29 August 2015

Kpd Syeikh Maulana: Ikhtiar Melawan Dollar


Cutterme dan Ikhtiar Melawan Dollar


Syeikh Maulana. Sungguh menyenangkan membaca surat balasan antum. Bagi saya yang lemah ini cukuplah penjagaan Allah Swt atas antum di Kairo; yang tidak terlalu jahat bagi antum yang dulunya Inlander, dikejar-kejar akun cewek gadungan, dan sering dikatain tukang PHP.

Sebelumnya saya sempat penasaran. Apakah jika musim dingin di Kairo (yang konon bersalju) dapat membuat ingus kita membeku dan kemudian mengganggu pernapasan? Apakah hawa dingin di sana akan naik dua kali lipat jika kita masih menjomblo ketika musim dingin?

Sungguh, rasa penasaran yang menunjukkan betapa ceteknya pengetahuan saya tentang ilmu biologi dasar. Pantesan saja dulu saya diputusin dia (yang saat ini sedang menyiapkan kelulusannya di Akademi Kebidanan).

Nah, Syaikh. Kenaikan Dollar saya perhatikan mulai sering dibicarakan. Kenaikannya itu loh Syaikh. Semakin menukik tajam. Awalnya saya gak paham. Berimbas pada apakah kenaikan dollar ini? Tapi ternyata, kenaikan nilai dollar (yang diikuti turunnya nilai rupiah) ini membuat ratusan orang di Bekasi terkena PHK.

Lalu kenaikan itu juga berdampak pada jumlah transferanmu dan teman-teman Indonesia di Kairo. Jatah yang sebelumnya bisa dipakai hidup sebulan, jadi cuma cukup 3 Minggu. Dan saya baru paham sekarang. Dan kenyataan ini jauh lebih saya pahami daripada tema-tema bahaya neo-kapitalisme yang sering dibicarakan akhi-akhi HTI.

Kreatifitas Adalah Koentjinja!

Pada tahun 1999 terjadi yang namanya Krisis Moneter. Turunnya nilai rupiah atas dolar dan sebagainya. Membuat beberapa investor luar negeri ramai-ramai mencabut investasi mereka. Beberpa perusahaan gulung tikar. Dan PHK besar-besaran pun terjadi. Gak cukup sampai sana. Huru-hara terjadi. Pecahlah kerusuhan Mei. Orang-orang etnis tionghoa disalahkan. Lalu “dihabisi”.

Selanjutnya pertanyaan pun timbul. Dari mana asal mula datangnya istilah “Ini salah si Cina! Kita dijajah secara ekonomi”? Sudah pasti ada yang bertindak seperti Hitler. Memicu ashobiyah dan fasisme orang-orang Aria. Menjadikan orang-orang Yahudi sebagai “Kambing Hitam”. Dan membuatnya merasa perlu untuk mengobarkan perang dunia.

Saya berlebihan ya Syaikh? Bisa aja iya. Bisa aja tidak.

Ini sejarah Syaikh. Jika kita mau belajar dari pengalaman. Maka kita sama tahu Syaikh. Kekacauan ekonomi bukanlah masalah jika masyarakat waspada dan tetap stay cool. Memahami bahwa ada yang lebih mengerikan dari krisis ekonomi. Yaitu krisis kreatifitas.

Pada tahun 1998 tersebut. Ketika para ekonom kita sibuk memikirkan cara untuk mengembalikan investasi luar negeri ke dalam negeri. Ada seseorang yang berpikir lain. Namanya Reynald Kashali. Dia tahu bahwa menunggu hasil yang dilakukan pemerintah itu sama halnya dengan menunggu jawaban dari gebetan tentang perasaan kita.

Yang mana jawabannya tidak menentu. Dan selalu memakan waktu yang lama. Sementara untuk urusan krisis ekonomi. Tidak ada alasan untuk menunggu dan bergantung pada tindakan pemerinatah. Begitu pikir Om Reynald. Kerusuhan pecah di mana-mana. Pengangguran terus bertambah. Harga kebutuhan pokok? Sudah pasti meledak.

Syaikh. Saya melihat antum dan Cutterme! antum. Sebuah bentuk kerja kreatif yang patut dijadikan contoh. Contoh yang sangat positif dan tentu saja progresif. Sebuah langkah kecil yang tidak sepele. Seolah-olah kamu mengatakan kepada Indonesia. Bahwa yang paling penting dari Ikhtiar ekonomi melawan kenaikan dollar adalah: Jangan sampai orang-orang Indonesia krisis kreatifitas!

Komunitas kreatif harus terus didukung. Sekolah-sekolah dan perguruan tinggi didorong untuk menjadikan para (maha)siswa lebih kreatif dan produktif. Kantung-kantung perkumpulan umat: Ormas, LSM, Perserikatan Buruh. Mulai dari yang doyan sweeping, yang resmi, bahkan sampai yang gurem sekalipun. Semua diarahkan untuk menjadi lebih kreatif, produktif, dan lebih siap untuk menghadapi kemungkinan paling buruk dalam penurunan nilai rupiah ini.

Seperti yang sudah antum contohkan sekarang. Atau yang Reynald Kashali lakukan di tahun 1998.

O ya. Selamat untuk kelas Menulis Kreatif yang antum mentori. Saya tahu. Di Purwakarta kami juga harus melakukannya di sini. Makasih sudah menginspirasi. Salam hangat dari Purwakarta.

PS:

Oh ya, ada satu hal yang penting. Ternyata indikator krisis bukan hanya kurs dollar. Masih banyak variabel makro ekonomi selain itu. Nah, berarti saya sedang agak berlebihan. Hehe.

Nah... buat yang penasaran dengan apa itu Cutterme! Silakan klik fanpage ini https://www.facebook.com/cutterme .








Agustus 2015


No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...