23 August 2015

Kepada Syaikh Maulana: Sebuah Refleksi Keindonesiaan dari Elin Diana

Assalamulaikum Syaikh. Antum ingat Elin Diana? Teman kita seangkatan pas SMA. Sayang sekali dulu kamu tak sekelas dengannya. Sedang aku beruntung pernah sekelas dengannya. 

Jika aku teringat kepadanya aku teringat juga aku kepada Papua. Sebuah nama tempat yang seolah-olah baginya adalah wajah lain dari kemakmuran bangsa Indonesia. Sebuah bukti bagiamana pembangunan gagal mencapai pemerataan. Sebuah bukti bahwa fungsi pemerintahan di kita ternyata tidak seperti  yang kita duga. Atau seharusnya. Setelah masa SMA kita pernah saling bicara: mempertanyakan seperlu apakah politik untuk sebuah dunia yang baik dan tenang?

Elin Diana, selain wajahnya yang imut, dan keberaniannya bicara di depan umum. Dia selalu membuatku kembali mempertanyakan apa artinya Indonesia bagi daerah-daerah yang jauh dari ibu Kota? Sekali lagi Papua. Aku sedang tidak bicara Papua secara khusus –kupikir ada lebih banyak bacaan yang lengkap dan bagus soal ini.

Aku hanya mendadak menjadi gelisah Syekh... membayanngkan diriku sendiri jika saja aku adalah Jokowi, atau Susilo Bambang Yudhoyono dalam konteks hari itu –ketika Elin Diana menjadikan Papua sebagai contoh favorit untuk daerah yang susah.

Seandainya aku Presiden. Lalu hari akhirat tiba dan aku hanya berhadapan dengan Allah Swt? Apa yang akan kujawab di hadapanNya nanti ya Syaikh?

Jawa makmur dan aman (jika di banding Suriah tentunya) sementara Papua yang susah (yang lagi-lagi ini merujuk pada pandangan Elin Diana tentang Papua sebagai simbol ketimpangan pembangunan). Bagaimana aku menjawab tentang pengelolaan pajak-pajak Negara, atau hal-hal yang lain?

Apakah aku boleh menjawab. Nganu ya Rabb... DPR yang menjabat di masaku itu bangsat semua. Kan ya itu malah seperti #BukanUrusanAku. Di hadapanNya gak mungkin aku bisa bertindak dan memberi kesaksian seolah-olah BBM aku dibajak teman.

Atau apakah aku cukup menjawab. Khilafah itu mustahil Ya Allah.... Sementara demokrasi menyeret aku ke sekeliling setan. Yang setiap kali ada kesempatan akan membuatku disumpahi umat. Lha wong aku membangun tol Cipali demi maslahat pembangunan saja aku dikecam. Aku minta maaf pada para korban yang dibantai atas nama pemberantasan-PKI saja aku dituduh khianat pada umat.

Lalu apakah Allah benar-benar akan ngotot menyalahkan aku karena sistem, budaya, kultur etc yang ada? Dan menyalahkan aku karena khilafah tidak tegak? Seperti kata akhi-akhi HTI itu.

Pokoke khilafah! Nyaring benar gema itu. Membuat aku merasa geli sendiri membayangkan kelompok ekstremis di Syiria menyebut-nyebut dirinya sedang mendirikan Islamic State aka Khilafah tea. Sambil menebar ancaman ke mana-mana.

Lalu aku menatap jarum jam di sekolah. Aku membayangkan di seberang meja itu ada Abdullah bin Abdul Aziz R.Ah.

Yaa Abdullah menurut engkau mana yang lebih penting. Melawan 2/3 orang Indonesia demi menjadikan Indonesia negara Islam. Atau berusaha mati-matian menjaga dan meneruskan Indonesia menjadi Indonesia yang adil dan makmur. Surga bagi seluruh pemeluk agama. Kingdom of Heaven kalau kata Balian mah.

Pada 70 tahun yang lalu. Boleh saja orang kira Piagam Jakarta memang “dikhianati” Bung Karno dan Bung Hatta. Tapi apa artinya itu semua ketika yang kita hadapi bukan lagi detik-detik menjelang proklamasi? Tapi detik-detik mengisi kemerdekaan.

Mungkin kita memang tak pernah siap untuk menjadi Indonesia. Mungkin ada untungnya ketika aku SMP bahkan sampai SMA (yang akhirnya mempertemukan kami di kelas yang sama) tidak berani mengatakan aku suka sama Elin Diana. Sebab ketika SMA konteks menyukai Elin Diana itu sudah tidak cocok lagi. Tentu saja itu berdasarkan ilmu cocoklogi dan dinamika pergombalan. Atau dalam hal lain, aku ketemu Lestari, lalu Ziah. Mantanmu yang aku taksir, Syaikh! :V

Lalu saya merasa Cocoklogi bisa menjadi panduan utama dalam memahami manusia, Indonesia, umat, dan hati gebetan.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...