10 October 2015

Kpd Syekh Maulana: Antara merokok dan membaca



Syaikh maulana. Tiba-tiba saja saya teringat ketika engkau masih di tanah air Indonesia (tanah  tempat kita mengenang seluruh jasa pahlawan dan kasih sayang mantan). Engkau denganku bermesraan dalam sebuah keheningan danau buatan, rasa dingin di Wanayasa, dan sepasang gelas plastik berisi susu hangat. Aku merokok, dan engkau makan Chocolatos. Lalu engkau bertanya padaku tentang sesuatu.

“Masih jomblo, Rid?” Tanyamu. Lalu byur! Saya ceburin engkau ke Situ Wanayasa yang dangkal, berlumpur, dan ada sepanduk gambar Kang Dedi-nya.

“Apa sih enaknya rokok?” Tanyamu. Aku lupa waktu itu jawab apa. Tapi seandainya pertanyaan itu terjadi lagi. Maka atas nama kenangan, kesepian, dan tali kasih sayang sesama ummat Muhammad Saw. ijinkan saya menjawab semampunya. Saat ini juga.

Syaikh Maulana. Pernahkah saya bertanya padamu: Apa sih nikmatnya membaca dan menemukan puisi yang bagus? Tidak kan? Karena selain kita ini sombong, kita sama paham belaka. Bahwa kadar keenakan sesuatu tidak melulu sama dengan enaknya makanan atau selipan adegan panas di film-film box office. Yang bisa menyamakan itu barangkali adalah reaksi kita terhadap hal tersebut.

Misalnya (seringkali) puisi yang bagus menawan kita dalam ke-degdeg-an orang jaruh cinta, pedihnya patah hati, eksait birahi, ektase-ektase transenden, bahkan desperete orang-orang yang ingin bunuh diri.

Apapun yang puisi-bagus tawarkan, kita cuma punya dua hal. Pertama: menyerah tanpa complain. Selanjutnya adalah rasa ketagihan.

Puisi yang bagus akan membuat kita terus membacanya kembali, berkali-kali. Mengutipnya lagi di suatu kesempatan. Bahkan menghapalkannya untuk sekadar ditampilkan jika saja kita terjebak dalam sekumpulan orang membosankan yang menurut kita harus kita bacakan puisi.

Seperti nikmat merokok itu sendiri Syaikh!

Sebagaimana penikmat puisi yang baik. Setiap perokok hapal betul mana rokok yang nikmatnya cocok untuk menghadapi cuaca tertentu. Juga hapal betul jenis kopi atau gorengan apa yang bisa membarenginya.

Contohnya... jumhur perokok menyepakati. Bahwa jika sedang berada di daerah dingin sebaiknya bekalilah dirimu dengan Dji Sam Soe kretek. Sebab dalam kelas sigaret kretek Dji Sam Soe adalah radja! Kalau tidak kebeli bolehlah antum mekeulan Sampoerna Kretek. Separuh harga dari sang Radja kretek.

Dan kopinya... Syaikh anda bisa menyeduh sesachet Kapal Api hitam. Gorengannya, goreng pisang. Perfecto!

Kupikir inilah dia titik tangga kosmos pertama yang menyamai titik tangga trance milik para Sufi, atau momentum Eureka! milik orang-orang jenius di masa renaisance. Yang bagimu ini seakan batasan surga dan dunia fana kita hanya setipis batas kita dengan kenangan manis akan mantan. Insyaalah terasa dekat, walaupun sebenernya jauh banget. :D

Nah. Sementara itu teguklah perlahan-lahan kopi antum selagi panas. Tapi, bersabarlah menanti ampasnya di permukaan mulai mengendap ke dasar gelas. Lalu hisaplah Dji Sam Soe antum perlahan-lahan. Tahan sejenak... biarkan hangatnya menyebar ke dasar dada, ke dalam jiwa. Biarkan ia mengaduk seluruh pusat kosmos dalam sukmamu.

Dan jangan lupa! Ucapkan Alhamdulillahi ‘ala kulli halin. Bukan “Alhamdulillah yahh sesuatuh”. Karena tak ada yang lebih menentramkan hati selain dzikrullah. Alaa Bidzikrillahi tathmainnul Qulub.

Nah, jika cuaca sedang panas. Akan berbeda lagi jenis rokok seperti apa yang laik dinikmati. Tapi yasudahlah, Syaikh. Pembicaraan ini nampaknya sudah terlalu jauh. Apalagi saya sendiri sudah sejak empat bulan yang lalu berhenti merokok.

Tapi, begitulah kurang lebihnya. Menikamti puisi yang bagus, sama kiranya dengan menikmati rokok dengan momen dan pelengkap yang tepat. Unspeakable!


Kemudian kita bertanya: bagaimana caranya semua nikmat itu datang? Proses, Syaikh! Proses.

Kenapa Dji Sam Soe bisa menjadi radja dalam kelas kretek; karena ia lahir dan bergulir dalam proses yang panjang dan konsisten. Konon, di Kudus sana quality control djisamsoe ini sudah dilakukan sejak dari pemilihan kualitas tembakau, treatment pra linting, olah-racikan, dan keterampilan para pegawai yang turun temurun sejak Indonesia masih dalam pendjdjahan Dai-Nippon (Nenek Moyang Miyabi yang absurd itu.)

Dji Sam Soe adalah bukti bagaimana kualitas rasa, kekuatan aroma, dan keintiman nikmat merokok yang terjaga sejak hayat perokok kekinian masih dikandung badan.


Keduanya. Kepenulisan (kemampuan dan karya tulis) yang baik dan Dji Sam Soe ini memiliki satu kesamaan. Proses yang... panjang, istiqamah, dan serius!

So. Bravo-lah mereka yang percaya bahwa tulisan yang baik adalah hal-hal yang tersuling dari proses permenungan, kontemplasi, katarsis, dialektika konteks, intertekstualitas, dan sarapan makanan dengan gizi baik. :D

Lalu apakah judul dan isi tulisan ini sesuai, Syaikh? Enggak kan? Wah, saya bahkan akan sangat kaget jika ada tulisan saya yang berhasil dalam menyesuaikan judul dan isinya.

Salam tabique!
Read more ...

03 October 2015

Berusaha Mencatat dari Peristiwa Alm. Salim Kancil




Waktu masih mesantren di Sragen, selain menghapal Ayat dan Mufradat (kosakata Arab) kami juga biasa menerima hafalan mahfudzot, semacam kata-kata mutiara dalam bahasa arab. Mungkin kita kenal beberapa dari Mahfudzot tersebut. Seperti Man jadda Wajada (barangsiapa yang bersungguh-sungguh maka akan mendapatkan berhasil.)

Ustadz kami tiap hari membacakan satu Mahfudzot yang kemudian kami catat dengan sigap, untuk kemudian kami setorkan dalam bentuk hafalan.

Ada salah satu mahfudzot yang saat ini baru saya ngeh maknanya semalam. Setelah membaca ulasan  Mas Kokok Dirgantoro di Mojok.co. tentang Pembunuhan Pak Salim Kancil, Seorang Petani yang Menolak Pertambangan di Daerahnya.

Al-Fallahu sayyidul ummah. Petani adalah Sayyid (tuan) bagi umat. Begitu bunyi mufradatnya.
Di tangan mereka yang ligat menggenggam tanah. Dalam keringat mereka; Hidup kita terus berlanjut. Tapi bagaimana kita (umat) memperlakukan mereka, para tuan kita?

We just dont care, right? Di sekolah-sekolah kita ditanami pemikiran bahwa pekerjaan mencangkul adalah pekerjaan yang tidak menjanjikan apapun. Kalau di jamanku SD dulu, katanya menjadi petani itu ciri-ilmu-gak berkah.

Coba ingat-ingat lagi waktu sekolah kita pernah gak menjawab cita-cita kita adalah bertani? Paling astronout, dokter, atau arsitek. Duh. Siapa sih yang mulai semua ini? Orang macem apa sih yang memberikan pilihan cita-cita sesempit itu?

Sejak dari  kecil bahkan kita tidak diajari untuk menghormati jasa petani dan mewarisi kerja keras mereka. Sejak SD kita diajari untuk menjadi arsitek dan semacamnya, SMP kita diberitahu bagaimana pertambangan menyokong denyut perekonomian, sementara di SMA kita diajari bahwa kuliah itu mahal.

Terbunuhnya Mas Kancil adalah gambaran wong cilik dan perlakuan yang diterimanya hari ini. Simbol dari bagaimana kondisi ketahanan pangan kita menghadapi berbagai bentuk serangan. Dari luar ia diserang produk impor, di tempat sendiri ia dipecundangi tengkulak. Dan pemerintah... saya gak tahu apa yang sudah dilakukan pemerintah selain memendam beras raskin sampai busuk. Untuk kemudian dibagi-bagikan.

Mas Kancil dari haribaan bumi mungkin sedang menertawakan betapa absurdnya kita ini. Sementara di daerah-daerah kecil yang jarang terekspos media –sebab Jakarta terlalu sibuk memenuhi layar televisi- masih banyak Mas Kancil yang lain. Mereka mempertahankan diri sendirian. Tanpa spot-spot media, tanpa pembelaan dari Negara. Mereka melawan musuh yang lebih berat dari sekadar penjajah; mereka melawan musuh di dalam daerah sendiri. Seperti kata anak-anak Meme kadang kita dipertemukan dengan “anjing” yang mirip “teman”.

Sementara kita bicara kegaduhan politik; membuat dan meramaikan hastag-hastag rasa Jokowi dan peristiwa internasional di sosial media, di kafe-kafe bercemil-cemil ria dengan kopi dan shisa.
Akhirnya dengan mengutip kata-kata sedih seorang mojokis kita dapat menyimpulkan bagaimana Tuan-tuan (Sayyid Al-Ummahh) kita diperlakukan; mas kancil dibicarakan dan menjadi perhatian berita. Sementara persoalan keadilannya entah akan seperti apa.

Lihatlah diri kita saat ini. Kita mirip dengan orang-orang yang terkena tulah karena tidak berlaku baik pada tuannya sendiri. Sebelum semuanya terlanjur; ketika lumbung-lumbung padi kita di Indramayu, dan Subang berubah menjadi tambang-entah-apa lagi. Marilah kita... eumm... apa ya...  entah apa yang harus kita lakukan. Mungkin anak-anak twitter lebih paham apa yang seharusnya dilakukan selain membuat tagar-tagar save, shame, no, dll.

Al- Fallahu sayyidul Ummah (petani adalah tuan-nya umat.) Saya teringat hamparan sawah dalam lukisan bapak, saya teringat sawah-sawah di tanah kelahiran di Sumedang, yang kini menjadi hamparan tol yang panjang dan luas. Saya melihat tuan-tuan yang terusir, saya melihat tuan-tuan yang nampaknya lebih suka menerima ganti rugi tanah dan sawah mereka untuk kemudian berbelanja ria dan memugar rumah ketimbang membangun sawah produktif di tempat yang lain.

Apakah efek domino dalam program-program pembangunan ini sudah diperhitungkan oleh Mas Jok dan bapak-bapak yang di sana? Atau ia memang sedang ingin membuat sebuah Big Joke seperti kata Roschad di film Watchmen: mengorbankan sekian hal, untuk memenangkan hal yang lebih besar.
Mengorbankan orang-orang seperti Mas Kancil, untuk sesuatu yang lebih besar: Misalnya, titel sebagai negara yang maju.

Kita memang tidak tahu persis akan seperti apa Indonesia kita di masa depan. Tapi jika boleh memilih. Saya tidak mau ketika saya tua, lalu duduk di beranda rumah, sendirian. Sedang bergidik melihat betapa besar dan buas Bebegig Pembangunan yang tidak lagi  memberikan kita emas, batu bara, nikel, baja dll. tetapi malah sebaliknya. Ia membawa kita pada bencana-bencana khas judgement day seperti di film-film Hollywood.

Jika itu memang terjadi... ah saya hanya berharap saya sudah tidak sendiri. Sehingga saya punya teman untuk berbagi kesedihan seperti itu.

Saat ini saya sedang di kantin kampus. Tiba-tiba pemeran Sophia di film Da Vinci Code mengatakan: aku Sofi, aku gadis impor dari Prancis, menyukai filsafat dan sejarah Prancis, terutama bab-bab Revolusi Prancis. Kamu mau traktir aku Marimas dan Indomie Telor?

Lalu datanglah si Teteh kantin dengan dua gelas Marimas rasa jeruk Bali dan Mie goreng di tangannya “Ini, A.” Yang terdengar seperti “Bon Apatite, Monsiour, Madame”

“Viva La Vida!” Sahutku ngasal. Srupuut.

Read more ...

01 October 2015

Panji dan JKT48




Assalamulaikum Syaikh, setelah antum BBM dan memesan sebuah tulisan dengan tema Manajemen Fans saya malah teringat kawan saya Panji Saputra. Masih ingat sama belio, Syaikh?

Nah, si Panji yang kita panggil Panjul pas kita Tsanawiyah, yang juga terkenal satu pesantren gara-gara pernah jatuh dari lantai dua itu, kini sudah menjadi seorang Wota garda depan untuk chapter Karawang.

Kegilaannya pada dedek-dedek JKT 48, specially dedek Melody dan Nabilah membuatnya tidak ragu-ragu untuk meretwit apapun yang bercuit dari akun para Member JKT48. Belum lagi jika ditambah dengan foto-foto yang dia upload. Wuoh! Wota syekaleh!


Syaikh, Panji yang berperawakan isi untuk tidak disebut gemuk, legam untuk tidak disebut gosong, dan bisa nyetir mobil itu msudah mengkalrifikasi  sebagai Wota lahir bathin. Dalam akun twitter, facebook, dan yang lainnya dia seolah menegaskan semua itu. Seolah-olah, bagi saya kini, mengaingat Panji adalah cara saya untuk membedakan yang mana Melody dan yang mana Nabilah. Atau yang bagaimana yang disebut Wota garda depan, Wota radikal, Wota malu-malu-ihik-ihik, dan Wota karbitan partikelir.

Melihat Panji seperti ini awalnya membuat saya sedih. Saya tentu akan lebih suka jika dia benar-benar mengidolakan Paque seperti yang pernah dia lakukan tempo lalu. Tapi ternyata itu cuma terjadi sebagai uforia pertandingan antar Paque dan Mayweather beberapa waktu yang lalu. Sebagai catatan dia memang anak twitter. Gak ikut berhastag baginya adalah sebuah kemurtadan dalam bersosial media. Gak berhastag, gak kaffah. Gitu kira-kira kredo bersocmednya.

Sayang sekali, kesukaannya pada tinju hanyalah karena ikut Trending Topic. Awalnya saya pikir karena dia memang anak yang garang. 

Ah, Syaikh betapa banyaknya kita ditipu. Setelah kita tak pernah selesai ditipu bayang-bayang kenangan. Kali ini kita ditipu oleh wajah garang berhati fans grup-idol garda depan.

Tapi kemudian. Saya sadar. Bahwa kebahagiaan seseorang punya standar masing-masing. Memakai standar kita untuk mengukur kebahagiaan orang lain adalah sesuatu yang sangat bodoh. 

Maka kaffahlah kebodohan kita ketika mengatakan setiap jomblo itu tidakbahagia lantaran hidup kesepian. Belum tentu. Memang tidak berpasangannya seorang jomblo itu sudah barang tentu. Tapi kan... siapa tahu dia memang lebih bahagia sendirian. Persoalan setiap malam dia memutar lagu-lagu Payung Teduh melulu itu kan soal lain.

Atau misalnya kebahagiaan Syaikh yang sekarang ini. Mendengar lagu Keep Being You dari Isyana. Sambil sepedahan di sekitar jalan-jalan padat di Kairo. Lalu membayangkan seorang ukhti ihik-ihik-ekhm yang imut-imut, lucu, pintar ngaji dan main musik menyanyikan untukmu “I dont need your flower, i just need your love.” Kan ya woah banget itu. Gak heran kenapa Syaikh bisa menghadapi seluruh malam-malam yang panjang tanpa selimut tetangga.

Nah ketika hal-hal yang fatatik dan menyedihkan seperti itu malah membuat Syaikh bahagia, maka saya tidak berhak mengatakan bahwa Syaikh emang sudah sejak dari sononya susah move on. Tenggelam dalam samudra ingin-balikan yang telah menenggelamkan dan membuat Syaikh ingin mati saja di dasar samudera itu lantaran some one like her memang tidak pernah ada. 

Eh. maaf syeikh. Aku sudah terlalu subyektif.

Membicarakan Panji sebagai seorang Wota Lahir Bathin akanlah sia-sia jika kita tidak tahu apapun soal nge-fans atau to-be-fans.

Syaikh. Izinkan saya yang faqir ilmu ini memberikan pandangan tentang apa yang membuat seseorang akhirnya mendaku diri sebagai fans dari sesuatu.

Bagi kita yang tak punya keterkaitan dan pengetahuan apapun dengan JKT 48; hentakan lagu yang easy listening, paras ayu nan imut-imut, serta goyangan enerjik para member JKT 48 mungkin tak jauh beda dengan goyangan Duo Serigala. Yang ehm-ehm lalu udahan.

Tapi bagi panji yang Wota sejak dalam pikirian itu. Setiap nada, setiap gerak, setiap kata bahkan merchandise yang mengarah pada JKT48 adalah bagian dari denyut nadi dan detak jantungnya sendiri. Singkatnya. Seorang fans sejati semisal Panji ini sudah merasa manunggaling (menyatu) dengan idolanya. Gak JKT48, gak Panji. Gitulah kira-kira. 

(Persoalan misalnya nanti di sepuluh tahun ke depan dia akan menggemari bacaan murottal sembari mendaku sebagai super-fanatic-fans dari seorang Syaikh Abdurrahman As Sudais yang imam Makk itu; maka itu akan menjadi persoalan yang di luar bahasan kita kali ini.)

Pada titik inilah kita temukan apa yang Jean Paul Satre bicarakan L’existence precede l’essence (Eksistensi mendahului esensi.) tentang bagaiamana seseorang menjadikan hal lain di luar dirinya sebagai identitas atau bahkan bagian dari dirinya sendiri.
 
Tidak perlulah saya bilang pada Syaikh. Bahwa mengidolakan seseorang hampirlah sama dengan jatuh cinta. Sejatuh-jatuhnya. Sementara menasihati orang yang jatuh cinta untuk tidak nekat adalah kesia-siaan.

Tanyakan pada cewek-cewek cakep bohay yang akhirnya memacari cowok-cowok yang maaf jelek bermotor Ninja. Atas dasar apakah mereka mau macarin cowok jelek? Pasti mereka bilang “Ya mau gimana lagi. Udah kadung cinta, Mas.” 

Gak mungkin mereka bilang: Karena motornya keren, Mas.

Nah!

Pada suatu kali Irsyad si juara 2 di Stand Up Comedi Session 5 bicara soal Fans dalam blognya.

Fans? Katanya Mereka gak ngefans dengan kita. Mereka (fans) mengingat dan mengagumi kita dalam karya-karya kita.

Apa yang dia bicarakan sekilas mudah dipahami. Tapi juga menjadi bias tatkala seringkali para idola merasa terganggu dengan tingkah fans dan insan media.

Mereka yang merasa menjadi idola harusnya paham belaka, bahwa memisahkan karya dari si kreator adalah sesuatu yang mustahil. Mungkin saja ada sebagian orang yang bisa hidup sebagai fans yang seperti dalam kutipan Mark Twain; Memakan sop bebek yang enak, tidak sama dengan bertemu dengan bebeknya langsung.

Atau jika ditarik dengan lelaku to-be-fans saya pribadipada sosok penyair dari Tasik, Acep Z. Noor. 

Pada suatu kesempatan di Tasik, saya melihat Kang Acep. Teman-teman yang juga mengagumi dan baru saja membeli bukunyna mengajak-ngajk saya untuk mendatangi beliau untuk meminta tanda tangan dan foto bareng dengannya. 

Saya bergeming. Dia kelihatan sedang asik mengobrol dengan teman-temannya. Saya menolak ajakan teman-teman saya, dan  memilih untuk duduk di tempat saya dan memperhatikannya dari jauh. 

Diam-diam saya sadar. Acep Z Noor bukanlah apa-apa tanpa puisi yang dia tulis. 

Jika suatu hari nanti Syaikh merasa punya fans, lalu fans itu terasa mengganggu. Maka saran saya sederhana. Biarkan dia bahagia. Lagipula tidak ada kebahagiaan yang tidak fana. Toh dia tidak merampok kita, kan? Selain itu, saya percaya bahwa fans-fans yang sopan selalu ada.

Dan jika kau ketemu idolamu. Jangan lupa. Sapalah sekadarnya. Atau abaikan saja, jika menurutmu itu baik untuknya.

Nah! Bagaimana dengan Panji dan JKT48? Dalam istilah Descartes, bagi Panji “Aku berOSHI, maka aku ada.”

Sekalipun kita ini emang Melody dan Nabilah, mau gimana lagi kita?

PS:

Sebentar, ya, Syaikh. Saya ke dapur dulu. Makan. Sebab keharusan menjaga kesehatan tidak perlu karena ada yang mengingatkan. Makan ya makan aja. Gak usah nungggu ada yang bbm “udah makan belum?” Kelamaan. Kamu juga jangan lupa makan, Syaikh.

O ya Syaikh. Sebagai sesuatu yang penting kamu tahu. Bahwa meadaptkan kesempatan foto bareng dengan Member JKT48 adalah seagung-agung nikmat bagi para Wota. Jangan tanya kenapa.


The Incredible Panjul

Read more ...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...