12 January 2015

KEMBANG API (Cerpen)





“Yang ganteng atau yang humoris?”
“Yang humoris.”
“Yang kaya, atau yang bikin nyaman?”
“Nyaman, A”

Jatuh cinta barangkali seperti memandang pesta kembang api. Begitu membius mata dan menyenangkan; melihat bunga api menyala dengan berbagai warna. Kontras dengan langit malam yang hitam. Tetapi seperti pesta kembang api yang seharusnya, ia tak pernah punya banyak waktu.

Sialnya lagi, kembang api tak bisa pergi begitu saja. Ia selalu meninggalkan guguran kelopaknya di hati mereka yang memandangnya. Tidak heran jika untuk sebuah kesenangan yang sangat sebentar dan mahal seperti ini; semua orang sudah seperti kehilangan akal. Mereka jadi tidak peduli soal berapa uang yang mesti mereka keluarkan untuk ini.

Jatuh cinta, mungkin seperti itu. Mungkin juga tidak. Tapi bagi laki-laki yang selalu pengecut seperti aku. Pesta kembang api dan jatuh cinta sama saja. Tontonan yang menyenangkan dan sebentar.

Kembang api bercipratan, semua mata takjub. Lalu pestra selesai begitu saja, paras langit kembali legam. Orang-orang bubar-jalan. Bukan untuk menyalakan kembang api lagi. Seperti semua orang aku juga pergi ikut bubar. Sampai ke suatu waktu yang lain tiba. Membuat alasan untuk menikmati secuil keramain pesta; menyaksikan kembang api seperti itu lagi. Entah di kota mana, entah dengan siapa.

***

Pagi ini masih seperti semalam. Masih berharap kamu duduk atau berdiri tak jauh dariku. Menertawakan humor-humorku yang mungkin tidak begitu lucu. Lalu aku gombali kamu; dan kamu menanggapiku seperti orang yang jijik denganku. Sebagai orang yang jijik denganku, aku heran, kenapa kamu seperti senang sekali berdiri di dekatku.

Aku gak pernah tahu. Kapankah sesorang sudah bisa meyakini dirinya sendiri bahwa dia bisa mengatakan dengan jujur kalau dia sedang jatuh cinta.

Maka aku cuma mau bilang, semalam adalah waktu yang sangat aku nikmati. Kamu yang pecicilan pengen diajari memotret dan minta difoto berkali-kali. Membuatku gemas. Mungkin kamu tidak tahu. Di saat-saat seperti itu, aku merasa sangat tenang dan percaya diri. Aku merasa positif dan dalam mood yang baik.

Sebelumnya aku selalu memandangmu seperti memandang adik gadisku sendiri. Tapi kali ini aku memandangmu seperti gadis yang mengundang rasa kesepianku. Kulihat kesedihan di matamu seperti lampu neon yang suram. Dan aku seekor laron diantara laron-laron yang lain. Sementara itu satu neon yang suram sudah lebih dari cukup untuk melawan rasa teror di dalam gegap gelap jantung seekor laron.

Kamu mungkin bukan gadis yang membaca karya-karya Seno GA, Putu Ea, atau selainnya. Bukan juga gadis yang ambil pusing dengan isu-isu literasi. Kamu seperti gadis kebanyakan lainnya. Suka foto-foto selfie, bikin status galau, pakai jeans, dan lainnya. Bedanya, kamu pelakon teater yang menarik.

Seperti laki-laki normal lainnya. Tentu saja aku punya ekspektasi pada kriteria-kriteria gadis tertentu. Tapi, nampaknya seringkali kita tidak bisa membedakan; mana yang paling kita inginkan dan yang mana paling kita butuhkan.

Barangkali saat ini aku tidak ingin kamu. Aku butuh kamu. Sekarang juga. Entah kenapa. Tapi, kamu di mana? Lalu pikiranku berloncatan. Menyusun dan mereka-reka banyak rencana, untuk berlama-lama dengan kamu. 

Di dalam kepalaku seperti ratusan rayap yang sedang beradu pendapat. Mereka berdebat. Dan aku tahu, apa pun hasil rapat itu. Aku tak akan beranjak kemana-mana. Lagipulla aku tidak suka menjalankan rencana yang tak bisa aku ukur nilai kemungkinan-berhasil-nya.


Sebagai rencana, cinta terlalu bahaya dan beresiko. Sementara aku belum pernah merasa selesai mengumpulkan keberanianku. Entah itu keberaninan untuk gagal atau keberanian untuk berhasil. Aku gak tahu. Lagi pula dua-duanya punya masalahnya sendiri.


****

Sore kemarin aku melihatmu. Setelah sejak seminggu yang lalu kubuat semacam seleksi kalimat dalam kepalaku. Akhirnya aku berniat buat bilang…

"Apa kabar, Wi? Makasih Browniesnya. Walaupun bukan buat saya. Tapi saya ikut makan." Apa boleh buat, aku musti bilang makasih. Biar sopan. Begitu pikirku.

Tapi tiba-tiba kalimat di atas berubah menjadi sebuah teriakan khasku yang konyol.

“Hei Fia, Hei temannya Fia! 
Hei, juga” dia tersenyum –walaupun bukan karena aku, tapi memang begitulah parasnya: manis dan menyenangkan. 

"Kenapa coba sore ini cerah?” Tanyaku berkelakar. Lagipula orang gila mana yang peduli soal cuaca?


“Kenapa emangnya, A?” Tanyanya membalas tanyaku.

“Karena kamu pakai gamis hijau… mirip kayak keranjang sampah itu. Hehehe

“Ih, Aa mah sok gaje. Masa aku dimiripin tong sampah.” Lalu dia berlalu, setelah meninggalkan senyumnya di jendela.

Dia kian mirip seperti kembang api malam itu. Datang sebagai tamu. Pergi seperti pencuri. Pencuri hati.


Purwakarta, 2015

(Yaelah. Cerpenku kok gini-gini amat yaaa...)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...