08 August 2015

Perubahan Adalah Omongan yang Membosankan




Semalam saya menerawang ke langit-langit kamar. Gelap. Kemudian saya mulai masuk dalam khayalan sendiri. Maksudnya adalah bermuhasabah... eh yang muncul malah semacam potongan-potongan adegan film di fivty shades of grey. Sampai saya merasa tidak nyaman sendiri. Mungkin karena  saya tidak suka kekerasan, atau mungkin saja saya bosan. Entahlah kadang-kadang pikiran bekerja lebih aneh daripada yang kita tahu.
 
Sampai kemudian saya mengingat omong kosong saya ke temen, ketika saya sedang putus asa dengan suatu orderan yang membuat saya rugi dan berutang sekitar 5 jutaan saat pertama Pesantren Desain belum genap tiga bulan dibuka. Omong kosong itu berbunyi begini...

Bro, saya percaya (atau setidaknya saya ingin memercayai) bahwa saya lahir karena suatu alasan yang penting, untuk menjadi penting. Barangkali saya akan menjadi the next of Steve Jobs, atau Gandhi atau yang lain; dengan membuat semacam perubahan untuk umat. Lalu mati keren kayak pahlawan, dikenang dan didoakan selalu, atau semacamnya.

Kemudian saya melihat sesuatu yang saya jalani selama hampir 2 tahun ini menjadi stuck, buntu. Dalam artian bahwa saya tidak melihat progress yang baik. Tidak, jika posisi saya seperti ini. Dan saya merasa sesuatu harus berubah. Setidaknya hal itu harus dimulai dari yang paling dekat dan fundamental. Tentu saja cara pikir ini tidak datang begitu saja. Cara pandang ini datang setelah saya lelah menylahkan segala hal yang berada di luar kekuasaan saya. Menylahkan sesuatu yangselain saya. Sehingga saya lelah bahwa pura-pura tidak bermasalah adalah masalah yang jauh lebih besar dari masalah itu sendiri.

Saya melihat kekecewaan pelanggan, utang, dan pola hidup yang boros. Kesemuanya menumpuk menjadi satu. Lalu saya mulai menyalahkan ini-itu. Menyalahkan partner, kolega,  pelanggan, dan macam-macam. Sampai saya capek sendiri dan dalam hati saya harus ngaku, bahwa maslah tidak di mana-mana. Masalah ada pada diri saya. Maka saya merasa sesuatu harus berubah dari saya. Harus!

Dan sesuatu harus berubah. Sampai kemudian tekad itu diteguhkan dengan bacaan saya terhadap buku 9 Pertanyaan Fundamental, Membangun Kekayaan Tanpa Riba.
Walaupun kadang saya sangsi apakah perubahan selalu diperlukan? Di dunia yang mungkin saja akan lebih baik seperti ini, daripada menjadi sesuatu yang lain.Yang ternyata lebih buruk. Aku jadi teringat seseorang yang menulis bahwa Soe Hok Gie beruntung meninggal dunia sebelum ia melihat sendiri kerja kerasnya menekan rezim orde lama, dan menggantinya dengan orde baru yang lebih ya gitu deh.

Saya juga jadi teringat film trancendent. Di mana sebuah visi tentang ‘merubah dunia’ malah menjadi ‘bencana’. Walaupun kemudian perlu lagi kita definisikan apa itu ‘merubah dunia’dan apa itu ‘bencana’? Dan juga perlu lagi didefinisikan apa artinya paragraf gak jelas ini?

Saya tidak ingat apapun saat membicarakan itu selain karena saya merasa stress dan putus asa. Sampai kemudian hari ini saya memutuskan untuk libur sejenak dari bekerja menetap, dan menyerahkan operasi Pesantren Desain sepenuhnya ke Adit. Sementara saya mengajar ngaji dan ekstra kurikuler desain grafis di Al-Muhajirin Kampus 2. Dan saya sudah memulai beberapa perubahan kecil. Penting atau tidaknya perubahan itu. Mari kita lihat nanti.
Read more ...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...