25 April 2015

Ngaji Selo dengan Neng Isna


“...diantara tanda-tanda matinya hati adalah (1) hilangnya kesedihan setelah terlewatkan kesempatan beramal baik, dan (2) hilangnya penyesalan terhadap pelanggaran yang dilakukan. 

(terjemahan dari salah satu quote Al-Hikam, karya Syaikh Ibnu Athoillah)

Jamaah pembaca yang dirahmati. Setelah #savehajilulung sirna, nyatanya pembicaraan tentang dana siluman itu masih bergulir. Kegelisahan kita terhadap akhlak para politisi tak kunjung reda. Terbukti sebuah tagar #EffectHajiLulung yang senada dengan sebelumnya naik menjadi TTWW. Nyatanya, Haji Lulung belum berlalu. Kita semua masih diliputi kegelisahan yang sama.

Tapi marilah saudara-saudara sekalian saya kenalkan pada Ukhti Isna. Doi adalah santriwati di sebuah pesantren di Puwakarta, jauh dari Jakarta. Juga jauh juga dari gadget-gadget seperti yang saat ini saudara-saudara bergantung padanya. Ukhti Isna adalah tipikal gadis yang sholehah, yang cantik, dan suka minjem hapeku buat sms mamanya (abaikan saja).

Pada suatu hari yang terang oleh sinar wajahnya saya iseng mengajaknya mengobrolkan isu-isu terkini. Katanya dia bahkan gak ngerti kenapa orang-orang di medsos masih begitu sibuk dengan pembicaraan Haji Lulung, Dana Siluman, dan kisruh KPK-Polri. Sementara sepinya masjid-masjid menjadi sesuatu yang terlupakan. Subhanallah sekali Ukhti Isna ini. Benar-benar membangkitkan hasrat ingin mengimami.

Saya berpoto dengan Dedek Isna yang jelita

Sehingga aku berpikir bahwa antum-antum yang rentan gegana (gelisah, galau, merana) ini mestilah melihat bagaimana Ukhti Isna dan santri-santri lucu lainnya bersikap dan bereaksi terhadap isu-isu kekinian. Mereka adem ayem. Kehidupan mereka persis yang digambarkan dalam hadits “Sungguh menakjubkan kehidupan orang beriman, jika mendapat nikmat dan kesenangan mereka bersykur. Jika  didera masalah dan kesuliatan mereka bersabar.” Imbasnya, hidup mereka di pesantren begitu terasa damai, aman, tentram, dan loh jinawi. 

Kadang aku membayangkan orang-orang seperti Adit, Sendol, Rian, dan jomblo-jomblo jorok lainnya duduk di depan Kyai Abun, ngaji Al-Hikam. Kemudian cahaya wajah mereka menjadi berseri-seri. Sebab tentram hatinya, meski tiada siapapun di sisi mereka. Sebab apalah artinya kehadiran makhluk jika di hati mereka diisi oleh cahaya Sang Kholiq. Lalu saya membayangkan mereka bertiga berjilbab dan shalat lima waktu pada shaf yang paling depan. Tapi apa boleh buat, bagi mereka sholat adalah yang ke-dua. Yang pertama adalah syahadat. Bener juga sih. Dan juga urusan jilbab bukanlah urusan lelaki muslim yang normal.

Tunggu dulu. Sebelum saya dikira menggurui dan sok alim. Saya ingin sekali mengatakan, bahwa bukan itu maksud saya. Sebab, bagaimanapun juga anda sekalian adalah orang-orang yang pandai dan cerdas. Hanya saja menurut saya antum juga perlu menambahkan wawasan hikmah dan kebijaksanaan di dalam cakrawala berpikir antum-antum sekalian. 

Sehingga pada lisan dan keypad yang muncul adalah dakwah, di hatinya dzikrullah, seluruh keseharian dan perbuatan bermuara pada syukur dan sabar. Sehingga hidup terasa tenang, tahajjud  terjaga, dan bisa punya alasan buat pedekate sama akhwat-akhwat atau santriwati-santriwati yang tajntik dan sholehah. Sebagi nilai plus-nya; Lumayan bisa nge-twit di jam 03:00 dini hari dengan doa-doa a la akun-akun islami. Subhanallah.

Terlepas dari apapun yang kita bicarakan ini. Tetapi bolehlah tawaran saya untuk mengaji Al-Hikam ini bisa dijadikan pertimbangan saudara-saudara agar bisa lebih kalem dan selo. Lagipula ini senada dengan apa yang Syekh Ibnu Athoillah bilang diatas, soal kesempatan berbuat kebaikan. Sehingga nantinya apapun bentuk tulisan sodara akan menjadi wasilah dakwah yang selo. Minimal ya bisa menjadi tandemnya Felix Siauw. Kasian dia. Tidak ada yang meluruskan ajaran ke-khilafah-an-nya. Ah kamana we lah ari geus ngacapruk mah.

Btw, Dek Isna ini walaupun bukan jomblo, dia adalah wanita yang tetap menjaga marwah-nya sebagai WIIT (Wanita Idaman Imam Teraweh). 

Okelah, sebelum segala halnya menjadi lebih ngawur. Sepertinya ini sudah tjukup!

Read more ...

23 April 2015

Nonsense (3)

Tidakkah sekali pun terbesit di dalam pikiranmu untuk ragu dan sangsi kepada hal-hal yang damai? Maksudku, lihatlah kita-kita semua ini. Di Indonesia kita yang aman sentosa loh jinawi ini.

Santri Al-Muhajirin masih bisa ngaji dengan KH. Abun Bunyamin, M.A, melihatnya ceramah. Melihat bu Ifah sambutan. Order mug, pin, sticker, dan gantungan kunci di Pedes. Purwakarta terlalu aman dibanding Palestina, Irak, bahkan India. Tidakkah kamu curiga? Ya!?

Tahan dulu kecurigaanmu. Aku juga punya kecurigaan yang sama. Aku pikir aman dan damai ini adalah ilusi gagal dari pekerjaan Madara Uchiha. Dia gagal, dia pikir dia bisa menciptakan “Kedamaian Abadi” untuk semua umat manusia. Setelah dia capai jurus agung, ninjutusu terhebat Infinite Tsukoyomi. Genjutsu tanpa batas. Sebuah jurus tingkat tinggi yang menciptakan mimpi semua orang terwujud. Dengan menjadikan Bulan sebagai proyeksi yang memantulkan jurus matanya.

Oh Madara nampaknya tak pernah ketemu Presiden Snow, dari Novel Hunger Game. Yang bicaranya sangat menawan dan meyakinkan. Tentu saja dia cuma seorang politisi. Pernah katanya pada Katniss Everdeen. “ ukankah sudah kubilang padamu bahwa kedamaian itu rentan (bubar)?”

Alih-alih Madara malah menemui dan diskusi dengan Uncle Ben, pamannya Peter Parker dengan Quotenya “Kekuatan yang besar menuntut tanggung jawab yang besar”. Apalah dia itu cuma paman si Spiderman, pahlawan bertopeng yang miskin.

Lalu Madara menyadari bahwa kekuatan besarnya sebagai seorang Uchiha. Membuatnya berpikir bahwa The Great Madara harus lebih great daripada The Great Alexander yang sekedar menyatukan Barat dan Timur. Baginya yang Uchiha, itu adalah mimpi yang cemen.

Apalah artinya bagi Madara, perang dan penaklukan? Baginya cukup menyuruh satu atau dua anggota akatsuki saja sudah bisa memporak-porandakan sebuah Negara berdaulat sekali pun.

Maka sebagai Uchiha dengan tenaga dan kekuatan yang besar ia merasa harus lebih hebat. Ia ingin mimpi setiap orang terwujud. Maka dia berusaha keras. Mengumpulkan semua bijuu yang merupakan tanggung jawab setiap Negara Besar di Negara-negara Shinobi. Dia memonopoli perang, melangsungkan sabotase, mengacak-ngacak gejolak politik, dan semacamnya.

Sampai akhirnya seluruh bijuu terkumpul. Dan terciptalah jutsu ini. Aman dan Damai ini. Tapi Madara melupakan sesuatu; bahkan di dalam diri manusia terlemah sekali pun terdapat hasrat ingin menguasai satu sama lain.

Lalu semua hidup damai dalam ilusinya sendiri, misi Madara sudah complete. Kalau Madara juga membuat semua orang tidak sabar dan tidak memberontak keluar dari genjutsu tersebut, maka Madara sukses telak. Atau kalau perlu Sasuke, Naruto, Sakura, dan Kakashi mati saja dalam lahar api yang disodorkan oleh Kaguya, atau mereka berempat join dengannya dalam ilusi Madara. Standing Applause buat Madara, hampir seperti Nabi, Teolog, Politisi, dan Tuhan. Hampir saja. Tapi Madara nyatanya bukanlah siapa-siapa kalau seandainya Mangaku-nya tidak pernah lahir. Tapi saying, bahkan dalam dunia ilusi sekali pun tidak mungkin seseorang dapat pergi ke ketiadaan.

Tapi Na, sebentar. Aku belum selesai dengan Madara ini, bagaimana jika kita memang dalam genjutsu, kemudian aku berontak ingin keluar dari ilusi ini? Bukankah itu bukti bahwa Infinite Tsukoyomnya tidak sempurna. Tidakkah orang lain juga sama? Ingin berontak dari ilusi genjutsunya masing – masing?

Btw, kamu yang sedang dalam genjutsuku atau aku yang di dalam genjutsumu sih? 

Lalu jam menunjukkan pukul 22.40. Nenek dan Kakek tidur di kamarnya setelah mematikan televise yang menyiarkan acara audisi bintang dangdut yang dipandu oleh Nasar, Irfan, dan orang-orang tidak lucu lainnya. Mereka kurang baca. Humor mereka menjadi terasa sepi dan tidak literer. Aku benci gaya humor yang tidak literer dan hahahihi kayak banci. Aku bersyukur meski diriku di depan tivi, hatiku masih kelayapan di Purwakarta. Mencari kamu.

Aku dengar detik jam yang terjaga. Istiqamah, terikat oleh mekanisme mesinnya sendiri. Lalu suara jangkrik di luar sana semakin terasa. Semakin kuheningkan diri semakin terasa suara yang lain yang lebih halus. Seperti gemuruh, berderu dalam telingaku sendiri.

Darimana dating gemuruh itu? Seakan sedang mengirim isyarat khusus. Entah apa. 

Handphoneku lobet, tidak ada charge. Aku merasa kali ini tanggung jawabku lebih besar dari kekuatanku. Mungkin Madara memang ada. tapi itu bukan aku. Aku bersyukur.
Read more ...

12 April 2015

UN Dek Isna? Selo!

Siang tadi aku membaca ekspresi kegelisahan di wajah Dedek Amalia. Wajahnya yang bersinar itu terasa redup. Seperti ada sesuatu yang membebaninya. Ah, ternyata UN. Terbukti dia nge-print soal-soal gitu. Aku kadih diskon 50%. Maklum, Pedes udah makmur.

Keselisahan dari Amalia itu membekas juga di dalam hatiku. Kasian, masih muda tanggung jawabnya udah sebesar itu. Padahal belum tentu dia sudah menguasai cara membuat bulatan hitam penuh dengan diameter 1 Inchi. Lalu saya merasa harus berbuat sesuatu...

Mungkin aku rasa perlu juga membuat seperti surat cinta terbuka buat dedek Isna gitu. Nah pertanyaannya: Kenapa harus Dedek Isna? Karena tadi siang ada Dedek Hasna. Lalu si Iin ngotot memangilnya Isna. AH, Dek Isna. Sekeras apapun aku berusaha melupakanmu. Alam semesta seolah-olah mencari-cari celah kesempatan untuk mengingatkanku padamu. Oh betapa.

Nah, jamaah pembaca. Mungkin kamu gak akan kenal Dedek Isna ini. Dan itu bukanlah masalah buatku, buatmu juga tidak akan menjadi masalah. Aku yang jamin.

Dedek Isna, Dedek Amal, Dedek Veni, Dedek Chandra, Dedek Raji, Dedek Putra, dan Dedeke-dedek lainnya yang udah kelas 12. Aku ingin tulisan ini menghiburmu, dan juga teman-teman seangkatanmu sebelum beberapa jam lagi akan berjibaku dengan soal-soal UN. Ingatlah Dek Isna, gunakanlah inner beauty-mu besok. Untuk apa? Ya gak untuk apa-apa. Kamu kan cuma perlu bisa jawab soal. Bukan lenggak-lenggok ala model hijab.

Dedek Isna yang cantik, yang aku suka jika kamu ketawa. Yang aku senang jika kamu ikutan sms mamamu pakai hape-ku. Aku tulis surat ini bukan karena aku inginkan hubungan kamu dengan Chandra putus. Sungguh. Meski banyak yang menginginkan itu terjadi. Tapi  aku tidak. Karena  menurutku berakhirnya hubungan kamu dengan Chandra adalah pertanda bahwa gong persaingan terbuka untuk memenangkan hatimu sedang ditabuh sekencang-kencangnya. Dan jika hal itu terjadi aku sugguh belum siap. Kumohon Dedek Isna yang cantik janganlah gong itu dipukul dulu sampai aku bisa dan punya motor sendiri. Sehingga kelak aku akan merasa siap.

Tetaplah dengan Chandra itu Dek. Dengan begitu engkau telah menolong nyaliku. Sebab aku seringkali merasa ciut karenanya. Mengingat Chandra adalah lelaki yang tampan, tinggi, ngerti musik, pandai menyetir mobil, apalagi motor. Atau mungkin juga dia humoris dan romantis (Ah, dia benar-benar satu paket cowok ideal *oke ini lebay*).

Tapi tentu saja aku masih akan merasa mendingan jika memang harus berhadapan bahkan bersaing dengan satu Chandra saja. Tapi bagaimana jika memang ada laki-laki yang sejenis Chandra. Atau dengan kata lain; bagaimana aku bisa menghadapi Chandra-Chandra yang lain jika satu Chandra saja sudah membuatku merasa kayak cowok cemen nan sepele?

Apalah aku ini Dek, cuma bahan tertawaan. Cuma sisa sabun colek diantara produk-produk cuci piring yang mengkilap dan mahal. Ah sudahlah.

Aku tiba-tiba teringat bentuk pager di gigimu. Begitu lucu. Teringat juga omongan Irfan Raji kemarin malam. Katanya ingin fokus belajar dan berhenti patjaran. Oh betapa lebaynya si Rois-mu itu. Padahal dia pacarannya gak pernah modal. (Memangnya surat-suratan modal berapa?)

Salam kangen. Tetaplah Kemari. Main. Minjem Hape. Fesbukan. Agar kulihat tawamu seringkali. Tapi kamu besok UN. Oh dik Isna, kamu pasti sangat galau. Rasanya saya ingin sekali menggantikanmu agar kamu tidak perlu repot bikin contekan malem-malem, mengelabui pengawas dan mengkhawatirkan LJK-mu robek karena pensilmu terlalu tajam. 

Oh dik Isna, meskipun ini hari Minggu yang sibuk. Aku akan senang hati jika besok bisa menggantikanmu. Tapi aku takut Pa Marfu. Lebih dari itu, aku takut jika aku malah membuat kesalahan serius. Semisal mengisi LJK MTK dengan “ Maaf bu, saya gak paham soal ini." (Btw, guru MTK masih Bu Mega kan? Salam sayang dari Aa, gitu ya)

Salam sayang. Dari tukang sablon, tukang pin & merchandise yang culun dan berbahagia. Sekarang Pedes udah pindah. Terus A Adit udah bisa nyuci sendiri. Ada A Iin juga di sini. Salam juga dari Abay dan Arian. Anak kelas 9. Mereka sudah punya pacar, katanya. Saya jadi malu. Saya merasa gagal jadi laki-laki. Tapi yasudahlah. Seperti kata di film The Imitation Game "Yang tidak pernah diduga, akan melakukan hal yang tak terduga". Yaelah ini makin gak nyambung aja.

Yaudahlah selamat malam. Selamat belajar untuk anak kelas 12 di seantero Indonesia. Salam ketjup!
Read more ...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...