27 February 2015

Dari Suatu Jumat



Entah sejak kapan saya mulai memerhatikan dan menjadi reaktif pada banyak hal. Ditambah lagi, saya kian cerewet. Di antara hal-hal tersebut adalah Khutbah Jumat. Kadang saya merasa sedih, kadang saya merasa kesal dan dongkol. Kadang juga saya merasa senang dan tenang. Sayangnya hal terkahir ini adalah rasa yang jarang saya bawa pulang sebagi oleh-oleh dan buah tangan dari para Khotib Jumat. 

Saat ini saya sedang mood ingin menyorot beberapa oknum khotib yang payah tersebut. Ada banyak hal yang menjadikan si Khotib menjemukan: khotib yang tak bisa membedakan antara pembacaan naskah proklamasi dengan khutbah (yang notabene adalah bayan/ceramah/penjelasan).

Padahal khutbah tetaplah masuk dalam rumpun Public Speaking. Di dalamnya terdapat rules dan goal yang sama. Efektivitas waktu, teknik penyampaian, kesesuaian materi, dan yang paling penting adalah membuat pesan dan persuasi benar-benar sampai kepada jamaah (audience).

Seperti jumat ini. Di mana saya hanya menahan diri untuk tidak kabur dan berjumat di Masjid lain. Khotibnya menunduk hampir sepanjang khutbahnya. Apa-apaan itu? Pemalas sekali! Dia membaca teks! Mana waktunya lama pula. Dan yang paling menyebalkan dari itu semua, saya sudah tak tahan dengan rasa perih di perut saya. Lapar. Sedangkan isinya? Yaampun. Saya lebih suka membayangkan Mario Teguh yang berdiri di mimbar itu. Tentu saja dia haru memakai kopeah. Saya tidak mau kelilipan dengan kilap di kepalanya.

Saya mendadak jadi kangen masa kecil saya. Ketika waktu-khutbah yang panjang seperti itu selalu saya pakai untuk petan (mencari kutu), atau pijit-pijitan, atau adu rumput. Setelah sedikit agak besar. Waktu-khutbah menjadi waktu mengobrol yang asyik. Lalu ketika saya sudah tidak di pesntren lagi (di mana hal tersebut membuat saya terpaksa sholat Jumat dengan orang-orang baru atau teman-teman yang memang bawaannya sudah sholeh sejak lahir) saya menjadikan waktu-khutbah sebagai waktu tidur yang menyenangkan. Atau mengamati struktur tulisan di selebaran dan artikel-jumat yang biasa ditaruh di sisi-sisi kotak amal.

Jika saja saya harus jujur. Saya melawan rasa bosan saya tadi dengan mengkhayalkan banyak hal sepanjang khutbah sang khotib yang lamanya masyaallah tadi itu. Diam-diam saya kok mulai mencurigai diri. Jangan-jangan saya mulai tidak betah tinggal di masjid. Atau ada hal lain. Rasa perih di perut saya yang kosong lah yang membuat saya merasa ingin hengkang. Mungkin hal ke dua lah yang membuat saya begitu (lagipula saya belum siap dituduh munafiq karena kayak yang tidak betah di Masjid).

Sepanjang khutbah saya berpikir banyak hal. Banyak sekali. Sampai kemudian saya berada di depan komputer ini dengan rasa kesal. Sebab saya bingung jika harus menuliskan semuanya. Saya berharap dapat menulis seluruh khayalan saya yang melesat-lesat, melompat-lompat, berganti tema, karakter, dan latar. Seperti mimpi. 

Sekali hal saya memikirkan sang khotib, lalu memikirkan perut saya yang perih, lalu memikirkan sebuah dialog dari film Birdman yang saya pikir akan keren jika dituangkan dalam fiksi mini atau dibuat film pendek. Banyak lagi, tapi  yang paling lucu adalah membayangkan percakan macam apakah yang kira-kira terjadi anatara Hitler dan Eva Braun sebelum akhirnya mereka ditemukan matri bunuh diri. Konon Eva Braun meregang maut dengan racun. Sementara Hitler dengan sebuah peluru di kepalanya.

Tahukah kamu, sayang, diam-diam ada maniak teori konspirasi yang bilang. Hitler memilih mati sebagai tua-bangka. Sambil terpingkal-pingkal di dalam bunker, menertawakan sisa umat Yahudi yang merayakan sepasang jasad gosong.

Tapi itu kan cum,a teori. By the way. Jika memang Hitler benar-benar sangat pandai bicara, kira-kira apa yang dia katakan pada Eva Braun soal bunuh diri bersama? Apakah dia menawarkan Sorga yang luasnya milyaran kali lipat dari luasnya daerah jajahan Nazi? Sorga yang dipenuhi dengan arwah tentara-tentara ras aria. Bidadari elok dengan rambut blonde. O ya? Dengan Hitler sebagai penjaminnya. Jangan-jangan Eva Braun memang benar-benar memenangkan lotre. Dinikahi tuhannya. Diajak pula bersamanya di surga. Yampun.

***

Kemudian usailah Shalat Jumat. Setelah saya sempat bersin dan menutup mulut saya, seseorang di sebelah saya mengajak salaman. Lalu saya bersyukur, dan berjalan pulang untuk menulis sesuatu di blog. Setelah saya sebisa mungkin melarang diri untuk tidak menuliskan apapun yang buruk, jadilah tulisan ini.

Read more ...

24 February 2015

Nonsense (2)



Gnothi Seauton 
(Kenali dirimu)
- Socrates

Man Arafa Nafsahu, Fa Qad Arafa Rabbahu. 
(Barang siapa yang telah mengenal dirinya, maka ia telah mengenal tuhannya)
- Ibn Araby


Suatu hari ketika saya sedang melakukan sesuatu yang saya tidak ingat lagi. A Iyan duduk di samping saya. Dia menanyai saya sesuatu tentang prinsip hidup. Dengan suara dan roman muka (yang seperti) penuh ketakjuban "Rid, sebenarnya apa prinsip hidup kamu?"

Saya berpikir sesuatu. Jika harus jujur. Saya tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat dan layak-dengar untuk melabeli diri sendiri. Saya laki-laki yang plin-plan, mudah berubah mood, sanguinis (untuk tidak dibilang childish), sarkastik, melankolis (untuk tidak dibilang cengeng dan pinky), ceplas-ceplos, pemalas, dan pembohong. Mustahil saya mengatakan ini semua kepada A Iyan yang sekilas nampaknya dia terkagum. 

Sebagai gambaran umum kenapa A Iyan seperti yang kagum pada saya, biar saya ceritakan beberapa hal yang secara lahiriyah nampak keren. Dia pernah melihat saya mengimami Tarawih (sholeh musiman), mengikuti program Hafalan Al-Quran (walaupun sekarang hafalan saya berantakan), dia suka cara saya menulis status di socmed (ngawur dan gak lucu), dia tahu saya menulis di Majalah Taqaddum (walaupun gak bagus), dan yang paling keren: Saya dan Adit merintis Pesantren Desain (walaupun banyak masalah).

Ingin saya tegaskan pada A Iyan (dan kamu juga), bahwa itu adalah hal-hal yang lahiriyah saja. Tapi saya sedang tidak ingin merusak kesenangan orang lain. Apa boleh buat. Setiap orang hanya melihat dan bersikap kepada yang lain, berdasar yang dia tahu. Perihal A Iyan ini, biarlah tetap begitu. Tapi bukan itu poinnya. Barangkali jawaban saya sendirilah yang saya harap dapat menjadi poin tersebut. 

Selama ini sepertinya kita mengenal 'prinsip' sebagai kata-kata indah yang menjadi topeng dan citra diri kita dihadapan orang banyak. Kalau itu yang dimaksud, mungkin saya gak punya.

Prinsip saya mungkin saja adalah apa yang saya lakukan, bukan yang saya katakan. Apa yang saya lakukan selama ini adalah mencoba segala hal, melewati keterbatasan diri dalam hal tertentu dan bersikap menutup diri dalam hal-hal tertentu yang lainnya. Dan poinnya adalah saya hanya 'ingin melakukan hal-hal yang saya inginkan'. Nah, kalau kemudian hal ini bisa menjadi kata-kata yang kemudian bisa disebut prinsip-hidup saya. Yaudahlah.
 
Mungkin saya gak pernah punya prinsip. Begitu kata saya, menutup pembicaraan itu. Sekilas saya memang tampak plinplan. Tapi memang iya. Lalu dia mengangguk, sepertinya dia mengerti, meski saya sendiri tidak begitu mengerti apa yang saya bicarakan tadi. Sebab, sekilas saya merasa seperti seorang nihilis, pesimistis, sok bijak, dan tentu saja plinplan.

Di suatu waktu yang lain, yang belum lama. Seseorang memberitahu saya, tentang sebuah rumpian. Si Parid mah serba-bisa, ngan kalakuanana weh kawas kitu. 

Diberitahu begitu, saya cuma bertanya reaktif memangnya kenapa dengan kelakuan saya? Pertanyaan yang tidak perlu tersebut saya gunakan untuk menutupi perasaan bingung antara haruskan saya senang atau malah sedih disebut serba-bisa dan kalakuana kawas kitu. Mengingat bahwa bukan itulah yang merupakan kenyataanya. Buktinya saya sampai saat ini belum bisa menemukan orang yang benar-benar menjadi spesial buat saya. Utamanya perempuan (ini mah kode kencang). Saya melihat semua perempuan dengan cara yang hampir sama; mereka hanya mau diperhatikan, didengarkan, dipuji, dan dimanjakan. Dan masalah terbesarnya mereka selalu menyangkal itu semua. Bilangnya Nggak kok, aku nggak kayak gitu. Atau yang lain bilangnya Ya maklumlah, namanya juga cewek, udah dari sananya. Atau ada lagi yang lebih diplomatis Ya gak semua cewek kayak gitu juga keles. Kemudian menambahkan "Contohnya aku nih... aku orangnya bla bla bla." Yaelah. Ya sama aja kalau kata Dzawin mah.

Lebih dari itu siapa sih yang suka jika soal tingkah-lakunya dikomentari dengan kalimat kalakuana kawas 'kitu'? Tersinggung sih enggak, pengen nampol sih iya. Komentar aja sempat, masa nge-like-nya lupa.



***



Entahlah, dibanding berusaha mengenal-diri nampaknya saya lebih tertarik membangun citra-diri yang bukan saya. Melakukan hal-hal yang sebenarnya sangat bukan diri sendiri. Mudah tersinggung dengan komentar, mengikuti omongan atau perintah orang, menuruti permintaan orang. Semua itu dilakukan demi mendapatkan penilai-penilaian orang. Pengen dibilang setia kawan lah, murid yang taat-lah, anak yang baik-lah, orang baik, dermawan, dan lain-lain.

Dari waktu ke waktu, kita jadikan tuntutan orang lain sebagi tuntutan kita. Lalu tuntutan tersebut menjadi titik awal cara kita bersikap dan berperilaku. Imbas-jauhnya kita menjadi haus perhatian, rakus terhadap gosip, gemar berkomentar, dan  yang lebih busuk dari itu semua, kita masih ambil pusing kalau-kalau foto di socmed kita tampak lebih gemuk, tampak lebih inilah-itulah yang sebenarnya berinti dengan penyangkalan-diri. Diam-diam ternyata kita merasa jijik menjadi diri-sendiri dan apa-adanya.

Tidak ada yang salah dalam hal-hal demikian. Orang-orang normal perlu berperilaku dan tampak sepatutnya, sesuai dengan profesi masing-masing. Toh, profesi itu penting untuk kelangsungan hidup. Lalu apa pentingnya pembicaraan ini? Tidak ada. Nonsense.


***

Sampai di paragraf  ini, mungkin kamu (yang sudah biasa dengan caraku menulis) sudah sangat jenuh dan ingin meninggalkan blog tidak penting ini. Tapi saya ingin cerita ke kamu apa yang sebenarnya sedang terjadi di tempatku saat aku menulis ini. 

Saya menulis ini karena saya merasa tergugah, tersindir, dan terserang secara psikis dengan karakter dan kekuatan ekting dan dialog Riggan Thomson (yang diperankan oleh Michael Keaton) di film Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance).

Dari film ini-lah saya dapati pertanyaan dan pernyatan yang mengaduk-ngaduk perasaan saya (mungkin kamu juga). 

"Kenapa saya melulu menuntut untuk dicintai, dan setiap hari berusaha menjadi sesuatu yang bukan diri-saya-sendiri?"  

Lalu ada juga pertanyaan lain "Apa yang 'sebenarnya' orang bicarakan, ketika mereka membicarakan cinta?"

Sudah jam 3 dini hari. Saya masih menulis ini dengan teh yang kurang gula. Lalu di atas meja ada sebatang rokok, dan tak ada korek! (Ketika tengah malam ketemu sebatang rokok, lalu gak ada api. Disitu kadang saya merasa sedih.) 

Kemudian saya iseng menengoki ketiak saya, soalnya kemarin saya ngerasa geli ngelihat bulu ketiak Rayyan yang terlalu lebat untuk ukuran remaja kurus yang memakai baju lekbong. Dia terlihat seperti sedang membawa beban ketiak yang melebihi batas kesanggupannya sendiri. 


Dalam rangka muhasabah, saya menengok bulu ketiak sendiri, setelah tidak puas dengan hanya merabanya. Astaga! cukup lebat dan panjang. Panjang satu buku jari. Saya mengukurnya sendiri. Rasanya kok mirip seperti peribahasa "Bulu di ketek orang yang jauh kelihatan, bulu ketek jadi bulu mata sendiri, malah gak kelihatan." Yampun. Peribahasa ini sudah terketekisasi. Pantas saja serasa aneh.


***


Kembali ke paragraf paling awal. Ke apa yang dibilang Ibn Araby: Siapa yang mengenal dirinya, maka ia telah mengenal Tuhannya

Sampai saat ini saya belum benar-benar kenal diri sendiri. Bahkan saya cenderung ragu dengan penilaian orang atas saya. Apa itu berarti saya belum 'kenal' Tuhan saya? Kalau mungkin itu yang sudah terjadi. Mungkin Ibn Araby benar. Mungkin juga tidak. Kalau menurut kamu, gimana?
Read more ...

08 February 2015

Mencacat Teman (3)





Jika ada kelebihan waktu dan rejeki saya suka sekali pergi ke Cibiru Bandung. Menemui teman-teman semasa Sma. Entah untuk alasan apa teman-teman yang tidak begitu akrab saat kami di sekolah dulu, sekarang menjadi sesuatu bagi saya. 

Mungkin karena saya tidak terbiasa berteman lebih 5 tahunan, selain mereka kemudian berpencar-pencar ke daerah-daerah yang mustahil dijangkau ongkos Primajasa. Sebutlah beberapa diantaranya: Emil, Aziz, dan Aroka. Masing-masing pergi ke Kairo dan Jawa tengah. Saya mungkin merasa kehilangan mereka. Sekali-kali kami melestarikan obrolan sok-pintar kami via telepon. Tapi untuk alasan yang serba teknis terkait orientasi seksual; saya tidak bisa teleponan dengan mereka sering-sering (Kalau kamu ngerti maksudku). 

Bandung terlalu special bagi saya. Aneh sekali rasanya, dan untuk alasan yang saya-harap-saya-tahu saya merasa terikat dengan Bandung. Barangkali kenangan yang membuat saya begini. Barangkali udaranya. Atau barangkali saya tidak punya pilihan tempat pergi yang lebih murah dan nyaman dibanding Bandung.

Seperti yang biasanya, jika saya di Cibiru saya meminta ditraktir. Karena meminta dicarikan pacar jauh lebih tidak mungkin. Seperti waktu itu. Saya di sebuah tempat makan pempek yang enak, dengan Rasikah. Saya membawa semacam kado untuk teman. 

“Eh, beneran ya kalau cowok udah sayang sama seseorang, dia gak bisa melupakan?”

Itu pertanyaan retorik. Tapi yang membuat saya terhenyak kenapa hal semacam itu tidak membuat Rasikah sadar bahwa pertanyaannya adalah jawaban itu sendiri. Di saat yang sama di kepala saya terjadi banyak percakapan. Saya memilah dan memilihnya satu persatu untuk menyambung perbincanangan ini. Saya mengingat-ingat dialog-dialog novel dan film yang saya sukai. Saya pikir saya akan mengutip sesuatu dari film Adaptation, alih-alih saya malah bilang Kan dia teman baik saya. Ini kan cuma kado.

Tapi seandainya saat itu saya mau lebih serius dan membuat meja makan kami penuh dengan khutbah cinta platonik dan hal-hal melankolik, maka  Love is infinity. Itulah yang saya mau bilang. Tapi waktu itu Milk Shake-nya sedang enak. Lagipula terlihat seperti itu membuat saya merasa gagal menjadi pria.

Tapi tetap saja. Cara dia menanyakannya saat itu. Membuat saya terngiang. Sampai hari ini. Ketika pertanyaan dan obrolan itu sudah terjadi sejak bulam-bulan lalu. 

Saya tidak suka ekspresinya waktu itu. Dia menanyakan itu seperti seseorang  yang sedang merasa iba. Entah memang karena dia anak jurnalistik atau apa. Seolah-olah saat itu dia menanyai saya, seperti saja saya keluarga dari korban pemerkosaan binatang ternak. Dan dia dengan ekspresi simpatiknya mengajukan pertanyaan konyol “Bagaiamana perasaan bapak setelah binatang ternak bapak, diperkosa, disembelih, dan dijadikan sate?” 

Omong-omong ini hari pers nasional. Selamat hari pers Ras. Semoga kamu gak jadi jurnalis begituan.

Kembali pada apa yang kita bicarakan, Love is infinity. Infiniti, kata google terjemahan; adalah ketidak-terbatasan. Dan hal yang sederhana untuk menjelaskan love is infinity adalah: jika apapun bisa terjadi dalam relationship. Maka di dalam cinta yang sungguh-sungguh tidak akan terjadi apapun selain memberi dan merelakan. 

Ah, pembicaraan ini sudah mulai tidak menarik. Saya berhenti aja ah! 

Selamat malam. Selamat malam Ras! Semalam saya BBM kamu. Tapi kamunya terlalu sibuk. Yaudah saya nonton hal-hal penting di youtube. Besok pagi ada banyak yang musti dikerjakan. Kegiatan stalking mantan sekarang sudah mulai terlupakan. Saya jadi sedih dan senang sekaligus, karena bisa move-on sebegitu lihai. Semoga anda-anda juga bisa. Salam move-on-er :)




Read more ...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...