28 July 2016

Dari Resepsi ke Resepsi

Aku kira: Beginilah nanti jadinya. Kau kawin, beranak dan berbahagia. Sedang aku mengembara serupa Ahasveros. --Tak Sepadan, Chairil Anwar.



Jika tidak benar-benar berpikir keras barangkali saya bakalan lupa sudah berapa undangan pernikahan yang saya datangi dalam kurun beberapa bulan ke belakang ini. Bahkan tiga atau empat undangan di antaranya saya memakai batik yang sama. Hal yang kemudian pada pernikahan berikutnya membuat saya dapat dua baju batik gratis. Nency, kawan saya si pengantin yang berikutnya membelikan saya dan teman-teman seangkatan lainnya batik baru untuk dipakai ke pesta resepsinya.

“Biar kalian batiknya seragam,” katanya. Tapi pas di belakang saya, kata si Ryan, Nency kasihan lihat saya. Pasalnya tiap kali ke nikahan teman, saya pakai batik yang itu-itu aja. Entah saya harus geram atau harus terharu.  Yang jelas saya ingin sekali mendamprat semua orang yang menikah tahun ini. Kenapa waktu-waktu resepsinya begitu beruntun? Seperti pembunuhan berantai saja. Mereka tidak saja membuat saya harus rajin menyisihkan uang, mencuci, dan menyiapkan mental buat ketemu mantan. Saya khawatir semakin bertambah usia tampaknya bakalan menambahkan daftar hal-hal yang mungkin akan membuat saya terbunuh dengan cara tidak aduhay, selain diperkosa alien atau tersedak tulang gajah: pernikahan teman.

Bahkan belum habis bulan Juli ini, saya datang ke tiga tempat pernikahan. Akhir bulan ini pun akan ada satu pernikahan lagi. Pernikahan Ayi, seseorang yang (dalam kesaksian teman-teman) dekat dengan saya sejak setahun yang lalu. Sekali lagi mereka mendapati saya sebagai bahan perundungan (bully). Ugh!

Sabtu yang lalu sebelum ke Karawang untuk menghadiri acara pernikahan teman, ibu mampir ke kamar. Ibu duduk di kasur membenahi tepian seprei sambil memperhatikan saya yang sedang bersiap untuk berangkat kondangan. Sesekali ia menyela dan mengomentari penampilan saya. Soal celana, batik, bahkan isi amplop.

“Berapa ngisi amplop kemarin-kemarin?” Tanyanya.

“50.000, Bu.” Jawabku selow.

“Banyak-banyak teuing atuh!” Sahutnya cepat, bahkan agak menyentak. Setelah itu saya ngamplop ke nikahan Frizky, lima belas ribu rupiah. Iseng menururti orang tua sendiri.

Saya benar-benar tumben ngamplop pas nikahan sebelumnya. Jauh sebelum-sebelum itu saya bahkan tidak menyentuh amplop. Ya dalil saya sih menghadiri undangan itu wajib. Kalau ngamplop kan setingkat sedekah sunnah saja. Huehehe. Lagipula saya sering datang dengan rombongan, jadi kalau satu orang di rombongan tidak ikut patungan ngamplop insyaallah tidak ketahuan. Yang penting pas patungan bensin, saya lebihin sedikit.

“Rid, sekarang kalau menikah musti siapkan 45 Juta. Sok geura nabung.” Lanjut ibu tiba-tiba.
Setelah terkesiap sejenak saya segera menghentikan semua kegiatan yang sedang dilakukan. Sebagai anak pertama, berusia 24 Tahun, hampir beres kuliah, punya semacam pekerjaan, dan sudah tiga kali ditinggal menikah oleh mantan kekasih, maka segera duduk di sisinya adalah hal yang normal untuk dilakukan ketika ibumu bicara soal pernikahan. Artinya, dia mulai serius dan agak emosional.

Kemudian Ibu melanjutkan cerita-cerita seputar ongkos resepsi yang ia dengar dari tetangganya sekaligus kekhawatirannya terhadap empat anaknya.

“Ibu gak seperti orang-orang, tidak ada sawah untuk dijual.” Keluh ibu. Tiba-tiba saya merasa kecil dan tidak berdaya. Kasihan ibu, kasihan ibu, kasihan ibu. Lalu, kasihan bapak.

Tiba-tiba saja saya tidak sengaja berpikir lebih jauh. Bagaimana jika tiba-tiba terjadi inflasi? Nilai rupiah anjlok jauh dan lebih parah dari krisis moneter tahun 90-an? Dengan 45 Juta Rupiah, kita  cuma bisa nraktir gebetan di nasgor kaki lima. Lebih jauh lagi, tiba-tiba saja saya teringat situs-situs bertamplate buruk  bilang: Dajjal sudah muncul. Kiamat sudah dekat. Tay!


II

Dari hampir semua nikahan yang saya hadiri, selain mendapati hal yang membosankan saya juga mendapati ketimpangan. Entah kenapa busana pengantin Pria seringkali seperti yang asal-asalan dibanding pengantin perempuan. Kadang si pria di dandani dengan lipstik tidak rata, dengan warnanya mencolok pula. Terus kopeahnya sedikit longgar dan bajunya berwarna agak kumuh. “Teu adil,” kalau kata Aziz mah. “Ah, kalau saya mah mendingan bikin stelan baru aja,” timpal si Emil.
Tapi ada hal yang lebih jauh dari itu. Ada hal lain yang cuma bisa dibaca dari semacam jejak air mata dari wajah ber-makeup pengantin wanita dan gurat-gurat kelelahan di pengantin pria. Saya seperti melihat kekhawatiran. Atau jangan-jangan cuma saya yang berlebihan?

Pasalnya dalam lima tahun terakhir ini (seperti dilansir dari dream.co.id) Kementerian Agama menemukan peningkatan angka perceraian dari tahun ke tahun. Dikutip dari laman kemenag.go.id, Rabu, 20 Januari 2015 terdapat data bahwa dari dua juta pasangan menikah, sebanyak 15 hingga 20 persen bercerai. Sementara, jumlah kasus perceraian yang diputus Pengadilan Tinggi Agama seluruh Indonesia pada 2014 mencapai 382.231, naik sekitar 131.023 kasus dibanding tahun 2010 sebanyak 251.208 kasus. Sementara dalam persentase berdasarkan data Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung, dalam lima tahun terakhir terjadi kasus Cerai Gugat mencapai 59 persen hingga 80 persen.

Pada tahun lalu, 2014, 382.231 pasangan bercerai. Itu pasangan manusia loh, bukan kambing etawa. Coba cek ingatanmu, ada berapa pasangan cerai yang kamu kenal dari keseluruhan jumlah itu? Dengan semua angka ini, di sekitar dua atau tiga tahun lagi, tidakkah kita harusnya merasa agak khawatir terhadap mereka yang memutuskan menikah di usia-usia 20 atau 25-an?

Tingginya angka perceraian ini tentu berpotensi jadi sumber masalah sosial. Korban pertama yang paling merasakan dampaknya jelas anak-anak dan istri. Akibat perceraian bukanlah main-main. Apalagi dalam kultur kita keperawananan itu semacam keharusan. Dibanding si Duda, Janda akan sulit untuk menikah lagi. Stigma yang bisa membuat orang waras bilang: cuma soal selaput dara, kenapa laki-laki seperti bicara keterangan hari kiamat di kitab suci?

Buntut panjang dari semua ini adalah menimbulkan gejala-gejala kemiskinan baru. Menjadi duda tidak seburuk menjadi janda. Fitnah juga lebih rawan ditujukan terhadap janda daripada duda, selain itu anak mereka tentu akan mengalami akibat gak enak sepanjang hidupnya. Btw, bisa gak sih orang-orang itu menahan diri untuk tidak membuat kesepakatan buruk (utamanya soal bereproduksi) tanpa berpikir masak-masak? Minimal ikut KB, atau pakai pelindung apa gitu kek.

Di sinilah sepertinya kau boleh berpikir bahwa kuliah salah jurusan itu biasa. Kerja tidak sesuai dengan jurusan kuliah juga biasa. Apalagi jatuh cinta dengan temannya teman yang juga teman pun juga sangat biasa. Lalu bagaimana dengan menikah? Salah orang? Benar-benar tidak lucu.

Sabtu besok Ayi menikah. Sejak pertama dapat berita dia bakal menikah sampai saya melihat undangannya sendiri, ingin sekali saya mengatakan kalimat selamat atau sejenisnya. Tapi saya mengurungkan niat itu. Entah kenapa. Saya perhatikan lagi undangan itu di grup WhatsApp. Ayi Nafilah & Miftah Farid. Dia menikah dengan Farid, tapi Farid yang bukan saya. Saya makin yakin belum siap menikah. Dan Ayi mendapatkan Farid yang lebih layak daripada Farid yang lain.

Lalu saya membaca ulang pesan BBM yang lain. Pagi tadi seseorang membalas chat: “Iya ga enak badan. Efek kehujanan kayaknya. Aamiin makasih Rid.” Kasihan. Apa semua perempuan selalu luput membawa jaket?

Tiba-tiba saya inget semalam waktu lagi tidur-tiduran dengan Aziz, dan Emil. Saya pura-pura baca buku, Aziz benar-benar nonton drama korea di ponselnya, pakai earphone segala. Sementara Emil entah ngapain. Tiba-tiba Emil menaikkan volume mp3 dari ponselnya dan merebut perhatian kami semua.

“Lagu Tulus yang baru nih, wak!” Serunya menutupi kesalahan.

Aziz menekan pause di ponsel, lalu menoleh pada saya. “Saya suka malas dengerin Tulus. Pas di Mesir, malam-malam saya dengan teman-teman di sana dengerin lagunya ‘Pamit’. Eh pas paginya dapet undangan menikah dari Zakiah (gebetannya).”

Nafsu membaca mendadak hilang. Saya menandai bacaan di perihal krisis ekonomi Mesir di masa Anwar Sadat dan segera mengirim pesan BBM, “kamu sakit? Lekas sembuh ya.” Lalu tidur dan berdoa yang baik-baik untuk mereka yang memiliki keberanian untuk menikah dan mendahuluui kami. Benar-benar hal yang baik: Menikah, beranak, dan berbahagia, seperti ucap Chairil Anwar.
Read more ...

04 June 2016

Humor dan Ironi

Orang lain adalah neraka
Jean Paul Sartre

Catatan ini saya cicil sejak hari Senin. Sehari setelah resepsi dan akad nikah teman kita: Selvia Nency yang selalu mendaku dirinya sebagai Nency Saphira Bastian, merujuk pada idolanya sejak SMA, Vino G. Bastian. Katanya, Aris, mantannya yang juga teman kita itu mirip Vino G. Bastian. Memang melihat keseluruhan paras Nency kita semua tahu bahwa Tuhan memang sangat baik padanya. Hanya saja agaknya Dia lupa memberikan Nency pandangan mata yang bagus.

Setelah bubar dengan Aris, dia dekat dengan beberapa orang. Ketika saya tanya apakah mereka ganteng, jawabannya selalu sama “gantengan kamu, Rid”. Demi Tuhan. Saya tidak tahu apakah dia terbawa kebiasaan pemilik salon yang selalu memuji semua pelanggannya; atau memang saya betul soal kealpaan Tuhan memberinya pandangan mata yang bagus tersebut.

Nency menikah pada hari Minggu tanggal 29 Mei 2016. Seminggu tepat setelah tanggal kelahiran saya. Dia berkelakar pernikahanya adalah kado ulang tahun saya. Saya ketawa kecut mendengarnya.

Setelah pernikahanya dia pasti akan berbeda. Begitu pikiran pertama saya. Ini bukan pertama kalinya punya teman yang cepat menikah. Diam-diam saya merasa sedikit kehilangan. Atau setidaknya mencemaskan hal tersebut. Tapi dia menikah dengan Dian, sahabatnya. Betapa melegakannya mengetahui hal itu.

Maka dia menikah begitu saja, di hari yang agak mendung di Karawang. Meski hujan semuanya berjalan lancar. Saya dan rombongan berangkat jam 2 siang. Kami melewatkan beberapa hal penting semisal akad nikahnya dan hal-hal lain. Untuk soal ini saya harap si Subki (laki-laki yang membuat kami menunggunya hampir 3 jam) dihukum dengan diikat kakinya ke motornya Rian, lalu diseret sepanjang 50 kilometer. Dan sisa tubuhnya diurai begitu saja ke kolam lele.

Sesampainya di tempat Nency, lewatlah Putri. Setelah Putri menyalami kami semua dan berpamitan pulang, kamipun ke Masjid. Datar saja. Memang ada beberapa mulut yang mengeluarkan suara norak semisal: cie cie cie. Kalau suara itu bukan keluar dari mulut Nenden atau Azizah, mungkin itu suara binatang pohon atau ulat bulu yang sedang kawin.

Di masjid bertemulah dengan rombongan Jakarta. Mereka datang dengan banyak orang. Aroka, Hubab, Nisun, Sani, Ririn,dan.. astaga! Rois kita, Rusydi. Cowok dambaan seluruh umat ini ternyata datang. Kejutan pasti cuma ada satu. Saya jadi tidak heran jika Salma tidak turut datang bersama mereka.

***

“Kenapa kamu punya hati yang seperti ini, Rid?” Tanya Ririn.

Sekian lama kami tidak bersua, juga tidak mengobrol di ruang chating semacam whatsap, line, dan lainnya nampaknya Ririn sudah belajar banyak soal membuka obrolan yang bagus kepada seorang kawan sekolah; atau seseorang seperti saya. Meski saya tidak tahu betul apa yang dimaksud dengan “orang seperti saya”.

"Maksudnya?" Tanya saya seolah-olah saya tidak paham bakal ke mana arah pembicaraan yang dimaksudkan agar penuh tawa ini.

“Ya, itu... ditinggal berkali-kali.” Nisun menyambar. Di balik bingkai kacamatanya, matanya membesar perlahan-lahan dan berbinar, seperti sedang menyiapkan diri untuk tertawa. Saya tahu apa arti ekspresi wajah  itu. Mata yang penuh pertemanan sekaligus niat kuat buat mengejek.

Sejak awal saya selalu ingin mengira ini cuma pertanyaan yang benar-benar bercanda dan berniat untuk memanjangkan obrolan. Hal yang sama dan sedikit agak kasar juga pernah ditanya-nyatakan teman yang tidak begitu akrab di twitter:

“Drama banget ya hidup kamu...”

Saya menyahutnya dengan (mungkin) sebuah kata “hahaha”. Kata yang baik untuk mengakhiri berbagai pembicaraan; sekaligus tidak membuat kita terkesan buruk di mata orang-orang yang ditimpa bencana-bencana serius semacam selera humor yang buruk, atau tatalogika kalimat yang membuat kita ingin menampar orang tersebut.

Memang begitu adanya. Mereka bercanda. Tapi apa yang lucu. Lebih dari itu, pernikahan Nency kemarin, sebenarnya apa dampaknya bagi saya? Dan bagaimana hal semacam itu bisa dijadikan momen yang tepat untuk membecandai saya?

"Gak tahu, nasib aja kali," jawabku sambil mengelus-ngelus dada dan tertawa kecil. Kami semua, saya, Nisun, Sani, dan Ririn tergelak. Tapi apa yang lucu? Saya tidak tahu pasti. Tapi kami tertawa.

Barangkali mereka tertawa karena saya seperti seseorang yang punya nasib apes. Itulah sebabnya kenapa kita suka humor-humor slapstick ala Chaplin,Warkop, atau apa saja yang menampilkan orang-orang apes dan sial. Yang melulu terpeleset jatuh, dikibuli habis-habisan, atau hal-hal lain yang membuat kita merasa lebih superior. Merasa keadaanya jauh lebih pintar, lebih beruntung dari yang kita ketawai.

Padahal urusan rasa saya di antara kami sudah lama sekali selesai. Pas semester 4 atau 5 gitu kami berempat: Azizah, Saya, Nency, dan Rian sudah saling aku-mengaku soal siapa-suka-siapa sambil menertawakan betapa lugunya kita semua pas SMA. Lagipula siapa yang boleh menyalahkan keluguan, bukan? Lalu semua acara ngaku-ngakunya selesai dengan makan-makan, ditraktir Nency. Tuntas.

Semenjak menginjak bangku kuliah. Utamanya setelah Nency memutuskan pindah dari Jakarta ke kampus kami yang sunyi. Di antara kami semua yang ada cuma sesama teman seangkatan: Infinte Brotherhood. Kami saling membantu. Dan saling mendukung satu sama lain. Rian mendengarkan Nency curhat, mengantar dan lain-lain. Saya sekali-kali membantunya mengerjakan makalah. Mengingatkannya urusan-urusan kuliah yang tidak boleh dia tinggalkan, juga mengantarnya untuk sekadar mendapatkan tempat yang nyaman untuk naik bus.

Karena sejak awal, kami semua, utamanya Nency berazam harus keluar dengan cara yang sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya dari kampus kami yang kecil lagi pencil dan tanpa peminat itu. Tak peduli apapun yang kami hadapi. Semisal penyakit, karir, jodoh, atau hal-hal normal lainnya yang menjadi brengsek ketika datang tidak tepat pada waktunya. Kuliah harus selesai.

Tanpa itu semua, apa artinya Infinite Brotherhood?

Apa artinya tagline persaudaraan angkatan kita yang kepanjangan dan dibuat oleh Aziz dengan penuh perasaan dan keluguan itu?

Nency selalu memastikan kami tidak lapar. Ketika saya baru bisa mengendarai motor saya sering menawarkan diri mengantarnya ke jalan besar, biar lebih mudah baginya naik bus. Semenjak masa-masa KKN saya juga beberpakali membiarkan Nency mendandani alis dan wajah saya seperti perempuan.Kemudian mengambil foto sebagai kenang-kenangan. Saya tidak protes. Kecuali pas dia bagi di Facebook. Malu sama para santri.

Meski Nency tidak banyak bercerita bagaimana ia melalui hari-harinya, tapi saya mengerti, Nency mengalami banyak hari-hari yang berat. Hari-hari yang lebih menyebalkan dari saya. Saya cuma berusaha sebisanya memahami Nency. Lebih jauh dan lebih dalam di balik pembawaannya yang ceria, suaranya yang seolah-olah selalu di tengah pasar, juga riasan wajahnya yang selalu berhasil membuat alis dan matanya tampak serasi.

Nency adalah satu dari beberapa teman yang juga membuat saya mau belajar mengenali diri sendiri. Perkawanan saya dan Nency juga dengan yang lain mungkin tidak begitu penting bagi mereka. Saya tahu. Dan itu tidak penting. Saya tidak bisa mencintai diri sendiri. Jalan mencintai diri sendiri adalah dengan mencintai orang-orang yang ada di sekitar kita. Berusaha sesedikit mungkin untuk ingin dianggap. Memberikan waktu yang ada. Mendengar keluh kesahnya. Atau memarahinya jika perlu.

Nency selalu baik pada saya. Barang dagangan atau jasa apapun yang saya tawarkan padanya selalu ia beli tanpa menawar. Malah seringkali ia menambahkan bonus dan tambahnya “kamu kan udah bekerja keras. Kamu layak dihargai.”

Suatu kali yang lain saya punya rejeki. Saya ingin sekali traktir doi. Pas udah makan dia malah bersikeras agar saya tidak membayar bill kami. Saya agak kesal. Tapi dia bilang “kamu boleh traktir saya kalau udah sukses. Sekarang kita masih sama-sama usaha. Jangan lupa berhemat.” Pesannnya sangat keibuan. Sangat kontras dengan karakter bawaannya.

Di acara resepsi kemarin saya sempat salah tingkah. Berkali-kali malah. Tapi semua itu tidak membuat saya menyesal ke tempat Nency kemarin. Saya tidak menyesal. Saya bahkan tidak akan menyesal jika ada orang brengsek tolol yang kesurupan sesosok jin yang baru saja pulang dari lauhil mahfudz mengintip catatan nasib si Ahmad Farid yang sudah ditetapkan untuk menjomblo seumur hidup. Peduli setan. Berada di antara orang-orang baik seperti Nency, kupikir, aku ingin hidup seribu tahun lagi.

Ujug-ujug dulu ada yang bilang gini, “kamu orangnya pemilih temen gitu, Rid.” Eh, saya malah berusaha mengelak dengan penjelasan yang panjang-panjang. Kalau saja ada yang bilang gitu lagi, aku mau bilang “Tai!”

Bodo amat dengan pandangan orang tentang cara orang yang lain berteman. Memilih teman menurutku sama halnya dengan memilih apa yang ingin kita bangun dalam diri kita. Kata Aan Mansyur “Sudahkah kamu memeluk dirimu hari ini?” Barangkali juga semacam pertanyaan retorik; bahwa kamu mustahil memeluk diri sendiri. Untuk membuat dirimu hangat kamu harus memeluk orang lain (yang kamu pilih tentunya). Berkawan memang bisa dengan siapa saja, sepanjang butuh-sama-butuh. Tapi berteman, lebih jauh dan lebih dalam dari itu. Makanya tidak berlebihan (walaupun agak berlebihan sih sebenarnya) jika ada yang bilang: berteman sampai ke syurga.

Hal-hal yang dibicarakan tadi sebenarnya adalah hal-hal yang benar-benar melantur belaka. Tapi sejak awal saya bermaksud untuk menyinggung hal-hal kecil seperti ironi, humor, maupun persahabatan.

Sartre, si filsuf eksistensialisme yang membenci keramaian dan benci berhubungan dengan banyak orang itu, toh akhirnya diketahui dengan siapa saja ia menghabiskan hari-harinya. Baginya, orang lain barangkali memang selalu membuat hidupnya seperti di neraka. Tapi bagimana jika orang lain itu sudah ada yang menjadi bagian dari dirinya sendiri?

Ironi, saudara-saudara, sama nasibnya dengan perkara-perkara humorik, selalu menjadi tabir yang tipis antara dua hal: kebijaksanaan dan kemunafikan. Jika semakin banyak kamu sedih atau tertawa tapi tidak membuatmu lebih berbelaskasih, lebih pemaaf, dan lebih penyayang. Maka ia akan mendorongmu pada perkara-perkara yang membosankan semisal: dendam, sakit hati, kecongkakan, kesombongan, merasa superior, dll.

Hidup berkisar di antara ironi dan humor. Ironi, atau kesedihan, jika kita beruntung akan membangun kesadaran dalam diri kita; betapa sebagai manuisa kita teramat kerdil dan serba tak mampu. Sementara humor membuat kita merasa kuat, layak, penting, dan bahagia. Untuk semua inilah akhirnya kita musti sadar, bahwa kita memerlukan orang lain. Dan hidup, barangkali selalu ada di antara dua hal itu.

Selamat menempuh hari-hari yang berbeda, Nency kami. Semoga kamu sehat melulu dan bisa gemuk. Jangan lupa skripsi kamu belum beres.

Read more ...

29 April 2016

Belajar Berlibur Bersama Mas Rangga

Selalu ada satu hal yang bisa dipelajari.
–Steve Jobs

Rasanya geli sekali mengingat beberapa hal yang saya lakukan sehari sebelum ikutan program Grand Field Trip ke Jungle Land bersama para siswa, kolega guru, dan staff di sekolah. Saya mencuci sepatu, menyetrika pakaian, pergi ke barber shop, dan menemui dosen saya untuk menuntaskan urusan tugas kuliah. Beberapa hal tersebut bahkan pernah lupa saya lakukan ketika Ied Fitri.

Bersama Ana2

Hari itu sebagaimana manusia normal yang benar-benar mengidamkan hari libur yang asyik, saya bertekad bahwa perjalanan ke Jungle Land besok haruslah sempurna. Saya tidak peduli apakah Ahok bakal memenangi pilkada Jakarta atau tidak.

Saya seperti meresap dalam puisi Rangga di pilem Ada Apa dengan Cinta:

Aku ingin bingar/Aku mau di pasar/bosan aku dengan penat/dan enyah saja kau pekat/seperti berjelaga jika ‘ku sendiri.

Tanpa perlu menjadi tekstualis (yang benar-benar pergi ke pasar untuk mengusir sepi) saya mengadopsi energi dalam puisi ini ke Jungle Land saja.

Perjalanan memakan waktu sekitar 3 jam. Setelah menyibukkan diri mengambil foto-foto untuk dokumentasi sekolah, saya segera duduk, di samping 2 orang siswa yang duduk dengan canggung. Di depan dan seberang 2 kolega guru membawa pasangan. Salah satunya Pak Dadang (semoga ia dikarunia murid-murid yang degil di kelasnya) yang dengan lancang bertanya:

“Pak Farid, pasangannya gak dibawa?” Sempat terpikir untuk berteriak “Mang, bukain jendela! Aing pengen loncaat!”

Tapi Bus tetap berjalan seperti seharusnya. Datanglah kemudian yang disebut penjajahan audio visual. Anak-anak sepakat untuk memutar klip Wali Band di televisi bus.  Saya sendiri segera memalingkan diri ke dalam diri dan mengingat-ingat perjalanan yang sering-sering, semisal bus yang hening, jalan tol yang tampak terus memanjang, lalu pohon-pohon yang berbaris di sisinya tak habis-habis, kemudian termenung-menung lalu jatuh tertidur dengan pikiran dan mata yang lelah.

Tapi anak-anak tak puas hanya dengan menonton, mereka juga tergelak dengan tawa yang pecah. Dan sialnya audio dalam bis bekerja sangat bagus. Saya benar-benar sulit mencari sunyi yang saya inginkan. Satu, kosong! Saya harus tahu diri. Anak-anak sudah seharusnya mendapatkan kesenangan dalam liburannya.

Setelah tidak tahu apa yang musti dilakukan lagi, saya segera memasang earphone dan memutar mussik. Diantara lirik-lirik lagu yang tidak saya pahami, saya mengetik sesuatu, hampir satu jam. Lalu bosan, membuka dan mengobrol di Grup WA, joke-nya selalu sama (tema-tema sedih guru single), lalu bosan. Menulis dan membaca PM, lalu bosan. Melanjutkan bacaan lama, habis beberapa halaman, kemudian bosan. Dan tahu-tahu Bus sudah sampai tujuan.  Rasanya lucu sekali bagaiamana cara saya menikmati perjalanan ini tanpa tidur. Dari bosan ke bosan.

Kami semua segera turun. Anak-anak berhamburan dari bus, mereka begitu sumringah, melangkah dengan kaki yang ringan, dan wajah mereka tampak cerah. Saya jadi merasa asing. Mereka terasa sangat berbeda dari hari-hari sekolah biasa. Saat mereka berhamburan dari kelas, berjalan dengan wajah lesu, mencangking buku ummi tergulung di tangan dengan tidak peduli, sambil mencari-cari guru ummi yang sering pindah-pindah tempat dan kadang suka agak telat. Alasannya Guru ummi kan musti wudhu dulu, ya kan? Hehe. Begitu mereka duduk dalam lingkaran, segera menguar kejenuhan mereka dari aroma keringat dan suara-suara sumbang saat merapal doa pembuka.

Tapi hari itu saya baru tahu kalau suasana hati bisa mengubah mereka menjadi tampak begitu tampan-tampan dan cantik-cantik. Btw saya juga baru tahu kalau Bu Susanti memang secantik yang dibilang guru-guru single sedih lainnya (eh kok jadi salah fokus sih?).

Singkatnya saya mulai merasakan energi mereka merasuk dan mengajak saya bergabung. Segera saya menguasai megaphone, menyerahkan kamera pada pak Rizki, mengajak anak-anak dan kolega guru berfoto, lalu berputar-putar dan bicara apa aja di antara anak-anak yang girang. Seolah-olah hari itu kegembiraan bisa mendaratkan saya di planet Mars, sambil mengangkut karya-karya seni terbaik dalam sejarah umat manusia, juga beberapa binatang ternak, dan biji-bijian; untuk membangun sebuah peradaban baru di atas tanahnya. Oke, ini lebay.

Setelah melewati sesi-sains semua berpencar mengincar wahana permainan yang sesuai keinginan. Di saat-saat seperti itu saya berjalan sendirian dari wahana ke wahana. Tapi kemudian putus asa karena hampir setiap wahana yang saya inginkan harus dinaiki lebih satu orang, saya pun memutuskan untuk memperhatikan orang-orang yang berteriak panik dankegirangan. Rasanya aneh sekali melihat bagaimana kepanikan dan kegembiraan bisa menyatu seperti itu.

Tapi kemudian ada saja siswa atau guru yang usil bertanya “Kok sendirian, pak?” Ah. Rasanya kaya pengen ke jembatan, lalu melompat ke sungai yang penuh batu. Tapi syukurnya, tak jauh dari jembatan tersebut saya ketemu sekelompok guru berwajah lelah (atau putus asa?). Ada Pak Rizki, Pak Fauzi, Pak Irfan, Pak Dede, Bu Indi, Bu Mila. Kami mengobrol beberapa menit kemudian memutuskan untuk mencari permainan yang ramai.

Kami main semacam perahu air, kami tembak-tembakan melawan para siswa; sambil menebar teror “Awas Remedial!” Tapi tidak ampuh. Kami tetap saja basah kuyup. Para murid sudah tahu, bahwa tidak ada guru yang cukup gila untuk meremedial lebih dari 10 orang anak dengan 4 mata pelajaran. Kami senang dan sempat lupa bahwa kami bertujuh datang tanpa pasangan lal kami melanjutkan ke wahana lain, wahana yang tampak seru jika dilihat dari Wahana Kincir, dan ikut mengantre. Tapi kami semua hampir tidak percaya jika antrean ini lebih lama dari perkiraan. Kami mengantre hampir satu jam lebih untuk wahana yang berdurasi 1 menitan. Rasanya dongkol sekali. Wahana yang tadinya bernama “Water Lift” ini dengan semena-mena kami sebut dengan “Wahana Penantian”.

Bahkan saking lamanya antrean di wahana ini kami jadi khawatir kalau kami sudah keluar dari sini, anak-anak siswa kami sudah keburu jadi Mahasiswa.

Lalu bubarlah field trip ini. Masing-masing mencari teman untuk berfoto (lagi), beberapa murid juga mencari guru favoritnya untuk diajak berfoto. Semua tampak senang. Tahu-tahu ada yang ajak foto. Duh, saya jadi malu, tadinya saya kira hal itu tidak akan terjadi pada saya. Sejenak saya jadi kepikiran, betapa tidak ada yang lebih menyenangkan bagi seorang guru selain mendapatkan rasa kagum dan sayang muridnya. Seandainya saya bisa melakukan itu pada Masyaikh saya waktu dulu.

Kemudian kami pulang dan mulai bertukar cerita. Ada guru yang sebelumnya berwajah bosan tapi mendadak gembira ketika naik mobil-mobil listrik yg disupiri teteh-teteh manis, ada juga guru silat yang mendadak tepar cuma karena ayunan. Ada juga guru olahraga yang kekar dan berteriak “Enggeusan Maaang.” Juga karena ayunan. Wahana yang nampak sepele tersebut benar-benar tidak bisa disepelekan. Yang sudah pada nikah aja gak tahan, apalagi kita-kita yang sering dicampakkan dan ditinggalkan?

Ah senangnya. Saya seperti belajar sesuatu hari ini. Lalu dalam bayangan saya Rangga melanjutkan puisinya...

'Ku lari ke hutan, kemudian menyanyiku/'Ku lari ke pantai, kemudian teriakku
Sepi-sepi dan sendiri
/Aku benci//

Pecahkan saja gelasnya biar ramai/ biar mengaduh sampai gaduh,
Ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang di tembok keraton putih,
Kenapa tak goyangkan saja loncengnya, biar terdera/Atau aku harus lari ke hutan lalu belok ke pantai?//

Baiklah, Mas Rangga. Cukup sudah teriak-teriaknya. Untuk menghadapi berbagai kesepian, rasanya kami tidak perlu memecahkan gelas, membunyikan lonceng, atau berlari ke hutan lalu belok ke pantai. Capek, Mas.

Cara sederhana untuk mengusir sepi barangkali sesederhana ini: mulai berdamai dengan sepi itu sendiri, merelakan yang sudah-sudah, lalu menyimpan energi-energi keriangan di hari yang menyenangkan seperti ini untuk hari-hari bekerja esok. Gitu mungkin Bu Mila?

Eh, Pak Fauzi, soal itu semua kita pasti bisa kan? Ya, kan? 
Tolong yakinkan saya, ya.



Read more ...

17 February 2016

Mengharapkan Pegadaian Yang Syar’i dan Selow

Sedang hujan di luar sana. Saya merasa harus menulis sesuatu. Setelah saya tahu segala aktifitas saya yang lain agaknya sulit dilakukan ketika hujan seperti ini.

Hari ini saya sudah menjadwalkan beberapa hal. Di antara hal-hal tersebut yang paling musykil adalah menggadaikan kamera. Pasalnya saya butuh uang untuk menyelesaikan sebuah proyek order sablon. Aku tahu sebuah koperasi yang membuka jasa gadai di kota saya.

Saya sudah menggunakan jasa gadai di sana dua kali. Yang pertama menggadaikan laptop, lalu gagal saya tebus. Laptop yang itupun ludes dengan harga 1.5 juta. Tekor 1.5 juta. Yang kedua, dan sudah terjadi beberapa bulan yang lalu. Saya menggadaikan kamera Nikon D40. Masalah saya sedikit sama. Saya harus nombok orderan karena kepayahan saya me-manage uang. Syukur saya ketahuan ibu saya. Lalu dimarahi karena menggadaikan barang pemberian Bapak. Hahaha.

Koperasi Gadai yang saya ceritakan tadi adalah (hampir) satu-satunya pilihan masyarakat ketika ada kebutuhan uang mendesak. Hampir semua orang di kota kami tahu tempat ini. Koperasi ini mengambil untung dari bunga gadaian sebesar 10% dari harga taksiran barang yang digadai. Misalkan saya mendapat pinjaman satu juta rupiah. Satu bulan kemudian aku harus menebusnya dengan satu juta lebih seratus ribu rupiah. Bunganya 10% atawa seratus ribu rupiah.

Saat ini  saya sedang butuh jasa itu. Masalahnya sedikit berbeda. Saya mau menyelesaikan  orderan, agar lebih cepat dan memuaskan klien. Sebelum saya berencana menggadaikannya di tempat yang tadi, saya teringat apa yang Ibu bilang. Bahwa menggadai di sana itu Riba. Lalu saya menyisir beberapa situs tentang hukum fikih yang bicara soal ini. Ketemu. Bunga pinjaman seperti itu katanya termasuk riba. Lalu ditegaskan lagi dengan hadits “Yang meminta riba, dan memberikan riba, keduanya berada di neraka.”

Riba tidak pernah menjadi hal yang sepele. Al-Quran menjelaskan itu secara terang-terangan. Lalu sayapun bertekad untuk mencari alternatif yang lain. Sekonyong-konyong saya menemukan brosur Pegadaian Syariah. Katanya di brosur ini Pegadaian Syariah bisa menggadaikan barang-barang elektronik. Akadnya cukup jelas dan syar’i. Tidak ada bunga dalam pinjamannya. Sementara barang gadaian menjadi jaminannya.

Lalu bagaimana Pegadaian ini bisa mendapat untung? Peminjam/penggadai hanya diminta membayar sewa-tempat untuk penyimpanan barang tersebut. Walaupun sekilas yang membedakannya adalah peralihan bahasa. Dari istilah “bunga-pinjaman” ke “sewa-tempat-penyimpanan”. Dan soal besaran biaya mungkin saja tak jauh berbeda. Tapi itu bukanlah persoalan. Yang jadi persoalan adalah akadnya. Dan saya suka dengan apa yang brosur ini tawarkan.

Tapi sayang sekali. Pagi tadi saya ke Pegadaian Syariah di kota saya. Pegadaian tersebut tidak menerima barang gadaian atau jaminan kamera DSLR. Agak menyesal juga saya. Rasanya sayang sekali. Saya tidak menyalahkan pihak manapun. Saya hanya kasihan bagaimana umat mencari alternatif pegadaian yang halal tapi akhirnya mentok dengan batasan semacam ini.

Apes sekali umat islam di kita ini. Masalah lintah darat belum selesai. Lalu mulai lagi lintah darat ini menjamur dengan kedok baru yang lebih keren: jasa pegadaian. Sayangnya Badan-badan Keuangan Syariah di kita selalu kalah start. Kalau sudah begitu mimpi untuk Indonesia menjadi Negara ekonomi yang kuat dan syari cuma mimpi yang jauhnya di awang-awang sana.

Tak perlulah mengutip kembali urgensi bermualah yang syar’i. Toh jika kita mau benar-benar memperhatikan betapa ramainya koperasi-koperasi semacam di atas tadi; kita akan segera tahu, bahwa pegadaian yang syari dan selow adalah kebutuhan yang mendesak. Kebutuhan umat untuk tempat yang bisa memberikan mereka pinjaman mudah sangatlah mendesak. Hal tersebut ternyata sudah diendus oleh jasa-jasa keuangan yang tidak syari. Mereka mengendus aroma kebutuhan dan membentuk rantai setan riba yang baru.

Pegadaian yang syari tentu saja berguna untuk menjamin rasa aman dalam bermuamalah, sehingga bernilai ibadah dan ketaatan pada Syariat. Sementara pegadaian yang selow adalah: Nasabah bisa menggadaikan apa saja yang layak, agar mereka bisa sekadar menyambung hidup. Konon di Pegadaian yang ribawi tadi orang bisa menggadaikan gelas tupperwear. Sangat akomodatif. Down to earth! Nggreges.

Hemat saya. Ada dua pilihan –diantara banyak pilihan bagaimana kebutuhan umat tentang jasa pegadaian yang syar’i ini bisa diakomodir. Pertama pemilik jasa keuangan yang syari membuka lini jasa pegadaian yang syari ini. Kedua, edukasi dan sosialisasi terhadap koperasi-koperasi yang melakukan tindak ribawi dalam jasa pegadaian; yang kemungkinan besar para pelaku tersebut adalah muslim.

Langkah konkrit ini bisa dikerjakan oleh segala lapisan umat. MUI bisa memberikan usulan langsung kepada pihak-pihak bank syariah yang sudah lama beroperasi. Atau bersinergi dengan pihak-pihak yang lain untuk membangun unit keuangan yang melayani hal-hal semacam ini. Lalu juga BMT-BMT yang ada mungkin perlu juga mulai melirik hal semacam ini. Receh sih, tapi lumayan. Dan impact socialnya akan lebih tokcer insyaallah. Lagipula kebutuhan umat akan uang tidak melulu soal haji dan umrah saja. Dan harta benda milik masyarakat pun bukan cuma tanah, BPKB kendaraan, atau logam mulia saja. Wallahua’lam bishshowab

Read more ...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...