30 March 2015

Ciciplah Jurusan Ilmu Al-Quran & Tafsir

(1)
Saya berasumsi bahwa kamu Muslim. Untuk itulah saya menuliskan alasan kenapa Jurusan Ilmu Al-Quran & Tafsir layak cicip. Dan bisa jadi salah satu opsi untuk usaha mengisi kemerdekaan. Kemerdekaan memahami, kemerdekaan berbangsa, kemerdekaan ngomel, kemerdekaan nulis status dan ngeretwit, atau kemerdekaan berasmara, atau yang lainnya (yang entah apa kaitannya).


Kali ini saya membawa kegelisahan yang senada dengan tuturan Mas Edi terkait gerakan muslim akun-akunan. Yang membangkitkan gejala follower shosholehan

Gimanapun juga gejala follower shosholehan mengindikasikan menguatnya taqlid-influence* (Hasik). Sayang sekali, jika muslimin berislam tanpa bekal ilmu keislaman yang dalam dan menyeluruh. Sayang sekali jika beragama hanya menjadi ketaatan buta. Di Twitter kita berkicau tentang agama dengan sangat serampangan.

As you know, jumlah kekerasaan berlatar agama dan keyakinan masih tinggi di tanah air kita ini. 

Sehingga beragama sekilas hanya tampak seperti kerja membela ideologi –lalu jadi gampang ikut gontok-gontokan atau berlaku kekerasan. Kalau sudah begitu, Bergama atau berislam bukan lagi sebagai proses berdialektika, tabayyun*, kontemplasi, dan menghayati persoalan-persoalan hidup (Hasek!). Padahal ada banyak sekali ungkapan afala tatafakkarun, afala tatadabrun, afala tadzakkarun yang bersitumbuh di hampir banyak ayat.


(2) Bahasan
Maka sebagai Mahasiswa IQT yang selo dan asek, saya tekankan betapa pentingnya mencicipi jurusan yang satu ini. Gak apa-apa kalau kamu sekedar pindah jurusan beberapa semester atau sekedar tiba-tiba ikut duduk di kelas IQT. Namanya juga hidup, kalau gak dicoba gak bakal merasakan. Kalau gak nembak, gak bakal tahu dia sayang atau gak sama kamu.

Saya tidak tahu persis bagaimana kurikulum dan mata kuliah di jurusan yang lain dalam ruang lingkup perguruan tinggi islam. Tapi saya pikir Jurusan IQT yang kebetulan baru saya jalani 6 Semester ini bisa mewakili.

Sebelum bahasan saya sampai ke inti, mari kita pahami beberapa hal.
Pertama. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa hak Al-Quran atas muslim ada 4. (1) Qiroah/bacaan (2) Fahm/pemahaman (3) Amal (4)Tabligh/menyampaikan. Itu bukan kata saya sih. Apalah saya ini, makan aja masih sehari sekali.

Qiroah: Al-Quran punya tatabacanya sendiri, kamu pasti tahulah. Ada tajwid, makharij huruf, gharaib, dsbg. Jika kau muslim turunan pasti kau penah mengecap rasa sulitnya mengucapkan huruf Dhod dengan fasih. Fahm: Pemahaman. Al-Quran sebagai tempat berpulang segala urusan seorang muslim tidak pernah bisa bicara sendiri. Al-Quran perlu upaya interpretasi, tafsiran, pemahaman, dan tentu saja penghayatan. Amal: pengamalan. Tabligh: kerja menyampaikan atawa dakwah.


(3)
Sebagai pengenalan singkat jurusan IQT ini biar saya jabarkan beberapa mata kuliah yang nantinya akan bermanfaat menolongmu dari jurang taqlid buta/ke-follower-an yang dungu menuju cahaya ittiba’; mengikuti dan memahami sumber keislaman, langsung kepada Al-Quran dan Sunnah. Atau jika beruntung kita akan sampai pada derajat ijtihad/kemandirian berpikir dan berpendapat. Setidaknya semua itu untuk mengendalikan diri dalam meretwit kicauan islami. Sepele sih. :P

Ulumul Quran. Menurut Az Zarqani “Beberapa pembahasan yang berkaitan dengan Al-Quran, dari sisi turun, urutan penulisan, kodifikasi, cara membaca, kemukjizatan, nasikh-mansukh, dan penolakan hal-hal yang bisa menimbulkan keraguan terhadapnya, serta hal-hal lain.

Singkatnya Ulumul Quran mempelajari istilah-istilah yang dipakai dalam menafsirkan Ayat-ayat Al-Quran. Seperti Nuzul Al-Quran/persoalan turunnya. Asbab Nuzul/latar belakang historis ayat diturunkan. Sanad/ rangkaian riwayat. Kodifikasi/pembukuan. Qiraat /tatabaca. Persoalan kata-kata dalam Al-Quran. Persoalan Ayat yang berkaitan dengan Hukum.

Tentu saja kita perlu mengingat terus-terusan bahwa (A) Al-Quran adalah rujukan utama dalam argumen-argumen keislaman. (B) Al-Quran adalah satu hal, sementara penafsiran atas al-Quran adalah hal yang lain. Seperti: Islam adalah satu hal, sementara pendapat orang-orang islam adalah hal yang lain.

Mushtholahul Hadits. Sedang musthalah hadits singkatnya adalah pengetahuan yang membahas keaslian suatu hadits. Yang mana hadits adalah tempat ke dua kembalinya argumen-argumen keislaman. 

Mengetahui keaslian suatu hadits, juga hal yang baik untuk mengetahui mana pendapat yang sesuai dengan sumber keislaman yang shahih, atau yang asal mengutip hadits (yang tenyata derajat shahih-nya diragukan).

Kajian Tafsir. Kajian ini menitik beratkan pada tokoh, sejarah, jenis dan teknik penafsiran terhadap Al-Quran. Apakah itu tafsiran Ayat dengan ayat yang lain (bil Ma’tsur). Atau tafsiran Ayat dengan disiplin ilmu di luar al-quran, semisal kebahasaan, sains, atau yang lain (bil-Ra’yi). Sehingga nantinya bisa membedakan mana produk tafsir yang sesuai kebutuhan.

Dari disiplin ilmu inilah nantinya kamu akan tahu dan dapat mengoreksi. Bagaimana Ustadz Felix Siauw dan akhi-akhinya yang lain memproduksi tafsirannya dari ayat-ayat tertentu untuk membela ideology-Khilafahnya yang oleh Mas Edy dibilang “mengharukan” (dengan cara yang aneh).

(4) Kesimpulan
Inti dari ajakan saya untuk mencicipi jurusan IQT ini adalah: Bahwa beragama adalah persoalan yang serius. Jika kamu bersikap dengan atas nama agama dengan cara yang tidak serius (taqlid). Maka kamu harus bersiap menanggung kecacatan beragamamu sendiri. Kasihan gebetan kamu khan? *salah fokus*

Senada dengan yang Fakhrur Razi bilang. Mindset berislam harus terbangun secara epistimologis. Karena beragama dan berkeyakinan (di zaman yang super heterogen seperti ini) mau tak mau harus terbangun dari lelaku mengetahui yang terus menerus. Bukan ketaatan belaka.

Lelaku mengetahui adalah keniscayaan. Atau semacam alarm, yang selalu mengingatkan di mana batasan-batasan kita untuk memahami lalu memposisikan diri dalam keanekaragaman Agama, kultur, dan budaya. Gitu guys!

Jadi Guys... Masuk ke jurusan Ilmu Al-Quran & Tafsir adalah satu dari sekian banyak cara untuk memberikan pencerahan untuk proses beragamamu. Itupun kalau menurutmu beragama adalah hal yang penting. Nah kalau kamu bilang sebaliknya, ya apa boleh buat. Kamu lagi nyasar dude

Sebagai tambahan poin. Ayo kuliah di STAI Al-Muhajirin Purwakarta. Tempat saya belajar, nyari jodoh teman, maen putsal, nyepik-nyepik adik tingkat, nemenin Bu Hafsah di kantor, gosob buku perpus, dan mimpi jadi rektor. Ayo ketemuan! Kita ngopi!

Salam tabik buat Mas Edi. Juga buat kamu yang suka menati tulisanku.  Asek ah.


* Taqlid: mengikuti/tunduk/mengambil pendapat orang lain (begitu saja).

*Tabayyun: kroscek, cek and ricek. Pokoknya gitu lah, ah!





Kandidat terkuat Rektor STAI Al-Muhajrin (Gak usah protes!)

Para Dosen yang Lutju-lutju & menggemaskan

BEM STAI Al-Muhajirin


Read more ...

27 March 2015

Iya, Itu Eek Saya


Saat itu adalah hari keempat dari program KKN kami. Dari program ini aku belajar beberapa hal, entah sebagai ketua kelompok, atau sebagai individu.

Sebagai pemimpin tim. Ada banyak kejaran. Selain memastikan program kami berjalan dan sejalan dengan kebutuhan masyarakat. Aku juga harus menjaga emosi kami tetap stabil sebagai tim.

Sial tak bisa ditunda, malang tak bisa ditolak. Pagi itu posko kami gempar. Pasalnya salah satu anggota yang tugas piket mendapati kakus yang “berisi”. Sebagai konsekuensi tugasnya ia pun harus membersihkannya. Sayangnya peristiwa ini telah benar-benar membuatnya sangat penasaran. Ia terus bertanya-tanya sepanjang hari di tiap ada kesempatan mengobrol.

“Itu eek siapa sih? Aku penasaran,” tanyanya. Selanjutnya rasa penasaran itu menyambung dengan penasaran lain. Semisal ada yang nanya-naya siapa yang suka menggasab sendal, memakai sabun orang lain, atau menaruh pakaian dalam sembarangan. Kemudian obrolan merambat ke  hal-hal yang mistis. 

Ada juga yang menduga bahwa di kamar yang terkunci rapat dalam rumah yang kami tinggali itu ada sebuah kuburan. Ada juga yang bilang itu ruang semedi. keparat sekali, peristiwa eek tadi benar-benar seperti bola salju yang liar.
 
Kampret memang. Dan banyak lagi. Saya harus membendungnya. Sebagai individu aku merasa pembicaraan-pembicaraan itu membuatku tidak nyaman. Padahal ini semua hanya bermula dari soal eek yang tidak disiram itu. Yaelah itu kan cuma tai. Tinggal sembor aja. Selesai masalah. Begitu pikirku. Tapi aku ketua kelompok. Dan satu hal yang kupelajari tentang hidup bersama. Jika kau adalah seorang kepala dalam sebuah perkumpulan; sangat penting untuk menjaga rasa nyaman dan aman dalam kelompokmu.

Sementara obrolan kawan-kawan ini meliar dan melebar ke mana-mana. Aku masih ngetik. Obrolan mereka saling sambung. Aku mulai memikirkan sesuatu...

Dengan suara agak keras "Hey, Kawan-kawan. Yang tadi pagi itu Eek saya. Makasih udah dibersihin." Begitu saya bilang.

Lalu hening. Dan kulanjutkan mengetik. Apa boleh buat, pak ketua terlalu sibuk. Apalagi untuk ikut meramaikan pembicaraan eek yang entah dari mana asalnya itu.

Selain itu aku takut anggotaku itu bisa gelisah dan susah tidur gara-gara itu. Atau yang lebih parah dari itu. Dia tak akan pernah bisa tidur karena misteri tadi terlalu rumit baginya. Sehingga ia dihinggapi insomnia akut sepanjang hayat. Lalu ia mati muda dan penasaran karenanya. Ngeri.

Syukurlah, tampaknya ia cuma butuh kambing hitam. Jadilah dia bisa bergumam “Oalah itu tadi eeknya pak Ketua toh...” dan semua orang bisa berdamai dengan dirinya sendiri hingga hari tua.


Sementara saya, malam ini, sebelum tidur. Saya berpikir. Jangan-jangan itu memang eek saya. Yaelah. Sekarang saya yang gelisah.



Setelah satu bulan KKN kami selesai, aku bertanya pada Lani. "Eek yang waktu itu disiram sama si Dede gak?"

"Gak, A. Winni yang nyiramnya."

Keparatlah si Dede itu. Umpatku dalam hati. Benar, dia cuma mau cari sensasi. Tapi serius. Itu eek siapa sih?


Read more ...

07 March 2015

Barangkali Cinta Juga Harus Dewasa


Ica bersama suaminya yang tinggi & tampan.

-Tiara Khoirunnisa.

21 Februari kemarin saya turut menghadiri resepsi seorang kawan. Namanya Tiara Khirunisa, tapi dia suka menyebut dirinya Ica. Dia adik kelas kami yang manis, meski slengean. Ramah, baik, dan suka menyanyi. Sebagai perempuan agaknya dia tidak ada kekurangan apa pun kecuali suaranya jelek. Ia membuktika itu saat resepsinya sendiri. Apalah dia itu, pengantin yang terlalu pede. Ia menyanyikan banyak lagu di pernikahannya sendiri. Memangnya siapa dia? Dia pikir dia ini Rossa? 

Sepanjang jalan ke situ. Saya merasa menyadari sesuatu. Sesuatu yang klise,  yang akrab, namun juga tidak lazim dan terasa agak menggelikan. 

Begini Ca, melihat pernikahanmu, kemudian mendengar proses putus-nyambung Lani-Aman agaknya saya menyadari sesuatu soal cinta. Mungkin cinta memang seperti manusia. Ia tumbuh, belajar, menghayati, menyangsikan, menanyakan, sedih, senang, merayakan, terbuang, bangkit, terpuruk, redup, dan terus begitu. Ia terus belajar, terus berproses. Seperti manusia itu sendiri.

4 Semester yang lalu. Saya dengan Ica semobil. Naik angkot. Ica ingin pulang ke rumahnya di Wanayaasa, sementara saya ingin nonton teater yang kebetulan digelar tak jauh dari rumahnya. Di Angkot ami biacara banyak hal. Kemudian saya lupa, apa yang kita bicarakan saat itu. Lalu saya sadar betapa tidak pentingnya paragraf ini.

Yang saya ingat, saat itu betapa saya ingin sekali mengajaknya ke Bandung naik kereta atau Primajasa. Melihat pameran buku di Braga, nonton film atau hal lain yang saya sendiri belum mecobanya. Tapi saya tidak berani. Saya bersyukur saya tidak punya keberanian itu.

Bayangkan seandainya saya berani saat itu, mungkin saja dia malah akan terpuruk saat ini. Jika kamu perempuan  kamu pasti tahu betapa apa-bangetnya-sih pacaran dengan laki-laki yang lebih suka menanyakan apa maksud bintang-bintang yang kita lihat hari ini? Bintang-bintang yang dijadikan dadu judi para ahli nujum. Bintang yang masih diamati bahkan ketika sudah jauh pergi ribuan tahun dari posisinya. Sangat tidak romantis. Dan tidak bisa diandalkan. Sayang sekali.

Ica adalah anak yang manis dan menyenangkan. Apalagi dia termasuk perempuan yang agak usil dengan koleksi buku saya. Jujur saja saya suka perempuan manis yang usil dengan kumpulan buku saya. Perempuan seperti itu terasa seperti perempuan yang datang dan mencuri perasaan. Tapi sayang, sebelum dia nikah. Dia sudah jadian sama Rian. Teman baik saya. Ah kerennya.

Hal yang lucu (kalau saya tidak salah) saya adalah temannya di kampus yang pertama dikabari soal pernikahannya. Awalnya senang menjadi orang yang diberitahu pertama. Tapi kemudian saya menanyakan ini kemarin. Ternyata itu karena dia minta dibuatkan desain undangan. Ya ampun, saya benar-benar lupa dan bego sekali. Selain pecundang-asmara ternyata saya adalah 
desainer grafis partikelir.

Saya datang pada hari ijab qobul Ica dengan perasaan senang. Saya senang karena ketika saya mendengar kabar pernikahannya lalu mendatangi tempat kerjanya. Dia tersenyum-senyum dengan wajah yang merah. Dia tampak gembira. Pada hari itu (barangkali) adalah pertama kalinya saya melihat Ica seperti perempuan. 

Kesenangan saya itulah yang berlanjut sampai hari ijab-qobulnya tiba. Tapi tidak begitu dengan Rian (yang merupakan laki-laki kesayangan Ica sebelumnya). Rian sedih. Saya tahu itu. Pertama karena Tiara menikahi lelaki yang lebih ganteng darinya. Ke dua karena kami ke Wanayasa yang dingin malam hari. Dan dia yang bawa motor! Apa boleh buat. Rian tahu apa yang akan terjadi jika saya yang bawa itu motor. Jalanan ke sana berkelok, menanjak, dan gelap. Mirip kisah cinta saya. Yaelah.


Sepanjang jalan ke tempat Tiara (kali ini menghadiri resepsinya) saya mengkhayal. Barangkali cinta memang kekanak-kanakan. Pernikahan barangkali seperti sebuh panggilan seorang Ibu, mengingatkan sesuatu: cinta harus juga dewasa, harus tahu waktu bahwa ia harus pulang, dan tak bisa lagi main-main. Gitu.

Well, Tiara. jangan lupa. Anak Laki-laki pertamamu. Harus dinamain Muhammad Farid Ruwiandika. Farid mengambil dari namaku. Dan Ruwiandika mengambil nama lelaki yang kamu kasihi sebelum akhirnya kamu meninggalkannya (Benar-benar keputusan yang brilian Ca! Apalah Rian itu. Cuma jomblo nelangsa yang kalau sedang sial pasti dikira pacar saya.).

Seperti katamu sendiri biar pinter kayak A Parid. Iya, pinter, pinter bohong dan jadi pecundang-asmara. Traktakdungcess! Dan soal nama belakang Rian tersebut, mungkin itu akan membuat Farid Junior kita tumbuh sehat, rajin bekerja, suka olahraga dan punya prospek menjadi manusia yang keren bagi ibu, bapak, bangsa, dan negara. Kayak Rian. 

Dari tempat yang bau asap rokok ini. Yang dengan semena-mena kami namai "Pedes". Saya bersaksi. Bahwa saya belajar sesuatu dari peristiwa ini, Ca.

Anggaplah kamu dan suamimu yang tinggi dan ganteng itu mengajari saya sesuatu soal cinta. Sungguh betapa bebalnya saya ini: sehingga perlu menyaksikanmu menikah, dan menyanyi-nyanyi kayak orang gila hanya untuk belajar "jika sudah waktunya, cinta juga harus dewasa."
Read more ...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...