29 August 2015

Kpd Syeikh Maulana: Ikhtiar Melawan Dollar


Cutterme dan Ikhtiar Melawan Dollar


Syeikh Maulana. Sungguh menyenangkan membaca surat balasan antum. Bagi saya yang lemah ini cukuplah penjagaan Allah Swt atas antum di Kairo; yang tidak terlalu jahat bagi antum yang dulunya Inlander, dikejar-kejar akun cewek gadungan, dan sering dikatain tukang PHP.

Sebelumnya saya sempat penasaran. Apakah jika musim dingin di Kairo (yang konon bersalju) dapat membuat ingus kita membeku dan kemudian mengganggu pernapasan? Apakah hawa dingin di sana akan naik dua kali lipat jika kita masih menjomblo ketika musim dingin?

Sungguh, rasa penasaran yang menunjukkan betapa ceteknya pengetahuan saya tentang ilmu biologi dasar. Pantesan saja dulu saya diputusin dia (yang saat ini sedang menyiapkan kelulusannya di Akademi Kebidanan).

Nah, Syaikh. Kenaikan Dollar saya perhatikan mulai sering dibicarakan. Kenaikannya itu loh Syaikh. Semakin menukik tajam. Awalnya saya gak paham. Berimbas pada apakah kenaikan dollar ini? Tapi ternyata, kenaikan nilai dollar (yang diikuti turunnya nilai rupiah) ini membuat ratusan orang di Bekasi terkena PHK.

Lalu kenaikan itu juga berdampak pada jumlah transferanmu dan teman-teman Indonesia di Kairo. Jatah yang sebelumnya bisa dipakai hidup sebulan, jadi cuma cukup 3 Minggu. Dan saya baru paham sekarang. Dan kenyataan ini jauh lebih saya pahami daripada tema-tema bahaya neo-kapitalisme yang sering dibicarakan akhi-akhi HTI.

Kreatifitas Adalah Koentjinja!

Pada tahun 1999 terjadi yang namanya Krisis Moneter. Turunnya nilai rupiah atas dolar dan sebagainya. Membuat beberapa investor luar negeri ramai-ramai mencabut investasi mereka. Beberpa perusahaan gulung tikar. Dan PHK besar-besaran pun terjadi. Gak cukup sampai sana. Huru-hara terjadi. Pecahlah kerusuhan Mei. Orang-orang etnis tionghoa disalahkan. Lalu “dihabisi”.

Selanjutnya pertanyaan pun timbul. Dari mana asal mula datangnya istilah “Ini salah si Cina! Kita dijajah secara ekonomi”? Sudah pasti ada yang bertindak seperti Hitler. Memicu ashobiyah dan fasisme orang-orang Aria. Menjadikan orang-orang Yahudi sebagai “Kambing Hitam”. Dan membuatnya merasa perlu untuk mengobarkan perang dunia.

Saya berlebihan ya Syaikh? Bisa aja iya. Bisa aja tidak.

Ini sejarah Syaikh. Jika kita mau belajar dari pengalaman. Maka kita sama tahu Syaikh. Kekacauan ekonomi bukanlah masalah jika masyarakat waspada dan tetap stay cool. Memahami bahwa ada yang lebih mengerikan dari krisis ekonomi. Yaitu krisis kreatifitas.

Pada tahun 1998 tersebut. Ketika para ekonom kita sibuk memikirkan cara untuk mengembalikan investasi luar negeri ke dalam negeri. Ada seseorang yang berpikir lain. Namanya Reynald Kashali. Dia tahu bahwa menunggu hasil yang dilakukan pemerintah itu sama halnya dengan menunggu jawaban dari gebetan tentang perasaan kita.

Yang mana jawabannya tidak menentu. Dan selalu memakan waktu yang lama. Sementara untuk urusan krisis ekonomi. Tidak ada alasan untuk menunggu dan bergantung pada tindakan pemerinatah. Begitu pikir Om Reynald. Kerusuhan pecah di mana-mana. Pengangguran terus bertambah. Harga kebutuhan pokok? Sudah pasti meledak.

Syaikh. Saya melihat antum dan Cutterme! antum. Sebuah bentuk kerja kreatif yang patut dijadikan contoh. Contoh yang sangat positif dan tentu saja progresif. Sebuah langkah kecil yang tidak sepele. Seolah-olah kamu mengatakan kepada Indonesia. Bahwa yang paling penting dari Ikhtiar ekonomi melawan kenaikan dollar adalah: Jangan sampai orang-orang Indonesia krisis kreatifitas!

Komunitas kreatif harus terus didukung. Sekolah-sekolah dan perguruan tinggi didorong untuk menjadikan para (maha)siswa lebih kreatif dan produktif. Kantung-kantung perkumpulan umat: Ormas, LSM, Perserikatan Buruh. Mulai dari yang doyan sweeping, yang resmi, bahkan sampai yang gurem sekalipun. Semua diarahkan untuk menjadi lebih kreatif, produktif, dan lebih siap untuk menghadapi kemungkinan paling buruk dalam penurunan nilai rupiah ini.

Seperti yang sudah antum contohkan sekarang. Atau yang Reynald Kashali lakukan di tahun 1998.

O ya. Selamat untuk kelas Menulis Kreatif yang antum mentori. Saya tahu. Di Purwakarta kami juga harus melakukannya di sini. Makasih sudah menginspirasi. Salam hangat dari Purwakarta.

PS:

Oh ya, ada satu hal yang penting. Ternyata indikator krisis bukan hanya kurs dollar. Masih banyak variabel makro ekonomi selain itu. Nah, berarti saya sedang agak berlebihan. Hehe.

Nah... buat yang penasaran dengan apa itu Cutterme! Silakan klik fanpage ini https://www.facebook.com/cutterme .








Agustus 2015


Read more ...

28 August 2015

Kpd Syaikh Maulana: Di Jember, Tuhan Menegur Kita



Syekh Maulana. Ada beberapa hal yang saya soroti dari surat balasan antum. Tapi kali ini saya akan berfokus mengenai dilema yang kamu hadapi sebagai pemilik dan pengampu nama awal Maulana. Duh kasian kamu Syaikh. Sama nama sendiri aja kamu dilematis. Apalagi kalau ada ukhti-ukhti luchuk, yang pinter nyanyi sambil main ukulele. Semacam Mimi Nizrina, yang nanya “Pa cik, kapan kamu nak datang ke Malay, ketemu Abi-nya Mimi?”

Walah! Ya bingung-bingung-kebelet toh?

Kalau saya tidak salah, Maulana adalah gelar akademis, sekaligus semacam gelar Ustadz di daerah Pakistan sana. Seseorang akan dipanggil Maulana ketika ia menyelasaikan study keislaman (minimal Kutub Sittah). Dan seringkali mereka adalah Hafidz al-Quran. Gak kayak di kita. Ada cowok yang namanya Maulana. Dia suka ceramah di tipi. Terus aja dia dipanggil Ustadz Maulana. Jama’aaaah katanya tiap pagi di TPI. Eeee... sahut si penonton bayarannya. Alhamdu.... katanya. Yaelah! Kataku sambil mencet remot. Pindah saluran.

Nah, aku kenal kamu Syaikh. Makanya aku ndak mau panggil kamu Ustadz Maulana. Aku panggil kamu Syaikh Maulana. Lumayan, seperti yang kamu setujui. Mungkin itu bisa jadi asbab kita berdua jadi kenek dalam rombongan para ulama di mahsyar. Toh itu juga udah warrbyazza. Iya toh Syekh? Sebuah ikhtiyar yang maha serius. Ketika dunia sudah dipenuhi fitan, huru-hara, dan kemakruhan-kemakruhan. Bagaimana tidak? Ditanyai mbak-mbak KFC mau paha atau dada saja, rasa-rasanya udah pengen copot sarung.

O ya Syeikh, ini minggu ke-4 saya mengajar di SMP Fullday Al-Muhajirin. Selalu begitu. Menjadi guru ternyata tidak lebih ringan dari menjalankan sebuah usaha percetakan kecil-kecilan.

Semenjak jadi guru. Saya tak bisa tidur pagi. Plus harus mandi pula! Lalu di depan kelas saya akan bediri dan berjalan dalam jam-jam penuh pelajaran. Begitu jam istirahat datang. Entahkenapa siswa-siswa suka sekali masuk ke kantor sekedar ngobrol dengan guru-gurunya. Mengganggu sekali.

Belum lama saya di sini. Nampaknya saya sudah punya kelompok cheersleader. Yang suka memanggil dan menggombali saya (ini serius). Saya sampai agak jantungan ketika salah satu siswi yang tingginya 10 cm melebihi saya menanyai saya Bapa mau jadi gebetan aku gak?


Hah? Hati saya kacau. Bukan. Bukan karena saya merasa cukup tampan untuk membuat seorang siswi SMP kelas 3 berani bilang itu. Tapi pertanyaan itu membuat saya teringat pertanyaan yang hampir sama bunyinya... Sebenernya kita udah jadian apa belum sih?

Sebuah pertanyaan yang membuat si penanya tersebut sekarang mendapatkan calon suami yang kaya. Dan selalu mengajaknya berkeliling tempat-tempat asyik dengan mobil. Namun yang pastinya lelaki itu bukanlah saya.

Warbyaza syekh! Kupikir beberapa wanita nampaknya sadar betul, bahwa dunia ini adalah ATM Serba Ada. Yang mereka perlukan adalah password/pertanyaan yang tepat untuk mengaksesnya.

Password yang sebenernya itu-itu aja. Kalau gak Mau gak jadi gebetan aku? Mau gak jadi kakak-adekan aku? Sebenarnya aku ini apanya kamu? Atau yang lebih ngebom dan meneror... Kapan mau ketemu abi aku?

Ya pokoknya gitu-gitu lah Syekh!

Eh. Maaf hilang fokus Syaikh. Persoalan di sekolah ini sebenarnya ada yang membuatku pusing. Meskipun klise! Soal mengenali dan menghapal nama-nama seluruh siswa.

Nah di sini dia masalahnya. Selain ingatan saya yang kadang sering kabur. Nama-nama itu loh Syaikh duh! Biarlah saya kasih tahu Syekh beberapa nama... Raja Deef, Reginald, Kean Anshory, Rafasha.

Saya gak ngerti budaya penamaan anak saat ini nampaknya sangat berkiblat pada nama-nama selebriti atau nama-nama import (yang kemudian gagal diingat cara penulisannya). Nagita Slavia, Aliando, Duvarez, etc.

Mungin memang itulah nama yang baik. Mereka, para anak-anak yang kebanyakan lahir di tengah keluarga muda. Dari keluarga papa-papa gawl dan mama-mama hepy.Saya percaya semua nama itu diberikan setelah melakukan pertapaan di kedalaman laut Internet, di puncak-puncak gunung Search Engine. Dan belantara-belantara Website yang ada. Sesuatu yang agaknya mustahil dilakukan kakek nnene kita sehingga menamai bapak-ibu kita dengan Dadang, Mimin, Teten, Abun, dan Ecep. Sampai kemudian kita sadar, bahwa orang tua kita menamai kita dengan maksud yang baik: agar gampang nyebutnya.

Yaiya. Kalau papamu orang Korea mungkin saja namamu Muhamad Song Jok Doo atau semacamnya.

Di Jember kita dikejutkan dengan seorang tukang bangunan. Yang ber-KTP dengan nama Tuhan. Membuat masyarakat netizen bereaksi dengan macam-macam bentuk. Tapi yang jelas ketika saya membacanya pertama kali. Saya langsung tergelak. Lucu.

Saya langsung membayangkan sebuah percakapan suami-istri ketika mereka hendak menamai anaknya.

“Eh, kita namain apa ni anak?” Si Papa yang biasanya punya tanggung jawab atas ini mulai ragu-ragu dan bimbang. Dia tahu. Terlalu banyak yang bernama Sukarno, Yudhoyono, Susilo, Widodo, dan Abdurahman. Itu semua membuatnya merasa dibayangi dosa-dosa tindak plagiatif. Walaupun dalam konteks ini, pemahan tersebut bener-bener aneh.

“Apa ya pak? Aku bingung.” Jawab sang istri. Ikut bingung juga. Tapi syukurnya sang mamah tidak bilang “terserah”. Sebab semua lelaki tahu, jika perempuan bilang “terserah” akan ada huru-hara besar. Sesuatu yang sama sekali tidak baik untuk menyambut kelahiran jabang bayi lelaki yang sehat.

“Gimana kalau kita namakan dia dengan nama yang paling agung?”

“Oke, fine. Gimana kalau kita namakan dengan nama yang sering disebut oleh seluruh umat manusia?” Pikir si Ibu.

“Setuju! Brilian!” Kata sang Ayah.


“Kita beri dia nama....” sang istri memberi jeda. “Tuhan” kata mereka bersamaan! Eureka! Mereka memang pasangan suami istri yang sehati dan sepemikiran.

Tentu saja percakapan tadi sebenernya adalah percakapan imajiner. Percakapan yang ingin saya ceritakan ketika istri saya baru melahirkan nanti. Cerita yang lucu. Agar jabang bayi kami tahu dan terbiasa menerima humor yang aneh di sepanjang hidupnya kelak. Bersama Ayah yang keren, dan mamanya yang cantik, penyayang, cerdas, pintar, dan agak cerewet! (Duh, ini kode serampangan).

Si Tuhan. Beberapa waktu lalu menolak untuk mengganti namanya. Kendati hal tersebut sudah diminta oleh pihak MUI setempat. Si Tuhan bergeming –memangnya di mana sih di Indonesia ini yang taat sama MUI?

Singkatnya si Tuhan tetap bertahan dengan namanya. Alasannya dia tidak mau mengganti pemberian orang tuanya. Untuk itulah Tuhan, seaneh apapun dirinya dan namanya itu. Dia mengajari kita sesuatu. Nama, seaneh apapun. Adalah satu dari sekian cara orang tua kita mencintai kita.

Well, setidaknya mulai sekarang kita (dan seluruh orang yang terbiasa menggunakan kata “Tuhan”) musti mengganti diksi Tuhan, dengan diksi yang lain. Pokoknya yang tidak membuat kita ingat si Tuhan yang dari Jember dan tukang bangunan itu. Duh! Sialan kamu, Han!

PS:
Lalu. Tepat di menit ini. Di mana saya hampir memposting post ini. Teman saya bilang, sekarang ada yang namanya Saiton! Orang Palembang. Hahaha. Tawa saya meledak gak karu-karuan.

Eh, Syaikh. Sampai detik ini Bumi masih di galaksi Bima Sakti kan?
Read more ...

26 August 2015

Diorama

Bapaku. "Art for eat, eat for pray." Begitu kredonya.


Pada suatu senja yang berparas pagi, aku diserang perasaan ingin menulis puisi. Matahari seperti tak pernah muncul utuh seharian. Tentu saja perasaaan seperti ini tidak datang begitu saja. Suara kumbang di dalam angin. 

Sepasang belalang yang kawin, orang-orangan sawah yang bergoyang ditiup angin, rasa dingin lumpur di tangan dan di kakiku. Lalu hujan rintik-rintik. Hawa dingin terasa seperti sedang bermantel air yang tipis. Semuanya terasa sedang memanggil sesuatu dari alam ingatan; yang karib dan juga asing sekaligus.

Dari jauh bukit-bukit menjulang hijau tua. Sebelum pandangan sampai ke sana. Menghampar hijau yang luas; sawah-sawah berundak  dengan tunas-tunas padi berwarna hijau muda. Segar dan basah.

Seperti kataku tadi. Aku diserang perasaan ingin menulis puisi. Hal semacam itu tidaklah datang begitu saja. Bukankah hukum kausalitas selalu bekerja dalam berbagai hal?

Sepanjang galengan kami meneliti jejak-jejak licin para belut. Berbekal pancing setruman dan perasaan ingin berkumpul mencicipi amis manis daging belut dalam balutan kecap. Kami ke sawah berempat. Tanpa pengalaman sedikitpun soal mengurek belut. Hasilnya bisa diduga. Tak ada  apapun dalam ember kami selain bahan tertawaan tentang empat pemula dengan pancingan dan ember kosong. Menjelajah jauh ke sawah-sawah.

Penjelajahan tetap diteruskan. Kami membawa dugaan-dugaan. Beberapa menyadari bahwa mencari belut tidak seperti mencari ikan. Sementara yang lain masih penasaran; barangkali di lubang yang lain, dengan cara yang sama amatirnya, belut-belut bisa mampir ke ember kami.

Sepanjang perburuan aku tidak berpikir apapun soal belut-belut dan empat pemancingnya yang payah. Pikiranku melayang-layang ke berbagai hal; sawah-sawah dalam lukisan bapakku, dan warna hijau yang biasa muncul dari meja kerja bapakku waktu kami masih tinggal di Bali.

Di sawah imajiner itu kulihat masa kecilku di Bali. Ada Pasek, seorang pemuda Bali. Perawakannya tinggi, hidungnya bangir, selalu membawa celurit di pinggangnya. Sesekali ia terlihat sibuk; cangkulnya membelokkan arah alir air dari atau menuju sawahnya. Sesekali yang lain ia berteriak-teriak dan menggoyangkan benang-benang paralel yang menghubungkan satu orangorangan sawah ke orangorangan sawah yang lain. Mengusir burung atau rasa kesepiannya di sawah yang terlalu luas bagi dirinya sendiri.

Sejak aku lulus SD, sampai hari ini Aku tak dengar kabar apapun lagi soal Pasek, selain sawahnya yang sudah dijual. Aku penasaran. Apa yang Pasek lakukan sekarang?

Pasek sering mampir ke tempat kami bermain di halaman rumahku. Mengajari kami membuat rumah-rumahan di kota pasir imajiner di halaman rumah. Sejak itu, selain Pasek, aku tak pernah melihat lagi pemuda yang nyawah. Hamparan sawah di sini terasa terlalu luas. Aku jadi melankolis. Seperti ada kesedihan.

Di manapun di tempatku, aku merasa petani lebih dekat ke kemiskinan. Aku tak pernah paham. Padahal dalam hukum ekonomi jumlah pendapatan dan kualitas ekonomi seseorang berbanding lurus dengan kebutuhan pasar. Petani adalah yang seharusnya menjadi orang kaya. Mungkin aku memang tidak tahu apa-apa soal ini.

Duh, kenangan. Dan segala macam perangkat kata-kata yang sering kali gagal mewakili perasaan macam ini. Tak satupun puisi kutulis. Dan hatiku masih diserang perasaan ingin menulis puisi. Kata-kata selalu menuntut banyak hal. Selalu terasa terbatas. Tetapi perasaan semacam ini terlalu agung dan manusiawi. Aku jadi segan sendiri. Entah kepada apa.

**
(Semacam catatan kecil ketika KKN 3 Bulan yang lalu). Ada juga catatan yang lain waktu saya KKN "Iya itu Eek Saya!")
Read more ...

23 August 2015

Kepada Syaikh Maulana: Sebuah Refleksi Keindonesiaan dari Elin Diana

Assalamulaikum Syaikh. Antum ingat Elin Diana? Teman kita seangkatan pas SMA. Sayang sekali dulu kamu tak sekelas dengannya. Sedang aku beruntung pernah sekelas dengannya. 

Jika aku teringat kepadanya aku teringat juga aku kepada Papua. Sebuah nama tempat yang seolah-olah baginya adalah wajah lain dari kemakmuran bangsa Indonesia. Sebuah bukti bagiamana pembangunan gagal mencapai pemerataan. Sebuah bukti bahwa fungsi pemerintahan di kita ternyata tidak seperti  yang kita duga. Atau seharusnya. Setelah masa SMA kita pernah saling bicara: mempertanyakan seperlu apakah politik untuk sebuah dunia yang baik dan tenang?

Elin Diana, selain wajahnya yang imut, dan keberaniannya bicara di depan umum. Dia selalu membuatku kembali mempertanyakan apa artinya Indonesia bagi daerah-daerah yang jauh dari ibu Kota? Sekali lagi Papua. Aku sedang tidak bicara Papua secara khusus –kupikir ada lebih banyak bacaan yang lengkap dan bagus soal ini.

Aku hanya mendadak menjadi gelisah Syekh... membayanngkan diriku sendiri jika saja aku adalah Jokowi, atau Susilo Bambang Yudhoyono dalam konteks hari itu –ketika Elin Diana menjadikan Papua sebagai contoh favorit untuk daerah yang susah.

Seandainya aku Presiden. Lalu hari akhirat tiba dan aku hanya berhadapan dengan Allah Swt? Apa yang akan kujawab di hadapanNya nanti ya Syaikh?

Jawa makmur dan aman (jika di banding Suriah tentunya) sementara Papua yang susah (yang lagi-lagi ini merujuk pada pandangan Elin Diana tentang Papua sebagai simbol ketimpangan pembangunan). Bagaimana aku menjawab tentang pengelolaan pajak-pajak Negara, atau hal-hal yang lain?

Apakah aku boleh menjawab. Nganu ya Rabb... DPR yang menjabat di masaku itu bangsat semua. Kan ya itu malah seperti #BukanUrusanAku. Di hadapanNya gak mungkin aku bisa bertindak dan memberi kesaksian seolah-olah BBM aku dibajak teman.

Atau apakah aku cukup menjawab. Khilafah itu mustahil Ya Allah.... Sementara demokrasi menyeret aku ke sekeliling setan. Yang setiap kali ada kesempatan akan membuatku disumpahi umat. Lha wong aku membangun tol Cipali demi maslahat pembangunan saja aku dikecam. Aku minta maaf pada para korban yang dibantai atas nama pemberantasan-PKI saja aku dituduh khianat pada umat.

Lalu apakah Allah benar-benar akan ngotot menyalahkan aku karena sistem, budaya, kultur etc yang ada? Dan menyalahkan aku karena khilafah tidak tegak? Seperti kata akhi-akhi HTI itu.

Pokoke khilafah! Nyaring benar gema itu. Membuat aku merasa geli sendiri membayangkan kelompok ekstremis di Syiria menyebut-nyebut dirinya sedang mendirikan Islamic State aka Khilafah tea. Sambil menebar ancaman ke mana-mana.

Lalu aku menatap jarum jam di sekolah. Aku membayangkan di seberang meja itu ada Abdullah bin Abdul Aziz R.Ah.

Yaa Abdullah menurut engkau mana yang lebih penting. Melawan 2/3 orang Indonesia demi menjadikan Indonesia negara Islam. Atau berusaha mati-matian menjaga dan meneruskan Indonesia menjadi Indonesia yang adil dan makmur. Surga bagi seluruh pemeluk agama. Kingdom of Heaven kalau kata Balian mah.

Pada 70 tahun yang lalu. Boleh saja orang kira Piagam Jakarta memang “dikhianati” Bung Karno dan Bung Hatta. Tapi apa artinya itu semua ketika yang kita hadapi bukan lagi detik-detik menjelang proklamasi? Tapi detik-detik mengisi kemerdekaan.

Mungkin kita memang tak pernah siap untuk menjadi Indonesia. Mungkin ada untungnya ketika aku SMP bahkan sampai SMA (yang akhirnya mempertemukan kami di kelas yang sama) tidak berani mengatakan aku suka sama Elin Diana. Sebab ketika SMA konteks menyukai Elin Diana itu sudah tidak cocok lagi. Tentu saja itu berdasarkan ilmu cocoklogi dan dinamika pergombalan. Atau dalam hal lain, aku ketemu Lestari, lalu Ziah. Mantanmu yang aku taksir, Syaikh! :V

Lalu saya merasa Cocoklogi bisa menjadi panduan utama dalam memahami manusia, Indonesia, umat, dan hati gebetan.
Read more ...

Surat Kecil Syekh Ahmad kepada Syekh Maulana



Assalamualaimum Warahmatulah Ta’ala Tajalla Wa Barakatuh... Syaikh Maulana. Semoga Allah Swt. mencukupkan segala karunianya untukmu. Menjaga keberkahan dalam usia dan kesehatanmu. Amin ya Rabb alamin.

Amma ba’du Syaikh Maulana yang saya cintai karena Allah Swt. Mahasuci Allah yang telah menjadikan kita tetap kokoh dalam ukhuwah islamiyah, wathoniyah, dan ngenesiyah. Kemudian mengikat kita dalam satu pikir, satu visi, dan satu risau. Yakni pikir, visi, dan sebagian kecil dari kerisauan Baginda Muhammad Saw. –bukan visinya Felix Siauw- dalam memandang persoalan-persoalan umat.  Yang apapun-masalahnya-khilafah-solusinya.

Sehingga dengan berbagai kecocokan inilah saya kadang terpikir kalaulah antum ini ukhti-ukhti luchuk seperti di Indonesia sudah barang pasti aku menghalalkanmu. Tapi syukur alhamdulillah engkau adalah Syekh Maulana, dan aku adalah Syekh Ahmad –itu artinya hampir mustahil ada wanita bernama Ahmad atau Maulana. Apalagi yang menggelari dirinya dengan sebutan Syeh.

Syaikh Maulana, surat ini saya tulis sebagai bagian dari menyambung silaturahmi.  Bertukar pikiran dan kabar. Dan tentu juga untuk mengusir rasa sepi di malam Ahad di Purwakarta yang sedang riang ini. Persis sedikit seperti yang dilakukan para ulama’ pendahulu kita. Bedanya malam Minggu di jaman Asy Syafii dulu gak ada cabe-cabean berkerudung, atau Raditya Dika. Apalagi Mas Jonru dan Sujiwo Tedjo.

Nah meskipun kita bukan ulama. Sepertinya gak apa-apalah ikut-ikutan tradisi ulama ini. Siapa tahu di mahsyar nanti kita dikumpulkan dan diperlakukan seperti para ulama. Gak apa-apa di gerbong terakhir juga. Namanya juga ikhtiar. Ya kan Syaikh...

Begini Syaikh. Oh ya sebelumnya terimaksih karena kemarin syaikh sudah meluangkan waktu untuk berdiskusi via BBM dengan saya. Dan saya mohon maaf karena sempat menolak chating video-call. Awkward tahu Syaikh... kita kan cowok! Walaupun kita ini figur Syaikh yang kekinian tapi kan ya gak gitu juga kan?

Amma ba’du (lagi). Gimana kabar di Kairo, Syaikh? Musim apa di sana? Banyak ukhti-ukhti luchuk siap-petik di sana? Eh keceplosan Syaikh...

Di Purwakarta agaknya masih juga terasa Dirgahayu RI nya. Oh ya Syaikh tolong sampaikan pada masyarakat Mesir bahwa kami berterimasih atas dukungannya pada 70 tahunan yang lalu. Walaupun kami tahu Mesir sekarang gak kayak dulu. Dan Indonesia sekarang juga beda dengan dulunya. Kalau dulu ada yang namanya ngakngikngok kalau sekarang namanya kapitalisme. Ah Bung Karno mah memang gitu orangnya. Mungkin satu-satunya warisan belio yang masih ingin kami simpan dalam konteks ini adalah petuah belio: Jasmerah! Jangan sekali-kali melupakan sejarah.

Syaikh. Di sini sedang kerontang. Kemarau memanjang. Air sumur kami kering. Harga tomat jatuh. Nilai tukar rupiah anjlok. Dan makin banyak kawan seumuran yang menikah. Sementari hati tetap saja kesepian. Lihat RU, timeline, beranda, yang ada mantan lagi mantan lagi. Bawaannya langsung baper terus langsung ngetik apa kabar? Sambil terus disusul dengan maaf tadi dibajak.

Entah bagaimana semua ini terjadi. Mungkin karena pembangunan patung-patung culun di Purwakarta. Mungkin karena lomba Haiku (yang men-dedi-kan purwakarta) yang bernilai 10 juta rupiah itu. Lumayan untuk akang-teteh penyair yang frustasi karena karya-karyanya susah tembus koran. By the way. Sony Farid Maulana sekarang punya aliran puisi/ haiku/whatever loh syaikh. Para pengikutnya menyebut hal itu dengan nama: Sonian. Keren dan menggelikan di saat yang sama.

Walaupun kemudian kita jadi bertanya. Apa hubungannya selera seni Dedi Mulyadi, orientasi seniman-seniman Jawa Barat (wabil khusus Bandung-Purwakarta) itu dengan meningkatnya jumlah pernikahan para tetangga? Benar-benar gak logis dan gak ada hubungannya sama sekali. Yaudahlah biarin aja semua janur-janur menghisai jalan kota Purwakarta. Pesta digelar berminggu-minggu. Warga berkumpul-kumpul bersorakgirang pada bapak Bupati Purwakarta yang nyatanya orang Subang itu.

Yaudahlah Syaikh. Gak baik Ghibah itu. Kita fokus ngebahas umat aja Syaikh. Capek ngebahas Kesenian literatur mah. Progressnya masih agak jauh dari maslahat umat.

Dari Generasi-Merunduk ke Generasi-Gagal-Paham.

Al Islamu mahjubun bil muslimin seperti yang dikatakan syaikh Muhammad Abduh dulu nampaknya memang tidak lagi sekadar umat Islam yang mulai abai pada praktek-praktek keagamaan.Indikasi mahjubun-bil-Muslimin. Lupakanlah sejenak soal jilboobs, tjabe syariah, dan ikhwan-ikhwan ngotot. Itu persoalan yang bisa kita bahas nanti. Lagipula itu hanya bagian kecildari pokok paling penting dalam memehami keberislaman umat hari ini. Buset dah Syekh... nampaknya Ane udah mulai serius nih.

Saya memulainya dari lelaku anak-anak muda dalam menghadapi dan menanggapi isu-isu politik, sosial, dan budaya. Oh itu kurang spesifik Syekh. Kita mulai dari soal permintaan maaf pemerintah terhadap PKI yang diwakili oleh Jokowi. Kenal Jokowi kan? Ituloh Presiden kita yang dilantiknya belum lengkap setahun udah bikin twitter gregetan.

Salah satu kegregetan itu mengundang phobia yang sama. Phobia terhadap PKI. Phobia yang dibuat sedemikian rupa oleh Smiling General kita. Phobia yang membuat umat di  masa lalu rame-rame menyembelih orang PKI, suka-PKI, mirip-PKI, dikira-PKI, dan gak-ada-kaitannya-sama-PKI.

Dengan alasan komunis itu Atheis. Dafuq! Aku takut Sindrom Gagal Paham yang menjangkiti umat di masalalu benar-benar bangkit lagi untuk yang kedua kali. Dan aku hampir melihatnya pada Generasi Gagal Paham!

Seperti adik tingkat yang di depanku ini. Yang bertanya untuk apa Jokowi meminta maaf pada PKI? Dengan tendensi menyalahkan.

“Kamu tahu komunisme tidak?” Tanyaku.Tidak. Memangnya apa A?” malah nanya balik. Kok sempat-sempanya dia mengecam sesuatu yang tidak dia tahu? Kan konyol. Sama aja kayak cewek yang mutusin dan menolak cowok baik-baik. Terus macarin cowok brengsek. Giliran dikecewain, bilangnya semua cowok sama aja.

Masya Allah Syaikh. Ini dia Generasi Gagal Paham. Ini dia Syekh! Akar utama dari seluruh kengerian yang terjadi dalam umat ini. Tumbuhnya Generasi Gagal Paham. Gagal memahami permasalahan. Bahkan untuk sekedar tahu apa yang sedang dikecamnya saja dia gak tahu.

Setelah kita risau dengan Generasi Merunduk yang didominasi Abege labil. Kini kekahwatirabn kita bertambah. Generasi merunduk sudah memasuki babak baru dalam proses evolusi menuju kekinian. Dibina oleh teknologi informasi dan percaturan isu-isu politik dan media massa. Mereka memasuki bayang-bayang sindrom Generasi Gagal Paham. Generasi yang belajar, menyimpulkan, bahkan bermadzhab pada akun-akun di media sosial. 

Bahaya Syeih.... ini namanya Taqlid gaya digital; yang viral, galau, dan rentan. Rentan untuk disusupi bibit-bibit kebencian.

Jika ini terus terjadi. Dan terus membesar. Mungkin sekali di suatu kelak. Di Indonesia yang damai ini takkan heran jika Generasi Gagal Paham ini akan menjadi Generasi Tukang Mengafirkan. Apa yang terjadi kalau sudah begitu? Mungkin saja kasus Tolikara kemarin-kemarin akan menjadi sesuatu yang lebih berdarah-darah.

Apa menurutmu ane ini lebay Syekh? Mungkin iya. Mungkin juga tidak. Tapi tengoklah para pengungsi Ahmadiyah di kita. Terusir dari tanah kelahiran karena ulah segelintir umat Islam, dengan restu fatwa MUI pula. Shame!

Berabad-abad lalu Islam pernah berjaya. Dari Jazirah Arab ke semenanjung Persia, lalu ke sebagian tanah Eropa. Dan beberapa pelosok di Asia-Pasifik. Tentu saja soal intrik pembegalan politik terhadap kaum Sufi (sebagai lawan politik dinasti tertentu) bisa kita bahas lain kali. Tapi apakah kejayaan Islam yang seperti itu yang kita cita-citakan? Di saat-saat seperti ini? Tidak Syaikh. Bagi umat Muhammad yang waras, Indonesia saat ini sudahlah lebih dari cukup. Kita wiridan pake loudspeaker boleh. Lupa Qunut boleh. Sholat pakai celana cingkrang tara dikopeyah ge boleh. Hal yang mustahil terjadi ketika salah satu aliran ajaran Islam menjadi pengegang kontrol suatu negara. Cukup Syekh. Nahnu ummatan wasathan. Kafa lana Andunisiya... dan alhamdulillah atas itu semua.

Syeikh Maulana. Saya Syekh Ahmad alfaqir atas nama ummat Islam. Atas seluruh kesepian yang membuat saya baper multi-dimensi ini ingin meminta nasihat dari Syaikh Maulana yang alim, arif, dan bijaksana. Kiranya apa yang harus kita lakukan dengan masalah Umat ini Syaikh?

Wassalam
NB: Masih minum kopi sachet, Syekh Maulana? Sama! Cemen ya kita ini?
Read more ...

08 August 2015

Perubahan Adalah Omongan yang Membosankan




Semalam saya menerawang ke langit-langit kamar. Gelap. Kemudian saya mulai masuk dalam khayalan sendiri. Maksudnya adalah bermuhasabah... eh yang muncul malah semacam potongan-potongan adegan film di fivty shades of grey. Sampai saya merasa tidak nyaman sendiri. Mungkin karena  saya tidak suka kekerasan, atau mungkin saja saya bosan. Entahlah kadang-kadang pikiran bekerja lebih aneh daripada yang kita tahu.
 
Sampai kemudian saya mengingat omong kosong saya ke temen, ketika saya sedang putus asa dengan suatu orderan yang membuat saya rugi dan berutang sekitar 5 jutaan saat pertama Pesantren Desain belum genap tiga bulan dibuka. Omong kosong itu berbunyi begini...

Bro, saya percaya (atau setidaknya saya ingin memercayai) bahwa saya lahir karena suatu alasan yang penting, untuk menjadi penting. Barangkali saya akan menjadi the next of Steve Jobs, atau Gandhi atau yang lain; dengan membuat semacam perubahan untuk umat. Lalu mati keren kayak pahlawan, dikenang dan didoakan selalu, atau semacamnya.

Kemudian saya melihat sesuatu yang saya jalani selama hampir 2 tahun ini menjadi stuck, buntu. Dalam artian bahwa saya tidak melihat progress yang baik. Tidak, jika posisi saya seperti ini. Dan saya merasa sesuatu harus berubah. Setidaknya hal itu harus dimulai dari yang paling dekat dan fundamental. Tentu saja cara pikir ini tidak datang begitu saja. Cara pandang ini datang setelah saya lelah menylahkan segala hal yang berada di luar kekuasaan saya. Menylahkan sesuatu yangselain saya. Sehingga saya lelah bahwa pura-pura tidak bermasalah adalah masalah yang jauh lebih besar dari masalah itu sendiri.

Saya melihat kekecewaan pelanggan, utang, dan pola hidup yang boros. Kesemuanya menumpuk menjadi satu. Lalu saya mulai menyalahkan ini-itu. Menyalahkan partner, kolega,  pelanggan, dan macam-macam. Sampai saya capek sendiri dan dalam hati saya harus ngaku, bahwa maslah tidak di mana-mana. Masalah ada pada diri saya. Maka saya merasa sesuatu harus berubah dari saya. Harus!

Dan sesuatu harus berubah. Sampai kemudian tekad itu diteguhkan dengan bacaan saya terhadap buku 9 Pertanyaan Fundamental, Membangun Kekayaan Tanpa Riba.
Walaupun kadang saya sangsi apakah perubahan selalu diperlukan? Di dunia yang mungkin saja akan lebih baik seperti ini, daripada menjadi sesuatu yang lain.Yang ternyata lebih buruk. Aku jadi teringat seseorang yang menulis bahwa Soe Hok Gie beruntung meninggal dunia sebelum ia melihat sendiri kerja kerasnya menekan rezim orde lama, dan menggantinya dengan orde baru yang lebih ya gitu deh.

Saya juga jadi teringat film trancendent. Di mana sebuah visi tentang ‘merubah dunia’ malah menjadi ‘bencana’. Walaupun kemudian perlu lagi kita definisikan apa itu ‘merubah dunia’dan apa itu ‘bencana’? Dan juga perlu lagi didefinisikan apa artinya paragraf gak jelas ini?

Saya tidak ingat apapun saat membicarakan itu selain karena saya merasa stress dan putus asa. Sampai kemudian hari ini saya memutuskan untuk libur sejenak dari bekerja menetap, dan menyerahkan operasi Pesantren Desain sepenuhnya ke Adit. Sementara saya mengajar ngaji dan ekstra kurikuler desain grafis di Al-Muhajirin Kampus 2. Dan saya sudah memulai beberapa perubahan kecil. Penting atau tidaknya perubahan itu. Mari kita lihat nanti.
Read more ...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...