23 April 2015

Nonsense (3)

Tidakkah sekali pun terbesit di dalam pikiranmu untuk ragu dan sangsi kepada hal-hal yang damai? Maksudku, lihatlah kita-kita semua ini. Di Indonesia kita yang aman sentosa loh jinawi ini.

Santri Al-Muhajirin masih bisa ngaji dengan KH. Abun Bunyamin, M.A, melihatnya ceramah. Melihat bu Ifah sambutan. Order mug, pin, sticker, dan gantungan kunci di Pedes. Purwakarta terlalu aman dibanding Palestina, Irak, bahkan India. Tidakkah kamu curiga? Ya!?

Tahan dulu kecurigaanmu. Aku juga punya kecurigaan yang sama. Aku pikir aman dan damai ini adalah ilusi gagal dari pekerjaan Madara Uchiha. Dia gagal, dia pikir dia bisa menciptakan “Kedamaian Abadi” untuk semua umat manusia. Setelah dia capai jurus agung, ninjutusu terhebat Infinite Tsukoyomi. Genjutsu tanpa batas. Sebuah jurus tingkat tinggi yang menciptakan mimpi semua orang terwujud. Dengan menjadikan Bulan sebagai proyeksi yang memantulkan jurus matanya.

Oh Madara nampaknya tak pernah ketemu Presiden Snow, dari Novel Hunger Game. Yang bicaranya sangat menawan dan meyakinkan. Tentu saja dia cuma seorang politisi. Pernah katanya pada Katniss Everdeen. “ ukankah sudah kubilang padamu bahwa kedamaian itu rentan (bubar)?”

Alih-alih Madara malah menemui dan diskusi dengan Uncle Ben, pamannya Peter Parker dengan Quotenya “Kekuatan yang besar menuntut tanggung jawab yang besar”. Apalah dia itu cuma paman si Spiderman, pahlawan bertopeng yang miskin.

Lalu Madara menyadari bahwa kekuatan besarnya sebagai seorang Uchiha. Membuatnya berpikir bahwa The Great Madara harus lebih great daripada The Great Alexander yang sekedar menyatukan Barat dan Timur. Baginya yang Uchiha, itu adalah mimpi yang cemen.

Apalah artinya bagi Madara, perang dan penaklukan? Baginya cukup menyuruh satu atau dua anggota akatsuki saja sudah bisa memporak-porandakan sebuah Negara berdaulat sekali pun.

Maka sebagai Uchiha dengan tenaga dan kekuatan yang besar ia merasa harus lebih hebat. Ia ingin mimpi setiap orang terwujud. Maka dia berusaha keras. Mengumpulkan semua bijuu yang merupakan tanggung jawab setiap Negara Besar di Negara-negara Shinobi. Dia memonopoli perang, melangsungkan sabotase, mengacak-ngacak gejolak politik, dan semacamnya.

Sampai akhirnya seluruh bijuu terkumpul. Dan terciptalah jutsu ini. Aman dan Damai ini. Tapi Madara melupakan sesuatu; bahkan di dalam diri manusia terlemah sekali pun terdapat hasrat ingin menguasai satu sama lain.

Lalu semua hidup damai dalam ilusinya sendiri, misi Madara sudah complete. Kalau Madara juga membuat semua orang tidak sabar dan tidak memberontak keluar dari genjutsu tersebut, maka Madara sukses telak. Atau kalau perlu Sasuke, Naruto, Sakura, dan Kakashi mati saja dalam lahar api yang disodorkan oleh Kaguya, atau mereka berempat join dengannya dalam ilusi Madara. Standing Applause buat Madara, hampir seperti Nabi, Teolog, Politisi, dan Tuhan. Hampir saja. Tapi Madara nyatanya bukanlah siapa-siapa kalau seandainya Mangaku-nya tidak pernah lahir. Tapi saying, bahkan dalam dunia ilusi sekali pun tidak mungkin seseorang dapat pergi ke ketiadaan.

Tapi Na, sebentar. Aku belum selesai dengan Madara ini, bagaimana jika kita memang dalam genjutsu, kemudian aku berontak ingin keluar dari ilusi ini? Bukankah itu bukti bahwa Infinite Tsukoyomnya tidak sempurna. Tidakkah orang lain juga sama? Ingin berontak dari ilusi genjutsunya masing – masing?

Btw, kamu yang sedang dalam genjutsuku atau aku yang di dalam genjutsumu sih? 

Lalu jam menunjukkan pukul 22.40. Nenek dan Kakek tidur di kamarnya setelah mematikan televise yang menyiarkan acara audisi bintang dangdut yang dipandu oleh Nasar, Irfan, dan orang-orang tidak lucu lainnya. Mereka kurang baca. Humor mereka menjadi terasa sepi dan tidak literer. Aku benci gaya humor yang tidak literer dan hahahihi kayak banci. Aku bersyukur meski diriku di depan tivi, hatiku masih kelayapan di Purwakarta. Mencari kamu.

Aku dengar detik jam yang terjaga. Istiqamah, terikat oleh mekanisme mesinnya sendiri. Lalu suara jangkrik di luar sana semakin terasa. Semakin kuheningkan diri semakin terasa suara yang lain yang lebih halus. Seperti gemuruh, berderu dalam telingaku sendiri.

Darimana dating gemuruh itu? Seakan sedang mengirim isyarat khusus. Entah apa. 

Handphoneku lobet, tidak ada charge. Aku merasa kali ini tanggung jawabku lebih besar dari kekuatanku. Mungkin Madara memang ada. tapi itu bukan aku. Aku bersyukur.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...