kataku tadi. Aku diserang perasaan ingin menulis puisi. Hal semacam itu tidaklah datang begitu saja. Bukankah hukum kausalitas selalu bekerja dalam berbagai hal?

Sepanjang galengan kami meneliti jejak-jejak licin para belut. Berbekal pancing setruman dan perasaan ingin berkumpul mencicipi amis manis daging belut dalam balutan kecap. Kami ke sawah berempat. Tanpa pengalaman sedikitpun soal mengurek belut. Hasilnya bisa diduga. Tak ada  apapun dalam ember kami selain bahan tertawaan tentang empat pemula dengan pancingan dan ember kosong. Menjelajah jauh ke sawah-sawah.

Penjelajahan tetap diteruskan. Kami membawa dugaan-dugaan. Beberapa menyadari bahwa mencari belut tidak seperti mencari ikan. Sementara yang lain masih penasaran; barangkali di lubang yang lain, dengan cara yang sama amatirnya, belut-belut bisa mampir ke ember kami.

Sepanjang perburuan aku tidak berpikir apapun soal belut-belut dan empat pemancingnya yang payah. Pikiranku melayang-layang ke berbagai hal; sawah-sawah dalam lukisan bapakku, dan warna hijau yang biasa muncul dari meja kerja bapakku waktu kami masih tinggal di Bali.

Di sawah imajiner itu kulihat masa kecilku di Bali. Ada Pasek, seorang pemuda Bali. Perawakannya tinggi, hidungnya bangir, selalu membawa celurit di pinggangnya. Sesekali ia terlihat sibuk; cangkulnya membelokkan arah alir air dari atau menuju sawahnya. Sesekali yang lain ia berteriak-teriak dan menggoyangkan benang-benang paralel yang menghubungkan satu orangorangan sawah ke orangorangan sawah yang lain. Mengusir burung atau rasa kesepiannya di sawah yang terlalu luas bagi dirinya sendiri.

Sejak aku lulus SD, sampai hari ini Aku tak dengar kabar apapun lagi soal Pasek, selain sawahnya yang sudah dijual. Aku penasaran. Apa yang Pasek lakukan sekarang?

Pasek sering mampir ke tempat kami bermain di halaman rumahku. Mengajari kami membuat rumah-rumahan di kota pasir imajiner di halaman rumah. Sejak itu, selain Pasek, aku tak pernah melihat lagi pemuda yang nyawah. Hamparan sawah di sini terasa terlalu luas. Aku jadi melankolis. Seperti ada kesedihan.

Di manapun di tempatku, aku merasa petani lebih dekat ke kemiskinan. Aku tak pernah paham. Padahal dalam hukum ekonomi jumlah pendapatan dan kualitas ekonomi seseorang berbanding lurus dengan kebutuhan pasar. Petani adalah yang seharusnya menjadi orang kaya. Mungkin aku memang tidak tahu apa-apa soal ini.

Duh, kenangan. Dan segala macam perangkat kata-kata yang sering kali gagal mewakili perasaan macam ini. Tak satupun puisi kutulis. Dan hatiku masih diserang perasaan ingin menulis puisi. Kata-kata selalu menuntut banyak hal. Selalu terasa terbatas. Tetapi perasaan semacam ini terlalu agung dan manusiawi. Aku jadi segan sendiri. Entah kepada apa.

**
(Semacam catatan kecil ketika KKN 3 Bulan yang lalu). Ada juga catatan yang lain waktu saya KKN "Iya itu Eek Saya!")
Read more ...

23 August 2015

Kepada Syaikh Maulana: Sebuah Refleksi Keindonesiaan dari Elin Diana

Assalamulaikum Syaikh. Antum ingat Elin Diana? Teman kita seangkatan pas SMA. Sayang sekali dulu kamu tak sekelas dengannya. Sedang aku beruntung pernah sekelas dengannya. 

Jika aku teringat kepadanya aku teringat juga aku kepada Papua. Sebuah nama tempat yang seolah-olah baginya adalah wajah lain dari kemakmuran bangsa Indonesia. Sebuah bukti bagiamana pembangunan gagal mencapai pemerataan. Sebuah bukti bahwa fungsi pemerintahan di kita ternyata tidak seperti  yang kita duga. Atau seharusnya. Setelah masa SMA kita pernah saling bicara: mempertanyakan seperlu apakah politik untuk sebuah dunia yang baik dan tenang?

Elin Diana, selain wajahnya yang imut, dan keberaniannya bicara di depan umum. Dia selalu membuatku kembali mempertanyakan apa artinya Indonesia bagi daerah-daerah yang jauh dari ibu Kota? Sekali lagi Papua. Aku sedang tidak bicara Papua secara khusus –kupikir ada lebih banyak bacaan yang lengkap dan bagus soal ini.

Aku hanya mendadak menjadi gelisah Syekh... membayanngkan diriku sendiri jika saja aku adalah Jokowi, atau Susilo Bambang Yudhoyono dalam konteks hari itu –ketika Elin Diana menjadikan Papua sebagai contoh favorit untuk daerah yang susah.

Seandainya aku Presiden. Lalu hari akhirat tiba dan aku hanya berhadapan dengan Allah Swt? Apa yang akan kujawab di hadapanNya nanti ya Syaikh?

Jawa makmur dan aman (jika di banding Suriah tentunya) sementara Papua yang susah (yang lagi-lagi ini merujuk pada pandangan Elin Diana tentang Papua sebagai simbol ketimpangan pembangunan). Bagaimana aku menjawab tentang pengelolaan pajak-pajak Negara, atau hal-hal yang lain?

Apakah aku boleh menjawab. Nganu ya Rabb... DPR yang menjabat di masaku itu bangsat semua. Kan ya itu malah seperti #BukanUrusanAku. Di hadapanNya gak mungkin aku bisa bertindak dan memberi kesaksian seolah-olah BBM aku dibajak teman.

Atau apakah aku cukup menjawab. Khilafah itu mustahil Ya Allah.... Sementara demokrasi menyeret aku ke sekeliling setan. Yang setiap kali ada kesempatan akan membuatku disumpahi umat. Lha wong aku membangun tol Cipali demi maslahat pembangunan saja aku dikecam. Aku minta maaf pada para korban yang dibantai atas nama pemberantasan-PKI saja aku dituduh khianat pada umat.

Lalu apakah Allah benar-benar akan ngotot menyalahkan aku karena sistem, budaya, kultur etc yang ada? Dan menyalahkan aku karena khilafah tidak tegak? Seperti kata akhi-akhi HTI itu.

Pokoke khilafah! Nyaring benar gema itu. Membuat aku merasa geli sendiri membayangkan kelompok ekstremis di Syiria menyebut-nyebut dirinya sedang mendirikan Islamic State aka Khilafah tea. Sambil menebar ancaman ke mana-mana.

Lalu aku menatap jarum jam di sekolah. Aku membayangkan di seberang meja itu ada Abdullah bin Abdul Aziz R.Ah.

Yaa Abdullah menurut engkau mana yang lebih penting. Melawan 2/3 orang Indonesia demi menjadikan Indonesia negara Islam. Atau berusaha mati-matian menjaga dan meneruskan Indonesia menjadi Indonesia yang adil dan makmur. Surga bagi seluruh pemeluk agama. Kingdom of Heaven kalau kata Balian mah.

Pada 70 tahun yang lalu. Boleh saja orang kira Piagam Jakarta memang “dikhianati” Bung Karno dan Bung Hatta. Tapi apa artinya itu semua ketika yang kita hadapi bukan lagi detik-detik menjelang proklamasi? Tapi detik-detik mengisi kemerdekaan.

Mungkin kita memang tak pernah siap untuk menjadi Indonesia. Mungkin ada untungnya ketika aku SMP bahkan sampai SMA (yang akhirnya mempertemukan kami di kelas yang sama) tidak berani mengatakan aku suka sama Elin Diana. Sebab ketika SMA konteks menyukai Elin Diana itu sudah tidak cocok lagi. Tentu saja itu berdasarkan ilmu cocoklogi dan dinamika pergombalan. Atau dalam hal lain, aku ketemu Lestari, lalu Ziah. Mantanmu yang aku taksir, Syaikh! :V

Lalu saya merasa Cocoklogi bisa menjadi panduan utama dalam memahami manusia, Indonesia, umat, dan hati gebetan.
Read more ...

Surat Kecil Syekh Ahmad kepada Syekh Maulana



Assalamualaimum Warahmatulah Ta’ala Tajalla Wa Barakatuh... Syaikh Maulana. Semoga Allah Swt. mencukupkan segala karunianya untukmu. Menjaga keberkahan dalam usia dan kesehatanmu. Amin ya Rabb alamin.

Amma ba’du Syaikh Maulana yang saya cintai karena Allah Swt. Mahasuci Allah yang telah menjadikan kita tetap kokoh dalam ukhuwah islamiyah, wathoniyah, dan ngenesiyah. Kemudian mengikat kita dalam satu pikir, satu visi, dan satu risau. Yakni pikir, visi, dan sebagian kecil dari kerisauan Baginda Muhammad Saw. –bukan visinya Felix Siauw- dalam memandang persoalan-persoalan umat.  Yang apapun-masalahnya-khilafah-solusinya.

Sehingga dengan berbagai kecocokan inilah saya kadang terpikir kalaulah antum ini ukhti-ukhti luchuk seperti di Indonesia sudah barang pasti aku menghalalkanmu. Tapi syukur alhamdulillah engkau adalah Syekh Maulana, dan aku adalah Syekh Ahmad –itu artinya hampir mustahil ada wanita bernama Ahmad atau Maulana. Apalagi yang menggelari dirinya dengan sebutan Syeh.

Syaikh Maulana, surat ini saya tulis sebagai bagian dari menyambung silaturahmi.  Bertukar pikiran dan kabar. Dan tentu juga untuk mengusir rasa sepi di malam Ahad di Purwakarta yang sedang riang ini. Persis sedikit seperti yang dilakukan para ulama’ pendahulu kita. Bedanya malam Minggu di jaman Asy Syafii dulu gak ada cabe-cabean berkerudung, atau Raditya Dika. Apalagi Mas Jonru dan Sujiwo Tedjo.

Nah meskipun kita bukan ulama. Sepertinya gak apa-apalah ikut-ikutan tradisi ulama ini. Siapa tahu di mahsyar nanti kita dikumpulkan dan diperlakukan seperti para ulama. Gak apa-apa di gerbong terakhir juga. Namanya juga ikhtiar. Ya kan Syaikh...

Begini Syaikh. Oh ya sebelumnya terimaksih karena kemarin syaikh sudah meluangkan waktu untuk berdiskusi via BBM dengan saya. Dan saya mohon maaf karena sempat menolak chating video-call. Awkward tahu Syaikh... kita kan cowok! Walaupun kita ini figur Syaikh yang kekinian tapi kan ya gak gitu juga kan?

Amma ba’du (lagi). Gimana kabar di Kairo, Syaikh? Musim apa di sana? Banyak ukhti-ukhti luchuk siap-petik di sana? Eh keceplosan Syaikh...

Di Purwakarta agaknya masih juga terasa Dirgahayu RI nya. Oh ya Syaikh tolong sampaikan pada masyarakat Mesir bahwa kami berterimasih atas dukungannya pada 70 tahunan yang lalu. Walaupun kami tahu Mesir sekarang gak kayak dulu. Dan Indonesia sekarang juga beda dengan dulunya. Kalau dulu ada yang namanya ngakngikngok kalau sekarang namanya kapitalisme. Ah Bung Karno mah memang gitu orangnya. Mungkin satu-satunya warisan belio yang masih ingin kami simpan dalam konteks ini adalah petuah belio: Jasmerah! Jangan sekali-kali melupakan sejarah.

Syaikh. Di sini sedang kerontang. Kemarau memanjang. Air sumur kami kering. Harga tomat jatuh. Nilai tukar rupiah anjlok. Dan makin banyak kawan seumuran yang menikah. Sementari hati tetap saja kesepian. Lihat RU, timeline, beranda, yang ada mantan lagi mantan lagi. Bawaannya langsung baper terus langsung ngetik apa kabar? Sambil terus disusul dengan maaf tadi dibajak.

Entah bagaimana semua ini terjadi. Mungkin karena pembangunan patung-patung culun di Purwakarta. Mungkin karena lomba Haiku (yang men-dedi-kan purwakarta) yang bernilai 10 juta rupiah itu. Lumayan untuk akang-teteh penyair yang frustasi karena karya-karyanya susah tembus koran. By the way. Sony Farid Maulana sekarang punya aliran puisi/ haiku/whatever loh syaikh. Para pengikutnya menyebut hal itu dengan nama: Sonian. Keren dan menggelikan di saat yang sama.

Walaupun kemudian kita jadi bertanya. Apa hubungannya selera seni Dedi Mulyadi, orientasi seniman-seniman Jawa Barat (wabil khusus Bandung-Purwakarta) itu dengan meningkatnya jumlah pernikahan para tetangga? Benar-benar gak logis dan gak ada hubungannya sama sekali. Yaudahlah biarin aja semua janur-janur menghisai jalan kota Purwakarta. Pesta digelar berminggu-minggu. Warga berkumpul-kumpul bersorakgirang pada bapak Bupati Purwakarta yang nyatanya orang Subang itu.

Yaudahlah Syaikh. Gak baik Ghibah itu. Kita fokus ngebahas umat aja Syaikh. Capek ngebahas Kesenian literatur mah. Progressnya masih agak jauh dari maslahat umat.

Dari Generasi-Merunduk ke Generasi-Gagal-Paham.

Al Islamu mahjubun bil muslimin seperti yang dikatakan syaikh Muhammad Abduh dulu nampaknya memang tidak lagi sekadar umat Islam yang mulai abai pada praktek-praktek keagamaan.Indikasi mahjubun-bil-Muslimin. Lupakanlah sejenak soal jilboobs, tjabe syariah, dan ikhwan-ikhwan ngotot. Itu persoalan yang bisa kita bahas nanti. Lagipula itu hanya bagian kecildari pokok paling penting dalam memehami keberislaman umat hari ini. Buset dah Syekh... nampaknya Ane udah mulai serius nih.

Saya memulainya dari lelaku anak-anak muda dalam menghadapi dan menanggapi isu-isu politik, sosial, dan budaya. Oh itu kurang spesifik Syekh. Kita mulai dari soal permintaan maaf pemerintah terhadap PKI yang diwakili oleh Jokowi. Kenal Jokowi kan? Ituloh Presiden kita yang dilantiknya belum lengkap setahun udah bikin twitter gregetan.

Salah satu kegregetan itu mengundang phobia yang sama. Phobia terhadap PKI. Phobia yang dibuat sedemikian rupa oleh Smiling General kita. Phobia yang membuat umat di  masa lalu rame-rame menyembelih orang PKI, suka-PKI, mirip-PKI, dikira-PKI, dan gak-ada-kaitannya-sama-PKI.

Dengan alasan komunis itu Atheis. Dafuq! Aku takut Sindrom Gagal Paham yang menjangkiti umat di masalalu benar-benar bangkit lagi untuk yang kedua kali. Dan aku hampir melihatnya pada Generasi Gagal Paham!

Seperti adik tingkat yang di depanku ini. Yang bertanya untuk apa Jokowi meminta maaf pada PKI? Dengan tendensi menyalahkan.

“Kamu tahu komunisme tidak?” Tanyaku.Tidak. Memangnya apa A?” malah nanya balik. Kok sempat-sempanya dia mengecam sesuatu yang tidak dia tahu? Kan konyol. Sama aja kayak cewek yang mutusin dan menolak cowok baik-baik. Terus macarin cowok brengsek. Giliran dikecewain, bilangnya semua cowok sama aja.

Masya Allah Syaikh. Ini dia Generasi Gagal Paham. Ini dia Syekh! Akar utama dari seluruh kengerian yang terjadi dalam umat ini. Tumbuhnya Generasi Gagal Paham. Gagal memahami permasalahan. Bahkan untuk sekedar tahu apa yang sedang dikecamnya saja dia gak tahu.

Setelah kita risau dengan Generasi Merunduk yang didominasi Abege labil. Kini kekahwatirabn kita bertambah. Generasi merunduk sudah memasuki babak baru dalam proses evolusi menuju kekinian. Dibina oleh teknologi informasi dan percaturan isu-isu politik dan media massa. Mereka memasuki bayang-bayang sindrom Generasi Gagal Paham. Generasi yang belajar, menyimpulkan, bahkan bermadzhab pada akun-akun di media sosial. 

Bahaya Syeih.... ini namanya Taqlid gaya digital; yang viral, galau, dan rentan. Rentan untuk disusupi bibit-bibit kebencian.

Jika ini terus terjadi. Dan terus membesar. Mungkin sekali di suatu kelak. Di Indonesia yang damai ini takkan heran jika Generasi Gagal Paham ini akan menjadi Generasi Tukang Mengafirkan. Apa yang terjadi kalau sudah begitu? Mungkin saja kasus Tolikara kemarin-kemarin akan menjadi sesuatu yang lebih berdarah-darah.

Apa menurutmu ane ini lebay Syekh? Mungkin iya. Mungkin juga tidak. Tapi tengoklah para pengungsi Ahmadiyah di kita. Terusir dari tanah kelahiran karena ulah segelintir umat Islam, dengan restu fatwa MUI pula. Shame!

Berabad-abad lalu Islam pernah berjaya. Dari Jazirah Arab ke semenanjung Persia, lalu ke sebagian tanah Eropa. Dan beberapa pelosok di Asia-Pasifik. Tentu saja soal intrik pembegalan politik terhadap kaum Sufi (sebagai lawan politik dinasti tertentu) bisa kita bahas lain kali. Tapi apakah kejayaan Islam yang seperti itu yang kita cita-citakan? Di saat-saat seperti ini? Tidak Syaikh. Bagi umat Muhammad yang waras, Indonesia saat ini sudahlah lebih dari cukup. Kita wiridan pake loudspeaker boleh. Lupa Qunut boleh. Sholat pakai celana cingkrang tara dikopeyah ge boleh. Hal yang mustahil terjadi ketika salah satu aliran ajaran Islam menjadi pengegang kontrol suatu negara. Cukup Syekh. Nahnu ummatan wasathan. Kafa lana Andunisiya... dan alhamdulillah atas itu semua.

Syeikh Maulana. Saya Syekh Ahmad alfaqir atas nama ummat Islam. Atas seluruh kesepian yang membuat saya baper multi-dimensi ini ingin meminta nasihat dari Syaikh Maulana yang alim, arif, dan bijaksana. Kiranya apa yang harus kita lakukan dengan masalah Umat ini Syaikh?

Wassalam
NB: Masih minum kopi sachet, Syekh Maulana? Sama! Cemen ya kita ini?
Read more ...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...