08 February 2015

Mencacat Teman (3)





Jika ada kelebihan waktu dan rejeki saya suka sekali pergi ke Cibiru Bandung. Menemui teman-teman semasa Sma. Entah untuk alasan apa teman-teman yang tidak begitu akrab saat kami di sekolah dulu, sekarang menjadi sesuatu bagi saya. 

Mungkin karena saya tidak terbiasa berteman lebih 5 tahunan, selain mereka kemudian berpencar-pencar ke daerah-daerah yang mustahil dijangkau ongkos Primajasa. Sebutlah beberapa diantaranya: Emil, Aziz, dan Aroka. Masing-masing pergi ke Kairo dan Jawa tengah. Saya mungkin merasa kehilangan mereka. Sekali-kali kami melestarikan obrolan sok-pintar kami via telepon. Tapi untuk alasan yang serba teknis terkait orientasi seksual; saya tidak bisa teleponan dengan mereka sering-sering (Kalau kamu ngerti maksudku). 

Bandung terlalu special bagi saya. Aneh sekali rasanya, dan untuk alasan yang saya-harap-saya-tahu saya merasa terikat dengan Bandung. Barangkali kenangan yang membuat saya begini. Barangkali udaranya. Atau barangkali saya tidak punya pilihan tempat pergi yang lebih murah dan nyaman dibanding Bandung.

Seperti yang biasanya, jika saya di Cibiru saya meminta ditraktir. Karena meminta dicarikan pacar jauh lebih tidak mungkin. Seperti waktu itu. Saya di sebuah tempat makan pempek yang enak, dengan Rasikah. Saya membawa semacam kado untuk teman. 

“Eh, beneran ya kalau cowok udah sayang sama seseorang, dia gak bisa melupakan?”

Itu pertanyaan retorik. Tapi yang membuat saya terhenyak kenapa hal semacam itu tidak membuat Rasikah sadar bahwa pertanyaannya adalah jawaban itu sendiri. Di saat yang sama di kepala saya terjadi banyak percakapan. Saya memilah dan memilihnya satu persatu untuk menyambung perbincanangan ini. Saya mengingat-ingat dialog-dialog novel dan film yang saya sukai. Saya pikir saya akan mengutip sesuatu dari film Adaptation, alih-alih saya malah bilang Kan dia teman baik saya. Ini kan cuma kado.

Tapi seandainya saat itu saya mau lebih serius dan membuat meja makan kami penuh dengan khutbah cinta platonik dan hal-hal melankolik, maka  Love is infinity. Itulah yang saya mau bilang. Tapi waktu itu Milk Shake-nya sedang enak. Lagipula terlihat seperti itu membuat saya merasa gagal menjadi pria.

Tapi tetap saja. Cara dia menanyakannya saat itu. Membuat saya terngiang. Sampai hari ini. Ketika pertanyaan dan obrolan itu sudah terjadi sejak bulam-bulan lalu. 

Saya tidak suka ekspresinya waktu itu. Dia menanyakan itu seperti seseorang  yang sedang merasa iba. Entah memang karena dia anak jurnalistik atau apa. Seolah-olah saat itu dia menanyai saya, seperti saja saya keluarga dari korban pemerkosaan binatang ternak. Dan dia dengan ekspresi simpatiknya mengajukan pertanyaan konyol “Bagaiamana perasaan bapak setelah binatang ternak bapak, diperkosa, disembelih, dan dijadikan sate?” 

Omong-omong ini hari pers nasional. Selamat hari pers Ras. Semoga kamu gak jadi jurnalis begituan.

Kembali pada apa yang kita bicarakan, Love is infinity. Infiniti, kata google terjemahan; adalah ketidak-terbatasan. Dan hal yang sederhana untuk menjelaskan love is infinity adalah: jika apapun bisa terjadi dalam relationship. Maka di dalam cinta yang sungguh-sungguh tidak akan terjadi apapun selain memberi dan merelakan. 

Ah, pembicaraan ini sudah mulai tidak menarik. Saya berhenti aja ah! 

Selamat malam. Selamat malam Ras! Semalam saya BBM kamu. Tapi kamunya terlalu sibuk. Yaudah saya nonton hal-hal penting di youtube. Besok pagi ada banyak yang musti dikerjakan. Kegiatan stalking mantan sekarang sudah mulai terlupakan. Saya jadi sedih dan senang sekaligus, karena bisa move-on sebegitu lihai. Semoga anda-anda juga bisa. Salam move-on-er :)




No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...