01 October 2015

Panji dan JKT48




Assalamulaikum Syaikh, setelah antum BBM dan memesan sebuah tulisan dengan tema Manajemen Fans saya malah teringat kawan saya Panji Saputra. Masih ingat sama belio, Syaikh?

Nah, si Panji yang kita panggil Panjul pas kita Tsanawiyah, yang juga terkenal satu pesantren gara-gara pernah jatuh dari lantai dua itu, kini sudah menjadi seorang Wota garda depan untuk chapter Karawang.

Kegilaannya pada dedek-dedek JKT 48, specially dedek Melody dan Nabilah membuatnya tidak ragu-ragu untuk meretwit apapun yang bercuit dari akun para Member JKT48. Belum lagi jika ditambah dengan foto-foto yang dia upload. Wuoh! Wota syekaleh!


Syaikh, Panji yang berperawakan isi untuk tidak disebut gemuk, legam untuk tidak disebut gosong, dan bisa nyetir mobil itu msudah mengkalrifikasi  sebagai Wota lahir bathin. Dalam akun twitter, facebook, dan yang lainnya dia seolah menegaskan semua itu. Seolah-olah, bagi saya kini, mengaingat Panji adalah cara saya untuk membedakan yang mana Melody dan yang mana Nabilah. Atau yang bagaimana yang disebut Wota garda depan, Wota radikal, Wota malu-malu-ihik-ihik, dan Wota karbitan partikelir.

Melihat Panji seperti ini awalnya membuat saya sedih. Saya tentu akan lebih suka jika dia benar-benar mengidolakan Paque seperti yang pernah dia lakukan tempo lalu. Tapi ternyata itu cuma terjadi sebagai uforia pertandingan antar Paque dan Mayweather beberapa waktu yang lalu. Sebagai catatan dia memang anak twitter. Gak ikut berhastag baginya adalah sebuah kemurtadan dalam bersosial media. Gak berhastag, gak kaffah. Gitu kira-kira kredo bersocmednya.

Sayang sekali, kesukaannya pada tinju hanyalah karena ikut Trending Topic. Awalnya saya pikir karena dia memang anak yang garang. 

Ah, Syaikh betapa banyaknya kita ditipu. Setelah kita tak pernah selesai ditipu bayang-bayang kenangan. Kali ini kita ditipu oleh wajah garang berhati fans grup-idol garda depan.

Tapi kemudian. Saya sadar. Bahwa kebahagiaan seseorang punya standar masing-masing. Memakai standar kita untuk mengukur kebahagiaan orang lain adalah sesuatu yang sangat bodoh. 

Maka kaffahlah kebodohan kita ketika mengatakan setiap jomblo itu tidakbahagia lantaran hidup kesepian. Belum tentu. Memang tidak berpasangannya seorang jomblo itu sudah barang tentu. Tapi kan... siapa tahu dia memang lebih bahagia sendirian. Persoalan setiap malam dia memutar lagu-lagu Payung Teduh melulu itu kan soal lain.

Atau misalnya kebahagiaan Syaikh yang sekarang ini. Mendengar lagu Keep Being You dari Isyana. Sambil sepedahan di sekitar jalan-jalan padat di Kairo. Lalu membayangkan seorang ukhti ihik-ihik-ekhm yang imut-imut, lucu, pintar ngaji dan main musik menyanyikan untukmu “I dont need your flower, i just need your love.” Kan ya woah banget itu. Gak heran kenapa Syaikh bisa menghadapi seluruh malam-malam yang panjang tanpa selimut tetangga.

Nah ketika hal-hal yang fatatik dan menyedihkan seperti itu malah membuat Syaikh bahagia, maka saya tidak berhak mengatakan bahwa Syaikh emang sudah sejak dari sononya susah move on. Tenggelam dalam samudra ingin-balikan yang telah menenggelamkan dan membuat Syaikh ingin mati saja di dasar samudera itu lantaran some one like her memang tidak pernah ada. 

Eh. maaf syeikh. Aku sudah terlalu subyektif.

Membicarakan Panji sebagai seorang Wota Lahir Bathin akanlah sia-sia jika kita tidak tahu apapun soal nge-fans atau to-be-fans.

Syaikh. Izinkan saya yang faqir ilmu ini memberikan pandangan tentang apa yang membuat seseorang akhirnya mendaku diri sebagai fans dari sesuatu.

Bagi kita yang tak punya keterkaitan dan pengetahuan apapun dengan JKT 48; hentakan lagu yang easy listening, paras ayu nan imut-imut, serta goyangan enerjik para member JKT 48 mungkin tak jauh beda dengan goyangan Duo Serigala. Yang ehm-ehm lalu udahan.

Tapi bagi panji yang Wota sejak dalam pikirian itu. Setiap nada, setiap gerak, setiap kata bahkan merchandise yang mengarah pada JKT48 adalah bagian dari denyut nadi dan detak jantungnya sendiri. Singkatnya. Seorang fans sejati semisal Panji ini sudah merasa manunggaling (menyatu) dengan idolanya. Gak JKT48, gak Panji. Gitulah kira-kira. 

(Persoalan misalnya nanti di sepuluh tahun ke depan dia akan menggemari bacaan murottal sembari mendaku sebagai super-fanatic-fans dari seorang Syaikh Abdurrahman As Sudais yang imam Makk itu; maka itu akan menjadi persoalan yang di luar bahasan kita kali ini.)

Pada titik inilah kita temukan apa yang Jean Paul Satre bicarakan L’existence precede l’essence (Eksistensi mendahului esensi.) tentang bagaiamana seseorang menjadikan hal lain di luar dirinya sebagai identitas atau bahkan bagian dari dirinya sendiri.
 
Tidak perlulah saya bilang pada Syaikh. Bahwa mengidolakan seseorang hampirlah sama dengan jatuh cinta. Sejatuh-jatuhnya. Sementara menasihati orang yang jatuh cinta untuk tidak nekat adalah kesia-siaan.

Tanyakan pada cewek-cewek cakep bohay yang akhirnya memacari cowok-cowok yang maaf jelek bermotor Ninja. Atas dasar apakah mereka mau macarin cowok jelek? Pasti mereka bilang “Ya mau gimana lagi. Udah kadung cinta, Mas.” 

Gak mungkin mereka bilang: Karena motornya keren, Mas.

Nah!

Pada suatu kali Irsyad si juara 2 di Stand Up Comedi Session 5 bicara soal Fans dalam blognya.

Fans? Katanya Mereka gak ngefans dengan kita. Mereka (fans) mengingat dan mengagumi kita dalam karya-karya kita.

Apa yang dia bicarakan sekilas mudah dipahami. Tapi juga menjadi bias tatkala seringkali para idola merasa terganggu dengan tingkah fans dan insan media.

Mereka yang merasa menjadi idola harusnya paham belaka, bahwa memisahkan karya dari si kreator adalah sesuatu yang mustahil. Mungkin saja ada sebagian orang yang bisa hidup sebagai fans yang seperti dalam kutipan Mark Twain; Memakan sop bebek yang enak, tidak sama dengan bertemu dengan bebeknya langsung.

Atau jika ditarik dengan lelaku to-be-fans saya pribadipada sosok penyair dari Tasik, Acep Z. Noor. 

Pada suatu kesempatan di Tasik, saya melihat Kang Acep. Teman-teman yang juga mengagumi dan baru saja membeli bukunyna mengajak-ngajk saya untuk mendatangi beliau untuk meminta tanda tangan dan foto bareng dengannya. 

Saya bergeming. Dia kelihatan sedang asik mengobrol dengan teman-temannya. Saya menolak ajakan teman-teman saya, dan  memilih untuk duduk di tempat saya dan memperhatikannya dari jauh. 

Diam-diam saya sadar. Acep Z Noor bukanlah apa-apa tanpa puisi yang dia tulis. 

Jika suatu hari nanti Syaikh merasa punya fans, lalu fans itu terasa mengganggu. Maka saran saya sederhana. Biarkan dia bahagia. Lagipula tidak ada kebahagiaan yang tidak fana. Toh dia tidak merampok kita, kan? Selain itu, saya percaya bahwa fans-fans yang sopan selalu ada.

Dan jika kau ketemu idolamu. Jangan lupa. Sapalah sekadarnya. Atau abaikan saja, jika menurutmu itu baik untuknya.

Nah! Bagaimana dengan Panji dan JKT48? Dalam istilah Descartes, bagi Panji “Aku berOSHI, maka aku ada.”

Sekalipun kita ini emang Melody dan Nabilah, mau gimana lagi kita?

PS:

Sebentar, ya, Syaikh. Saya ke dapur dulu. Makan. Sebab keharusan menjaga kesehatan tidak perlu karena ada yang mengingatkan. Makan ya makan aja. Gak usah nungggu ada yang bbm “udah makan belum?” Kelamaan. Kamu juga jangan lupa makan, Syaikh.

O ya Syaikh. Sebagai sesuatu yang penting kamu tahu. Bahwa meadaptkan kesempatan foto bareng dengan Member JKT48 adalah seagung-agung nikmat bagi para Wota. Jangan tanya kenapa.


The Incredible Panjul

Read more ...

08 August 2015

Perubahan Adalah Omongan yang Membosankan




Semalam saya menerawang ke langit-langit kamar. Gelap. Kemudian saya mulai masuk dalam khayalan sendiri. Maksudnya adalah bermuhasabah... eh yang muncul malah semacam potongan-potongan adegan film di fivty shades of grey. Sampai saya merasa tidak nyaman sendiri. Mungkin karena  saya tidak suka kekerasan, atau mungkin saja saya bosan. Entahlah kadang-kadang pikiran bekerja lebih aneh daripada yang kita tahu.
 
Sampai kemudian saya mengingat omong kosong saya ke temen, ketika saya sedang putus asa dengan suatu orderan yang membuat saya rugi dan berutang sekitar 5 jutaan saat pertama Pesantren Desain belum genap tiga bulan dibuka. Omong kosong itu berbunyi begini...

Bro, saya percaya (atau setidaknya saya ingin memercayai) bahwa saya lahir karena suatu alasan yang penting, untuk menjadi penting. Barangkali saya akan menjadi the next of Steve Jobs, atau Gandhi atau yang lain; dengan membuat semacam perubahan untuk umat. Lalu mati keren kayak pahlawan, dikenang dan didoakan selalu, atau semacamnya.

Kemudian saya melihat sesuatu yang saya jalani selama hampir 2 tahun ini menjadi stuck, buntu. Dalam artian bahwa saya tidak melihat progress yang baik. Tidak, jika posisi saya seperti ini. Dan saya merasa sesuatu harus berubah. Setidaknya hal itu harus dimulai dari yang paling dekat dan fundamental. Tentu saja cara pikir ini tidak datang begitu saja. Cara pandang ini datang setelah saya lelah menylahkan segala hal yang berada di luar kekuasaan saya. Menylahkan sesuatu yangselain saya. Sehingga saya lelah bahwa pura-pura tidak bermasalah adalah masalah yang jauh lebih besar dari masalah itu sendiri.

Saya melihat kekecewaan pelanggan, utang, dan pola hidup yang boros. Kesemuanya menumpuk menjadi satu. Lalu saya mulai menyalahkan ini-itu. Menyalahkan partner, kolega,  pelanggan, dan macam-macam. Sampai saya capek sendiri dan dalam hati saya harus ngaku, bahwa maslah tidak di mana-mana. Masalah ada pada diri saya. Maka saya merasa sesuatu harus berubah dari saya. Harus!

Dan sesuatu harus berubah. Sampai kemudian tekad itu diteguhkan dengan bacaan saya terhadap buku 9 Pertanyaan Fundamental, Membangun Kekayaan Tanpa Riba.
Walaupun kadang saya sangsi apakah perubahan selalu diperlukan? Di dunia yang mungkin saja akan lebih baik seperti ini, daripada menjadi sesuatu yang lain.Yang ternyata lebih buruk. Aku jadi teringat seseorang yang menulis bahwa Soe Hok Gie beruntung meninggal dunia sebelum ia melihat sendiri kerja kerasnya menekan rezim orde lama, dan menggantinya dengan orde baru yang lebih ya gitu deh.

Saya juga jadi teringat film trancendent. Di mana sebuah visi tentang ‘merubah dunia’ malah menjadi ‘bencana’. Walaupun kemudian perlu lagi kita definisikan apa itu ‘merubah dunia’dan apa itu ‘bencana’? Dan juga perlu lagi didefinisikan apa artinya paragraf gak jelas ini?

Saya tidak ingat apapun saat membicarakan itu selain karena saya merasa stress dan putus asa. Sampai kemudian hari ini saya memutuskan untuk libur sejenak dari bekerja menetap, dan menyerahkan operasi Pesantren Desain sepenuhnya ke Adit. Sementara saya mengajar ngaji dan ekstra kurikuler desain grafis di Al-Muhajirin Kampus 2. Dan saya sudah memulai beberapa perubahan kecil. Penting atau tidaknya perubahan itu. Mari kita lihat nanti.
Read more ...

07 March 2015

Barangkali Cinta Juga Harus Dewasa


Ica bersama suaminya yang tinggi & tampan.

-Tiara Khoirunnisa.

21 Februari kemarin saya turut menghadiri resepsi seorang kawan. Namanya Tiara Khirunisa, tapi dia suka menyebut dirinya Ica. Dia adik kelas kami yang manis, meski slengean. Ramah, baik, dan suka menyanyi. Sebagai perempuan agaknya dia tidak ada kekurangan apa pun kecuali suaranya jelek. Ia membuktika itu saat resepsinya sendiri. Apalah dia itu, pengantin yang terlalu pede. Ia menyanyikan banyak lagu di pernikahannya sendiri. Memangnya siapa dia? Dia pikir dia ini Rossa? 

Sepanjang jalan ke situ. Saya merasa menyadari sesuatu. Sesuatu yang klise,  yang akrab, namun juga tidak lazim dan terasa agak menggelikan. 

Begini Ca, melihat pernikahanmu, kemudian mendengar proses putus-nyambung Lani-Aman agaknya saya menyadari sesuatu soal cinta. Mungkin cinta memang seperti manusia. Ia tumbuh, belajar, menghayati, menyangsikan, menanyakan, sedih, senang, merayakan, terbuang, bangkit, terpuruk, redup, dan terus begitu. Ia terus belajar, terus berproses. Seperti manusia itu sendiri.

4 Semester yang lalu. Saya dengan Ica semobil. Naik angkot. Ica ingin pulang ke rumahnya di Wanayaasa, sementara saya ingin nonton teater yang kebetulan digelar tak jauh dari rumahnya. Di Angkot ami biacara banyak hal. Kemudian saya lupa, apa yang kita bicarakan saat itu. Lalu saya sadar betapa tidak pentingnya paragraf ini.

Yang saya ingat, saat itu betapa saya ingin sekali mengajaknya ke Bandung naik kereta atau Primajasa. Melihat pameran buku di Braga, nonton film atau hal lain yang saya sendiri belum mecobanya. Tapi saya tidak berani. Saya bersyukur saya tidak punya keberanian itu.

Bayangkan seandainya saya berani saat itu, mungkin saja dia malah akan terpuruk saat ini. Jika kamu perempuan  kamu pasti tahu betapa apa-bangetnya-sih pacaran dengan laki-laki yang lebih suka menanyakan apa maksud bintang-bintang yang kita lihat hari ini? Bintang-bintang yang dijadikan dadu judi para ahli nujum. Bintang yang masih diamati bahkan ketika sudah jauh pergi ribuan tahun dari posisinya. Sangat tidak romantis. Dan tidak bisa diandalkan. Sayang sekali.

Ica adalah anak yang manis dan menyenangkan. Apalagi dia termasuk perempuan yang agak usil dengan koleksi buku saya. Jujur saja saya suka perempuan manis yang usil dengan kumpulan buku saya. Perempuan seperti itu terasa seperti perempuan yang datang dan mencuri perasaan. Tapi sayang, sebelum dia nikah. Dia sudah jadian sama Rian. Teman baik saya. Ah kerennya.

Hal yang lucu (kalau saya tidak salah) saya adalah temannya di kampus yang pertama dikabari soal pernikahannya. Awalnya senang menjadi orang yang diberitahu pertama. Tapi kemudian saya menanyakan ini kemarin. Ternyata itu karena dia minta dibuatkan desain undangan. Ya ampun, saya benar-benar lupa dan bego sekali. Selain pecundang-asmara ternyata saya adalah 
desainer grafis partikelir.

Saya datang pada hari ijab qobul Ica dengan perasaan senang. Saya senang karena ketika saya mendengar kabar pernikahannya lalu mendatangi tempat kerjanya. Dia tersenyum-senyum dengan wajah yang merah. Dia tampak gembira. Pada hari itu (barangkali) adalah pertama kalinya saya melihat Ica seperti perempuan. 

Kesenangan saya itulah yang berlanjut sampai hari ijab-qobulnya tiba. Tapi tidak begitu dengan Rian (yang merupakan laki-laki kesayangan Ica sebelumnya). Rian sedih. Saya tahu itu. Pertama karena Tiara menikahi lelaki yang lebih ganteng darinya. Ke dua karena kami ke Wanayasa yang dingin malam hari. Dan dia yang bawa motor! Apa boleh buat. Rian tahu apa yang akan terjadi jika saya yang bawa itu motor. Jalanan ke sana berkelok, menanjak, dan gelap. Mirip kisah cinta saya. Yaelah.


Sepanjang jalan ke tempat Tiara (kali ini menghadiri resepsinya) saya mengkhayal. Barangkali cinta memang kekanak-kanakan. Pernikahan barangkali seperti sebuh panggilan seorang Ibu, mengingatkan sesuatu: cinta harus juga dewasa, harus tahu waktu bahwa ia harus pulang, dan tak bisa lagi main-main. Gitu.

Well, Tiara. jangan lupa. Anak Laki-laki pertamamu. Harus dinamain Muhammad Farid Ruwiandika. Farid mengambil dari namaku. Dan Ruwiandika mengambil nama lelaki yang kamu kasihi sebelum akhirnya kamu meninggalkannya (Benar-benar keputusan yang brilian Ca! Apalah Rian itu. Cuma jomblo nelangsa yang kalau sedang sial pasti dikira pacar saya.).

Seperti katamu sendiri biar pinter kayak A Parid. Iya, pinter, pinter bohong dan jadi pecundang-asmara. Traktakdungcess! Dan soal nama belakang Rian tersebut, mungkin itu akan membuat Farid Junior kita tumbuh sehat, rajin bekerja, suka olahraga dan punya prospek menjadi manusia yang keren bagi ibu, bapak, bangsa, dan negara. Kayak Rian. 

Dari tempat yang bau asap rokok ini. Yang dengan semena-mena kami namai "Pedes". Saya bersaksi. Bahwa saya belajar sesuatu dari peristiwa ini, Ca.

Anggaplah kamu dan suamimu yang tinggi dan ganteng itu mengajari saya sesuatu soal cinta. Sungguh betapa bebalnya saya ini: sehingga perlu menyaksikanmu menikah, dan menyanyi-nyanyi kayak orang gila hanya untuk belajar "jika sudah waktunya, cinta juga harus dewasa."
Read more ...

27 February 2015

Dari Suatu Jumat



Entah sejak kapan saya mulai memerhatikan dan menjadi reaktif pada banyak hal. Ditambah lagi, saya kian cerewet. Di antara hal-hal tersebut adalah Khutbah Jumat. Kadang saya merasa sedih, kadang saya merasa kesal dan dongkol. Kadang juga saya merasa senang dan tenang. Sayangnya hal terkahir ini adalah rasa yang jarang saya bawa pulang sebagi oleh-oleh dan buah tangan dari para Khotib Jumat. 

Saat ini saya sedang mood ingin menyorot beberapa oknum khotib yang payah tersebut. Ada banyak hal yang menjadikan si Khotib menjemukan: khotib yang tak bisa membedakan antara pembacaan naskah proklamasi dengan khutbah (yang notabene adalah bayan/ceramah/penjelasan).

Padahal khutbah tetaplah masuk dalam rumpun Public Speaking. Di dalamnya terdapat rules dan goal yang sama. Efektivitas waktu, teknik penyampaian, kesesuaian materi, dan yang paling penting adalah membuat pesan dan persuasi benar-benar sampai kepada jamaah (audience).

Seperti jumat ini. Di mana saya hanya menahan diri untuk tidak kabur dan berjumat di Masjid lain. Khotibnya menunduk hampir sepanjang khutbahnya. Apa-apaan itu? Pemalas sekali! Dia membaca teks! Mana waktunya lama pula. Dan yang paling menyebalkan dari itu semua, saya sudah tak tahan dengan rasa perih di perut saya. Lapar. Sedangkan isinya? Yaampun. Saya lebih suka membayangkan Mario Teguh yang berdiri di mimbar itu. Tentu saja dia haru memakai kopeah. Saya tidak mau kelilipan dengan kilap di kepalanya.

Saya mendadak jadi kangen masa kecil saya. Ketika waktu-khutbah yang panjang seperti itu selalu saya pakai untuk petan (mencari kutu), atau pijit-pijitan, atau adu rumput. Setelah sedikit agak besar. Waktu-khutbah menjadi waktu mengobrol yang asyik. Lalu ketika saya sudah tidak di pesntren lagi (di mana hal tersebut membuat saya terpaksa sholat Jumat dengan orang-orang baru atau teman-teman yang memang bawaannya sudah sholeh sejak lahir) saya menjadikan waktu-khutbah sebagai waktu tidur yang menyenangkan. Atau mengamati struktur tulisan di selebaran dan artikel-jumat yang biasa ditaruh di sisi-sisi kotak amal.

Jika saja saya harus jujur. Saya melawan rasa bosan saya tadi dengan mengkhayalkan banyak hal sepanjang khutbah sang khotib yang lamanya masyaallah tadi itu. Diam-diam saya kok mulai mencurigai diri. Jangan-jangan saya mulai tidak betah tinggal di masjid. Atau ada hal lain. Rasa perih di perut saya yang kosong lah yang membuat saya merasa ingin hengkang. Mungkin hal ke dua lah yang membuat saya begitu (lagipula saya belum siap dituduh munafiq karena kayak yang tidak betah di Masjid).

Sepanjang khutbah saya berpikir banyak hal. Banyak sekali. Sampai kemudian saya berada di depan komputer ini dengan rasa kesal. Sebab saya bingung jika harus menuliskan semuanya. Saya berharap dapat menulis seluruh khayalan saya yang melesat-lesat, melompat-lompat, berganti tema, karakter, dan latar. Seperti mimpi. 

Sekali hal saya memikirkan sang khotib, lalu memikirkan perut saya yang perih, lalu memikirkan sebuah dialog dari film Birdman yang saya pikir akan keren jika dituangkan dalam fiksi mini atau dibuat film pendek. Banyak lagi, tapi  yang paling lucu adalah membayangkan percakan macam apakah yang kira-kira terjadi anatara Hitler dan Eva Braun sebelum akhirnya mereka ditemukan matri bunuh diri. Konon Eva Braun meregang maut dengan racun. Sementara Hitler dengan sebuah peluru di kepalanya.

Tahukah kamu, sayang, diam-diam ada maniak teori konspirasi yang bilang. Hitler memilih mati sebagai tua-bangka. Sambil terpingkal-pingkal di dalam bunker, menertawakan sisa umat Yahudi yang merayakan sepasang jasad gosong.

Tapi itu kan cum,a teori. By the way. Jika memang Hitler benar-benar sangat pandai bicara, kira-kira apa yang dia katakan pada Eva Braun soal bunuh diri bersama? Apakah dia menawarkan Sorga yang luasnya milyaran kali lipat dari luasnya daerah jajahan Nazi? Sorga yang dipenuhi dengan arwah tentara-tentara ras aria. Bidadari elok dengan rambut blonde. O ya? Dengan Hitler sebagai penjaminnya. Jangan-jangan Eva Braun memang benar-benar memenangkan lotre. Dinikahi tuhannya. Diajak pula bersamanya di surga. Yampun.

***

Kemudian usailah Shalat Jumat. Setelah saya sempat bersin dan menutup mulut saya, seseorang di sebelah saya mengajak salaman. Lalu saya bersyukur, dan berjalan pulang untuk menulis sesuatu di blog. Setelah saya sebisa mungkin melarang diri untuk tidak menuliskan apapun yang buruk, jadilah tulisan ini.

Read more ...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...