12 April 2015

UN Dek Isna? Selo!

Siang tadi aku membaca ekspresi kegelisahan di wajah Dedek Amalia. Wajahnya yang bersinar itu terasa redup. Seperti ada sesuatu yang membebaninya. Ah, ternyata UN. Terbukti dia nge-print soal-soal gitu. Aku kadih diskon 50%. Maklum, Pedes udah makmur.

Keselisahan dari Amalia itu membekas juga di dalam hatiku. Kasian, masih muda tanggung jawabnya udah sebesar itu. Padahal belum tentu dia sudah menguasai cara membuat bulatan hitam penuh dengan diameter 1 Inchi. Lalu saya merasa harus berbuat sesuatu...

Mungkin aku rasa perlu juga membuat seperti surat cinta terbuka buat dedek Isna gitu. Nah pertanyaannya: Kenapa harus Dedek Isna? Karena tadi siang ada Dedek Hasna. Lalu si Iin ngotot memangilnya Isna. AH, Dek Isna. Sekeras apapun aku berusaha melupakanmu. Alam semesta seolah-olah mencari-cari celah kesempatan untuk mengingatkanku padamu. Oh betapa.

Nah, jamaah pembaca. Mungkin kamu gak akan kenal Dedek Isna ini. Dan itu bukanlah masalah buatku, buatmu juga tidak akan menjadi masalah. Aku yang jamin.

Dedek Isna, Dedek Amal, Dedek Veni, Dedek Chandra, Dedek Raji, Dedek Putra, dan Dedeke-dedek lainnya yang udah kelas 12. Aku ingin tulisan ini menghiburmu, dan juga teman-teman seangkatanmu sebelum beberapa jam lagi akan berjibaku dengan soal-soal UN. Ingatlah Dek Isna, gunakanlah inner beauty-mu besok. Untuk apa? Ya gak untuk apa-apa. Kamu kan cuma perlu bisa jawab soal. Bukan lenggak-lenggok ala model hijab.

Dedek Isna yang cantik, yang aku suka jika kamu ketawa. Yang aku senang jika kamu ikutan sms mamamu pakai hape-ku. Aku tulis surat ini bukan karena aku inginkan hubungan kamu dengan Chandra putus. Sungguh. Meski banyak yang menginginkan itu terjadi. Tapi  aku tidak. Karena  menurutku berakhirnya hubungan kamu dengan Chandra adalah pertanda bahwa gong persaingan terbuka untuk memenangkan hatimu sedang ditabuh sekencang-kencangnya. Dan jika hal itu terjadi aku sugguh belum siap. Kumohon Dedek Isna yang cantik janganlah gong itu dipukul dulu sampai aku bisa dan punya motor sendiri. Sehingga kelak aku akan merasa siap.

Tetaplah dengan Chandra itu Dek. Dengan begitu engkau telah menolong nyaliku. Sebab aku seringkali merasa ciut karenanya. Mengingat Chandra adalah lelaki yang tampan, tinggi, ngerti musik, pandai menyetir mobil, apalagi motor. Atau mungkin juga dia humoris dan romantis (Ah, dia benar-benar satu paket cowok ideal *oke ini lebay*).

Tapi tentu saja aku masih akan merasa mendingan jika memang harus berhadapan bahkan bersaing dengan satu Chandra saja. Tapi bagaimana jika memang ada laki-laki yang sejenis Chandra. Atau dengan kata lain; bagaimana aku bisa menghadapi Chandra-Chandra yang lain jika satu Chandra saja sudah membuatku merasa kayak cowok cemen nan sepele?

Apalah aku ini Dek, cuma bahan tertawaan. Cuma sisa sabun colek diantara produk-produk cuci piring yang mengkilap dan mahal. Ah sudahlah.

Aku tiba-tiba teringat bentuk pager di gigimu. Begitu lucu. Teringat juga omongan Irfan Raji kemarin malam. Katanya ingin fokus belajar dan berhenti patjaran. Oh betapa lebaynya si Rois-mu itu. Padahal dia pacarannya gak pernah modal. (Memangnya surat-suratan modal berapa?)

Salam kangen. Tetaplah Kemari. Main. Minjem Hape. Fesbukan. Agar kulihat tawamu seringkali. Tapi kamu besok UN. Oh dik Isna, kamu pasti sangat galau. Rasanya saya ingin sekali menggantikanmu agar kamu tidak perlu repot bikin contekan malem-malem, mengelabui pengawas dan mengkhawatirkan LJK-mu robek karena pensilmu terlalu tajam. 

Oh dik Isna, meskipun ini hari Minggu yang sibuk. Aku akan senang hati jika besok bisa menggantikanmu. Tapi aku takut Pa Marfu. Lebih dari itu, aku takut jika aku malah membuat kesalahan serius. Semisal mengisi LJK MTK dengan “ Maaf bu, saya gak paham soal ini." (Btw, guru MTK masih Bu Mega kan? Salam sayang dari Aa, gitu ya)

Salam sayang. Dari tukang sablon, tukang pin & merchandise yang culun dan berbahagia. Sekarang Pedes udah pindah. Terus A Adit udah bisa nyuci sendiri. Ada A Iin juga di sini. Salam juga dari Abay dan Arian. Anak kelas 9. Mereka sudah punya pacar, katanya. Saya jadi malu. Saya merasa gagal jadi laki-laki. Tapi yasudahlah. Seperti kata di film The Imitation Game "Yang tidak pernah diduga, akan melakukan hal yang tak terduga". Yaelah ini makin gak nyambung aja.

Yaudahlah selamat malam. Selamat belajar untuk anak kelas 12 di seantero Indonesia. Salam ketjup!

2 comments:

  1. untuk dek Isna, mudah-mudahan dek Isna mengerti ya. tolong beri jawaban. kalau tidak jawaban, setidaknya ada hal lain yang bisa membuat AA Farid yakin kepada dek Isna.
    o betapa malang-melintang hidup ini.

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...