07 March 2015

Barangkali Cinta Juga Harus Dewasa


Ica bersama suaminya yang tinggi & tampan.

-Tiara Khoirunnisa.

21 Februari kemarin saya turut menghadiri resepsi seorang kawan. Namanya Tiara Khirunisa, tapi dia suka menyebut dirinya Ica. Dia adik kelas kami yang manis, meski slengean. Ramah, baik, dan suka menyanyi. Sebagai perempuan agaknya dia tidak ada kekurangan apa pun kecuali suaranya jelek. Ia membuktika itu saat resepsinya sendiri. Apalah dia itu, pengantin yang terlalu pede. Ia menyanyikan banyak lagu di pernikahannya sendiri. Memangnya siapa dia? Dia pikir dia ini Rossa? 

Sepanjang jalan ke situ. Saya merasa menyadari sesuatu. Sesuatu yang klise,  yang akrab, namun juga tidak lazim dan terasa agak menggelikan. 

Begini Ca, melihat pernikahanmu, kemudian mendengar proses putus-nyambung Lani-Aman agaknya saya menyadari sesuatu soal cinta. Mungkin cinta memang seperti manusia. Ia tumbuh, belajar, menghayati, menyangsikan, menanyakan, sedih, senang, merayakan, terbuang, bangkit, terpuruk, redup, dan terus begitu. Ia terus belajar, terus berproses. Seperti manusia itu sendiri.

4 Semester yang lalu. Saya dengan Ica semobil. Naik angkot. Ica ingin pulang ke rumahnya di Wanayaasa, sementara saya ingin nonton teater yang kebetulan digelar tak jauh dari rumahnya. Di Angkot ami biacara banyak hal. Kemudian saya lupa, apa yang kita bicarakan saat itu. Lalu saya sadar betapa tidak pentingnya paragraf ini.

Yang saya ingat, saat itu betapa saya ingin sekali mengajaknya ke Bandung naik kereta atau Primajasa. Melihat pameran buku di Braga, nonton film atau hal lain yang saya sendiri belum mecobanya. Tapi saya tidak berani. Saya bersyukur saya tidak punya keberanian itu.

Bayangkan seandainya saya berani saat itu, mungkin saja dia malah akan terpuruk saat ini. Jika kamu perempuan  kamu pasti tahu betapa apa-bangetnya-sih pacaran dengan laki-laki yang lebih suka menanyakan apa maksud bintang-bintang yang kita lihat hari ini? Bintang-bintang yang dijadikan dadu judi para ahli nujum. Bintang yang masih diamati bahkan ketika sudah jauh pergi ribuan tahun dari posisinya. Sangat tidak romantis. Dan tidak bisa diandalkan. Sayang sekali.

Ica adalah anak yang manis dan menyenangkan. Apalagi dia termasuk perempuan yang agak usil dengan koleksi buku saya. Jujur saja saya suka perempuan manis yang usil dengan kumpulan buku saya. Perempuan seperti itu terasa seperti perempuan yang datang dan mencuri perasaan. Tapi sayang, sebelum dia nikah. Dia sudah jadian sama Rian. Teman baik saya. Ah kerennya.

Hal yang lucu (kalau saya tidak salah) saya adalah temannya di kampus yang pertama dikabari soal pernikahannya. Awalnya senang menjadi orang yang diberitahu pertama. Tapi kemudian saya menanyakan ini kemarin. Ternyata itu karena dia minta dibuatkan desain undangan. Ya ampun, saya benar-benar lupa dan bego sekali. Selain pecundang-asmara ternyata saya adalah 
desainer grafis partikelir.

Saya datang pada hari ijab qobul Ica dengan perasaan senang. Saya senang karena ketika saya mendengar kabar pernikahannya lalu mendatangi tempat kerjanya. Dia tersenyum-senyum dengan wajah yang merah. Dia tampak gembira. Pada hari itu (barangkali) adalah pertama kalinya saya melihat Ica seperti perempuan. 

Kesenangan saya itulah yang berlanjut sampai hari ijab-qobulnya tiba. Tapi tidak begitu dengan Rian (yang merupakan laki-laki kesayangan Ica sebelumnya). Rian sedih. Saya tahu itu. Pertama karena Tiara menikahi lelaki yang lebih ganteng darinya. Ke dua karena kami ke Wanayasa yang dingin malam hari. Dan dia yang bawa motor! Apa boleh buat. Rian tahu apa yang akan terjadi jika saya yang bawa itu motor. Jalanan ke sana berkelok, menanjak, dan gelap. Mirip kisah cinta saya. Yaelah.


Sepanjang jalan ke tempat Tiara (kali ini menghadiri resepsinya) saya mengkhayal. Barangkali cinta memang kekanak-kanakan. Pernikahan barangkali seperti sebuh panggilan seorang Ibu, mengingatkan sesuatu: cinta harus juga dewasa, harus tahu waktu bahwa ia harus pulang, dan tak bisa lagi main-main. Gitu.

Well, Tiara. jangan lupa. Anak Laki-laki pertamamu. Harus dinamain Muhammad Farid Ruwiandika. Farid mengambil dari namaku. Dan Ruwiandika mengambil nama lelaki yang kamu kasihi sebelum akhirnya kamu meninggalkannya (Benar-benar keputusan yang brilian Ca! Apalah Rian itu. Cuma jomblo nelangsa yang kalau sedang sial pasti dikira pacar saya.).

Seperti katamu sendiri biar pinter kayak A Parid. Iya, pinter, pinter bohong dan jadi pecundang-asmara. Traktakdungcess! Dan soal nama belakang Rian tersebut, mungkin itu akan membuat Farid Junior kita tumbuh sehat, rajin bekerja, suka olahraga dan punya prospek menjadi manusia yang keren bagi ibu, bapak, bangsa, dan negara. Kayak Rian. 

Dari tempat yang bau asap rokok ini. Yang dengan semena-mena kami namai "Pedes". Saya bersaksi. Bahwa saya belajar sesuatu dari peristiwa ini, Ca.

Anggaplah kamu dan suamimu yang tinggi dan ganteng itu mengajari saya sesuatu soal cinta. Sungguh betapa bebalnya saya ini: sehingga perlu menyaksikanmu menikah, dan menyanyi-nyanyi kayak orang gila hanya untuk belajar "jika sudah waktunya, cinta juga harus dewasa."

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...