28 August 2015

Kpd Syaikh Maulana: Di Jember, Tuhan Menegur Kita



Syekh Maulana. Ada beberapa hal yang saya soroti dari surat balasan antum. Tapi kali ini saya akan berfokus mengenai dilema yang kamu hadapi sebagai pemilik dan pengampu nama awal Maulana. Duh kasian kamu Syaikh. Sama nama sendiri aja kamu dilematis. Apalagi kalau ada ukhti-ukhti luchuk, yang pinter nyanyi sambil main ukulele. Semacam Mimi Nizrina, yang nanya “Pa cik, kapan kamu nak datang ke Malay, ketemu Abi-nya Mimi?”

Walah! Ya bingung-bingung-kebelet toh?

Kalau saya tidak salah, Maulana adalah gelar akademis, sekaligus semacam gelar Ustadz di daerah Pakistan sana. Seseorang akan dipanggil Maulana ketika ia menyelasaikan study keislaman (minimal Kutub Sittah). Dan seringkali mereka adalah Hafidz al-Quran. Gak kayak di kita. Ada cowok yang namanya Maulana. Dia suka ceramah di tipi. Terus aja dia dipanggil Ustadz Maulana. Jama’aaaah katanya tiap pagi di TPI. Eeee... sahut si penonton bayarannya. Alhamdu.... katanya. Yaelah! Kataku sambil mencet remot. Pindah saluran.

Nah, aku kenal kamu Syaikh. Makanya aku ndak mau panggil kamu Ustadz Maulana. Aku panggil kamu Syaikh Maulana. Lumayan, seperti yang kamu setujui. Mungkin itu bisa jadi asbab kita berdua jadi kenek dalam rombongan para ulama di mahsyar. Toh itu juga udah warrbyazza. Iya toh Syekh? Sebuah ikhtiyar yang maha serius. Ketika dunia sudah dipenuhi fitan, huru-hara, dan kemakruhan-kemakruhan. Bagaimana tidak? Ditanyai mbak-mbak KFC mau paha atau dada saja, rasa-rasanya udah pengen copot sarung.

O ya Syeikh, ini minggu ke-4 saya mengajar di SMP Fullday Al-Muhajirin. Selalu begitu. Menjadi guru ternyata tidak lebih ringan dari menjalankan sebuah usaha percetakan kecil-kecilan.

Semenjak jadi guru. Saya tak bisa tidur pagi. Plus harus mandi pula! Lalu di depan kelas saya akan bediri dan berjalan dalam jam-jam penuh pelajaran. Begitu jam istirahat datang. Entahkenapa siswa-siswa suka sekali masuk ke kantor sekedar ngobrol dengan guru-gurunya. Mengganggu sekali.

Belum lama saya di sini. Nampaknya saya sudah punya kelompok cheersleader. Yang suka memanggil dan menggombali saya (ini serius). Saya sampai agak jantungan ketika salah satu siswi yang tingginya 10 cm melebihi saya menanyai saya Bapa mau jadi gebetan aku gak?


Hah? Hati saya kacau. Bukan. Bukan karena saya merasa cukup tampan untuk membuat seorang siswi SMP kelas 3 berani bilang itu. Tapi pertanyaan itu membuat saya teringat pertanyaan yang hampir sama bunyinya... Sebenernya kita udah jadian apa belum sih?

Sebuah pertanyaan yang membuat si penanya tersebut sekarang mendapatkan calon suami yang kaya. Dan selalu mengajaknya berkeliling tempat-tempat asyik dengan mobil. Namun yang pastinya lelaki itu bukanlah saya.

Warbyaza syekh! Kupikir beberapa wanita nampaknya sadar betul, bahwa dunia ini adalah ATM Serba Ada. Yang mereka perlukan adalah password/pertanyaan yang tepat untuk mengaksesnya.

Password yang sebenernya itu-itu aja. Kalau gak Mau gak jadi gebetan aku? Mau gak jadi kakak-adekan aku? Sebenarnya aku ini apanya kamu? Atau yang lebih ngebom dan meneror... Kapan mau ketemu abi aku?

Ya pokoknya gitu-gitu lah Syekh!

Eh. Maaf hilang fokus Syaikh. Persoalan di sekolah ini sebenarnya ada yang membuatku pusing. Meskipun klise! Soal mengenali dan menghapal nama-nama seluruh siswa.

Nah di sini dia masalahnya. Selain ingatan saya yang kadang sering kabur. Nama-nama itu loh Syaikh duh! Biarlah saya kasih tahu Syekh beberapa nama... Raja Deef, Reginald, Kean Anshory, Rafasha.

Saya gak ngerti budaya penamaan anak saat ini nampaknya sangat berkiblat pada nama-nama selebriti atau nama-nama import (yang kemudian gagal diingat cara penulisannya). Nagita Slavia, Aliando, Duvarez, etc.

Mungin memang itulah nama yang baik. Mereka, para anak-anak yang kebanyakan lahir di tengah keluarga muda. Dari keluarga papa-papa gawl dan mama-mama hepy.Saya percaya semua nama itu diberikan setelah melakukan pertapaan di kedalaman laut Internet, di puncak-puncak gunung Search Engine. Dan belantara-belantara Website yang ada. Sesuatu yang agaknya mustahil dilakukan kakek nnene kita sehingga menamai bapak-ibu kita dengan Dadang, Mimin, Teten, Abun, dan Ecep. Sampai kemudian kita sadar, bahwa orang tua kita menamai kita dengan maksud yang baik: agar gampang nyebutnya.

Yaiya. Kalau papamu orang Korea mungkin saja namamu Muhamad Song Jok Doo atau semacamnya.

Di Jember kita dikejutkan dengan seorang tukang bangunan. Yang ber-KTP dengan nama Tuhan. Membuat masyarakat netizen bereaksi dengan macam-macam bentuk. Tapi yang jelas ketika saya membacanya pertama kali. Saya langsung tergelak. Lucu.

Saya langsung membayangkan sebuah percakapan suami-istri ketika mereka hendak menamai anaknya.

“Eh, kita namain apa ni anak?” Si Papa yang biasanya punya tanggung jawab atas ini mulai ragu-ragu dan bimbang. Dia tahu. Terlalu banyak yang bernama Sukarno, Yudhoyono, Susilo, Widodo, dan Abdurahman. Itu semua membuatnya merasa dibayangi dosa-dosa tindak plagiatif. Walaupun dalam konteks ini, pemahan tersebut bener-bener aneh.

“Apa ya pak? Aku bingung.” Jawab sang istri. Ikut bingung juga. Tapi syukurnya sang mamah tidak bilang “terserah”. Sebab semua lelaki tahu, jika perempuan bilang “terserah” akan ada huru-hara besar. Sesuatu yang sama sekali tidak baik untuk menyambut kelahiran jabang bayi lelaki yang sehat.

“Gimana kalau kita namakan dia dengan nama yang paling agung?”

“Oke, fine. Gimana kalau kita namakan dengan nama yang sering disebut oleh seluruh umat manusia?” Pikir si Ibu.

“Setuju! Brilian!” Kata sang Ayah.


“Kita beri dia nama....” sang istri memberi jeda. “Tuhan” kata mereka bersamaan! Eureka! Mereka memang pasangan suami istri yang sehati dan sepemikiran.

Tentu saja percakapan tadi sebenernya adalah percakapan imajiner. Percakapan yang ingin saya ceritakan ketika istri saya baru melahirkan nanti. Cerita yang lucu. Agar jabang bayi kami tahu dan terbiasa menerima humor yang aneh di sepanjang hidupnya kelak. Bersama Ayah yang keren, dan mamanya yang cantik, penyayang, cerdas, pintar, dan agak cerewet! (Duh, ini kode serampangan).

Si Tuhan. Beberapa waktu lalu menolak untuk mengganti namanya. Kendati hal tersebut sudah diminta oleh pihak MUI setempat. Si Tuhan bergeming –memangnya di mana sih di Indonesia ini yang taat sama MUI?

Singkatnya si Tuhan tetap bertahan dengan namanya. Alasannya dia tidak mau mengganti pemberian orang tuanya. Untuk itulah Tuhan, seaneh apapun dirinya dan namanya itu. Dia mengajari kita sesuatu. Nama, seaneh apapun. Adalah satu dari sekian cara orang tua kita mencintai kita.

Well, setidaknya mulai sekarang kita (dan seluruh orang yang terbiasa menggunakan kata “Tuhan”) musti mengganti diksi Tuhan, dengan diksi yang lain. Pokoknya yang tidak membuat kita ingat si Tuhan yang dari Jember dan tukang bangunan itu. Duh! Sialan kamu, Han!

PS:
Lalu. Tepat di menit ini. Di mana saya hampir memposting post ini. Teman saya bilang, sekarang ada yang namanya Saiton! Orang Palembang. Hahaha. Tawa saya meledak gak karu-karuan.

Eh, Syaikh. Sampai detik ini Bumi masih di galaksi Bima Sakti kan?

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...