03 October 2015

Berusaha Mencatat dari Peristiwa Alm. Salim Kancil




Waktu masih mesantren di Sragen, selain menghapal Ayat dan Mufradat (kosakata Arab) kami juga biasa menerima hafalan mahfudzot, semacam kata-kata mutiara dalam bahasa arab. Mungkin kita kenal beberapa dari Mahfudzot tersebut. Seperti Man jadda Wajada (barangsiapa yang bersungguh-sungguh maka akan mendapatkan berhasil.)

Ustadz kami tiap hari membacakan satu Mahfudzot yang kemudian kami catat dengan sigap, untuk kemudian kami setorkan dalam bentuk hafalan.

Ada salah satu mahfudzot yang saat ini baru saya ngeh maknanya semalam. Setelah membaca ulasan  Mas Kokok Dirgantoro di Mojok.co. tentang Pembunuhan Pak Salim Kancil, Seorang Petani yang Menolak Pertambangan di Daerahnya.

Al-Fallahu sayyidul ummah. Petani adalah Sayyid (tuan) bagi umat. Begitu bunyi mufradatnya.
Di tangan mereka yang ligat menggenggam tanah. Dalam keringat mereka; Hidup kita terus berlanjut. Tapi bagaimana kita (umat) memperlakukan mereka, para tuan kita?

We just dont care, right? Di sekolah-sekolah kita ditanami pemikiran bahwa pekerjaan mencangkul adalah pekerjaan yang tidak menjanjikan apapun. Kalau di jamanku SD dulu, katanya menjadi petani itu ciri-ilmu-gak berkah.

Coba ingat-ingat lagi waktu sekolah kita pernah gak menjawab cita-cita kita adalah bertani? Paling astronout, dokter, atau arsitek. Duh. Siapa sih yang mulai semua ini? Orang macem apa sih yang memberikan pilihan cita-cita sesempit itu?

Sejak dari  kecil bahkan kita tidak diajari untuk menghormati jasa petani dan mewarisi kerja keras mereka. Sejak SD kita diajari untuk menjadi arsitek dan semacamnya, SMP kita diberitahu bagaimana pertambangan menyokong denyut perekonomian, sementara di SMA kita diajari bahwa kuliah itu mahal.

Terbunuhnya Mas Kancil adalah gambaran wong cilik dan perlakuan yang diterimanya hari ini. Simbol dari bagaimana kondisi ketahanan pangan kita menghadapi berbagai bentuk serangan. Dari luar ia diserang produk impor, di tempat sendiri ia dipecundangi tengkulak. Dan pemerintah... saya gak tahu apa yang sudah dilakukan pemerintah selain memendam beras raskin sampai busuk. Untuk kemudian dibagi-bagikan.

Mas Kancil dari haribaan bumi mungkin sedang menertawakan betapa absurdnya kita ini. Sementara di daerah-daerah kecil yang jarang terekspos media –sebab Jakarta terlalu sibuk memenuhi layar televisi- masih banyak Mas Kancil yang lain. Mereka mempertahankan diri sendirian. Tanpa spot-spot media, tanpa pembelaan dari Negara. Mereka melawan musuh yang lebih berat dari sekadar penjajah; mereka melawan musuh di dalam daerah sendiri. Seperti kata anak-anak Meme kadang kita dipertemukan dengan “anjing” yang mirip “teman”.

Sementara kita bicara kegaduhan politik; membuat dan meramaikan hastag-hastag rasa Jokowi dan peristiwa internasional di sosial media, di kafe-kafe bercemil-cemil ria dengan kopi dan shisa.
Akhirnya dengan mengutip kata-kata sedih seorang mojokis kita dapat menyimpulkan bagaimana Tuan-tuan (Sayyid Al-Ummahh) kita diperlakukan; mas kancil dibicarakan dan menjadi perhatian berita. Sementara persoalan keadilannya entah akan seperti apa.

Lihatlah diri kita saat ini. Kita mirip dengan orang-orang yang terkena tulah karena tidak berlaku baik pada tuannya sendiri. Sebelum semuanya terlanjur; ketika lumbung-lumbung padi kita di Indramayu, dan Subang berubah menjadi tambang-entah-apa lagi. Marilah kita... eumm... apa ya...  entah apa yang harus kita lakukan. Mungkin anak-anak twitter lebih paham apa yang seharusnya dilakukan selain membuat tagar-tagar save, shame, no, dll.

Al- Fallahu sayyidul Ummah (petani adalah tuan-nya umat.) Saya teringat hamparan sawah dalam lukisan bapak, saya teringat sawah-sawah di tanah kelahiran di Sumedang, yang kini menjadi hamparan tol yang panjang dan luas. Saya melihat tuan-tuan yang terusir, saya melihat tuan-tuan yang nampaknya lebih suka menerima ganti rugi tanah dan sawah mereka untuk kemudian berbelanja ria dan memugar rumah ketimbang membangun sawah produktif di tempat yang lain.

Apakah efek domino dalam program-program pembangunan ini sudah diperhitungkan oleh Mas Jok dan bapak-bapak yang di sana? Atau ia memang sedang ingin membuat sebuah Big Joke seperti kata Roschad di film Watchmen: mengorbankan sekian hal, untuk memenangkan hal yang lebih besar.
Mengorbankan orang-orang seperti Mas Kancil, untuk sesuatu yang lebih besar: Misalnya, titel sebagai negara yang maju.

Kita memang tidak tahu persis akan seperti apa Indonesia kita di masa depan. Tapi jika boleh memilih. Saya tidak mau ketika saya tua, lalu duduk di beranda rumah, sendirian. Sedang bergidik melihat betapa besar dan buas Bebegig Pembangunan yang tidak lagi  memberikan kita emas, batu bara, nikel, baja dll. tetapi malah sebaliknya. Ia membawa kita pada bencana-bencana khas judgement day seperti di film-film Hollywood.

Jika itu memang terjadi... ah saya hanya berharap saya sudah tidak sendiri. Sehingga saya punya teman untuk berbagi kesedihan seperti itu.

Saat ini saya sedang di kantin kampus. Tiba-tiba pemeran Sophia di film Da Vinci Code mengatakan: aku Sofi, aku gadis impor dari Prancis, menyukai filsafat dan sejarah Prancis, terutama bab-bab Revolusi Prancis. Kamu mau traktir aku Marimas dan Indomie Telor?

Lalu datanglah si Teteh kantin dengan dua gelas Marimas rasa jeruk Bali dan Mie goreng di tangannya “Ini, A.” Yang terdengar seperti “Bon Apatite, Monsiour, Madame”

“Viva La Vida!” Sahutku ngasal. Srupuut.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...