27 March 2015

Iya, Itu Eek Saya


Saat itu adalah hari keempat dari program KKN kami. Dari program ini aku belajar beberapa hal, entah sebagai ketua kelompok, atau sebagai individu.

Sebagai pemimpin tim. Ada banyak kejaran. Selain memastikan program kami berjalan dan sejalan dengan kebutuhan masyarakat. Aku juga harus menjaga emosi kami tetap stabil sebagai tim.

Sial tak bisa ditunda, malang tak bisa ditolak. Pagi itu posko kami gempar. Pasalnya salah satu anggota yang tugas piket mendapati kakus yang “berisi”. Sebagai konsekuensi tugasnya ia pun harus membersihkannya. Sayangnya peristiwa ini telah benar-benar membuatnya sangat penasaran. Ia terus bertanya-tanya sepanjang hari di tiap ada kesempatan mengobrol.

“Itu eek siapa sih? Aku penasaran,” tanyanya. Selanjutnya rasa penasaran itu menyambung dengan penasaran lain. Semisal ada yang nanya-naya siapa yang suka menggasab sendal, memakai sabun orang lain, atau menaruh pakaian dalam sembarangan. Kemudian obrolan merambat ke  hal-hal yang mistis. 

Ada juga yang menduga bahwa di kamar yang terkunci rapat dalam rumah yang kami tinggali itu ada sebuah kuburan. Ada juga yang bilang itu ruang semedi. keparat sekali, peristiwa eek tadi benar-benar seperti bola salju yang liar.
 
Kampret memang. Dan banyak lagi. Saya harus membendungnya. Sebagai individu aku merasa pembicaraan-pembicaraan itu membuatku tidak nyaman. Padahal ini semua hanya bermula dari soal eek yang tidak disiram itu. Yaelah itu kan cuma tai. Tinggal sembor aja. Selesai masalah. Begitu pikirku. Tapi aku ketua kelompok. Dan satu hal yang kupelajari tentang hidup bersama. Jika kau adalah seorang kepala dalam sebuah perkumpulan; sangat penting untuk menjaga rasa nyaman dan aman dalam kelompokmu.

Sementara obrolan kawan-kawan ini meliar dan melebar ke mana-mana. Aku masih ngetik. Obrolan mereka saling sambung. Aku mulai memikirkan sesuatu...

Dengan suara agak keras "Hey, Kawan-kawan. Yang tadi pagi itu Eek saya. Makasih udah dibersihin." Begitu saya bilang.

Lalu hening. Dan kulanjutkan mengetik. Apa boleh buat, pak ketua terlalu sibuk. Apalagi untuk ikut meramaikan pembicaraan eek yang entah dari mana asalnya itu.

Selain itu aku takut anggotaku itu bisa gelisah dan susah tidur gara-gara itu. Atau yang lebih parah dari itu. Dia tak akan pernah bisa tidur karena misteri tadi terlalu rumit baginya. Sehingga ia dihinggapi insomnia akut sepanjang hayat. Lalu ia mati muda dan penasaran karenanya. Ngeri.

Syukurlah, tampaknya ia cuma butuh kambing hitam. Jadilah dia bisa bergumam “Oalah itu tadi eeknya pak Ketua toh...” dan semua orang bisa berdamai dengan dirinya sendiri hingga hari tua.


Sementara saya, malam ini, sebelum tidur. Saya berpikir. Jangan-jangan itu memang eek saya. Yaelah. Sekarang saya yang gelisah.



Setelah satu bulan KKN kami selesai, aku bertanya pada Lani. "Eek yang waktu itu disiram sama si Dede gak?"

"Gak, A. Winni yang nyiramnya."

Keparatlah si Dede itu. Umpatku dalam hati. Benar, dia cuma mau cari sensasi. Tapi serius. Itu eek siapa sih?


No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...