23 August 2015

Surat Kecil Syekh Ahmad kepada Syekh Maulana



Assalamualaimum Warahmatulah Ta’ala Tajalla Wa Barakatuh... Syaikh Maulana. Semoga Allah Swt. mencukupkan segala karunianya untukmu. Menjaga keberkahan dalam usia dan kesehatanmu. Amin ya Rabb alamin.

Amma ba’du Syaikh Maulana yang saya cintai karena Allah Swt. Mahasuci Allah yang telah menjadikan kita tetap kokoh dalam ukhuwah islamiyah, wathoniyah, dan ngenesiyah. Kemudian mengikat kita dalam satu pikir, satu visi, dan satu risau. Yakni pikir, visi, dan sebagian kecil dari kerisauan Baginda Muhammad Saw. –bukan visinya Felix Siauw- dalam memandang persoalan-persoalan umat.  Yang apapun-masalahnya-khilafah-solusinya.

Sehingga dengan berbagai kecocokan inilah saya kadang terpikir kalaulah antum ini ukhti-ukhti luchuk seperti di Indonesia sudah barang pasti aku menghalalkanmu. Tapi syukur alhamdulillah engkau adalah Syekh Maulana, dan aku adalah Syekh Ahmad –itu artinya hampir mustahil ada wanita bernama Ahmad atau Maulana. Apalagi yang menggelari dirinya dengan sebutan Syeh.

Syaikh Maulana, surat ini saya tulis sebagai bagian dari menyambung silaturahmi.  Bertukar pikiran dan kabar. Dan tentu juga untuk mengusir rasa sepi di malam Ahad di Purwakarta yang sedang riang ini. Persis sedikit seperti yang dilakukan para ulama’ pendahulu kita. Bedanya malam Minggu di jaman Asy Syafii dulu gak ada cabe-cabean berkerudung, atau Raditya Dika. Apalagi Mas Jonru dan Sujiwo Tedjo.

Nah meskipun kita bukan ulama. Sepertinya gak apa-apalah ikut-ikutan tradisi ulama ini. Siapa tahu di mahsyar nanti kita dikumpulkan dan diperlakukan seperti para ulama. Gak apa-apa di gerbong terakhir juga. Namanya juga ikhtiar. Ya kan Syaikh...

Begini Syaikh. Oh ya sebelumnya terimaksih karena kemarin syaikh sudah meluangkan waktu untuk berdiskusi via BBM dengan saya. Dan saya mohon maaf karena sempat menolak chating video-call. Awkward tahu Syaikh... kita kan cowok! Walaupun kita ini figur Syaikh yang kekinian tapi kan ya gak gitu juga kan?

Amma ba’du (lagi). Gimana kabar di Kairo, Syaikh? Musim apa di sana? Banyak ukhti-ukhti luchuk siap-petik di sana? Eh keceplosan Syaikh...

Di Purwakarta agaknya masih juga terasa Dirgahayu RI nya. Oh ya Syaikh tolong sampaikan pada masyarakat Mesir bahwa kami berterimasih atas dukungannya pada 70 tahunan yang lalu. Walaupun kami tahu Mesir sekarang gak kayak dulu. Dan Indonesia sekarang juga beda dengan dulunya. Kalau dulu ada yang namanya ngakngikngok kalau sekarang namanya kapitalisme. Ah Bung Karno mah memang gitu orangnya. Mungkin satu-satunya warisan belio yang masih ingin kami simpan dalam konteks ini adalah petuah belio: Jasmerah! Jangan sekali-kali melupakan sejarah.

Syaikh. Di sini sedang kerontang. Kemarau memanjang. Air sumur kami kering. Harga tomat jatuh. Nilai tukar rupiah anjlok. Dan makin banyak kawan seumuran yang menikah. Sementari hati tetap saja kesepian. Lihat RU, timeline, beranda, yang ada mantan lagi mantan lagi. Bawaannya langsung baper terus langsung ngetik apa kabar? Sambil terus disusul dengan maaf tadi dibajak.

Entah bagaimana semua ini terjadi. Mungkin karena pembangunan patung-patung culun di Purwakarta. Mungkin karena lomba Haiku (yang men-dedi-kan purwakarta) yang bernilai 10 juta rupiah itu. Lumayan untuk akang-teteh penyair yang frustasi karena karya-karyanya susah tembus koran. By the way. Sony Farid Maulana sekarang punya aliran puisi/ haiku/whatever loh syaikh. Para pengikutnya menyebut hal itu dengan nama: Sonian. Keren dan menggelikan di saat yang sama.

Walaupun kemudian kita jadi bertanya. Apa hubungannya selera seni Dedi Mulyadi, orientasi seniman-seniman Jawa Barat (wabil khusus Bandung-Purwakarta) itu dengan meningkatnya jumlah pernikahan para tetangga? Benar-benar gak logis dan gak ada hubungannya sama sekali. Yaudahlah biarin aja semua janur-janur menghisai jalan kota Purwakarta. Pesta digelar berminggu-minggu. Warga berkumpul-kumpul bersorakgirang pada bapak Bupati Purwakarta yang nyatanya orang Subang itu.

Yaudahlah Syaikh. Gak baik Ghibah itu. Kita fokus ngebahas umat aja Syaikh. Capek ngebahas Kesenian literatur mah. Progressnya masih agak jauh dari maslahat umat.

Dari Generasi-Merunduk ke Generasi-Gagal-Paham.

Al Islamu mahjubun bil muslimin seperti yang dikatakan syaikh Muhammad Abduh dulu nampaknya memang tidak lagi sekadar umat Islam yang mulai abai pada praktek-praktek keagamaan.Indikasi mahjubun-bil-Muslimin. Lupakanlah sejenak soal jilboobs, tjabe syariah, dan ikhwan-ikhwan ngotot. Itu persoalan yang bisa kita bahas nanti. Lagipula itu hanya bagian kecildari pokok paling penting dalam memehami keberislaman umat hari ini. Buset dah Syekh... nampaknya Ane udah mulai serius nih.

Saya memulainya dari lelaku anak-anak muda dalam menghadapi dan menanggapi isu-isu politik, sosial, dan budaya. Oh itu kurang spesifik Syekh. Kita mulai dari soal permintaan maaf pemerintah terhadap PKI yang diwakili oleh Jokowi. Kenal Jokowi kan? Ituloh Presiden kita yang dilantiknya belum lengkap setahun udah bikin twitter gregetan.

Salah satu kegregetan itu mengundang phobia yang sama. Phobia terhadap PKI. Phobia yang dibuat sedemikian rupa oleh Smiling General kita. Phobia yang membuat umat di  masa lalu rame-rame menyembelih orang PKI, suka-PKI, mirip-PKI, dikira-PKI, dan gak-ada-kaitannya-sama-PKI.

Dengan alasan komunis itu Atheis. Dafuq! Aku takut Sindrom Gagal Paham yang menjangkiti umat di masalalu benar-benar bangkit lagi untuk yang kedua kali. Dan aku hampir melihatnya pada Generasi Gagal Paham!

Seperti adik tingkat yang di depanku ini. Yang bertanya untuk apa Jokowi meminta maaf pada PKI? Dengan tendensi menyalahkan.

“Kamu tahu komunisme tidak?” Tanyaku.Tidak. Memangnya apa A?” malah nanya balik. Kok sempat-sempanya dia mengecam sesuatu yang tidak dia tahu? Kan konyol. Sama aja kayak cewek yang mutusin dan menolak cowok baik-baik. Terus macarin cowok brengsek. Giliran dikecewain, bilangnya semua cowok sama aja.

Masya Allah Syaikh. Ini dia Generasi Gagal Paham. Ini dia Syekh! Akar utama dari seluruh kengerian yang terjadi dalam umat ini. Tumbuhnya Generasi Gagal Paham. Gagal memahami permasalahan. Bahkan untuk sekedar tahu apa yang sedang dikecamnya saja dia gak tahu.

Setelah kita risau dengan Generasi Merunduk yang didominasi Abege labil. Kini kekahwatirabn kita bertambah. Generasi merunduk sudah memasuki babak baru dalam proses evolusi menuju kekinian. Dibina oleh teknologi informasi dan percaturan isu-isu politik dan media massa. Mereka memasuki bayang-bayang sindrom Generasi Gagal Paham. Generasi yang belajar, menyimpulkan, bahkan bermadzhab pada akun-akun di media sosial. 

Bahaya Syeih.... ini namanya Taqlid gaya digital; yang viral, galau, dan rentan. Rentan untuk disusupi bibit-bibit kebencian.

Jika ini terus terjadi. Dan terus membesar. Mungkin sekali di suatu kelak. Di Indonesia yang damai ini takkan heran jika Generasi Gagal Paham ini akan menjadi Generasi Tukang Mengafirkan. Apa yang terjadi kalau sudah begitu? Mungkin saja kasus Tolikara kemarin-kemarin akan menjadi sesuatu yang lebih berdarah-darah.

Apa menurutmu ane ini lebay Syekh? Mungkin iya. Mungkin juga tidak. Tapi tengoklah para pengungsi Ahmadiyah di kita. Terusir dari tanah kelahiran karena ulah segelintir umat Islam, dengan restu fatwa MUI pula. Shame!

Berabad-abad lalu Islam pernah berjaya. Dari Jazirah Arab ke semenanjung Persia, lalu ke sebagian tanah Eropa. Dan beberapa pelosok di Asia-Pasifik. Tentu saja soal intrik pembegalan politik terhadap kaum Sufi (sebagai lawan politik dinasti tertentu) bisa kita bahas lain kali. Tapi apakah kejayaan Islam yang seperti itu yang kita cita-citakan? Di saat-saat seperti ini? Tidak Syaikh. Bagi umat Muhammad yang waras, Indonesia saat ini sudahlah lebih dari cukup. Kita wiridan pake loudspeaker boleh. Lupa Qunut boleh. Sholat pakai celana cingkrang tara dikopeyah ge boleh. Hal yang mustahil terjadi ketika salah satu aliran ajaran Islam menjadi pengegang kontrol suatu negara. Cukup Syekh. Nahnu ummatan wasathan. Kafa lana Andunisiya... dan alhamdulillah atas itu semua.

Syeikh Maulana. Saya Syekh Ahmad alfaqir atas nama ummat Islam. Atas seluruh kesepian yang membuat saya baper multi-dimensi ini ingin meminta nasihat dari Syaikh Maulana yang alim, arif, dan bijaksana. Kiranya apa yang harus kita lakukan dengan masalah Umat ini Syaikh?

Wassalam
NB: Masih minum kopi sachet, Syekh Maulana? Sama! Cemen ya kita ini?

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...