26 August 2015

Diorama

Bapaku. "Art for eat, eat for pray." Begitu kredonya.


Pada suatu senja yang berparas pagi, aku diserang perasaan ingin menulis puisi. Matahari seperti tak pernah muncul utuh seharian. Tentu saja perasaaan seperti ini tidak datang begitu saja. Suara kumbang di dalam angin. 

Sepasang belalang yang kawin, orang-orangan sawah yang bergoyang ditiup angin, rasa dingin lumpur di tangan dan di kakiku. Lalu hujan rintik-rintik. Hawa dingin terasa seperti sedang bermantel air yang tipis. Semuanya terasa sedang memanggil sesuatu dari alam ingatan; yang karib dan juga asing sekaligus.

Dari jauh bukit-bukit menjulang hijau tua. Sebelum pandangan sampai ke sana. Menghampar hijau yang luas; sawah-sawah berundak  dengan tunas-tunas padi berwarna hijau muda. Segar dan basah.

Seperti kataku tadi. Aku diserang perasaan ingin menulis puisi. Hal semacam itu tidaklah datang begitu saja. Bukankah hukum kausalitas selalu bekerja dalam berbagai hal?

Sepanjang galengan kami meneliti jejak-jejak licin para belut. Berbekal pancing setruman dan perasaan ingin berkumpul mencicipi amis manis daging belut dalam balutan kecap. Kami ke sawah berempat. Tanpa pengalaman sedikitpun soal mengurek belut. Hasilnya bisa diduga. Tak ada  apapun dalam ember kami selain bahan tertawaan tentang empat pemula dengan pancingan dan ember kosong. Menjelajah jauh ke sawah-sawah.

Penjelajahan tetap diteruskan. Kami membawa dugaan-dugaan. Beberapa menyadari bahwa mencari belut tidak seperti mencari ikan. Sementara yang lain masih penasaran; barangkali di lubang yang lain, dengan cara yang sama amatirnya, belut-belut bisa mampir ke ember kami.

Sepanjang perburuan aku tidak berpikir apapun soal belut-belut dan empat pemancingnya yang payah. Pikiranku melayang-layang ke berbagai hal; sawah-sawah dalam lukisan bapakku, dan warna hijau yang biasa muncul dari meja kerja bapakku waktu kami masih tinggal di Bali.

Di sawah imajiner itu kulihat masa kecilku di Bali. Ada Pasek, seorang pemuda Bali. Perawakannya tinggi, hidungnya bangir, selalu membawa celurit di pinggangnya. Sesekali ia terlihat sibuk; cangkulnya membelokkan arah alir air dari atau menuju sawahnya. Sesekali yang lain ia berteriak-teriak dan menggoyangkan benang-benang paralel yang menghubungkan satu orangorangan sawah ke orangorangan sawah yang lain. Mengusir burung atau rasa kesepiannya di sawah yang terlalu luas bagi dirinya sendiri.

Sejak aku lulus SD, sampai hari ini Aku tak dengar kabar apapun lagi soal Pasek, selain sawahnya yang sudah dijual. Aku penasaran. Apa yang Pasek lakukan sekarang?

Pasek sering mampir ke tempat kami bermain di halaman rumahku. Mengajari kami membuat rumah-rumahan di kota pasir imajiner di halaman rumah. Sejak itu, selain Pasek, aku tak pernah melihat lagi pemuda yang nyawah. Hamparan sawah di sini terasa terlalu luas. Aku jadi melankolis. Seperti ada kesedihan.

Di manapun di tempatku, aku merasa petani lebih dekat ke kemiskinan. Aku tak pernah paham. Padahal dalam hukum ekonomi jumlah pendapatan dan kualitas ekonomi seseorang berbanding lurus dengan kebutuhan pasar. Petani adalah yang seharusnya menjadi orang kaya. Mungkin aku memang tidak tahu apa-apa soal ini.

Duh, kenangan. Dan segala macam perangkat kata-kata yang sering kali gagal mewakili perasaan macam ini. Tak satupun puisi kutulis. Dan hatiku masih diserang perasaan ingin menulis puisi. Kata-kata selalu menuntut banyak hal. Selalu terasa terbatas. Tetapi perasaan semacam ini terlalu agung dan manusiawi. Aku jadi segan sendiri. Entah kepada apa.

**
(Semacam catatan kecil ketika KKN 3 Bulan yang lalu). Ada juga catatan yang lain waktu saya KKN "Iya itu Eek Saya!")

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...