06 June 2015

Untuk Almarhum Isan (Sebuah catatanan yang terlambat)

So let the light guide your way hold every memory

As you go and every road you take will always lead you home

 (See You Again - Wiz Khalifa Feat Charly Puth)
3 tahun yang lalu. Kami mengajar di Masjid tempat dia dishalatkan


Setelah siang yang panjang di hari itu. Saya pulang ke rumah. Iseng, saya masuk ke kamar Bapa-Ibu saya. Saya melihat wajah kelelahan Bapa. Entah bagaimana menggambarkan mimik-wajah Bapa saat itu. Saya melihatnya masih dengan baju shalatnya. 

Bapasedang berbaring setengah duduk. Dua lengan tangannya ditaruh sebagai bantal tambahan. Matanya menerawang ke langit-langit kamar. Di wajahnya tergambar lelah dan rasa kehilangan. Pasalanya hari ini ia memimpin hampir keseluruhan dari prosesi pemakaman Isan. 

Di Pedes-lah terakhir kali kami bertemu. Saya Adit, Aben, Buwok, dan Isan. Kami mengisi malam itu dengan obrolan-sesama-pria. Membicarakan siapa perempuan tercantik di kelas mereka. Tips dan trik memikat wanita dan lain sebagainya yang sebenernya saya kutip dari artikel internet dan belum saya praktekkan. :D. 

Isan bukanlah siapa-siapa. Dia remaja seperti umumnya. Pengguna social media juga. kadang menggalau, kadang melucu, kadang juga mendadak kayak Mario Teguh. Dia santri seperti umumnya. Pakai sarung, sekali-kali melanggar peraturan, dan kemungkinan besar dia punya kekasih (tempat dia mengirimkan surat-surat cintanya). 

Teman-temanya mengenalnya sebagai teman yang asyik. Ia bergaul dengan siapa saja. Kulitnya gelap. Perawakannya cukup tambun untuk seusianya. Kumisnya tumbuh tipis, cukuran rambutnya rapih. Ditambah lagi, tatapan matanya yang teduh. Membuat siapa saja yang menatapnya menjadi sayang. Sungguh hal terakhir inilah yang kadang membuat saya iri dengannya.

Sampai di paragraf ini saya sudah bingung mau melanjutkan dalam format seperti apa dan maksud apa yang ingin saya sampaikan. Dan hal ini sudah terjadi 2 bulan yang lalu)

--------------------------

Kamu pasti tidak percaya, San. Tapi saya ingin menceritakan sesuatu. Sebagai apologi saja. Barangkali itu akan meringankan rasa bersalah saya. Jam 7 pagi hari itu. Saya terbangun dengan gedoran pintu dari tangan tembam si Memet. Lalu sekonyong-konyong saya mendengar kabar meninggalmu dari mulutnya. Benar-benar berita yang sangat tidak menyenangkan untuk mengawali hari Minggu.

Sialnya, saya malah tidak langsung mandi dan bersiap menunggu kedatangan jenazahmu. Saya malah memilih duduk, menyeduh kopi, menyulut sebatang rokok. Dan mengurai beberapa hal dari kenangan kita. Saya dan kamu, San.

Misalnya seperti yang sering kamu lakukan, kamu menundukkan kepala ketika bersalaman dengan saya. Katamu "biar direstui jadi adik ipar". Saya bersunggut-sunggut saja. Mungkin akan menyenangkan jika kelak punya adik ipar yang baik. Kalau sudah begitu saya berkelakar "30 Juz dulu, terus beliin Aa Ninja".

Mata saya tiba-tiba sedikit berair. Rasanya, kabar-kehilangan memang tak pernah sesepele kelihatannya. Orang-orang meninggal setiap hari. Memang bukan kabar luar-biasa. Olga meninggal, dan saya tidak merasa ada apapun yang hilang dari saya. Tapi meninggalnya kamu San, rasanya mustahil untuk direspon datar-datar saja. Lagipula kamu bukan Olga. Dan Olga tidak seganteng kamu. Serius.

Saya nampaknya memang seperti teman-teman kamu yang lain. Merasa ada bagian terpenting dalam hidup kami; yang kemudian hilang. Sangat tiba-tiba. Sehingga aku mulai bertanya-tanya "memangnya sejak kapan kita bisa merasa siap pada segala hal yang tidak kita sukai?"

***


Beberapa waktu yang lalu. Sehari setelah kamu dimakamkan. Waktu menunjukkan jam 20:47. Saya berpikir untuk bertakziah ke rumahmu besok, San. Saya bingung dan memikirkan apa yang kira-kira akan saya lakukan ketika takziah besok? Lalu saya bertanya sama Iqbal Abah, yang sedang berada di sebelah saya. Dia sedang baca komik online.

Biasanya apa yang kita lakukan orang-orang yang takziah? Gitu tanyaku, san.

Lalu si Iqbal ini menoleh ke saya dengan raut wajah yang percaya diri. Di tangan kanannya mouse, tangan kirinya dilipat ke daerah perutnya atau daerah lain yang lebih rendah yang entah apa namanya, mungkin hutan. Kamu tahu apa bilangnya san?

"Ya gimana ya... kalau secara adat mah paling tuker-tuker cincin. Terus makan-makan. Pulang deh..."

"Pfft tuker cincin?

"Iya takziah, kan?" Tanyanya.
"Iya. Itu mah khitbah kali. Takziah mah mengunjungi keluarga mayit bro."
"Oh," katanya.

Yaelah, San. Saya ini memang terlalu sial, punya temen kok gitu-gitu amat. By the way Aa udah berhenti merokok San, udah 1 mingguan. Kamu yang tenang di sana. Aa mah gak kangen sama kamu. Soalnya Aa bakal semaput lah kalau ketemu kamu langsung mah. :D

San, Aa percaya kamu mendapat tempat yang baik di sana. Kamu meninggalkan kami di saat kamu dalam medan jihad ilmu seperti kami. Oh ya Aa titip salam buat Syaikh Abdul Halim. Bilang, Aa kangen. Banget. Wasalam 

Catatan: Saya menulis ini 2 bulan yang lalu. Dan melakukannya secara marathon. Lantaran bingung.

Read more ...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...