24 February 2015

Nonsense (2)



Gnothi Seauton 
(Kenali dirimu)
- Socrates

Man Arafa Nafsahu, Fa Qad Arafa Rabbahu. 
(Barang siapa yang telah mengenal dirinya, maka ia telah mengenal tuhannya)
- Ibn Araby


Suatu hari ketika saya sedang melakukan sesuatu yang saya tidak ingat lagi. A Iyan duduk di samping saya. Dia menanyai saya sesuatu tentang prinsip hidup. Dengan suara dan roman muka (yang seperti) penuh ketakjuban "Rid, sebenarnya apa prinsip hidup kamu?"

Saya berpikir sesuatu. Jika harus jujur. Saya tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat dan layak-dengar untuk melabeli diri sendiri. Saya laki-laki yang plin-plan, mudah berubah mood, sanguinis (untuk tidak dibilang childish), sarkastik, melankolis (untuk tidak dibilang cengeng dan pinky), ceplas-ceplos, pemalas, dan pembohong. Mustahil saya mengatakan ini semua kepada A Iyan yang sekilas nampaknya dia terkagum. 

Sebagai gambaran umum kenapa A Iyan seperti yang kagum pada saya, biar saya ceritakan beberapa hal yang secara lahiriyah nampak keren. Dia pernah melihat saya mengimami Tarawih (sholeh musiman), mengikuti program Hafalan Al-Quran (walaupun sekarang hafalan saya berantakan), dia suka cara saya menulis status di socmed (ngawur dan gak lucu), dia tahu saya menulis di Majalah Taqaddum (walaupun gak bagus), dan yang paling keren: Saya dan Adit merintis Pesantren Desain (walaupun banyak masalah).

Ingin saya tegaskan pada A Iyan (dan kamu juga), bahwa itu adalah hal-hal yang lahiriyah saja. Tapi saya sedang tidak ingin merusak kesenangan orang lain. Apa boleh buat. Setiap orang hanya melihat dan bersikap kepada yang lain, berdasar yang dia tahu. Perihal A Iyan ini, biarlah tetap begitu. Tapi bukan itu poinnya. Barangkali jawaban saya sendirilah yang saya harap dapat menjadi poin tersebut. 

Selama ini sepertinya kita mengenal 'prinsip' sebagai kata-kata indah yang menjadi topeng dan citra diri kita dihadapan orang banyak. Kalau itu yang dimaksud, mungkin saya gak punya.

Prinsip saya mungkin saja adalah apa yang saya lakukan, bukan yang saya katakan. Apa yang saya lakukan selama ini adalah mencoba segala hal, melewati keterbatasan diri dalam hal tertentu dan bersikap menutup diri dalam hal-hal tertentu yang lainnya. Dan poinnya adalah saya hanya 'ingin melakukan hal-hal yang saya inginkan'. Nah, kalau kemudian hal ini bisa menjadi kata-kata yang kemudian bisa disebut prinsip-hidup saya. Yaudahlah.
 
Mungkin saya gak pernah punya prinsip. Begitu kata saya, menutup pembicaraan itu. Sekilas saya memang tampak plinplan. Tapi memang iya. Lalu dia mengangguk, sepertinya dia mengerti, meski saya sendiri tidak begitu mengerti apa yang saya bicarakan tadi. Sebab, sekilas saya merasa seperti seorang nihilis, pesimistis, sok bijak, dan tentu saja plinplan.

Di suatu waktu yang lain, yang belum lama. Seseorang memberitahu saya, tentang sebuah rumpian. Si Parid mah serba-bisa, ngan kalakuanana weh kawas kitu. 

Diberitahu begitu, saya cuma bertanya reaktif memangnya kenapa dengan kelakuan saya? Pertanyaan yang tidak perlu tersebut saya gunakan untuk menutupi perasaan bingung antara haruskan saya senang atau malah sedih disebut serba-bisa dan kalakuana kawas kitu. Mengingat bahwa bukan itulah yang merupakan kenyataanya. Buktinya saya sampai saat ini belum bisa menemukan orang yang benar-benar menjadi spesial buat saya. Utamanya perempuan (ini mah kode kencang). Saya melihat semua perempuan dengan cara yang hampir sama; mereka hanya mau diperhatikan, didengarkan, dipuji, dan dimanjakan. Dan masalah terbesarnya mereka selalu menyangkal itu semua. Bilangnya Nggak kok, aku nggak kayak gitu. Atau yang lain bilangnya Ya maklumlah, namanya juga cewek, udah dari sananya. Atau ada lagi yang lebih diplomatis Ya gak semua cewek kayak gitu juga keles. Kemudian menambahkan "Contohnya aku nih... aku orangnya bla bla bla." Yaelah. Ya sama aja kalau kata Dzawin mah.

Lebih dari itu siapa sih yang suka jika soal tingkah-lakunya dikomentari dengan kalimat kalakuana kawas 'kitu'? Tersinggung sih enggak, pengen nampol sih iya. Komentar aja sempat, masa nge-like-nya lupa.



***



Entahlah, dibanding berusaha mengenal-diri nampaknya saya lebih tertarik membangun citra-diri yang bukan saya. Melakukan hal-hal yang sebenarnya sangat bukan diri sendiri. Mudah tersinggung dengan komentar, mengikuti omongan atau perintah orang, menuruti permintaan orang. Semua itu dilakukan demi mendapatkan penilai-penilaian orang. Pengen dibilang setia kawan lah, murid yang taat-lah, anak yang baik-lah, orang baik, dermawan, dan lain-lain.

Dari waktu ke waktu, kita jadikan tuntutan orang lain sebagi tuntutan kita. Lalu tuntutan tersebut menjadi titik awal cara kita bersikap dan berperilaku. Imbas-jauhnya kita menjadi haus perhatian, rakus terhadap gosip, gemar berkomentar, dan  yang lebih busuk dari itu semua, kita masih ambil pusing kalau-kalau foto di socmed kita tampak lebih gemuk, tampak lebih inilah-itulah yang sebenarnya berinti dengan penyangkalan-diri. Diam-diam ternyata kita merasa jijik menjadi diri-sendiri dan apa-adanya.

Tidak ada yang salah dalam hal-hal demikian. Orang-orang normal perlu berperilaku dan tampak sepatutnya, sesuai dengan profesi masing-masing. Toh, profesi itu penting untuk kelangsungan hidup. Lalu apa pentingnya pembicaraan ini? Tidak ada. Nonsense.


***

Sampai di paragraf  ini, mungkin kamu (yang sudah biasa dengan caraku menulis) sudah sangat jenuh dan ingin meninggalkan blog tidak penting ini. Tapi saya ingin cerita ke kamu apa yang sebenarnya sedang terjadi di tempatku saat aku menulis ini. 

Saya menulis ini karena saya merasa tergugah, tersindir, dan terserang secara psikis dengan karakter dan kekuatan ekting dan dialog Riggan Thomson (yang diperankan oleh Michael Keaton) di film Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance).

Dari film ini-lah saya dapati pertanyaan dan pernyatan yang mengaduk-ngaduk perasaan saya (mungkin kamu juga). 

"Kenapa saya melulu menuntut untuk dicintai, dan setiap hari berusaha menjadi sesuatu yang bukan diri-saya-sendiri?"  

Lalu ada juga pertanyaan lain "Apa yang 'sebenarnya' orang bicarakan, ketika mereka membicarakan cinta?"

Sudah jam 3 dini hari. Saya masih menulis ini dengan teh yang kurang gula. Lalu di atas meja ada sebatang rokok, dan tak ada korek! (Ketika tengah malam ketemu sebatang rokok, lalu gak ada api. Disitu kadang saya merasa sedih.) 

Kemudian saya iseng menengoki ketiak saya, soalnya kemarin saya ngerasa geli ngelihat bulu ketiak Rayyan yang terlalu lebat untuk ukuran remaja kurus yang memakai baju lekbong. Dia terlihat seperti sedang membawa beban ketiak yang melebihi batas kesanggupannya sendiri. 


Dalam rangka muhasabah, saya menengok bulu ketiak sendiri, setelah tidak puas dengan hanya merabanya. Astaga! cukup lebat dan panjang. Panjang satu buku jari. Saya mengukurnya sendiri. Rasanya kok mirip seperti peribahasa "Bulu di ketek orang yang jauh kelihatan, bulu ketek jadi bulu mata sendiri, malah gak kelihatan." Yampun. Peribahasa ini sudah terketekisasi. Pantas saja serasa aneh.


***


Kembali ke paragraf paling awal. Ke apa yang dibilang Ibn Araby: Siapa yang mengenal dirinya, maka ia telah mengenal Tuhannya

Sampai saat ini saya belum benar-benar kenal diri sendiri. Bahkan saya cenderung ragu dengan penilaian orang atas saya. Apa itu berarti saya belum 'kenal' Tuhan saya? Kalau mungkin itu yang sudah terjadi. Mungkin Ibn Araby benar. Mungkin juga tidak. Kalau menurut kamu, gimana?

2 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...