14 January 2015

Duhai Muhammadku, Ini Parid



Wahai ya Nabiyulloh Muhammad. Ini umatmu, Ahmad Farid. Sudah 23 tahun usiaku. Fisikku tidak tegap. Tinggi badanku hanya 155cm. Sementara berat badanku, aku lupa. Yang aku tahu, kalau aku buka baju aku melihat tulang rusukku sedikit muncul. Tapi aku suka dengan tanganku. Meski kurus, wahai Rosul, kulihat urat-urat bermunculan. Barangkali karena itu berkaitan dengan kebiasaanku. Aku suka menulis dengan penaku sendiri. 

Untuk saat ini mungkin kebiasaan menulis dengan tangan itu sudah tak begitu penting. Tapi, jika saja aku hidup di masamu aku membayangkan akan bersaing keras dengan Zaid bin Tsabit untuk menuliskan surat-suratmu pada para raja atau ayat-ayat Al-Quran untukmu. Sekali-kali juga aku akan bersaing dengan Anas bin Malik membelikan makanan ke pasar untukmu atau untuk Puan Aisyah. Dan ketika Gazhwah berlangsung aku sendiri yang akan berdiri di sisimu, membacakan surat balasan dari raja-raja. Itupun jika Engkau berkenan.

Tetapi Ya Rosul, saat ini aku masih saja dengerin Maroon V, fesbukan, nonton film Hollywood, dan menghayal yang enggak-enggak. Walaupun aku juga menghapal Al-Quran, belajar hadits, dan membaca Tafsir. 

Ya Rasul… hidup di usia seperti ini, di masa seperti ini, rasanya serba salah. Zaman sudah maju katanya. Sains sudah membawa kami yang kecil dan rapuh ini sampai pada pengetahuan dan penjelajahan Bulan. Kebudayan sudah sedemikian rumit: akulturasi, toleransi, dan bid’ah bergesek-gesekan dan berdampingan. Dalam hal pergaulan; Saya jadi serba bingung Ya Rasul.

Oh ya Ya Rosul. Kami juga sudah bisa membuat alat yang membuat kami tetap tersambung satu sama lain tanpa khawatir jarak dan waktu; namanya Smartphone ya Rosul… nah dengan adanya Smartphonme inilah segalanya menjadi mudah. Saking mudahnya; akses nasehat kebajikan sama mudahnya dengan mencari video porno. Kian patenlah segala kerumitan kami.

Nah, soal Smartphone ini Ya Rosul, kadang-kadang terasa seperti mukjizat. Ia menawarkan banyak kemudahan. Dengan segala macam tawaran kemudahan ini lah kami membuat tali silaturahmi sama mudahnya dengan memutus tali silaturahmi. Ada juga yang namanya Media Sosial. Di sini lah kami bisa saling mencari dalam sekejap, juga bisa saling mencaci di sekejap yang lain.

Di zaman seperti ini ya Rosul, pertemanan dan persaudaran sudah menjelma nama-nama yang banyak (ada mazhab, ada pergerakan, ada politik, ada negara, ada ormas, ada friendship, ada bisnis, ada pacaran, ada pedekate, dan banyak lagi) dan seperti nama-namanya yang banyak, banyak pula tujuannya. Aku jadi bingung ya Rosul. Walaupun diam-diam aku sadar, apapun yang harus dilakukan muslim yang baik. Haruslah berasakan keridoan Allah Swt dan restumu.

Ada banyak yang terjadi belakangan ini Ya Rosul. Ada ISIS, Amerika juga. Ada juga surat kabar yang melulu mengabarkan teror-teror, ya rosul, kami ketakutan. Ya Rosul. Pesawat jatuh, longsor, banjir bandang, tawuran anak sekolah, kaum psikopat, dan perang supporter. Ya Rosul. Engkau benar. Sepeninggal Engkau, tiap Syubhat memasuki rumah-rumah orang beriman. Dan aku melihat televisi di rumah-rumah kami. Semakin lama semakin tidak asyik, apalagi mendidik.

Ya Rosul, ketika kudengar sesorang menceritakanmu, kadang aku merasa mataku sedikit bergetar, hidungku serasa tersumbat. Barangkali, aku kangen Engkau Ya Rosul. Sosok yang kadang membuatku sulit percaya kalau orang seperti Engkau memang pernah ada

Tapi entah kenapa Ya Rosul sampai hari ini kecintaanku padamu tidak bisa kubuktikan (jika yang dimaksud membuktikan cintaku-padamu adalah mentaati tiap-tiap perintahmu.)

Hari ini Sabtu sore, sebentar lagi malam Minggu. Ya Rosul, kalau sudah gini pasti temanku akan beraksi dengan mengomporiku agar punya pacar. Di lain sisi aku juga selalu iri sekali melihat orang-orang bergandeng tangan, seperti orang yang jatuh cinta. Tapi ya Rosul mengingat apa yang Imam Bukhori sampaikan darimu. Aku jadi gak enak hati.

Duh, Ya Rosul. Kecintaan macam apa yang aku punya ini?

Amal-amalku hanya yang wajib saja –itu pun sering telat dan tidak khusyuk. Sisanya aku tinggalkan dengan alasan itu cuma sunnah (tidak wajib). Kecintaanku seolah-olah seperti kecintaan suppoter bola (hooligan) di Indonesia pada tim bola kesayangannya. Ramai-ramai mencintai tim olahraga, tapi mengkhianati sportifitas dan persahabatan sesama ummat rosul pecinta olaharaga.

Ya Rosul. Aku ini umatmu yang labil dan plin-plan. Imanku seperti secuil kapas di tengah padang pasir yang luas. Rentan dan getas. Jika berhembus angin sedikit saja, sudah pasti imanku terhempas.

Ya Rasul. Akan kulanjutkan ini tulisan di jurnalku. Lagipula tulisan ini mungkin akan dibaca orang-orang. Dan orang-orang tidak suka tulisan yang panjang dan terlalu jujur. Tapi, jika aku sempat dan diperbolehkan bertanya kepadamu, entah kapan pun itu “Sudikah engkau menerima perasaanku ini, duhai maulana Muhammad?”


Salam Hangat.

Ahmad Farid
(Umatmu Yang Labil & Plinplan)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...