15 January 2015

The Show


Sebuah pesan masuk di kotak pesan saya. Rid tolong bikinin kata-kata, ada saudara temen gue yang meninggal.
 
Saya sungguhan lupa jawab apa. Yang saya ingat, dia kecewa. Saat itu saya hanya tak habis pikir. Apa sebenarnya yang dia pikirkan? Kenapa harus saya yang membuat kata-kata kematian untuk teman dia, yang bahkan tidak saya kenal? Kenapa dia seperti sangat malas meski hanya untuk menjadi diri-sendiri untuk hal yang sepenting itu? Maksudku, ayo lah itu temanmu kan. Katakanlahh apa yang kamu ingin kan untuk temanmu.

Ah, saya kesal. Entah kenapa. Mungkin saya juga khawatir kalau-kalau saja salah seorang yang saya cintai mati. Orang-orang hadir di pemakaman, lalu bilang yang sabar ya... Ah, saya hanya tidak tahan punya teman yang terlalu mainstream, malas, dan tidak kreatif semacam itu.

Bilang aja. Hei Bro, orang yang kamu sayang mati. Silakan kamu lakukan apa yang mau kamu lakukan, saya di sini! Dengan kamu. 

Jernih! Jujur! Sederhana! Dan begitulah kasih sayang seharusnya. Mewah dalam kesederhanaannya. 

Ajahn Brahm, seorang Biksu asal Australia yang terkenal jenaka dan bijakbestari (kamu harus baca buku-bukunya) ia memaknai kematian orang tercinta, seperti bubar dari konser musik.
 
Saya teringat sesuatu. 1.5 tahun lalu. Di sebuah acara festival movie maker. Dia seorang perempuan yang berdiri rapat di sisi saya. Malam hujan rintik perlahan maish terisia. Kami berdua berlindung di balik rimbun pohon. Di depan kami sebuah kelompok musik. Mereka memainkan piano, biola, gitar dan drumb duduk.
 
Mereka memesona. Saya merasa asyik sekali: sambil merem-melek, kepala goyang-goyang. Rasanya menyenangkan. Setiap mereka menyelesaikan satu lagu. Saya ikutan teriak dengan orang-orang lagi… lagi… lagi…!

Lalu mereka mainkan satu atau dua lagu lagi. Sekali dua kali saya menoleh ke sisi saya, memastikan. Masih ada kah perempuan itu, yang sesekali memandang saya (yang kadang loncat-loncat, ikut tepuk tangan, atau menggoyang-goyang kepala). 


Panggung musik terus mengalir. Hujan berlanjut. Dan matanya yang teduh kian mirip seorang Ibu yang melihat anaknya sedang senang. Saya suka momen itu. Entah musiknya, atau dia: perempuan yang berdiri di sisi saya waktu itu.

Tapi akhirnya musik sungguh harus usai dimainkan. Kami-pun tepuk tangan, tidak teriak-teriak lagi.

Semuanya paham. para pemusik itu harus menggulung kabel, menyarungkan gitar, dan meminum beberapa gelas air. Lalu saya dan seluruh penonton lainnya mustilah bubar dari sana dan pulang. Memuji suguhan musik di sepanjang jalan. Tanpa sedikit-pun ada terbetik keinginan untuk kembali, mencari mereka dan memaksa mereka memainkan lagi musik mereka, sebab kami tahu “acara sudah habis”. Dan kami membawa kebersamaan saat konser itu, sebagai koleksi kenangan yang menawan. Perempuan itu. Musik itu. Tempat itu. Dingin itu. Hangat itu.

The show is over, barangkali begitulah ikhlas itu.  Dan sesederhana itulah Ajahn Brahm menyederhanakan kepergian orang-orang tersayangnya. Dan dalam konteks kenangan di sebuah pertunjukan musik itu, perempuan itu, momen itu; saya mengikhlaskan apa pun yang terjadi di antara saya dan perempuan yang sangat penyayang itu.

Yah... orang-orang, momen-momen, rasa-rasa; datang dan pergi begitu saja. Tapi kenangan selalu datang, sebagai rantau yang pulang. Oleh sebab itu pula barangkali kita menjadi tidak punya alasan untuk membenci kenangan-kenangan kita.



***
 

Saya berkhayal, kira-kira apakah yang terjadi jika dia masuk ke dalam kumpulan orang-orang yang berduka tersebut, lalu berteriak: Hei! Acara sudah selesai. Orang itu udah mati. Masih banyak orang yang hidup dengan cara menyedihkan.

Ayo pulang. Mengurus orang-orang yang 'mati' bahkan sebelum ia mati sungguhan.
Read more ...

14 January 2015

Duhai Muhammadku, Ini Parid



Wahai ya Nabiyulloh Muhammad. Ini umatmu, Ahmad Farid. Sudah 23 tahun usiaku. Fisikku tidak tegap. Tinggi badanku hanya 155cm. Sementara berat badanku, aku lupa. Yang aku tahu, kalau aku buka baju aku melihat tulang rusukku sedikit muncul. Tapi aku suka dengan tanganku. Meski kurus, wahai Rosul, kulihat urat-urat bermunculan. Barangkali karena itu berkaitan dengan kebiasaanku. Aku suka menulis dengan penaku sendiri. 

Untuk saat ini mungkin kebiasaan menulis dengan tangan itu sudah tak begitu penting. Tapi, jika saja aku hidup di masamu aku membayangkan akan bersaing keras dengan Zaid bin Tsabit untuk menuliskan surat-suratmu pada para raja atau ayat-ayat Al-Quran untukmu. Sekali-kali juga aku akan bersaing dengan Anas bin Malik membelikan makanan ke pasar untukmu atau untuk Puan Aisyah. Dan ketika Gazhwah berlangsung aku sendiri yang akan berdiri di sisimu, membacakan surat balasan dari raja-raja. Itupun jika Engkau berkenan.

Tetapi Ya Rosul, saat ini aku masih saja dengerin Maroon V, fesbukan, nonton film Hollywood, dan menghayal yang enggak-enggak. Walaupun aku juga menghapal Al-Quran, belajar hadits, dan membaca Tafsir. 

Ya Rasul… hidup di usia seperti ini, di masa seperti ini, rasanya serba salah. Zaman sudah maju katanya. Sains sudah membawa kami yang kecil dan rapuh ini sampai pada pengetahuan dan penjelajahan Bulan. Kebudayan sudah sedemikian rumit: akulturasi, toleransi, dan bid’ah bergesek-gesekan dan berdampingan. Dalam hal pergaulan; Saya jadi serba bingung Ya Rasul.

Oh ya Ya Rosul. Kami juga sudah bisa membuat alat yang membuat kami tetap tersambung satu sama lain tanpa khawatir jarak dan waktu; namanya Smartphone ya Rosul… nah dengan adanya Smartphonme inilah segalanya menjadi mudah. Saking mudahnya; akses nasehat kebajikan sama mudahnya dengan mencari video porno. Kian patenlah segala kerumitan kami.

Nah, soal Smartphone ini Ya Rosul, kadang-kadang terasa seperti mukjizat. Ia menawarkan banyak kemudahan. Dengan segala macam tawaran kemudahan ini lah kami membuat tali silaturahmi sama mudahnya dengan memutus tali silaturahmi. Ada juga yang namanya Media Sosial. Di sini lah kami bisa saling mencari dalam sekejap, juga bisa saling mencaci di sekejap yang lain.

Di zaman seperti ini ya Rosul, pertemanan dan persaudaran sudah menjelma nama-nama yang banyak (ada mazhab, ada pergerakan, ada politik, ada negara, ada ormas, ada friendship, ada bisnis, ada pacaran, ada pedekate, dan banyak lagi) dan seperti nama-namanya yang banyak, banyak pula tujuannya. Aku jadi bingung ya Rosul. Walaupun diam-diam aku sadar, apapun yang harus dilakukan muslim yang baik. Haruslah berasakan keridoan Allah Swt dan restumu.

Ada banyak yang terjadi belakangan ini Ya Rosul. Ada ISIS, Amerika juga. Ada juga surat kabar yang melulu mengabarkan teror-teror, ya rosul, kami ketakutan. Ya Rosul. Pesawat jatuh, longsor, banjir bandang, tawuran anak sekolah, kaum psikopat, dan perang supporter. Ya Rosul. Engkau benar. Sepeninggal Engkau, tiap Syubhat memasuki rumah-rumah orang beriman. Dan aku melihat televisi di rumah-rumah kami. Semakin lama semakin tidak asyik, apalagi mendidik.

Ya Rosul, ketika kudengar sesorang menceritakanmu, kadang aku merasa mataku sedikit bergetar, hidungku serasa tersumbat. Barangkali, aku kangen Engkau Ya Rosul. Sosok yang kadang membuatku sulit percaya kalau orang seperti Engkau memang pernah ada

Tapi entah kenapa Ya Rosul sampai hari ini kecintaanku padamu tidak bisa kubuktikan (jika yang dimaksud membuktikan cintaku-padamu adalah mentaati tiap-tiap perintahmu.)

Hari ini Sabtu sore, sebentar lagi malam Minggu. Ya Rosul, kalau sudah gini pasti temanku akan beraksi dengan mengomporiku agar punya pacar. Di lain sisi aku juga selalu iri sekali melihat orang-orang bergandeng tangan, seperti orang yang jatuh cinta. Tapi ya Rosul mengingat apa yang Imam Bukhori sampaikan darimu. Aku jadi gak enak hati.

Duh, Ya Rosul. Kecintaan macam apa yang aku punya ini?

Amal-amalku hanya yang wajib saja –itu pun sering telat dan tidak khusyuk. Sisanya aku tinggalkan dengan alasan itu cuma sunnah (tidak wajib). Kecintaanku seolah-olah seperti kecintaan suppoter bola (hooligan) di Indonesia pada tim bola kesayangannya. Ramai-ramai mencintai tim olahraga, tapi mengkhianati sportifitas dan persahabatan sesama ummat rosul pecinta olaharaga.

Ya Rosul. Aku ini umatmu yang labil dan plin-plan. Imanku seperti secuil kapas di tengah padang pasir yang luas. Rentan dan getas. Jika berhembus angin sedikit saja, sudah pasti imanku terhempas.

Ya Rasul. Akan kulanjutkan ini tulisan di jurnalku. Lagipula tulisan ini mungkin akan dibaca orang-orang. Dan orang-orang tidak suka tulisan yang panjang dan terlalu jujur. Tapi, jika aku sempat dan diperbolehkan bertanya kepadamu, entah kapan pun itu “Sudikah engkau menerima perasaanku ini, duhai maulana Muhammad?”


Salam Hangat.

Ahmad Farid
(Umatmu Yang Labil & Plinplan)
Read more ...

12 January 2015

KEMBANG API (Cerpen)





“Yang ganteng atau yang humoris?”
“Yang humoris.”
“Yang kaya, atau yang bikin nyaman?”
“Nyaman, A”

Jatuh cinta barangkali seperti memandang pesta kembang api. Begitu membius mata dan menyenangkan; melihat bunga api menyala dengan berbagai warna. Kontras dengan langit malam yang hitam. Tetapi seperti pesta kembang api yang seharusnya, ia tak pernah punya banyak waktu.

Sialnya lagi, kembang api tak bisa pergi begitu saja. Ia selalu meninggalkan guguran kelopaknya di hati mereka yang memandangnya. Tidak heran jika untuk sebuah kesenangan yang sangat sebentar dan mahal seperti ini; semua orang sudah seperti kehilangan akal. Mereka jadi tidak peduli soal berapa uang yang mesti mereka keluarkan untuk ini.

Jatuh cinta, mungkin seperti itu. Mungkin juga tidak. Tapi bagi laki-laki yang selalu pengecut seperti aku. Pesta kembang api dan jatuh cinta sama saja. Tontonan yang menyenangkan dan sebentar.

Kembang api bercipratan, semua mata takjub. Lalu pestra selesai begitu saja, paras langit kembali legam. Orang-orang bubar-jalan. Bukan untuk menyalakan kembang api lagi. Seperti semua orang aku juga pergi ikut bubar. Sampai ke suatu waktu yang lain tiba. Membuat alasan untuk menikmati secuil keramain pesta; menyaksikan kembang api seperti itu lagi. Entah di kota mana, entah dengan siapa.

***

Pagi ini masih seperti semalam. Masih berharap kamu duduk atau berdiri tak jauh dariku. Menertawakan humor-humorku yang mungkin tidak begitu lucu. Lalu aku gombali kamu; dan kamu menanggapiku seperti orang yang jijik denganku. Sebagai orang yang jijik denganku, aku heran, kenapa kamu seperti senang sekali berdiri di dekatku.

Aku gak pernah tahu. Kapankah sesorang sudah bisa meyakini dirinya sendiri bahwa dia bisa mengatakan dengan jujur kalau dia sedang jatuh cinta.

Maka aku cuma mau bilang, semalam adalah waktu yang sangat aku nikmati. Kamu yang pecicilan pengen diajari memotret dan minta difoto berkali-kali. Membuatku gemas. Mungkin kamu tidak tahu. Di saat-saat seperti itu, aku merasa sangat tenang dan percaya diri. Aku merasa positif dan dalam mood yang baik.

Sebelumnya aku selalu memandangmu seperti memandang adik gadisku sendiri. Tapi kali ini aku memandangmu seperti gadis yang mengundang rasa kesepianku. Kulihat kesedihan di matamu seperti lampu neon yang suram. Dan aku seekor laron diantara laron-laron yang lain. Sementara itu satu neon yang suram sudah lebih dari cukup untuk melawan rasa teror di dalam gegap gelap jantung seekor laron.

Kamu mungkin bukan gadis yang membaca karya-karya Seno GA, Putu Ea, atau selainnya. Bukan juga gadis yang ambil pusing dengan isu-isu literasi. Kamu seperti gadis kebanyakan lainnya. Suka foto-foto selfie, bikin status galau, pakai jeans, dan lainnya. Bedanya, kamu pelakon teater yang menarik.

Seperti laki-laki normal lainnya. Tentu saja aku punya ekspektasi pada kriteria-kriteria gadis tertentu. Tapi, nampaknya seringkali kita tidak bisa membedakan; mana yang paling kita inginkan dan yang mana paling kita butuhkan.

Barangkali saat ini aku tidak ingin kamu. Aku butuh kamu. Sekarang juga. Entah kenapa. Tapi, kamu di mana? Lalu pikiranku berloncatan. Menyusun dan mereka-reka banyak rencana, untuk berlama-lama dengan kamu. 

Di dalam kepalaku seperti ratusan rayap yang sedang beradu pendapat. Mereka berdebat. Dan aku tahu, apa pun hasil rapat itu. Aku tak akan beranjak kemana-mana. Lagipulla aku tidak suka menjalankan rencana yang tak bisa aku ukur nilai kemungkinan-berhasil-nya.


Sebagai rencana, cinta terlalu bahaya dan beresiko. Sementara aku belum pernah merasa selesai mengumpulkan keberanianku. Entah itu keberaninan untuk gagal atau keberanian untuk berhasil. Aku gak tahu. Lagi pula dua-duanya punya masalahnya sendiri.


****

Sore kemarin aku melihatmu. Setelah sejak seminggu yang lalu kubuat semacam seleksi kalimat dalam kepalaku. Akhirnya aku berniat buat bilang…

"Apa kabar, Wi? Makasih Browniesnya. Walaupun bukan buat saya. Tapi saya ikut makan." Apa boleh buat, aku musti bilang makasih. Biar sopan. Begitu pikirku.

Tapi tiba-tiba kalimat di atas berubah menjadi sebuah teriakan khasku yang konyol.

“Hei Fia, Hei temannya Fia! 
Hei, juga” dia tersenyum –walaupun bukan karena aku, tapi memang begitulah parasnya: manis dan menyenangkan. 

"Kenapa coba sore ini cerah?” Tanyaku berkelakar. Lagipula orang gila mana yang peduli soal cuaca?


“Kenapa emangnya, A?” Tanyanya membalas tanyaku.

“Karena kamu pakai gamis hijau… mirip kayak keranjang sampah itu. Hehehe

“Ih, Aa mah sok gaje. Masa aku dimiripin tong sampah.” Lalu dia berlalu, setelah meninggalkan senyumnya di jendela.

Dia kian mirip seperti kembang api malam itu. Datang sebagai tamu. Pergi seperti pencuri. Pencuri hati.


Purwakarta, 2015

(Yaelah. Cerpenku kok gini-gini amat yaaa...)
Read more ...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...