17 February 2016

Mengharapkan Pegadaian Yang Syar’i dan Selow

Sedang hujan di luar sana. Saya merasa harus menulis sesuatu. Setelah saya tahu segala aktifitas saya yang lain agaknya sulit dilakukan ketika hujan seperti ini.

Hari ini saya sudah menjadwalkan beberapa hal. Di antara hal-hal tersebut yang paling musykil adalah menggadaikan kamera. Pasalnya saya butuh uang untuk menyelesaikan sebuah proyek order sablon. Aku tahu sebuah koperasi yang membuka jasa gadai di kota saya.

Saya sudah menggunakan jasa gadai di sana dua kali. Yang pertama menggadaikan laptop, lalu gagal saya tebus. Laptop yang itupun ludes dengan harga 1.5 juta. Tekor 1.5 juta. Yang kedua, dan sudah terjadi beberapa bulan yang lalu. Saya menggadaikan kamera Nikon D40. Masalah saya sedikit sama. Saya harus nombok orderan karena kepayahan saya me-manage uang. Syukur saya ketahuan ibu saya. Lalu dimarahi karena menggadaikan barang pemberian Bapak. Hahaha.

Koperasi Gadai yang saya ceritakan tadi adalah (hampir) satu-satunya pilihan masyarakat ketika ada kebutuhan uang mendesak. Hampir semua orang di kota kami tahu tempat ini. Koperasi ini mengambil untung dari bunga gadaian sebesar 10% dari harga taksiran barang yang digadai. Misalkan saya mendapat pinjaman satu juta rupiah. Satu bulan kemudian aku harus menebusnya dengan satu juta lebih seratus ribu rupiah. Bunganya 10% atawa seratus ribu rupiah.

Saat ini  saya sedang butuh jasa itu. Masalahnya sedikit berbeda. Saya mau menyelesaikan  orderan, agar lebih cepat dan memuaskan klien. Sebelum saya berencana menggadaikannya di tempat yang tadi, saya teringat apa yang Ibu bilang. Bahwa menggadai di sana itu Riba. Lalu saya menyisir beberapa situs tentang hukum fikih yang bicara soal ini. Ketemu. Bunga pinjaman seperti itu katanya termasuk riba. Lalu ditegaskan lagi dengan hadits “Yang meminta riba, dan memberikan riba, keduanya berada di neraka.”

Riba tidak pernah menjadi hal yang sepele. Al-Quran menjelaskan itu secara terang-terangan. Lalu sayapun bertekad untuk mencari alternatif yang lain. Sekonyong-konyong saya menemukan brosur Pegadaian Syariah. Katanya di brosur ini Pegadaian Syariah bisa menggadaikan barang-barang elektronik. Akadnya cukup jelas dan syar’i. Tidak ada bunga dalam pinjamannya. Sementara barang gadaian menjadi jaminannya.

Lalu bagaimana Pegadaian ini bisa mendapat untung? Peminjam/penggadai hanya diminta membayar sewa-tempat untuk penyimpanan barang tersebut. Walaupun sekilas yang membedakannya adalah peralihan bahasa. Dari istilah “bunga-pinjaman” ke “sewa-tempat-penyimpanan”. Dan soal besaran biaya mungkin saja tak jauh berbeda. Tapi itu bukanlah persoalan. Yang jadi persoalan adalah akadnya. Dan saya suka dengan apa yang brosur ini tawarkan.

Tapi sayang sekali. Pagi tadi saya ke Pegadaian Syariah di kota saya. Pegadaian tersebut tidak menerima barang gadaian atau jaminan kamera DSLR. Agak menyesal juga saya. Rasanya sayang sekali. Saya tidak menyalahkan pihak manapun. Saya hanya kasihan bagaimana umat mencari alternatif pegadaian yang halal tapi akhirnya mentok dengan batasan semacam ini.

Apes sekali umat islam di kita ini. Masalah lintah darat belum selesai. Lalu mulai lagi lintah darat ini menjamur dengan kedok baru yang lebih keren: jasa pegadaian. Sayangnya Badan-badan Keuangan Syariah di kita selalu kalah start. Kalau sudah begitu mimpi untuk Indonesia menjadi Negara ekonomi yang kuat dan syari cuma mimpi yang jauhnya di awang-awang sana.

Tak perlulah mengutip kembali urgensi bermualah yang syar’i. Toh jika kita mau benar-benar memperhatikan betapa ramainya koperasi-koperasi semacam di atas tadi; kita akan segera tahu, bahwa pegadaian yang syari dan selow adalah kebutuhan yang mendesak. Kebutuhan umat untuk tempat yang bisa memberikan mereka pinjaman mudah sangatlah mendesak. Hal tersebut ternyata sudah diendus oleh jasa-jasa keuangan yang tidak syari. Mereka mengendus aroma kebutuhan dan membentuk rantai setan riba yang baru.

Pegadaian yang syari tentu saja berguna untuk menjamin rasa aman dalam bermuamalah, sehingga bernilai ibadah dan ketaatan pada Syariat. Sementara pegadaian yang selow adalah: Nasabah bisa menggadaikan apa saja yang layak, agar mereka bisa sekadar menyambung hidup. Konon di Pegadaian yang ribawi tadi orang bisa menggadaikan gelas tupperwear. Sangat akomodatif. Down to earth! Nggreges.

Hemat saya. Ada dua pilihan –diantara banyak pilihan bagaimana kebutuhan umat tentang jasa pegadaian yang syar’i ini bisa diakomodir. Pertama pemilik jasa keuangan yang syari membuka lini jasa pegadaian yang syari ini. Kedua, edukasi dan sosialisasi terhadap koperasi-koperasi yang melakukan tindak ribawi dalam jasa pegadaian; yang kemungkinan besar para pelaku tersebut adalah muslim.

Langkah konkrit ini bisa dikerjakan oleh segala lapisan umat. MUI bisa memberikan usulan langsung kepada pihak-pihak bank syariah yang sudah lama beroperasi. Atau bersinergi dengan pihak-pihak yang lain untuk membangun unit keuangan yang melayani hal-hal semacam ini. Lalu juga BMT-BMT yang ada mungkin perlu juga mulai melirik hal semacam ini. Receh sih, tapi lumayan. Dan impact socialnya akan lebih tokcer insyaallah. Lagipula kebutuhan umat akan uang tidak melulu soal haji dan umrah saja. Dan harta benda milik masyarakat pun bukan cuma tanah, BPKB kendaraan, atau logam mulia saja. Wallahua’lam bishshowab

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...